Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
43. Kenyataan Pahit


__ADS_3

Brakk!!


Max menggebrak meja tepat dihadapan Leo, amarahnya membuncah begitu pria paruh baya itu mengungkap satu kebenaran yang sedang dia cari.


" Istri Bryan adalah Adinda Hartawan, putri pamanmu Max,"


Seketika kepalanya berdenyut seperti dipukul godam palu dengan teramat dahsyat. Kenyataan tentang Bryan saja sudah membuatnya shock ditambah lagi dengan fakta baru yang lebih menyesakkan. Sungguh sulit baginya menerima, seseorang yang dekat dengan dirinya justru adalah orang yang terlibat dalam konspirasi tersebut.


" Kenapa, kenapa anda baru mengatakan sekarang, kemaren waktu saya bertanya alasan anda dan Morgan merahasiakan kematian Bryan, anda meminta saya mencari tahu sendiri karena merasa bukan ranah anda," geram Max berusaha menahan emosi agar tangannya tidak melayang, bagaimanapun Leo adalah sosok pria seumuran dengan papinya.


Sepulang menemui Bryan dia sempat mendatangi Leo yang kebetulan berada di singapura juga, dan dengan sangat yakin Leo mengatakan kalau dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah Bryan dan meminta Max tidak melibatkan mereka. Max mencoba percaya walaupun instingnya berpikir sebaliknya. Dia tidak mau memperlihatkan kecurigaannya dan meminta orang-orangnya tetap mengawasi Leo dan Morgan lebih seksama.


Leo terdiam beberapa saat mencoba memikirkan kata yang tepat. Sejujurnya ia sendiri lelah bermain kucing -kucingan kalau bukan karena Hartawan dan juga Bryan, tak bakalan sudi dia terseret dalam rencana mereka.


" Saya juga bingung Max, banyak hal yang saya pikirkan jika saya berterus terang ketika itu, tapi sekarang saya capek tak ada gunanya lagi dipertahankan, karena saya tahu kamu gak akan tinggal diam," rasa sesal tercetak jelas di raut Leo.


Max menyeringai sinis, dia tidak mau tertipu


lagi, setelah banyak kebohongan yang dia dapatkan, sulit untuknya percaya begitu saja.


" Seharusnya dari awal kalian memikirkan konsekuensi bahwa sepandai apapun kalian menyembunyikan kebusukan semua akan terungkap dengan sendirinya, saya pastikan kalian akan mendapatkan akibatnya," ucap Max penuh penekanan, sontak Leo kaget dengan pernyataan tersebut.


" Maksudmu apa Max?"


" Dinegara ini ada hukum yang berlaku bukan, Adrian telpon Adam untuk segera datang kesini, saya akan melaporkan mereka," titahnya pada sang sahabat yang sedari tadi diam mendengarkan. Sontak pria itu menekan tombol diponselnya menjalankan perintah sang atasan.


Leo meneguk ludahnya mendengar penuturan Max. Dia sangat tahu watak putra rekannya ini kalau dia berkata A maka semua akan terjadi sesuai keinginan. Masih syukur Max melaporkan mereka, kalau pria itu bertindak main hakim sendiri tak akan ada lagi yang tersisa. Max mungkin pria yang baik, tetapi sewaktu-waktu dia bisa menjadi singa yang kejam kalau kehidupannya terusik.


" Max, pikirkan lagi keputusan mu, karena ini bukan saja menyangkut Bryan, tapi juga Adinda, Hartawan dan pastinya Alina,"


Max mengetatkan rahang dia mengerti maksud Leo, pria itu sedang mencoba mempengaruhinya. Dia tidak menampik karna ucapan Leo ada benarnya, bagaimana perasaan Alina jika dia tiba-tiba mememenjarakan semua orang sementara Alina sendiri belum mengetahui kebenarannya.


" Jangan coba -coba mengintimidasi saya, atau anda akan menyesal," ucap Max mempertahankan keegoisannya.


" Saya tidak bermaksud begitu Max, hanya memberitahu bahwa bukan cuma Alina yang menjadi korban,"

__ADS_1


Max mengerutkan kening,


" Sama halnya dengan Alina, Adinda juga tidak mengetahui situasi yang terjadi, gadis malang itu hanya menuruti alur yang sudah disiapkan Hartawan,"


Max menyugar wajahnya, dia sudah bisa menduga kalau Adinda tidak mungkin tega melukai perasaan orang lain hanya demi kebahagiaan nya sendiri.


" Katakan dengan jelas,"


Leo mau tak mau menceritakan semua yang dia ketahui. Bryan dan Hartawan pasti akan mengecam tindakannya tapi dia tidak takut. Persetan dengan hutang budi, keselamatannya dan juga nama baiknya lebih penting. Apa kata koleganya kalau seorang Leo yang selama ini dikenal bersikap professional ternyata terlibat kejahatan manipulatif.


Pertemuan Bryan dan Adinda bermula saat mereka mengadakan meeting di singapura. Siapa sangka disana Leo berjumpa dengan sahabat lamanya Hartawan dan juga putrinya. Entah bagaimana ceritanya Bryan dan Adinda terlibat one night stand, keduanya terpergok tidur bersama. Padahal seingat Leo, Bryan type pria yang setia.


Hartawan murka, dia meminta pertanggungjawaban Bryan saat itu juga, Bryan menjelaskan kalau dia akan menikah dengan tunangannya tapi Hartawan tidak mau tahu. Dia mengancam akan menghancurkan Bryan dan keluarganya. Bryan pun memenuhi permintaan Hartawan dengan syarat memberikan dia waktu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Alina. Leo pikir Bryan akan berkata jujur siapa sangka pria itu malah membuat drama kematian. Leo sudah memperingatkan tapi Bryan tetap mengotot dan meminta Leo untuk membantunya. Teringat akan jasa Bryan dia pun setuju meski dengan setengah hati. Dia merasa bersalah pada Alina namun rasa bersalah itu sedikit berkurang ketika Max menemuinya. Dia menyambut baik niat pria itu untuk mendekati Alina.


Max menghela napas, dia menatap Leo dengan pandangan selidik mencoba mencari kebohongan disana, dia menangkap ada ketulusan apalagi saat Leo mengungkapkan penyesalannya karena turut andil melukai perasaan gadis yang dicintai Max. Terlebih Leo sudah menganggap Alina seperti putrinya sendiri.


Max tau pasti bagaimana Leo memperlakukan gadis itu , bahkan pria itu tidak segan membela Alina dihadapan semua orang termasuk di depan Mahira sang adik ipar yang selalu mencari masalah dengan Alina. Leo sendiri yang mengirim Mahira kembali keluar negeri setelah kejadian Alina pingsan dikantor waktu itu.


" Semua yang saya katakan benar Max , tak ada yang saya tutupi, terlepas dari hubungan kita sebagai rekanan kamu dan Alina sudah saya anggap anak, kalian adalah pasangan favorit saya," ucap Leo sebelum pergi.


Aarghh!!


Max menyuarakan kekacauannya, satu persatu benda diatas meja berserakan kesegala arah. Adrian paham dengan kondisi itu, dan membiarkan Max melepaskan unek-uneknya.


" Yang dikatakan Leo ada benarnya Max , gak usah pikirkan Bryan atau yang lainnya, mereka kita urus belakangan, selama ini kamu mencari bukti -bukti tentang Bryan demi Alina-kan?maka selesaikan dulu dengan gadis itu, "


Max makin nelangsa, dia tidak siap dengan kemungkinan Alina akan meninggalkannya, dia sanggup menghadapi semua rintangan dalam hidup, tapi dia tidak akan bisa bertahan tanpa gadis itu. Alina adalah jiwanya lalu apa artinya raga tanpa jiwa.


" Kalau kau berpikir Alina akan kembali pada Bryan, berarti kau tidak mengenal kekasihmu sendiri. Alina gak mungkin tega melakukannya apalagi Adinda sedang mengandung,"


Adrian benar, jangan kan menyakiti orang lain, pada nyamuk pun Alina tidak tega, dia selalu mengusir si penghisap darah manusia itu tanpa menepuknya.


" Mereka punya hak hidup," begitu alasan Alina saat Max mengungkapkan keheranan melihat tingkah gadisnya itu, ada ya orang yang segitu baik sama nyamuk.


Max tidak punya pilihan lain. Pria itu mengambil kembali ponsel yang tadi sempat terlempar. Layar benda pipih itu retak dimana-mana, mau tak mau dia harus ganti hape lagi karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


Belum sempat dia menekan nomor Alina, gadis itu sudah lebih dulu menghubunginya.


" Max, kamu harus segera kerumah sakit sekarang juga," ujar Alina panik


" Kamu kenapa sayang, ada masalah?"


" Aku gak bisa cerita di sini sayang, "


" Berikan saja clue-nya, bisa -bisa saya mati penasaran sebelum sampai disana," desak Max lagi.


" Ini menyangkut masa depan seseorang sayang,"


Max berdecak karena Alina masih berteka-teki.


" Masa depan? tenang saja sayang, secepat mungkin saya akan menemui ibu untuk melamar kamu,"


Gantian Alina yang mendengkus, Max Selalu saja bercanda disaat genting seperti ini.


" Ini bukan tentang kita Max, ada yang jauh lebih penting,"


" Tidak ada yang lebih penting selain masalah kita berdua sayang," Max terus saja menggoda Alina untuk mengurangi kecemasannya sendiri.


" Ck, aku gak bercanda sayang, cepat kesini, semua tidak baik -baik saja, mommy juga nungguin kamu disini, tadi mommy juga udah nelpon papi untuk datang kerumah sakit,"


Sontak Max terkejut, Kenapa Alina membawa mommy dan papi, kalau sudah begitu berarti memang ada hal serius yang sedang terjadi.


" Ini menyangkut masa depan Gladys dan juga Mas Orion" setelah mengatakan hal itu Alina benar -benar mematikan sambungan dan tidak memberikan Max bertanya lebih jauh.


" Apalagi yang kau lakukan Orion," batinnya gundah.


***


Jangan lupa bantu follow, vote dan komen ya, yang mau kenal lebih dekat yuk ikuti Instagram author @Dikatsabitha,


With Love

__ADS_1


Dik@


__ADS_2