Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
47. Sudah Waktunya


__ADS_3

Alina sulit menggerakkan kakinya, dia terpaku ditempat menatap nanar pada pemandangan yang membuat sesak, rasanya campur aduk menjadi satu. Tidak tahu mana yang harus didulukan, bahagia atau sakit yang menyayat.


Berharap semua hanyalah ilusi seperti mimpi buruknya waktu itu. Detik demi detik dia tunggu dengan sabar, menit pun berganti tapi bayangan itu tak kunjung pergi hingga suara-suara disekililing menyadarkan Alina bahwa ilusi yang dilihat nyata adanya.


Bryan Delano Pratama, sosok yang bersembunyi dibalik tabir kematian, kini mau tak mau harus menampakkan diri, sang istri beberapa saat lalu mengalami kontraksi hebat. Ketika itu dia baru saja sampai di mansion tempat istrinya tinggal. Baru saja memperkenalkan diri pada suami istri yang menyambut kedatangannya, teriakan histeris Adinda menggema membuat seisi rumah panik dan berhamburan menghampiri.


" Dinda kamu kenapa?" tanya Bryan cemas melihat sang istri duduk ditepian ranjang sambil meringis memegang perut. Masih jauh dari Hpl sebenarnya, tapi prediksi tidak bisa dijadikan patokan.


" Air ketuban kamu pecah sayang!" seru wanita paruh baya itu mengamati aliran bening dikaki Adinda. Kalau Bryan tidak salah dia adalah Widyawati, tantenya Adinda yang tak lain adalah ibunya Max. Adinda memang sudah memperlihatkan foto keluarganya jadi dia sudah mengenal wajah meskipun belum pernah ketemu secara lansung


" Kita bawa rumah sakit sekarang tan," Tante Widyawati mengangguk dan memberi ruang pada Bryan untuk menggendong Adinda.


" Papi akan siapkan mobil," ucap lelaki paruh baya yang tak lain adalah Hardi, ayahnya Max. pria itupun bergegas turun.


Bryan sedikit bingung menghadapi suasana awkward ini, tapi kekerasan hati Adinda yang mendadak ingin melahirkan di indonesia membuat dia tidak bisa menolak, Adinda punya seribu cara untuk membuatnya luluh. Semuanya menjadi tak terhindarkan, mungkin beberapa saat lagi dia akan bertemu dengan yang lain. Memikirkan saja sudah membuat Bryan pusing, dia hanya bisa pasrah mungkin memang sudah waktunya.


Dalam perjalanan Bryan tidak lupa menghubungi mama dan juga Sarah yang dari kemaren sore sudah sampai di jakarta tapi mereka menginap di sebuah hotel bintang. Rencananya baru hari ini mereka akan bersilaturahmi dengan keluarga Adinda bersama-sama.


Sampai dirumah sakit terdekat, dokter dan para perawat di UGD mengambil tindakan. Keluarga diminta menunggu diluar sampai paramedis selesai menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan persalinan. Berhubung sudah ada pembukaan, kemungkinan Adinda bisa menjalani proses persalinan normal.


Seorang perawat meminta suami pasien untuk mengisi administrasi mengingat mereka belum pernah check up dirumah sakit tersebut, beruntung salah satu dokter yang direferensikan oleh dokter di singapura memang bekerja disana. Jadi Adinda bisa mendapatkan pelayanan terbaik. Sama yang seperti mereka harapkan.


Ditengah kasak-kusuknya tanpa sadar Bryan bertemu tatap dengan seseorang yang memperhatikannya sedari tadi. Bryan tergugu, tubuhnya menegang. Peredaran darahnya seolah terhenti. Peluh mengalir di pelipisnya. Tidak menyangka sosok yang dia harapkan tidak dia jumpai justru menjadi orang pertama yang menemukannya. Dunia ini benar-benar sempit. Diantara banyak rumah sakit lain kenapa gadis itu juga ada disini, bahkan lokasi ini dibilang cukup jauh dari tempat tinggalnya.


" Alina," hanya itu yang terucap selanjutnya mereka terus saja saling memandang, sebuncah kerinduan menyeruak didalam dada pria itu, tapi akal sehatnya masih tersisa dan Bryan bergegas menghampiri brankar sang istri yang baru keluar dari UGD hendak dibawa menuju ruang persalinan. Bryan mau tak mau ikut kedalam untuk menemani, meski disatu sisi dia ingin bicara dengan Alina, menjelaskan semuanya. Sayang waktunya tidak tepat. Ada yang lebih penting sekarang.


Sakit rasanya melihat luka yang tersirat dalam mata Alina, " Maafkan aku Al," batinnya nelangsa seiring dengan pintu yang sudah tertutup rapat.


Alina tercenung, sulit dipercaya jika orang yang diyakini sudah tiada justru masih hidup, malah terlihat bugar. Dan yang paling menyakitkan orang tersebut berstatus sebagai suami dari Adinda, adik sepupu kekasihnya sendiri. Takdir seperti apa ini, seolah hidup sedang mempermainkan perasaannya.


Alina mulai mencerna satu persatu, Ingatannya kembali melayang pada hari pemakaman.


" Maafkan kami kak, kami gak bisa menunggu kakak sadar dari pingsan, bekas jahitan kak Bryan merembes jadi kami memutuskan untuk segera menyelesaikan pemakamannya,"


" Tapi izinkan aku melihatnya untuk terakhir kali Sar, aku mohon,"

__ADS_1


" Sesuatu yang sudah ditutup tidak baik dibuka lagi nak, kamu harus belajar mengikhlaskan," imbuh Tante Merry, mamanya Bryan.


Alina tidak bisa berkata-kata lagi, dan menerima apapun yang keluarga Bryan putuskan, melepas kepergian orang yang paling dikasihi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.


" Sayang, kamu disini juga?" tanya Widyawati menghampiri, karena berkecamuk dengan pikiran Alina sampai tidak sadar dengan keadaan sekitar.


" Iya tan, tadi aku menemani Gladys konsul, "


" Ooh, bagaimana keadaan Gladys nak,"


" Sudah jauh lebih baik Tan,"


" Syukurlah, pasti dia sangat bosan hampir sebulan bolak balik ke rumah sakit,"


Alina memaksakan diri untuk tersenyum.


" Adinda sudah mau brojol, sekarang dia didalam sama suaminya," jelas wanita paruh baya itu sumringah.


Alina miris, semuanya menjadi jelas. Bryan sudah menikah dengan Adinda, merunut pada kehamilan Adinda bisa dipastikan menjadi penyebab kehancuran Alina bermula.


***


" Bryan masih hidup bu," jelas Alina dengan mata berkaca-kaca, gadis itu berusaha keras menahan tangis. Tidak sudi rasanya membuang airmata hanya untuk orang yang tidak pernah peduli akan dirinya.


Ranti terperangah mendengar ucapan putrinya itu. Diapun mendengarkan seksama cerita Alina yang mengalir begitu saja. Bagi Alina tidak ada yang perlu ditutupi kapan perlu seluruh dunia tahu betapa brengseknya seorang Bryan.


" Lalu apa yang akan kamu lakukan nak,"


Alina tersenyum sinis, "aku akan ikuti permainannya, kalau perlu aku akan membuat perhitungan dengan mereka, lihat saja mereka akan menyesal sudah bermain-main dengan Alina,"


Ranti cukup mengerti dengan apa yang Alina katakan, tapi balas dendam bukanlah penyelesaian yang baik, terlebih jika Alina memanfaatkan Max.


" Ibu pikir tidak ada gunanya lagi membalas dendam nak, yang ibu inginkan kamu move on, bukankah kalian sudah memiliki pasangan masing-masing, anggap saja kelicikan Bryan itu sebagai berkah karena dengan begitu kamu akhirnya dipertemukan dengan Max,"


Mengingat Max , Alina mengedarkan pandangan sedari sadar dari pingsan dia sudah berada di ruangan ini dan orang yang pertama kali dia lihat hanya ibu.

__ADS_1


" Max sedang keluar , tadi dia yang jagain kamu, pas ibu datang dia langsung pamit,"


" Kemana bu?"


Ranti mengedikkan bahu. Alina mengerutkan kening, dia sangat tahu bagaimana Max. Tidak mungkin pria itu meninggalkanya tanpa alasan, terlebih dia belum siuman. Penasaran dengan apa yang dilakukan pria itu. Alina beranjak turun dari brankar.


" Kamu mau kemana nak?"


" Aku akan mencari Max bu,"


" Kamu masih lemah tunggu aja, bentar lagi balik kok,"


Alina bersikeras membuat Ranti mau tak mau mengikuti langkah putrinya, Alina berjalan menuju ruang persalinan, mungkin saja Max ada disana, tapi tidak ada siapapun dan dia bertanya pada suster , gadis berpakaian serba putih itu menerangkan kalau Adinda sudah melahirkan dan dipindahkan ke ruang rawat VIP ibu dan anak.


"Udah Al, balik aja yuk mana tau Max sudah kembali," bujuk Ranti lagi, Alina tidak punya pilihan lain, dia tidak mau bertemu yang lainnya paling tidak untuk sekarang. Disaat yang bersamaan dia bertemu dengan Tirta.


" Dicariin dari tadi gak taunya disini, Gladys udah selesai dan kita mau pulang sekarang,"


Alina baru mengingat tujuannya dirumah sakit ini, berarti dia pingsan cukup lama, untung saja dia meminta bantuan Tirta tadi untuk menjemput Gladys kalau mereka sudah selesai.


" Kakak duluan aja sama Gladys aku masih ada urusan sama ibu, oh ya bu, kenalkan ini kak Tirta, kakaknya Gladys,"


Ranti menjabat tangan pemuda yang mengangguk sopan, dia sudah mendengar banyak tentang Gladys dan sudah menjenguknya waktu dirawat tapi baru kali ini ketemu dengan kakak gadis itu.


" Aku melihat Max ada ditaman sebrang rumah sakit bersama beberapa orang, sepertinya ada hal serius yang sedang mereka bicarakan jadi aku sungkan menghampiri, sampaikan salamku," ucap Tirta sebelum berlalu.


Alina mengucapkan terima kasih atas informasi yang didapatnya dia segera berlari ke arah yang dimaksud, meninggalkan Ranti yang kepayahan menyusul putrinya..


Dari kejauhan, Alina melihat Max terlibat baku hantam dengan Bryan, keadaan Bryan boleh dikatakan tidak baik, karna pria itu tidak membalas sama sekali. Hanya Sarah yang terus berteriak histeris tapi tidak ada yang menggubris.


Alina terus berlari, bermaksud menghentikan kedua orang itu tanpa memperhatikan situasi dia menyebrangi jalan, tiba tiba gadis itu terpental begitu sebuah minibus menghantam tubuhnya tanpa ampun.


" Alinaaaaaa"


***

__ADS_1


__ADS_2