
Mendapat kabar dari Orion, Max langsung menyerahkan semua urusan kantor pada Adrian, lalu menghubungi asistennya yang lain, Vano untuk mengerahkan semua anak buahnya.
Max mengemudikan mobil dengan kecepatan maksimal, tak lama dia sudah berada di rest area yang dimaksud bersamaan dengan kedatangan Orion. Tak lama Vano dan orang-orangnya sudah berada di sana.
Gladys dan Tasya bergidik, Max terlihat sangat marah. Orion menghampiri, menanyakan bagaimana kejadian yang sebenarnya pada Gladys, istrinya itu terus saja menangis saat ditelpon. Jadi Orion tidak mendengar dengan jelas.
Gladys pun mengulangi ceritanya dari awal.
" Tenanglah sayang kita pasti bisa menemukan Alina, sekarang kamu dan Tasya pulang saja, Pak Adi akan mengantar kalian, "ucap Orion memeluk sang istri yang tak berhenti meneteskan airmata.
" Tapi aku gak bisa tenang sebelum Alina ketemu, aku mau ikut mencarinya mas, "
Tasya turut menganggukkan kepala. Bagaimanapun mereka pergi bersama-sama.
Orion tidak setuju dengan permintaan Gladys, situasinya tidak semudah yang dibayangkan. Mengingat tidak ada orang yang menyadari peristiwa tersebut kecuali seorang anak kecil.
" Aku tau kamu khawatir, tapi tidak ada yang bisa kamu lakukan disini, Max dan aku akan mengurusnya, percaya kalau Alina pasti ketemu dan dia baik-baik saja, " Orion mencoba memberi pengertian.
Gladys mengalah, karna memang keberadaan mereka tidak banyak membantu, dia sudah menjelaskan semua kronologi pada suaminya dan Max juga terlihat tengah menginterogasi orang-orang yang ada disana.
Dengan berat hati Gladys dan Tasya meninggal kan tempat itu, dengan diiringi patwal yang sudah disiapkan oleh Orion.
" Apa saja kerjaan kalian! area sekecil ini tidak bisa kalian jaga! " Hardik Max pada dua penjaga keamanan. Pria itu tidak bisa lagi membendung emosi, apalagi mengetahui CCTV yang seharusnya bisa menjadi petunjuk sedang rusak.
Satu-satunya yang menyaksikan penculikan hanyalah anak kecil, penjual asongan. Keterangan tersebut juga tidak bisa dijadikan acuan, anak itu tidak melihat nomor plat dan juga jenis mobil. Sementara mobil hitam yang berseliweran di jalanan bebas hambatan tersebut tidak terhitung.
Vano segera meminta petugas tol untuk memeriksa rekaman CCTV pada jam yang dekat dengan kejadian, berharap mendapatkan petunjuk tentang mobil hitam yang dimaksud. Tentu saja data yang dibutuhkan akan memakan waktu lama dan Max tidak bisa menunggu.
" Kita kebandung sekarang! "
Vano mengerutkan dahi, tapi tak berani bersuara.
"Aku yakin mereka membawa istri ku ke daerah bandung, " tegas Max menjelaskan
" Bagaimana kalau dugaanmu salah, " ujar Orion
" Kita ada dijalan tol, mereka tidak bisa melawan arus," jelas Max lagi.
__ADS_1
" Tapi satu kilo kedepan ada u turn, bisa saja mereka putar arah , "
Max menggeleng, " Hanya petugas yang boleh berputar disana, akan terlalu beresiko kalau mereka nekad. Mereka pasti tidak mau dicurigai. "
Ting!
sebuah pesan masuk diponsel Vano
"Boss, ada pesan dari petugas tol, katanya ada sebuah van hitam yang berhenti direst area, no polnya sudah diperiksa, mobil tersebut milik perusahaan rental di bandung, namanya...... ",
" Ok, kita berangkat sekarang, minta anak buahmu yang di Jakarta untuk stand by , Kompol Adam akan adakan razia di setiap pintu keluar kota, bergerak dari semua sisi, malam ini juga Alina harus ketemu!"
Vano mengangguk paham, dengan segera dia melakukan apa yang diperintahkan Max. Sebelum meninggalkan lokasi, Max sempat memberikan beberapa lembar uang kepada anak kecil yang sudah memberikan kesaksiannya.
" Makasih tuan, semoga istri tuan segera ditemukan! " ucapnya tulus. Max mengangguk dan mengaminkan harapan anak kecil itu.
" Kau punya clue? " tanya Orion memecah keheningan yang terjadi, pria itu mengambil alih kemudi karena yakin Max pasti sangat kacau. Dia tidak ingin Max membahayakan diri.
"Belum, tapi aku pastikan mereka akan membayar kejadian ini dengan nyawa!" desis Max geram.
Orion menghela napas, sudah lama dia tidak melihat sosok mengerikan dalam diri Max. Dalam keadaan marah, pria itu tidak pernah main-main, dia selalu membuktikan ucapan. Bisa dikatakan Max akan kehilangan sisi kemanusiaan jika sudah menyangkut orang yang dia cintai.
Tidak sulit bagi Max menemukan dalang sebenarnya, Max menghajar habis-habisan tanpa ampun kalau tidak dihentikan papi, pria itu pasti sudah meregang nyawa. Belum lagi sepak terjang Max ketika dihadapkan pada situasi pelik. Kematangan berpikir Max membuat dia mampu menyelesaikan masalah dalam satu keputusan.
Mobil mereka sudah memasuki kota kembang. Tanpa membuang waktu mereka terus melaju ke alamat dimana perusahan rental itu berada.
Tak ingin membuat gaduh ditengah malam, Vano berinisiatif turun sendiri dan mencari informasi dari pemilik mobil.
" Mobil tersebut sudah dijual beberapa hari yang lalu boss, jadi bukan milik mereka lagi, "
Sh*it. Lagi-lagi jalan buntu
***
Bryan mengecup kening Adinda dengan lembut.
" Dear, aku pulang, maaf aku baru tahu kalau kamu dirawat! " bisik pria itu dekat ditelinga sang istri.
__ADS_1
Adinda membuka mata, kemudian tersenyum sendu saat melihat wajah Bryan ada didekatnya.
" Kamu kemana aja dear, aku sakit hiks! "wanita itu meneteskan airmata. Bryan menggengam tangan Adinda dan mengecupnya sangat dalam.
" Maaf dear, kondisi dilapangan sulit ditebak, aku mendapat sedikit kendala dalam pekerjaan, aku sengaja mematikan ponsel agar tenang dan fokus menyelesaikan masalah, "
Adinda mengerti.
"Begitu menyalakan ponsel lagi, aku malah mendapat kabar kamu disini! " lanjut Bryan penuh sesal.
"Gak papa dear, sekarang kamu disini, aku sudah senang,"
" Maafkan aku, pergi dalam keadaan marah tanpa memikirkan bagaimana keadaan kamu dan juga anak-anak"
Adinda menggeleng, " Kamu gak perlu minta maaf dear, aku juga salah karena tidak pernah mengerti perasaan kamu,"
Bryan tersenyum tipis. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Hanya ada mereka berdua dalam ruangan ini. Mommy tak terlihat mungkin sengaja keluar agar mereka berdua leluasa bicara.
" Kamu sudah tau kalau aku.... " Adinda menggantung kalimat, dia mengelus perutnya yang masih datar.
Bryan mengangguk. pria itu berdiri kemudian mengecup perut Adinda dari balik selimut. Hati wanita itu menghangat oleh perlakuan suaminya. Segala amarah yang sempat membuncah ketika Bryan hendak berangkat waktu itu menguap begitu saja.
Ketika itu Adinda emosi, tidak suka Bryan pulang dalam kondisi setengah mabuk. Dia berteriak marah karena tau pasti alasan Bryan mengonsumsi minuman keras. Apalagi kalau bukan Alina.
Keduanya terlibat pertengkaran mulut. Adinda tidak mengerti, Bryan terus saja memikirkan sang mantan, sementara Alina sendiri sudah berbahagia dengan suaminya. Bryan yang tidak tahan dengan ocehan Adinda memutuskan untuk pulang kerumah mama sambil membawa beberapa baju ganti.
" Aku perlu waktu untuk menenangkan diri, besok aku juga mau keluar kota, jadi gak usah mencari ku, " ucap Bryan sebelum pergi. Ada kelegaan dalam hati Adinda saat itu, setidaknya Bryan masih pamit.
Sekarang suaminya sudah kembali, merenungi apa yang telah terjadi, Adinda akan berusaha mempertahankan rumah tangganya, apalagi Tuhan kembali mempercayakan anugrah dalam rahimnya. Dia tidak ingin anak-anak nya tumbuh dalam keluarga broken home. Sebisa mungkin dia akan membantu Bryan untuk melupakan Alina dan menerima dirinya sebagai satu-satunya wanita yang dicintai.
" Dear, kita mulai semuanya dari awal? " ucapnya penuh harap.
Bryan tersenyum, tangannya terulur mengusap wajah sang istri
" Apapun yang terbaik untuk kita dan juga anak-anak,"
***
__ADS_1
Jangan lupa vote dan comment ya 🥰