Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
54. Pertemuan Tak terduga


__ADS_3

Lewat tiga hari dari kejadian di pesta ulang tahun Moza, Max masih belum menemui Alina kembali, bukan karena dia marah pada gadis itu, dia hanya sedang mengatur sebuah rencana matang. Dia merasa ada yang janggal atas pengakuan amnesia Alina. Bagaimana Alina membiarkan Max memeluknya beberapa saat dan juga ekspresi Audrey yang dilihat Adrian begitu Alina mengatakan dia lupa ingatan. Audrey nampak terkejut sama seperti mereka. Semua itu tentu menjadi tanda tanya.


Dan untuk mengungkap kejanggalan tersebut, Max harus mendapatkan bukti agar Alina tidak bisa mengelak.


" Okey baiklah, semoga hari ini aku sudah mendapatkan informasi nya. " Max menutup panggilan lalu menuruni anak tangga. Perutnya terasa lapar, beberapa hari ini jadwal makannya berantakan.


" Sayang, mommy udah masak spaghetti kesukaanmu, " sapa Widyawati begitu melihat putranya menghampiri ruang makan.


Semua keluarga sudah berkumpul, termasuk Adrian yang memang dia minta untuk datang ke mansion pagi ini. Mereka akan menghadiri beberapa pertemuan penting selain itu ada beberapa hal yang harus dia bicarakan dengan sahabat sekaligus asistennya itu.


" Moza mana? masih tidur? " tanya Max sambil mengambil posisi pada kursi tunggal yang bersebrangan dengan sang papi.


Gladys yang sedang mengambilkan makanan untuk Orion mengangguk sebagai jawaban. Gadis kecil itu menjadi alasan Max tinggal di mansion, Moza tidak membiarkannya pulang ke apartemen tentu saja Widyawati senang, dengan begitu dia bisa mengawasi Max.


Dia khawatir jika Max dibiarkan sendirian, mengingat bagaimana hancurnya perasaan Max karena Alina membuat dia memikirkan kemungkinan buruk. Meski dia tahu putranya itu tidak mungkin menyakiti diri sendiri. Terbukti selama tiga tahun Max baik-baik saja. Tetap saja dia merasa cemas.


" Apa rencanamu ke depan Max? " tanya Hardi, Widyawati mendelik pada sang suami karena menanyakan masalah sensitif di meja makan, Hardi yang mengerti maksud sang istri hanya mengangkat bahu.


" Akan aku beritahu segera pi, "ujar Max sambil menyuap makanan miliknya. Spaghetti buatan mami selalu menjadi favoritnya sejak lama, jadi dalam beberapa menit piring nya sudah kosong.


" Mau lagi nak? mommy buat banyak, "


Max tidak menolak membuat Widya bersemangat menambahkan makanan khas Italia itu ke piring Max.


" Entah kenapa aku merasa Alina hanya pura-pura, " cetus Orion. Meskipun jarang berkomunikasi dengan Max, dia cukup prihatin dengan masalah saudaranya itu.


"Pasti Alina ada alasan, papi juga merasa ada yang mereka sembunyikan, " bukan Max tapi Hardi yang menimpali. Widyawati hanya bisa pasrah. Topik yang harusnya dihindari saat ada Max justru semakin gencar untuk dibahas.


" Pura-pura atau tidak, semua akan terungkap secepatnya." Max menjawab seadanya, pertanda dia tidak ingin membicarakan lebih jauh.Setelahnya mereka beralih ke obrolan soal bisnis.


Widyawati bersyukur karna sejauh ini Max lebih tenang. Apapun yang Max akan lakukan, dia percaya putranya itu mampu mengatasi.


Disaat sesi sarapan hampir selesai, Adinda datang bersama suaminya, sontak suasana menjadi kaku, Max yang sedari awal menunjukkan aura permusuhan pada Bryan pamit di iringi Adrian. Orion melakukan hal yang sama. Menyisakan Hardi dan Widyawati.


Adinda merasa sedih, karna Max tidak kunjung menerima Bryan dalam keluarga mereka. Tidak dipungkiri memang suaminya bersalah, hanya saja dalam sebuah kesalahan pasti ada hikmah yang bisa diambil. Kalau bukan karena Bryan, mungkin Max tidak akan bisa bersama Alina. Secara tidak langsung kesalahan Bryan sudah membuka jalan bagi Max untuk mendapatkan Alina.


Semua itu hanya ada dalam pikiran Adinda, dia tidak berani mengungkapkan langsung, bagaimanapun Max adalah kakaknya. Max juga berjasa dalam kehidupannya. Max berbaik hati menanamkan saham yang cukup besar pada perusahaan ayahnya disaat mereka hampir bangkrut dan terlilit hutang pada saat pandemi kemaren.


***


" Apa Erik belum mengabari? "tanya Adrian begitu mereka dalam perjalanan kekantor.


" Sudah, dia sudah mendapatkan izin untuk mengakses dokumen tersebut, tapi admin di rumah sakit itu baru bisa mengirim dokumennya siang ini, "


" Apa kau siap dengan segala kemungkinan? "

__ADS_1


Max mengerut kan kening.


" Maksudku, bagaimana kalau Alina benar-benar amnesia, aku sempat membaca artikel tentang itu, ada amnesia yang bersifat sementara, namun ada juga yang fatal dan permanen, " jelas Adrian.


Dia tidak bermaksud menakuti, semua kemungkinan bisa saja terjadi.


Max menghela napas, " Dia amnesia tapi aku tidak, aku akan membuatnya jatuh cinta lagi padaku, "


" Yah sudah kuduga, " Adrian terkekeh.


Tak ada lagi pembicaraan setelahnya. Max maupun Adrian terpaku pada notebook masing-masing, hingga suara ban berdecit karena rem mobil diinjak mendadak, membuat mereka terhuyung ke depan.


" Ada apa pak? " tanya Adrian pada sopir.


" Maaf Pak, bukankah itu Mbak Alina? " tunjuk sopir pada seorang gadis yang sedang berdiri di halte bus dengan menggandeng seorang anak laki-laki. Mendengar nama Alina disebut, Max segera memandang kearah yang dimaksud.


" Kerja bagus pak, minta Adrian mengeluarkan bonus untukmu, " ucap Max sumringah. Sama senangnya dengan pria paruh baya yang sudah sepuluh tahun mengabdi pada keluarga Max begitu mendengar kata bonus.


" Kalian tunggu disini, aku akan menghampiri, " Max bersiap turun.


" Tapi Max, kita sudah ada janji!" Adrian mengingatkan, pertemuan hari ini sangat penting tapi bagi Max tidak ada yang lebih penting daripada belahan jiwanya.


" Kalau begitu kalian lanjutkan perjalanan, kau dan mbak utami meng-handle semuanya sampai aku datang, "


Adrian tidak yakin Max akan datang, tapi memaksa Max adalah mustahil terlebih menyangkut kekasih hatinya.


Max turun dan berjalan ke arah Alina dengan ekspresi tenang, gadis itu shock melihat kedatangan Max.


" Hai, kita bertemu kembali, " sapa Max memamerkan senyuman manis. Membuat para wanita yang ada didekat mereka ikut terpana. Kedatangan Max cukup menyita perhatian, siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan pria itu, tapi fokus Max hanya pada Alina.


" Saya rasa urusan kita sudah selesai tuan, jangan ganggu saya!" ucap Alina ketus.


Max tidak tersinggung, dia justru memamerkan deretan giginya yang putih.


" Kita memang tidak ada urusan, tapi tidak ada salahnya kalau saya mau berteman dengan anda nona, "


Alina mendengus kesal. Mana bus yang mereka tunggu belum kelihatan hidung nya. Kak Audrey lagi sakit, jadinya dia yang mengantar Dirga mengikuti outbound class ke Ragunan.


Berhubung rumah mereka di dalam gang, tidak memungkinkan untuk bus jemputan masuk kedalam, Alina dan Dirga menunggu di halte bus terdekat.


" Saya rasa tidak perlu, tolong jangan ganggu saya! "


Max tidak kehabisan akal, dia melirik pada bocah yang sedari tadi diam menatap padanya.


" Hallo jagoan, " sapanya ramah

__ADS_1


" Om siapa? ngapain ganggu aunty aku, " Ucap Dirga posesif dan memandang curiga pada Max.


" Om gak ganggu kok kan om temannya aunty kamu, "


Dirga mengangguk, " Aku tidak suka kalau ada yang jahat sama mami, aunty juga oma, kakak zizi juga, kalau jahat aku akan lawan dengan karate, " untuk anak seusianya, Dirga sangat lugas dalam berbicara.


Max mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Dirga.


" Kenalkan, nama om adalah Maxime, cukup dipanggil Max, " ucapnya mengulurkan tangan, bocah itu menjabat tangan Max.


" Aku Dirga, "


" Apa sekarang kita berteman? "


" Tentu saja, "


" Toss dulu dong",


Max pintar mengambil hati Dirga, keduanya langsung akrab. Dirga yang tadinya kesal karna bus belum datang lupa seketika. Malahan bocah itu tertawa-tawa mendengarkan cerita Max.


Dalam hati, Alina takjub dengan sikap Max. Sisi lain yang baru dia tahu kalau Max pintar mengambil hati anak-anak. Terbukti Dirga sangat nyaman dengan pria itu. Dengan Kak Aditya saja yang notabene adalah pamannya, Dirga tidak terlalu dekat.


Alina tak lagi protes dengan kehadiran Max. Tanpa disadari keduanya sudah duduk bersebelahan di kursi halte, Max sesekali melirik pada betis kiri Alina yang dipasangi penyangga. Membayangkan bagaimana Alina melewati banyak kesulitan selama ini. Semoga saja sore ini Dr. Erik memberikan informasi yang dia butuhkan sehingga dia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Sebuah bus besar dengan motif khas taman kanak-kanak berhenti di halte. Alina segera berdiri dan menggandeng tangan Dirga, tak mau kalah Max juga bersiap.


" Anda mau ngapain? " tanya Alina heran.


" Ikut ke ragunan, iya kan ga, om boleh ikut ya? tanya pria itu meminta persetujuan


" Boleh dong om, di sana kita akan kasih makan jerapah, gajah, monyet, burung" cerocos Dirga tidak sabar


" Jangan macam-macam, ini acara sekolah, anda orang luar, " bisik Alina kesal.


Max hanya mengedikkan bahu, pintu bus terbuka dan seorang guru menyapa Dirga dan juga Alina. Mereka dipersilahkan masuk. Saat Max mengekor, guru tersebut mencegatnya.


" Kalau boleh saya tau, bapak ini siapa ya? "


" Saya omnya Dirga, undangan nya untuk berdua kan, saya dan Alina yang akan mendampingi Dirga, kenalkan saya Max, tunangan Alina. " ucap pria itu percaya diri.


***


Hallo readers tersayang, jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan comment nya,


Terima kasih

__ADS_1


🥰


__ADS_2