
Berada dalam keramaian tidak lantas membuat hati Max bahagia, raganya mencoba untuk larut dalam euphoria pesta ulang tahun sang keponakan. Namun sekeras apapun berusaha dia tidak bisa membaur sepenuhnya. Alasan yang membuat dia bertahan hanya tingkah manja Moza yang selalu ingin ada didekatnya.
Moza berhasil menurunkan ego Max, siapa yang tidak jatuh cinta pada batita itu, suara cadel dan pipi chubby membuat siapapun merasa gemas.
Sepanjang acara hingga semua prosesi selesai, tak sekalipun Moza melepaskan Max, mungkin karena kerinduannya selama Max jauh membuat dia enggan digendong orang selain pria tampan itu. Mau tak mau Max harus berada diantara kedua orang tua bocah itu, mendampingi dalam setiap momen.
Moza sebenarnya sangat dekat dengan daddy begitu panggilannya pada Orion. Entah kenapa hari ini Orion kalah pamor dengan sang adik. Dan karena kelelahan, Moza akhirnya tertidur.
"Maafkan Moza jadi merepotkan, "ucap Gladys tak enak hati saat Orion mengambil alih gendongan dari Max.
Max menggeleng " Tidak masalah, aku kan pamannya, " balas Max dingin. Senyum yang sempat mengembang selama ngemong Moza hilang berganti wajah datar tanpa ekspresi.
"Kurasa kau harus mencoba makanan ini, supaya sesekali mood-mu itu membaik, " singgung Adrian bercanda.
Max melirik sekilas pada Adrian yang sedang menyantap seporsi nasi padang. Tampak menggiurkan dari cara makannya yang lahap. Baru kali ini Max melihat Adrian seperti orang kelaparan.
Sayang Max intoleran pada nasi. Kalau tidak Max pasti akan ikut mencoba karna ngiler.
" Jangan menggodanya Dri, sebutir nasi akan membuatnya KO, " ucap Hardi nimbrung.
" Wah, sangat disayangkan kalau begitu, tahan saja rasa lapar mu sepanjang malam, tak ada makanan barat disini, "kekeh Adrian disela suapannya.
Widyawati yang baru saja bergabung setelah menjamu teman-temannya menjitak pelan kepala sahabat putranya itu.
" Siapa bilang tidak ada, mommy selalu mengutamakan putra kesayangan mommy ini, " Widyawati mengelus kepala Max dengan penuh rasa sayang.
"Dan ini dia hidangannya istimewa untuk sosok yang istimewa, " ucap seseorang yang datang ke meja mereka sembari membawa piring berisi sepotong steak daging porsi lengkap lalu menaruhnya dihadapan Max.
Sosok berambut pirang tak lain adalah Tiara. Dengan senyum manis Tiara mengambil posisi duduk disebelah Max.
Sudah jadi rahasia umum kalau Tiara kembali mendekati Max, kabarnya dia berpisah dengan suaminya lalu pulang ke Indonesia. Mendengar Max masih sendiri, dia gencar mencari perhatian. Mendekati keluarga Max dengan membawa putrinya sebagai umpan. Keluarga Max sangat menyukai anak kecil.
" Reika dimana ra? "tanya Widyawati menanyakan keberadaan putri Tiara, setaunya wanita itu hanya datang berdua anaknya. Tidak membawa pengasuh.
" Reika tadi merengek minta pulang tan, trus aku telpon sus menjemputnya kesini, sekarang sudah di rumah tan, "
Widyawati mengangguk mengerti. Reika seumuran dengan Moza jadi wajar kalau anak seumur itu mudah bosan.
"Om sama tante mau steak juga gak, biar aku ambilkan sekalian, "
" Gak usah, Om sudah coba tadi, " tolak Hardi
" Iya tante juga masih kenyang, "
"Wah pada ngumpul di sini!" Adinda menghampiri, dengan santai dia mengambil potongan kentang dari piring Max lalu mencocol-nya pada saus kental.
"Hmmm sumpah mom, menu hari ini enak semua, main course, snack dan dessert nya so yummy, " tukas Adinda mengecup sisa saus yang meleleh dijari.
__ADS_1
" Iya mommy juga suprise, catering nya rekomendasi Lisa, "
" Loh bukannya ini masakan koki hotel mom, " tanya Orion muncul kembali setelah mengantar Moza ke room sambil membawa sepiring snack serta dessert dia sudah menghabiskan dua piring main course tadi.
" Bukan, catering luar tapi gak menyangka kalau hasilnya sangat memuaskan, mami jadi ingin ketemu dengan pemiliknya, "
Mendengar pujian semua orang tentang makanan, membuat Max semakin keroncongan. Dia bahkan belum makan apapun sedari tadi. Tak urung dia mencicipi makanan yang dibawakan Tiara untuknya.
Perlahan tapi pasti Max menikmati, sepotong demi sepotong daging steak berpindah tempat hingga ludes tak tersisa. Ada ekspresi berbeda saat Max menyantap. Semua orang di sana malah sibuk memperhatikan Max seperti orang yang sedang menunggu penjurian. Tak sampai disitu Max mengambil sepotong perkedel jagung dari piring Orion, tak cukup satu dia mengambil lagi, tanpa menghiraukan protes dari Orion yang tak kebagian.
"Kalau kamu suka biar aku ambilkan lagi," Tiara menawarkan diri, wanita itu tetap beranjak meski tidak mendapat jawaban.
" Aku rasa kita memang harus berterima kasih pada pemilik catering, masakannya luar biasa, mommy bisa panggil kan orangnya kemari?"
Dalam hati Max menyakini satu hal, hanya dia tidak mau gegabah menyimpulkan takut kecewa. Bisa saja cuma kebetulan. Segala kemungkinan tetap harus dicoba bukan?.
" Untuk apa Max, bilang ke mommy saja kalau kamu mau dipesankan makanan seperti ini, "
"Its not about the food, ada hal lain yang harus aku pastikan, " kilah Max menimbulkan banyak tanda tanya. Tak terkecuali Bryan yang duduk dimeja sebelah. Mungkinkah Max memikirkan hal yang sama seperti yang dia pikirkan.
***
Audrey menghela napas saat sosok yang menyapanya tadi adalah Lisa. Dia pun beralasan lelah dan butuh refresh barang sejenak. Lisa maklum dan tidak bertanya lagi, Lisa datang ke dapur hendak menemui kepala chef untuk membahas masalah pekerjaaan. Dia langsung pergi begitu urusannya selesai.
Audrey menatap pada ponsel, hampir tiga jam dia terkurung di ruangan pantry yang ada di dapur dan selama itu dia terus berkomunikasi dengan Teguh, karyawannya yang bertugas di ballroom. Audrey bersyukur semua berjalan lancar. Hampir semua tamu memuji masakan mereka. Semakin membuat Audrey lega. Menurut Teguh, acara hampir usai. Tinggal beberapa tamu dan juga tuan rumah yang masih berada di sana.
Beruntung acara yang mereka handle adalah acara ulang tahun anak-anak dimana waktunya tidak terlalu panjang. Sempat acara formal semacam wedding dan lain-lain, mungkin Audrey akan bersembunyi lebih lama lagi.
" Gawat kak! Max mulai curiga dan dia meminta maminya untuk memanggil pemilik catering, " ucap Tasya tiba-tiba nongol di pintu pantry. Audrey mengusap dada pertanda terkejut oleh kehadiran gadis itu.
" Bagaimana kau tau kalau kakak disini? " Audrey malah bertanya.
" Aku bertanya pada karyawan kakak, sudahlah yang penting sekarang kakak harus pergi dari sini, sebelum Max menemukan kakak, " ucap Tasya lagi.
Tasya memang masih berada di sana, sepanjang acara dia duduk bersama Ibu Gladys, begitu dia hendak menemani Ibu Gladys pamit, dia mendengar pembicaraan Max dengan maminya.
Audrey bergegas merapikan tas, dia mengikuti saran Tasya. Biar saja Teguh yang membereskan semua pekerjaan, dia akan memberikan bonus gaji tambahan pada anak muda yang kuliah di bidang tata boga itu nanti.
Baru saja keluar dari dapur, Audrey berpapasan dengan Lisa.
" Kebetulan sekali, Ibu Widya ingin bertemu denganmu, mari aku perkenalkan, " ajak Lisa.
" Mungkin lain kali Lis, aku harus pulang, Anak-anak ku rewel di rumah karena terlalu lama di tinggal, Ibu kewalahan, " Audrey mencoba beralasan.
" Oo come on, dia hanya ingin mengucapkan terima kasih karna semua masakan yang kalian buat top markotop, aku ikut senang mendengarnya, aku yakin setelah ini, catering mu akan semakin berkembang, "Lisa menggandeng Audrey menuju ballroom .
Tasya yang berada dibelakang mereka hanya bisa menghela napas berat. Mungkin sudah saatnya Max menemukan Alina.
__ADS_1
Audrey bersikap pasrah, saat mereka memasuki ruangan, semua mata tertuju padanya diiringi rasa terkejut saat Lisa memperkenalkan Audrey sebagai pemilik catering. Max tersenyum penuh kemenangan. Dugaannya tidak meleset. Dia memberi kode pada Adrian agar musik dihentikan. Adrian segera melakukan tugasnya. Mendadak ruangan tersebut menjadi senyap. Lisa pamit karna masih bertugas.
" Well, mommy sekarang mengerti kan? " ucap Max berdiri lalu melangkah mendekati Audrey dengan kedua tangan masuk kedalam saku celana.
Widyawati terpaku menatap Audrey yang tertunduk. Dia bingung bagaimana Max bisa menebak.
" Semua makanan yang kalian coba tadi, aku sangat paham rasanya. Steak, snack , dessert kecuali nasi padang tentunya. Alina selalu membawakan untukku, "
Max terdiam sesaat, " Jenis makanan boleh sama, tapi cara membuatnya tergantung pada masing-masing orang dan hal itulah yang memberi ciri khas. Alina sudah menanamkan rasa masakannya pada lidahku, terpatri hingga sekarang, " lanjut Max penuh penekanan terus memandang Audrey yang gelisah.
" Semua ini masakanku, Alina adalah adikku, tentu saja kami mempunyai kesamaan, " Audrey membela diri.
Max tersenyum sinis, " Kembar identik saja masih memiliki perbedaan,"
" Kenapa kau sangat bersikeras, Alina tidak disini, tidak kah kau mengerti. Aku sudah menjelaskan berulang kali, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahumu! " sergah Audrey tidak mau kalah.
Max menggelengkan kepala. Emosinya mulai membuncah.
" Kenapa kalian sangat keras kepala, aku bukan penjahat yang hendak melukai, aku hanya ingin cintaku, hidupku, napas ku kembali, hanya itu, bagaimana kau .... aarrgh" Max mengusap wajahnya kasar. Dia kehabisan kata-kata.
Widyawati mendekat kearah Max, mengusap lengan pria itu memintanya untuk sabar. Audrey sebenarnya tidak tega, dia bisa melihat seberapa besar Max mencintai adiknya. Tapi dia juga tidak ingin mengkhianati Alina.
" Maafkan aku Max, maafkan aku.." Audrey hendak melangkah pergi. Lama -lama disini dia bisa terbawa emosi.
" Tunggu! "
Audrey menghentikan langkah. Bryan berjalan kearahnya.
" Setidaknya katakan bagaimana keadaan Alina sekarang kak?Apakah dia sudah sembuh?" pinta Bryan
penuh harap.
Audrey menatap tajam pada Bryan.
"Apa peduli mu dengan keadaan adikku, urus saja istri dan juga anak-anakmu, "
" Aku berhak tau, bagaimanapun juga, aku adalah..... " Bryan menggantung kalimat lalu memandang nelangsa pada Adinda. Yang ditatap juga merasa tidak nyaman.
" Kenapa tidak dilanjutkan, kau mau mengatakan kalau kau adalah seorang tunangan yang memalsukan kematian demi menikahi wanita lain, begitu? " cecar Audrey membuat Bryan tak berkutik.
" Kalau bukan karena kau, Alina tidak perlu menghadapi semua kepahitan karena kehilangan, kalau bukan karena kau Alina tidak akan mengalami hari naas itu kalau bukan karena kau, adikku tidak akan ..."
" Kakak... !!"
***
Happy Reading, jangan lupa terus mensupport cerita ini ya, tekan tombol like dan subscribe agar masuk dalam rak buku kalian untuk menerima info apapun seputar cerita ini.
__ADS_1
Tq
Dik@