Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
17. Dibawah Hujan


__ADS_3

Widyawati sudah mengetahui kalau saat ini Alina tinggal di apartemen bersama Max untuk sementara. Adrian sudah menjelaskan alasan mengapa Max melakukan hal tersebut.


Widyawati tidak keberatan, karena dia sangat tahu watak Max, berbeda kalau Orion yang melakukannya, maka dia akan sangat menentang keras.


Sesuai dengan permintaan Widyawati, Adrian pun mengatur rencana untuk mempertemukan ibu dari bossnya itu dengan Alina, beruntung Max tidak lagi mengabaikannya begitu dia menyampaikan keinginan sang nyonya besar, Max setuju dengan rencana mereka menjamu dia dan Alina makan malam disebuah restaurant mewah.


Tinggal Max yang pusing mencari alasan yang tepat agar Alina bersedia pergi dengannya.


"Al, besok malam kamu punya waktu gak?" Max akhirnya memberanikan diri sesaat setelah gadis itu menjelaskan soal rancangan yang sedang dia buat.


Alina mengangkat sedikit alisnya, baru pertama kali Max berbasa basi seperti sekarang, dan dia merasa yakin ada kejutan yang sudah menunggunya, mungkin terdengar sangat percaya diri. Namun feeling-nya sangat kuat.


" Saya mau mengajak kamu menghadiri sebuah acara," tanpa menunggu jawaban Alina, Max sudah menjelaskan.


Mendengar permintaan Max, mendadak Alina didera kegelisahan, kenapa setiap kali berada didekat Max dan membicarakan sesuatu diluar pekerjaan, mendadak jantungnya tidak bisa diajak kompromi.


Berulang kali gadis itu menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang kering, hanya sebuah permintaan sederhana tapi Alina merasa jumpalitan.


Alina sudah menyakinkan diri berkali kali, bahwa Bryan masih mempunyai hak prerogatif dihatinya, tidak mungkin dia semudah itu menyerahkan perasaannya pada seorang Max.


" Acara seperti apa pak?mm maksud saya apakah pesta atau makan malam, atau...."


" Makan malam bersama seorang kenalan saya, lebih tepatnya ibu angkat saya," potong Max dengan sebuah kebohongan, mendadak dia merasa bersalah karena secara tidak langsung dia tidak mengakui Widyawati sebagai ibu kandungnya, dari awal dia sudah menciptakan kebohongan dan akan berakhir dengan kebohongan lain untuk menutupi. Hanya waktu yang bisa menghentikan semuanya, cepat atau lambat.


Max sadar dia terlalu pengecut untuk mengakui, demi bisa bersama Alina dia rela melakukan sandiwara, faktanya dia tidak perlu melakukan hal itu. Dengan semua yang dia miliki, mudah baginya untuk mendapatkan akses untuk mendekati Alina tapi sudah terlanjur dan untuk sekarang dia hanya berusaha mengikuti alur yang sudah dia ciptakan.


Max menunggu jawaban Alina dengan satu harapan bisa memenuhi keinginan Mommy lagipula tidak ada salahnya Mommy minta dikenalkan dengan perempuan yang sudah membuat putranya ini bertekuk lutut.


"Kenapa bapak mengajak saya, bukankah itu makan malam keluarga?"tanya Alina penuh selidik, dia yakin ada alasan dibalik ajakan ini.


" Saya hanya butuh teman, kalau saya datang sendiri mereka akan menertawakan saya,"


Alina tidak bodoh, dia bisa menebak arah perkataan Max.


" Apa ini semacam pencitraan, biar dikira bapak sudah punya pasangan?"


Max mengusap tengkuknya salah tingkah, sebuah senyum menghiasi bibir tipisnya yang merah alami membuat Alina terkesima dan tidak bisa mengalihkan pandangan.


" Bisa dibilang begitu, saya hanya mencoba meluruskan apa yang ada dalam pikiran mereka kalau saya masih normal,"ungkap Max jujur.


" Normal?"


Max mengangguk, " Selama ini saya menutup diri dan mereka sempat berpikir kalau saya belok," ujarnya sambil menggerakkan dua jari sebagai tanda kutip.

__ADS_1


" Uhuk- uhuk" Alina mendadak tersedak mendengar pernyataan tersebut, bahkan dia juga pernah beranggapan Max seperti itu sebelumnya.


" Kamu baik baik aja?" Max mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Alina, gadis itu langsung meneguk isi gelas tersebut.


" Saya hanya sedikit kaget waktu bapak bilang belok, pasti ada alasan kenapa mereka mengatakan hal tersebut?" tanya Alina begitu dia sudah menguasai diri, seketika dia ingin tau lebih jauh. Jika ada lebih dari satu orang yang mengatakan hal negatif tentangmu, bisa jadi kemungkinan itu benar kalaupun salah pasti ada alasan yang mendasari, ibarat pepatah tidak ada asap jika tidak ada api.


Max tidak langsung menjawab, dia mencoba menimang nimang.


" Saya dulu pernah hampir menikah, tapi dia pergi bersama laki laki lain, sejak saat itu saya menutup hati dan perasaan untuk wanita, saya tidak membiarkan satu wanita pun mendekati saya, mungkin karena itulah mereka beranggapan saya tidak normal lagi,"


Sekarang Alina baru mengerti sikap dingin yang ditunjukkan Max, ternyata pria itu sedang membentengi hatinya.


" Tetapi bapak masih normal kan?" Alina masih penasaran


Ups sepertinya dia salah, bukannya menjawab, Max malah menatap gadis itu dengan tajam, sontak Alina merutuki mulutnya yang tidak beretika.


Max berdiri dari duduk dan berjalan mendekatinya. Gadis itu tercekat, mampus apa yang akan dia lakukan, batin Alina gentar.


Max menumpukan kedua tangannya pada pegangan kursi yang Alina duduki, sehingga gadis itu terkungkung dan tidak bisa bergerak, perlahan Max mendekatkan wajahnya, hembusan hangat dari napas pria itu menerpa wajah Alina.


" Aa- pa yang akan bapak lakukan?" tanya Alina ketakutan dengan kepala tertunduk , dia tidak berani membalas tatapan pria itu, debar jantungnya sudah tidak terkendali, napasnya sedikit terengah. Max tersenyum smirk melihat sikap Alina.


" Bersiaplah jam tujuh malam besok, sekarang kamu bisa kembali melanjutkan pekerjaan," ucap Max menjauhkan diri.


***


Makan malam yang dipikir Alina akan dihadiri keluarga besar, hanya dihadiri beberapa orang saja. Dua orang paruh baya yang sangat ramah, dengan sopan Alina mencium punggung tangan mereka saat Max memperkenalkannya.


Dan dua orang pria muda yang Alina kenal, satunya Adrian yang waktu itu sempat bersama Max saat insiden yang menimpa Alina terjadi, kalau tidak salah Adrian itu sahabatnya Max dan yang satu lagi pria yang juga sempat menolongnya, dan dia baru tau kalau pria itu adalah kakak angkat Max, mereka memang tidak sempat berbincang karena Alina masih shock ketika itu.


" Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Widyawati pura pura heran saat Alina berterima kasih pada Orion, dia sudah mengetahui segala hal tentang Alina, dia hanya berusaha drama ini berjalan senatural mungkin.


" Waktu itu saya hampir di rampok tan, beruntung ada Mas Orion dan juga Pak Max yang menolong saya," jelas Alina


" Oh ya, terus kamunya gak papa kan sayang? " tanya Widyawati lembut, dia senang Alina bukan tipikal perempuan yang terlalu pemalu, dia senang dengan gadis yang mudah berbaur.


" Gak papa tan, hanya sedikit trauma tapi masih bisa dikendalikan,"


" Lain kali hati hati Al, apalagi kalau menyetir sendiri, usahakan tidak melewati jalan sepi atau tempat rawan," timpal Hardi menasehati


" Iya om, makasih udah mengingatkan,"


" Ngomong ngomong jangan panggil saya Mas dong Al, kesannya saya udah tua banget, panggil aja Rion " protes Orion dengan pandangan yang tak lepas dari wajah gadis itu.

__ADS_1


Bagaimana tidak, penampilan Alina begitu memancarkan kecantikan yang dimilikinya, dengan gaun selutut berwarna baby pink , rambut indah bergelombang, wajah dengan sapuan make up natural membuat siapapun yang memandang sulit untuk berpaling.


" Ehem" Max memberi kode


tapi Orion tidak menggubris, dia terus saja membuat percakapan hingga Alina larut dalam perbincangan dan melupakan kalau ada Max disana.


Hardi dan Widyawati sekarang mengerti kenapa Max begitu menggilai Alina, gadis itu sangat menyenangkan, dia mudah akrab dan juga smart, pandangan dan pengetahuannya sangat luas, tentu saja ditambah dengan kecantikan Alina yang mampu membius banyak mata, secara tidak langsung Orion juga menunjukkan ketertarikannya, baru kali ini Widyawati melihat Orion begitu antusias mengikuti acara makan malam yang menurutnya membosankan.


" Semoga saja tidak ada pertarungan sengit Pi" bisik Widyawati pada suaminya melihat perbincangan Orion dan Alina, sementara Max memandang tajam pada saudara laki lakinya itu.


Setelah acara makan malam usai, Max langsung mengajak Alina pamit, sebenarnya Widyawati keberatan, mereka masih punya banyak waktu untuk berbincang tapi perubahan diwajah Max menunjukkan kalau dia tidak suka dengan sikap Orion membuat wanita itu mengalah.


" Kalian hati hati, hujan masih belum reda, pasti jalanan sangat licin, "


Memang sedari mereka berangkat cuaca kurang bersahabat, dan hujan deras turun begitu mereka sampai di restaurant mewah tersebut.


Alina sebenarnya masih betah berlama lama, melihat keluarga angkat Max yang ramah, dia jadi terbawa suasana, tapi karena Max sudah mengajaknya pulang mau tidak mau dia ikut.


Dalam perjalanan, Max lebih banyak diam, dia fokus dengan setirnya, aura dingin dari wajahnya membuat Alina bertanya tanya. Max seperti bunglon padahal tadi sore sikap pria itu hangat, kenapa sekarang jadi dingin lagi.


Dan sederetan keheranan Alina semakin bertambah, Max memarkirkan mobilnya dihalaman depan apartemen, itu artinya mereka harus berjalan dibawah hujan, meskipun tidak terlalu deras tetap saja membuat basah, karena jaraknya ke lobi lumayan jauh. Mau protes tapi Alina tidak berani dia pun mengikuti langkah Max yang sudah turun terlebih dahulu.


Max berjalan meninggalkan Alina, membiarkan dirinya basah tanpa perlindungan, Alina pun pasrah, sudah lama dia tidak mandi hujan, dulu dia sangat menyukai tetesan air yang turun dari langit, disaat itu dia dan Bryan selalu mengukir kenangan bersama hujan, bersenda gurau, tertawa dan menari dibawah hujan. Apalah daya sekarang hujan tak lagi membuatnya bahagia.


Tiba tiba Max menghentikan langkah dan berbalik menghampiri Alina yang tertinggal jauh dibelakang.


Aline mengerutkan kening melihat tingkah aneh Max.


" Kemarin kamu bertanya apakah saya normal?" tanya Max tiba tiba, kedua tangannya mencengkram bahu Alina.


"Mm maksud bapak?" tanya Alina sambil memandang Max heran dan belum sempat dia membaca situasi, Max sudah menarik tengkuknya dan membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya. Alina terkejut dan diam mematung.


Tadinya bibir mereka hanya saling menempel, tapi lama kelamaan, Alina merasakan pergerakan, kecupan-kecupan membayangi setiap sudut, bibir Max terus merayu agar Alina mau memberi celah, lama kelamaan pertahanan Alina bobol, dia terbuai oleh suasana, tanpa sadar dia menikmati sentuhan ini, tangannya dengan sukarela merangkul leher Max, kakinya berjinjit memberi Max akses lebih, merasa mendapat respon pria itu makin memperdalam ciumannya.


Max tau apa yang dia lakukan salah, tapi kecemburuannya melihat keakraban Alina dan Orion membuatnya tidak bisa menahan diri. Ciuman yang tadinya lembut berganti menjadi ciuman yang buas dan menuntut, tangan Max bergerilya bebas dipunggung gadis itu membuat Alina tidak tahan untuk tidak mendesah, Max makin menarik tubuh Alina untuk menempel padanya, mengangkat sedikit tubuh gadis itu untuk memudahkannya, dan Alina tidak menolak, dia memberikan balasan, jari-jari lentiknya bermain disela sela rambut Max yang basah, menandakan mereka memiliki keinginan yang sama besar, dinginnya air hujan tak lagi mereka rasakan, terbakar oleh gairah yang siap mematikan hingga satu titik kesadaran mereka kembali, keduanya saling melepas diri.


Mereka terdiam, Max menautkan keningnya dengan Alina, satu tangannya terulur mengusap bibir gadis itu yang membengkak karena ulahnya.


" Al, maaf saya tidak bermaksud.."


Alina tidak membiarkan Max menyelesaikan kalimatnya,dia mendorong tubuh Max dan berlari meninggalkan pria itu, tanpa Max tau gadis itu menangis, merutuki apa yang sudah dia lakukan, dia memberikan ciumannya untuk orang yang bukan siapa siapa baginya, bahkan dia sempat menikmatinya.


" Maafkan aku bry, aku sudah mengkhianati janjiku,"

__ADS_1


***


__ADS_2