Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
29. Mommy sakit


__ADS_3

Max menggenggam tangan Alina begitu turun dari mobil, kegugupan tercetak jelas diwajah cantik gadis itu. Dan Max sangat memahami.


" Tenangkan dirimu sayang, gak ada yang perlu dicemaskan," Max berusaha memberikan dukungan.


Saat ini mereka sudah berada didepan mansion orang tua Max. Beberapa saat yang lalu Max mendapat telpon dari Adrian yang memintanya untuk pulang dikarenakan mommy-nya sakit.


Max tidak memaksa Alina untuk ikut jika memang gadis itu merasa belum siap tapi Alina bersikukuh. Lagipula Alina sudah pernah bertemu dengan keluarga Max sebelumnya. Tetap saja kekhawatiran itu datang hinggap di hati Alina, mungkin kali ini karena status mereka yang sudah berubah, bukan sekedar rekan kerja melainkan sepasang kekasih.


" Selamat datang tuan, "sapa seorang dengan setelan hitam putih membukakan pintu rumah tersebut.


" Terima kasih Tyas, dimana papi dan mommy?"


" Ada dikamar tuan, dr.Edhy sedang memeriksa keadaan nyonya," jawab wanita paruh baya itu dengan senyum sopan. Tyas melirik sekilas kearah samping Max, mungkin dalam hati dia bertanya soal gadis yang bersama pria tampan itu.


Sejak beberapa tahun terakhir, baru kali ini Tyas melihat Max kembali membawa perempuan ke mansion, diam-diam dia mengagumi pilihan Max. Gadis itu cantik dan juga ramah, terlihat dari senyum yang tak lepas dari bibirnya memancarkan ketulusan yang memikat.


" Kalau begitu saya lansung keatas aja," ucap Max membuyarkan pengamatan Tyas, wanita itu mengangguk mempersilahkan.


Memasuki kamar yang berada dilantai satu, Alina semakin mengeratkan genggaman mereka menandakan kegugupan-nya sudah berada dilevel puncak. Max sedikit meremas tangan Alina menandakan supportnya.


Orion dan Adrian juga ada disana, mereka berdiri agak jauh dari tempat tidur. Lebih tepatnya didekat sofa menunggu dr. Edhie selesai memeriksa.


Menyadari ada yang datang, sontak atensi kedua pria yang sedang berbincang pelan itu teralihkan.


Ada keterkejutan di paras Orion melihat Max masuk bersama Alina dan yang semakin membuat dia gelisah adalah kedua jemari mereka yang saling bertautan.


Alina menganggukkan kepala menyapa keduanya. Orion membalas dengan senyuman tipis kontras dengan Adrian yang menampilkan deretan gigi putihnya.


" Sepertinya kau sudah kalah, boss ku memenangkan battle ini," bisik Adrian memanasi, mendengar itu Orion mengetatkan rahang, dia tersulut api cemburu namun berusaha bersikap tenang seolah tak terpancing dengan konfrontasi yang dilontarkan Adrian.


Orion merasa miris baru beberapa hari dia touring keluar kota, keadaan sudah berubah. Seharusnya dia tidak mengabaikan satu fakta bahwa Alina juga mencintai Max. Tapi dia terlanjur menyukai gadis itu meski sadar atas konsekuensinya seperti yang dia terima sekarang.


" Bagaimana keadaan mommy ku Edhie," sapa Max.


" Syukurlah Max kau datang, mommy terus saja menanyakan keberadaan-mu nak, " ucap Hardi dengan senyum lega. Max melepaskan genggamannya pada Alina dan mendekati papinya lalu memeluk pria paruh baya itu sekilas. Alina ikut menyalami Hardi.


" Tante Widya hanya kelelahan Max, aku sudah meresepkan obat dan vitamin untuknya," jelas pria berkacamata yang mengenakan jas putih khas dokter sambil memasukkan peralatan medisnya ke dalam tas hitam.


" Apa keadaannya baik-baik saja Edhie?" Max menatap iba pada Widyawati yang masih memejamkan mata. Wajah wanita yang dikasihinya itu nampak pucat.


" Tidak ada yang mengkhawatirkan, hanya saja kau harus memaksanya berhenti bekerja, usianya sudah tidak muda lagi," ucap Edhie memberi saran.


" Hei siapa yang bilang aku tua, uhuk-uhuk," protes Widyawati membuka matanya.

__ADS_1


Edhie cengengesan, " Maaf tante, aku tidak mengatakan begitu, hanya saja tante perlu sedikit me time lah, istilah anak zaman sekarang," kilahnya beralasan.


Edhie adalah dokter keluarga di Mulia Jaya Group, dan dia juga sahabat Max, wajar saja mereka akrab seperti sekarang.


Widyawati memutar bola mata, "Pandai sekali kau anak muda, kau pikir aku tidak dengar,"


Edhie terkekeh begitu juga dengan yang lainnya


Widyawati memang sensitif kalau disinggung soal usia.


Raut gusar Widyawati berubah menjadi senyuman takkala melihat Max tidak datang sendiri. Wanita itu berusaha bangun dari tidur, Hardi lansung membantu sang istri dengan meletakkan bantal dibelakang punggung Widyawati.


" Ada gadis cantik rupanya, apa kabar sayang?"


sapanya sumringah.


Alina mengangguk ramah, dia kembali mendekati ranjang dan menyalami tangan wanita itu takzim lalu cipika cipiki.


" Maaf tante belum mandi nak, jadi aromanya agak asem, "


" Nggak kok tan, masih wangi." Alina berkata jujur.


"Kamu datang bersama Max kesini?apa kalian sedang diluar kantor?"


"" Iya tan, tadi saya dan Pak Max meeting," ujar Alina berbohong, tidak mungkin dia jujur dan mengatakan kalau mereka bolos dan menghabiskan waktu bersama di apartemen Max. Orang akan berpikir yang tidak-tidak.


" Sayang, kita tidak sedang dikantor jadi jangan memanggilku pak," tegur Max menggoda. Sontak gadis itu merona malu. Max terlalu gamblang, padahal situasinya tidak pas untuk mengumumkan hubungan mereka sekarang.


Adrian berdehem "Jadi udah ada yang manggil sayang nih, sepertinya kita ketinggalan berita,"


ujarnya mengerling dengan sengaja pada Orion yang sedari tadi bungkam.


" Berita apa? tentang Max yang sudah normal?" timpal Edhie sambil mengacung jari membentuk sinyal tanda kutip.


Max lansung menjitak kepala Edhie " Sialan, kau pikir aku gay,"


Edhie tertawa lepas, tentu saja dia tidak serius dengan ucapannya.


" Selamat kalau begitu, aku tunggu kabar baiknya. Aku harus buru- buru kembali kerumah sakit, jangan lupa tebus obat dan vitaminnya," ucap pria itu lagi sambil menyerahkan secarik kertas pada Max.


" Terima kasih bro,"


Edhie mengangguk lalu menepuk bahu Max. Mereka berangkulan layaknya dua sahabat lama.

__ADS_1


"Kau sangat pintar memilih, semoga kali ini tidak mengecewakan," bisik Edhie. Max hanya menanggapi dengan senyuman.


" Aku akan mengantarmu kedepan," Orion mengambil kesempatan untuk kabur dari sana begitu Edhie berpamitan. Dia tidak ingin lebih lama melihat kemesraan pasangan baru tersebut. Untuk pertama kalinya pria berumur tiga puluh tahun itu merasa terluka. Mungkin ini yang dinamakan karma, selama ini dia selalu membuat banyak gadis tersakiti karena penolakan nya dan sekarang Alina secara tidak langsung sudah menolaknya dengan menjadi kekasih Max.


Adrian juga ikut pamit karena hendak menebus resep obat yang diambilnya dari tangan Max.


" Mom, kenapa bisa begini?" Max ikut duduk ditepi ranjang sementara Alina memilih duduk disofa, dia memberikan ruang pada ibu dan anak itu saling berbicara.


" Kau tau bagaimana keras kepalanya mommy mu ini, sudah dibilang jangan kekantor, tetap aja ngeyel,"keluh Hardi


" Bagaimana mungkin aku membiarkanmu sendiri sayang, kau juga perlu istirahat bukan?"


sungut Widyawati tak mau disalahkan.


Max didera perasaan bersalah, karena dirinya orangtuanya sampai harus bekerja ekstra seperti ini.


" Minggu depan aku akan kembali ke Mulia Jaya," putus Max kemudian, bukan karena dia sudah menjadi kekasih Alina semata, beberapa hari yang lalu dia sudah bicara pada Pak Leo tentang keputusannya ini. Untungnya pria itu tidak mempermasalahkan karena memang perjanjian mereka hanya sementara.


" Benarkah, lalu bagaimana dengan pekerjaan mu disana, apakah Leo setuju? tanya Hardi dengan mata berbinar.


" Aku sudah sempat bicara, dan beliau setuju. Semua pekerjaan yang aku handle juga sudah clear,"


" Syukurlah, lalu bagaimana dengan Alina, apa dia sudah tahu?" Widyawati melirik Alina yang sedang fokus membaca sebuah majalah.


Max mengikuti arah pandang mommy, " Belum, tapi aku akan membicarakannya nanti, dia pasti mengerti mom,"


Widyawati menarik napas lega "Mommy harap kamu bahagia bersama Alina,"


"Kalau bisa disegerakan, kenapa tidak langsung menikah saja, papi rasa kalian sudah siap," timpal Hardi memberi ide.


Max dan Widyawati sontak memandang pria paruh baya itu bersamaan. Hardi mengangguk memastikan ucapannya serius.


" Kalau papi setuju, mommy juga restu. Apalagi yang kau tunggu nak, perkenalkan kami sama keluarga Alina, "


Max senang, keluarganya sangat mendukung sekarang tinggal bagaimana dia meyakinkan Alina. Max tidak tahu pasti apa Alina akan setuju mengingat gadis itu masih menyimpan kenangan Bryan dalam hatinya.


Disisi lain dia juga masih mempunyai satu janji yang belum tuntas, membantu Alina untuk mengungkap kasus Bryan. Meskipun Alina sendiri belum menanyakan tapi dia harus segera mendapatkan kepastian, sehingga setelah menikah nanti tak ada lagi beban yang menggelayut dipikiran Alina dan mereka bisa fokus menata masa depan mereka tanpa bayang-bayang masa lalu.


***


Hallo gak bosen bosen author minta bantu dukungan dan komennya ya agar author tetap semangat untuk melanjutkan kisah mereka.😍


Dik@

__ADS_1


__ADS_2