Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
57. Dilema


__ADS_3

Alina tak bisa menolak ketika Max mengajaknya ke rumah sakit dan menemui bagian fisioterapi guna memeriksa keadaan kakinya. Mendengar penjelasan Dokter, Max terhenyak. Bagaimana tidak gadis itu tidak pernah melakukan terapi semenjak kembali ke Indonesia. Ada pergeseran pada pen yang dipasang membuat gadis itu sering merasakan ngilu hingga sekarang.


Max marah karna Alina tidak memperdulikan kesehatannya, namun airmata yang mengalir dipipi Alina membuat dia tidak tega. Direngkuh nya gadis itu dalam pelukan.


Hatinya tersayat begitu Alina mengatakan alasan dibalik keadaannya sekarang. Ekonomi yang hancur ditambah masalah keluarga yang mereka hadapi membuat Alina tidak lagi mementingkan dirinya. Merasa karena dirinya lah harta milik keluarga habis tak bersisa, hingga Alina bertekad bekerja keras untuk mengembalikan keadaan.


Max tercekat, tidak sampai hati membayangkan Alina yang dulu hidupnya baik-baik saja, harus menanggung beban seberat itu.


" Menikahlah denganku Al, kita akan berangkat ke Amerika untuk mengobati kakimu, di sana teknologi sudah sangat modern, dalam beberapa bulan kamu akan bisa berlari, " Pinta Max sungguh-sungguh. sembari menggenggam kedua tangan Alina.


Untuk wanita normal, tentu saja permintaan tersebut akan membuatnya melambung, tapi Alina memikirkan keadaannya, dia tidak boleh egois dilain sisi keluarganya masih sangat membutuhkan kehadirannya. Siapa yang akan membantu Audrey kalau nanti dia tidak ada.


" Aku belum siap Max, aku tidak mungkin meninggalkan Ibu dan Audrey, "


Max tau apa yang ada dalam pikiran Alina, bukan semata keluarga tapi hal lain yang lebih mendasari. Apalagi kalau bukan soal keturunan.


" Soal Audrey gak usah dipikirkan, kita bisa pekerjakan orang untuk membantu catering, atau kalau mau bekerja, kantor yang dikelola Adrian sedang membutuhkan staf bagian keuangan, "


Alina diam saja tidak tau harus bagaimana menjelaskan.


" Hei, jangan diam aja sayang, satu jawaban ya dari kamu, semua masalah akan selesai, gak ada yang perlu kamu khawatirkan, " Max mencoba meyakinkan.


Alina masih tak bersuara, rautnya gelisah.


" Atau ada hal lain yang aku gak tau, " tanya Max menyelidik meskipun dia sudah tau, dia ingin Alina mengatakannya sendiri.


Alina menghela napas yang terasa berat.


" Kita tidak mungkin menikah Max," suaranya terdengar bergetar, menahan sesak di dada.


" Karena kamu divonis sulit mendapat keturunan, begitu bukan? "


Alina menatap Max dengan raut terkejut "bagaimana kamu tau Max? "


" Tidak penting, yang terpenting adalah apapun keadaan kamu aku tidak peduli, aku tidak mengharapkan apapun dari kamu kecuali cintamu, dan itu sudah cukup" ujar Max tulus.


Alina menggeleng, " Itu hanya omong kosong Max, setahun pertama mungkin tidak masalah, tahun kedua, ketiga, perlahan akan berubah, kamu akan merasa kesepian, belum lagi tuntutan keluarga dan juga pertanyaan semua orang, "


Gadis itu tersenyum pahit.


" Jadi seperti itu penilaian aku dimata kamu Alina? "ucap Max dengan kesedihan yang menggelayut.


" Aku tidak bermaksud membandingkan kamu dengan orang lain Max, tapi setiap pernikahan itu tujuannya adalah keturunan, dan bukan aku orang yang tepat untuk mendampingi kamu, aku tidak bisa memberikan kamu anak, "


" Kebahagiaan rumah tangga bukan cuma karena kehadiran anak Al, banyak yang punya anak tapi rumah tangga nya hancur. Yang penting bagaimana kita saling mencintai, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, bersyukur dengan apa yang kita miliki, itu lebih dari cukup Al, "

__ADS_1


Alina membenarkan apa yang dikatakan Max, cuma keraguan dalam dirinya begitu sulit untuk dikalahkan.


" Bagaimana kalau ternyata aku juga tidak bisa memiliki keturunan, apa kamu bisa menerima aku? "


Max membalikkan keadaan.


Alina tercekat.Dibalik sikapnya yang dingin pada orang-orang, Max memiliki kebijaksanaan dalam menyikapi keadaan. Wajar dia sangat diandalkan dalam keluarganya.


" Aku ingin menikah sebelum ke Amerika karna ingin kita tinggal bersama jadi bisa fokus dengan pengobatan, kamu gak mau kan kita kebablasan. Menahan keinginan untuk tidak menyentuh kamu itu sulit Al, bagaimanapun aku pria normal, " ucap Max dengan senyum penuh arti.


Alina mengerti dengan semua yang dikatakan Max,


" Akan aku pikirkan Max, beri aku waktu? " ucap Alina mengakhiri pembicaraan hari itu, keraguan Alina membuat Max kecewa. Dalam perjalanan pulang pria


itu tidak lagi bicara. Bahkan dia tidak turun saat Alina sampai di rumah.


Alina merasa bersalah, dia beranikan diri untuk mengecup pipi Max sebelum turun dari mobil.


" Maafkan aku, " bisiknya lirih. Namun Max tidak bergeming.


***


" Kamu apa-apan sih dear, kalau kamu mengundurkan diri, lalu siapa yang akan memegang perusahaan!" ucap Adinda penuh emosi. Tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.


" Aku gak bisa lagi menutupi masalah yang dibuat papi kamu, sudah cukup Max menganggap aku tidak becus, aku akan menjelaskan semua kebenaran pada Max dan juga keluarganya, "


Adinda mengerti kelelahan Bryan. Kesalahan yang dibuat papi harus ditanggung Bryan agar Max mau berinvestasi di perusahaan ketika perusahaan mereka hampir kolaps.


Hartawan beberapa tahun belakangan terlibat perjudian kelas kakap. Awalnya selalu menang namun lambat laun dia kalah hingga mengelontorkan semua uang perusahaan di meja panas. Dia akhirnya tersadar begitu perusahaan dinyatakan bangkrut. Max menyelamatkan perusahaan yang susah payah dirintis itu dan menunjuk Bryan sebagai penanggung jawab sekalipun hubungan mereka tidak baik, Max tetap bersikap professional demi Adinda dan keluarganya.


Perusahaan mengalami kemajuan, namun lagi lagi Hartawan berulah, dia kembali menggunakan uang perusahaan untuk berjudi dengan segudang dalih membuat Bryan tidak bisa mengelak.


Dan begitu ada rapat internal kemaren, Max menemukan banyak transaksi yang tidak penting pada arus keuangan. Sebagai satu-satunya pemegang saham tentu saja Max menanyakan hal tersebut dan meminta pertanggungjawaban Bryan selaku CEO, sayang pertemuan gagal karena mereka terjebak macet.


Meskipun ditunda, Bryan yakin Max akan kembali mencecarnya. Untuk itu dia sudah memutuskan untuk mengembalikan semua aset perusahaan Hartawan dan kembali bekerja dengan Leo di Mega Buana.


" Kasih aku waktu untuk bicara dengan papi dear, tolong jangan lakukan ini sekarang, setelah tender di Bali kita menangkan, keuangan akan membaik, kita ulang lagi dari awal, "bujuk Adinda.


Bryan menggeleng, keputusan nya sudah bulat.


"Aku sudah capek, bukan hanya masalah perusahaan yang aku pikirkan, aku juga sedang menyelidiki siapa yang sudah menjebak kita soal malam naas itu yang membuat kita harus berada dalam satu ranjang, "


Adinda terperangah oleh sikap Bryan, bahkan setelah umur anak-anak mereka menginjak usia 3 tahun, suaminya masih memikirkan soal kejadian tersebut.


Adinda tertawa sarkas, " Are you sure?"

__ADS_1


Bryan mengangguk pasti.


Adinda kembali menyuarakan tawa sumbang nya,


" Untuk apa? apa kamu tidak pernah mendengar apa yang dinamakan takdir? " Terlepas dari kesalahan satu malam tentu saja apa yang terjadi diantara mereka memang sudah digariskan.


Bryan terlihat bodoh, setelah semua keputusan besar yang dia ambil waktu itu, dia masih saja mempertanyakan jalan hidupnya. Tapi mau bagaimana lagi perasaan nya pada Alina tidak bisa dia bebaskan dan dia akan mengambil keputusan besar untuk itu.


" Aku pikir ini bukan semata soal kelakuan papi, tapi juga tentang masa lalu kamu yang belum usai kan? "tebak wanita itu getir.


Bryan tidak menampik, terserah Adinda mengatakan hal apapun, karna memang dia layak mendapatkan cacian.


" Maafkan aku, tapi jangan salahkan Alina, dia bahkan tidak tau apapun, perasaan aku yang salah, " ucap Bryan jujur, dia tidak ingin berbohong lagi, biar saja semua orang tau apa adanya.


Seandainya saja dia dulu berani jujur seperti sekarang pada Alina, mungkin jalan ceritanya akan berbeda.


Tentu saja Adinda tidak menyalahkan Alina, karna gadis itu adalah korban sesungguhnya, namun sebagai seorang istri yang sudah berusaha keras untuk membuat sang suami mencintai dirinya terselip rasa cemburu, apa yang membuat dia begitu berbeda dengan Alina, gadis itu bahkan dicintai oleh dua lelaki yang sangat dia cintai. Rasanya semua menjadi tak adil.


" Aku pikir aku bisa menggantikan Alina, semua usaha ku sia-sia," keluh Adinda nelangsa


Bryan menghampiri Adinda yang terduduk lesu. Dia bersimpuh di hadapan wanita yang beberapa tahun mendampinginya, menggenggam kedua tangan lalu menatap kedalam manik mata yang berlinang.


"Maafin aku din, aku juga menyayangi kamu, tapi perasaan itu tidak berkembang, aku memang bukan pria yang baik, kamu berhak bahagia, "


" Apa bahagia itu masih ada, semua pria yang aku cintai justru mencintai wanita lain, aku merasa buruk tidak bisa membuat orang lain mencintaiku. "


" Bukan begitu din,"


" Cukup Bryan, tidak usah menasehati soal perasaan, setelah kamu tau siapa dalang dibalik kejadian malam itu, kamu mau apa? meminta pertanggung jawaban agar dia membalikkan waktu atau kamu memang punya maksud lain, " ucap Adinda menghapus air matanya.


Bryan bingung,


" Entahlah aku juga tidak tau, "


Adinda menggelengkan kepala.


" Kamu seperti orang tidak punya pendirian, tapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah berpikir menceraikan ku, terserah kamu mau mencintaiku atau tidak, tapi aku tidak akan membiarkanmu merusak hubungan kakakku dengan Alina, aku akan melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah kau pikirkan Bryan" ucap Adinda penuh emosi membuat Bryan terpaku seketika.


***


Happy Reading, jangan lupa tinggalkan jejak ya


With love


Dik@

__ADS_1


__ADS_2