
Gladys melangkah gontai diatas trotoar. Bayangan Max memeluk Alina dengan penuh kasih sayang membuat gadis itu sadar, bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Cinta yang beberapa waktu terakhir dia pupuk dengan harapan suatu saat akan dia persembahkan untuk sang pujaan hati pupus tanpa sempat dia sampaikan.
Siapa sangka Max yang dikenal dingin itu melabuhkan rasa pada sahabatnya sendiri, Alina Maharani.
Saat mendapat kabar dari chat group soal kedekatan Alina dan Max, dia sempat kecewa dan marah. Dia merasa dicurangi tapi setelah dia renungi lagi kenapa dia harus marah karena Alina sendiri tidak tau tentang perasaannya pada Max. Dia merasa bersalah sudah ikut ikutan memusuhi Alina tadi.
Selama ini Gladys menyembunyikan perasaan sesungguhnya, dia berpura pura hanya mengagumi ketampananan pria itu. Sejatinya bukan fisik yang membuat dia jatuh cinta sama Max. Jauh sebelum Max masuk ke Mega Buana dia sudah lebih dulu menaruh hati, cinta yang tumbuh dalam diam.
Gladys masih mengingat dengan jelas hari dimana perasaan itu bermula.
" Kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya Dita memastikan.
Gladys memainkan ujung dress yang dipakainya dengan gerakan gelisah, dia tidak punya pilihan lain. Dia sudah menerima kompensasi untuk keputusan ini, Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menerima nasibnya.
Adik bungsunya, Namira yang masih berumur sebelas tahun menderita leukemia stadium awal dan dia harus melakukan operasi cangkok sum-sum tulang belakang. Meskipun sudah memiliki pendonor yang tak lain adalah kakak kandungnya mereka dihadapkan pada kendala biaya. Gladys bukanlah keluarga kaya raya, ayahnya sudah lama meninggal, ibu menggantikan peran ayah sebagai penjual gado-gado, sementara sang kakak hanya lah guru honorer yang gajinya pas -pasan. Gladys sendiri tidak punya tabungan sama sekali, uang gajinya selalu dia setorkan ke ibu untuk kebutuhan rutin obat-obatan Namira.
Namira adalah cahaya dalam keluarganya, dan mereka tidak ingin kehilangan gadis kecil itu. Ditengah keputusasaan, dia teringat Dita sahabatnya waktu SMA, dia mencoba meminjam uang, tapi sayangnya Dita tidak memiliki nominal yang dia butuhkan. Seratus lima puluh juta bukanlah jumlah yang sedikit.
Dita membawa nya pada seseorang yang bisa membantunya. Dan disinilah dia sekarang , di dalam sebuah club malam, demi Namira dia rela melepas sesuatu yang berharga miliknya.
"Apa aku punya pilihan Di?" tanyanya ambigu.
Dita merasa kasihan, sebenarnya dia tidak ingin menjerumuskan sahabatnya, tapi dia sendiri tidak bisa membantu. Meskipun terlihat glamor, kehidupan Dita tidaklah sesempurna yang orang pikirkan. Dia hanyalah wanita penghibur.
"Awalnya dulu aku juga gugup, setelah itu terbiasa dan malah ketagihan, cuma disini yang kerja dapat duit, dapat enak," ucap Dita terkekeh, berusaha membuat Gladys santai. Tapi sepertinya sia-sia, wajah manis Gladys tetap diselimuti awan mendung.
Tak berapa lama seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka.
Mereka berbasa basi sejenak, kemudian pria itu mengajak mereka keluar club dan berangkat menuju tempat dimana tamu yang sesungguhnya menunggu.
Mereka memasuki sebuah apartemen mewah. Disana sedang diadakan pesta, entah dalam rangka apa. Yang jelas suasananya tidak berbeda dari club malam tadi. Aroma alkohol dan rokok menusuk hidung, ditambah dengan dentuman musik yang memekakkan telinga.
Gladys ketakutan saat seseorang menghampiri dengan senyum smirk dan tatapan penuh nafsu. Dia mengamit lengan Dita dengan erat.
" Dia Zacky, yang membooking kamu malam ini, tidak terlalu buruk bukan," bisik Dita menggoda Gladys.
Gladys tidak menjawab, dia mencoba menetralisir kecemasan yang membuat dadanya terasa sesak. Dita dan Zacky terlibat obrolan, lalu Dita pergi meninggalkannya dan bergabung dengan rekan rekan Zaky untuk ikut berpesta. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama, gadis itu bahkan tertawa saat beberapa diantara pria itu mulai menggerayangi tubuhnya.
"Kita mulai sekarang sayang," ucap Zaky mengelus pipi mulus Gladys, Gadis itu bergidik ngeri saat bibir Zaky menempel dipipinya, bulir bening menetes dari mata Gladys tapi pria itu tidak mempedulikan, dia menarik tangan gadis itu dan membawanya kesalah satu kamar yang ada disana.
__ADS_1
Bayangan orang-orang terkasih berkelebat dibenak Gladys, dia merasa bersalah karena menjual harga dirinya, mendadak wajah Almarhum ayahnya melintas dan menatap sedih.
Gladys tersadar, dia tidak bisa melakukan dosa besar ini, dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Zaky yang nyaris menindihnya. Dia menendang benda berharga Zaky dengan keras membuat pria itu melolong kesakitan.
Gadis itu terus berlari disepanjang lorong apartemen dan tak sengaja menabrak seseorang.
Sosok yang tak lain adalah Maxime Arlingga Yogatama. Kalau bukan karena Max mungkin dia tidak akan selamat. Atas perjanjian yang sudah disepakati Zaky membayar uang lebih dulu, dan Gladys sudah menggunakan uang tersebut untuk operasi adiknya.
Zaky mau melepas Gladys asal uangnya kembali, dan Max tanpa ragu mengeluarkan cek untuk mengembalikan uang Zaky.
Gladys sangat berterima kasih pada Max, dia berjanji akan membayar dengan ansuran, tapi Max menolak.
"Pulanglah dan temui keluargamu, jangan pernah terlibat dengan masalah seperti ini, seberat apapun masalah hidupmu jangan pernah salah langkah." nasehat Max sebelum mereka berpisah.
Sejak saat itulah cinta bersemi di hati Gladys hingga beberapa bulan yang lalu dia bertemu kembali dengan Max di Mega Buana.
***
Kata orang, apalah arti sebuah nama, faktanya nama adalah identitas diri dan didalam nama terselip doa dan harapan orangtua untuk anak-anaknya.
" Ayah bilang, Alina itu nama yang memiliki banyak makna kebaikan, salah satunya dalam bahasa arab yang berarti berharga, sementara Maharani diambil dari bahasa sansekerta yang berarti ratu diatas segala ratu, dengan kata lain Alina Maharani adalah ratu yang berharga," ungkap Alina dengan senyum mengembang
" Nama yang indah," gumam Max.
" Nama bapak pasti juga ada artinya bukan? coba saya tebak arti dari salah satunya," Alina membuat ekspresi seolah berpikir membuat Max tidak tahan untuk ikut tersenyum.
" Saya traktir, kalau kamu bisa menebaknya," tantang Max kemudian.
" Bapak serius?tapi hanya satu kata yang saya tahu, nama bapak kan tiga suku kata,"
" Tidak masalah, asal kamu tidak searching diinternet," Max memberi syarat.
Alina mengacungkan jempol tanda setuju.
" Maxime artinya hebat, saya benarkan?" Alina menaik turunkan alisnya dengan percaya diri.
Max mengerutkan kening " Bagaimana kamu tahu? Atau kamu pernah cari info sebelumnya,"
Alina menggeleng "Big no, berarti tebakan saya benarkan?" ulang gadis itu lagi.
" Maxime itu artinya hebat, Arlingga itu menyiratkan tanggung jawab dan Yogatama artinya bebas"
__ADS_1
" Maxime Arlingga Yogatama artinya sosok bebas yang hebat dan bertanggung jawab," timpal Alina mencoba merangkai makna keseluruhan.
"Great," sahut Max tersenyum.
"Yess, kapan bapak mau traktir saya?" sorak gadis itu girang. Sekilas melihat tak ada yang tahu kalau Alina tadi sempat pingsan, wajahnya yang pucat sudah kembali cerah.
" Terserah kamu, sekarang juga boleh,"
Alina menimang sambil melirik arloji dipergelangannya " Nanti aja pak, kita cari waktu yang pas, kalau sekarang nanti kemalaman pulangnya pak," ujar Alina beralasan.
Selain itu ada alasan lain kenapa dia membawa Max kesini.
Menyadari ada sesuatu yang ingin dia ketahui, Alina membatalkan keinginannya untuk segera pulang. Dengan alasan ingin mencari udara segar Alina mengajak Max berkeliling kota dan berhenti disebuah ruang terbuka hijau.
Alina menghela napas panjang , berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan sentuhannya didada Max tadi.
Gadis itu tidak mau gede rasa, dia perlu memastikan, apakah nama yang terlukis didada Max itu ada hubungan dengan dirinya atau bukan. Meskipun sama, bisa jadi nama itu bukanlah dirinya.
Sebenarnya dia malu jika menanyakan lansung, daripada tidak tidur semalaman karena didera penasaran, Alina sedikit mengambil resiko.
" Kalau saya boleh tahu, kenapa nama yang tertera disana sama persis dengan saya,?" tanya Alina sambil menunjuk.
Max mengerti, gadis itu pasti sedang menanyakan perihal tattonya.
" Sepertinya kamu ingin tahu sekali?" selidik Max dengan mata menyipit, kedua tangannya bersilang didepan dada. Dia akui cara Alina untuk membuka pembicaraan sangat mengesankan, bahkan kegugupan yang sempat melanda mereka berdua tadi lenyap begitu saja.
" Kalau bapak keberatan, tidak usah jawab, lupakan saja pertanyaan barusan, saya hanya merasa lucu, nama saya ternyata pasaran juga," Kekeh Alina.
Max menatap Alina dengan seksama, tapi gadis itu mengalihkan pandangannya pada langit malam. Suasana berubah menjadi awkward.
"Suatu saat saya akan cerita sama kamu, tapi tidak sekarang," putus Max
Alina mendesah kecewa, pupus sudah harapannya untuk tidur nyenyak malam ini. Bukan tidak mungkin merembet pada malam berikutnya.
" Apa susahnya sih pak, bilang kalau itu nama saya," dengus Alina dalam hati.
Tapi bukan Maxime namanya jika dia tidak keras kepala.
***
Happy Reading ya...jangan lupa vote dan komen
__ADS_1
with love
Dik@