
Gadis itu memperhatikan kertas ditangannya, menelisik satu persatu deretan menu permintaan dari customer baru. Dia sangat senang karena ini adalah orderan besar pertama semenjak pandemi. Meskipun hanya operan dari salah satu hotel berbintang. Dia sangat antusias untuk memberikan yang terbaik. Dengan harapan kedepan kerjasama mereka terus berlanjut.
Ada tiga menu yang direquest, traditional food, western food , snack berikut dessert. Dengan segera dia dan tim yang sudah dibentuk mempersiapkan diri. Bukan tim dalam arti sesungguhnya, hanya dia dan juga keluarganya. Catering mereka masih dalam tahap merintis. Jadi kalau ada pesanan yang diberdayakan keluarga dulu.
Dia menghubungi suplier untuk mengantarkan bahan-bahan yang mereka butuhkan. Setelah bahan baku sampai, Dia dan tim mengambil tugas masing-masing.
Untuk tradisional food akan dipegang oleh sang kakak, snack serta dessert akan dipegang oleh ibu dan asistennya, sementara western, dia sendiri yang handle. Berhubung jumlah masakan yang akan dibuat tidak sedikit. Dia pun memanggil tenaga tambahan untuk membantu. Dia menghubungi karyawan part time yang sudah biasa bekerjasama setiap kali dibutuhkan.
Dini hari mereka sudah stand by di dapur. Jam 3 sore semua menu harus sudah terhidang. Jarak dari rumah ke lokasi acara sekitar lima belas menit berkendara, tentu saja kalau tidak macet.Terlebih weekend begini.
Untuk tradisional food dan snack tidak ada masalah, karena memang sudah di prepare dari kemaren. Beberapa snack sudah dibuat frozen agar memudahkan pengolahan. Yang membuat dia khawatir adalah western, dia harus mengakali agar menu yang dibuat tetap fresh saat disajikan.Dari sekian banyak jenis masakan barat, dia memilih steak daging dan ayam untuk diolah. Dia sengaja membuat dua varian agar tamu yang datang bisa memilih sesuai selera.
Tepat sebelum tengah hari semua pekerjaan didapur tuntas. Satu persatu box yang berisi makanan dibawa kedalam mini bus yang akan mengantar. Mereka tidak perlu lagi membawa peralatan hidangan karena memang sudah dipersiapkan oleh hotel tersebut.
Dia juga harus berkemas, meskipun sudah ada karyawan yang meng-cover pekerjaan selama acara, dia dan kakaknya tetap harus ikut serta. Sekiranya ada hal-hal tambahan yang dibutuhkan, karyawannya tidak akan kebingungan.
" Kakak berangkat aja duluan, aku akan menyusul dengan taxi, " ucapnya pada sang kakak. Kakak perempuannya itu mengangguk setuju. Dia sangat lelah dan butuh istirahat sebentar. Dia adalah orang yang paling sibuk mulai dari prepare hingga eksekusi. Kakaknya memiliki dua anak kecil yang harus diurus, sementara sang ibu juga tidak bisa terlalu kecapean. Dia lah yang paling banyak berperan dalam orderan ini.
Setelah mandi, gadis itu mengambil posisi untuk tidur, tak lupa dia menghidupkan alarm agar tidak kebablasan, setengah jam cukup untuk kembali menyegarkan tubuhnya.
***
Suasana di ballroom tempat acara dilaksanakan masih sepi, namun semua persiapan sudah selesai. Begitu juga dengan hidangan makanan sudah tertata rapi pada meja prasmanan. Audrey tersenyum puas. Bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Sekarang tinggal menunggu para undangan mencicipi hasil kerja mereka. Audrey deg-degan, layaknya seorang finalis masterchef yang menunggu penilaian juri. Penting untuk mereka kepuasan pelanggan. Selain berdampak positif untuk perkembangan usaha, memberikan hasil yang terbaik merupakan tujuan utama sedari catering mereka dimulai.
"Kak Audrey!" seru seseorang memanggil. Wanita itu lantas menoleh pada arah suara. Dia menyipitkan mata untuk mengingat sosok yang kini menghampiri.
" Kak Audrey kan? " ujar gadis itu memastikan.
Audrey mengangguk " Iya, siapa ya? " tanyanya bingung.
" Aku Tasya kak, teman Alina. Kita pernah bertemu dirumah waktu itu, " ucap gadis itu mengulurkan tangan. Audrey membalas jabat tangan dengan ramah seraya berusaha mengingat siapa Tasya.
Sayangnya dia lupa, memorinya memang payah dalam urusan satu ini.
" Wajar kakak lupa, kita cuma sekali ketemu, itupun udah lama banget, " ucap Tasya terkekeh membaca raut Audrey.
__ADS_1
" Ngomong-ngomong, kakak diundang juga? syukurlah kalau hubungan kalian sudah kembali membaik, " ujar Tasya serius. Membuat Audrey heran dengan maksud ucapan barusan.
"Maksud kamu? kakak gak mengerti, "
" Hubungan kakak dengan keluarga Max tentunya, sejak kepergian Alina semua menjadi rumit, yang aku dengar keluarga Max dan keluarga kakak bersitegang. Apakah Alina baik-baik saja kak? aku bahkan tidak tau apapun semenjak pandemi menyerang, aku seolah terputus dengan dunia luar, "cerocos Tasya panjang lebar. Ekspresinya menunjukkan penyesalan.
" Tunggu dulu, maksud kamu acara ini milik keluarga Max? "
Giliran Tasya yang mengkerutkan kening," Loh kakak gak tau, ini kan acara ulang tahun anak pertama Orion, kakaknya Max. "
Deg!
Audrey terkejut mendengarnya. Dia benar-benar tidak tau tentang itu. Lisa tidak mengatakan apapun, yang dia tahu ada konsumen yang membutuhkan catering, berhubung bagian dapur mereka full booking, Lisa yang merupakan teman masa kecilnya itu menawarkan orderan tersebut padanya. Kalau sedari awal dia tahu konsumen yang dimaksud adalah keluarga Max, tentu dia akan menolak.
Ddrrt..drrt
Tasya mengeluarkan ponselnya yang berdering dari dalam tas. Dia memencet tombol terima begitu melihat kontak yang menghubunginya.
" Ya dis, aku udah dibawah, bentar lagi aku ke room, "
Setelah sekian tahun berlalu, Audrey pikir sudah adem ayem dan meyakini kalau Max telah menerima kenyataan kalau dia dan Alina tidak mungkin bersama.
" Kak, nanti kita lanjut ngobrol lagi ya, aku harus keatas menemui Gladys, dia sudah menunggu dari tadi, " pamit Tasya hendak pergi. Audrey buru-buru memegang tangan gadis itu.
"Sya, kakak masih belum bisa mencerna situasi, jujur kakak disini bukan diundang keluarga Max, kakak cuma tukang catering, kami mendapat orderan dari teman kakak yang kebetulan manager hotel ini. Dan dia tidak memberi tahu kalau pemilik acara adalah keluarga Maxime," Audrey terpaksa bercerita, dengan harapan Tasya mau diajak kongkalikong.
"Tukang catering? bukannya kakak tinggal di jogja dan... "
Audrey menggelengkan kepala.
" Ceritanya panjang sya, yang penting sekarang kakak minta sama kamu untuk tidak menceritakan pertemuan kita pada mereka, kakak juga tidak tau apakah Max sudah menerima kenyataan atau belum, yang pasti kakak gak bisa bertemu mereka, "
Tasya memijit pelipisnya, " Max tidak akan pernah menyerah sampai kapanpun kak, karena Alina adalah belahan jiwanya. Kalau Max kemaren tidak melakukan tindakan lagi, itu karena kondisi di seluruh negara kak, yang aku dengar dia pulang dari Jerman untuk melanjutkan pencariannya, Gladys yang cerita, "Jelas Tasya memberitahu.
Audrey menghela napas, tidak tau harus berkata apa lagi. Sepandai-pandai tupai melompat akan terjatuh juga, pepatah tersebut cocok disematkan pada dia dan keluarganya.
__ADS_1
" Kakak gak bisa membayangkan bagaimana reaksi Alina ternyata catering yang kami persiapkan untuk keluarga Max, "
Tasya menutup mulut , " Berarti Alina sudah sembuh, dimana dia sekarang kak, aku ingin ketemu! " seru Tasya dengan suara tertahan.
" Tidak sekarang sya, pergilah menemui Gladys terlebih dahulu, dia pasti menunggumu"
" Trus kakak gimana? "
" Belum tau ,yang jelas aku harus menghentikan Alina agar dia tidak kemari? "Lirih Audrey lemas.
Mata Tasya membulat sempurna. Sukar untuk dipercaya, setelah sekian lama sahabatnya kembali. Banyak hal yang ingin dia ketahui, tapi waktunya tidak tepat.
" Simpan rasa bahagiamu dulu sya, jangan membuat mereka curiga, apapun yang terjadi nanti biarlah terjadi yang pasti kakak minta jangan menceritakan apapun untuk saat ini, kamu bisa dipercaya kan sya?" ucap Audrey memohon lagi.
Tasya mengangguk setuju kemudian berlalu dari hadapan Audrey. Tasya yakin Alina punya alasan kenapa dia masih bersembunyi dari Max, padahal sudah sembuh dari koma.
Audrey juga meninggalkan ballroom sebelum orang-orang berdatangan, tentu saja setelah memastikan kalau karyawanya bisa meng-handle semua pekerjaan didalam. Dengan tergesa-gesa Audrey berjalan kearah dapur. Dia akan bersembunyi disana sampai acara usai. Dan yang paling penting dia harus segera menghubungi Alina agar tidak datang ke hotel ini.
Audrey sebenarnya senang kalau Max masih mengharapkan Alina, tapi seperti yang Alina bilang mereka tidak boleh egois. Max berhak mendapat kebahagiaan yang lain karena situasinya tak lagi sama.
Audrey memasuki dapur dan mencari posisi yang aman untuk duduk, bergegas dia menelpon Alina. Audrey mendengkus kesal karna Alina tidak mengangkat ponselnya, " Apa dia masih tidur? " atau malah udah kesini, "batin wanita itu. Dia kembali mengulang, namun hasilnya tetap sama. Audrey mencoba menelpon ke ponsel ibu.
" Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif"
Huft,
Audrey mengirim pesan chat pada Alina, semoga saja gadis itu membacanya, kalau tidak Audrey hanya bisa pasrah, mungkin memang sudah waktunya mengakhiri permainan kucing-kucingan ini.
"Loh drey, kok kamu disini? "
***
Happy Reading readers tersayang, jangan lupa bantu support ya,
tq
__ADS_1
Dik@