Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
82. Obsesi yang tak kunjung usai


__ADS_3

Alina menatap nanar pada Bryan yang berdiri dihadapannya sambil memegang kue tart dengan lilin-lilin kecil yang sudah dinyalakan.


" Make a wish dulu , baru ditiup!"


Alina berpikir beberapa saat, kemudian memejamkan mata lalu meniup benda yang mulai meleleh tersebut. Merasa tidak mendapat penolakan, Bryan tersenyum sumringah. Sekian lama dia melewatkan momen ini, dan sekarang kenangan itu kembali terwujud. Bryan menaruh kue diatas meja di iringi tatapan tajam Alina.


" Kau tidak ingin tahu apa permohonan ku?" tanya nya sinis.


" Dari dulu aku tak pernah menanyakan apapun yang kamu harapkan Al, karna aku percaya kalau kamu pasti mendoakan yang terbaik untuk kita."


Alina mendecih. Sungguh dia tidak pernah mengira kalau Bryan-lah dalang dari penculikan. Entah bagaimana pria itu memiliki pikiran yang sangat picik.


" Cukup Bryan, kau membuat kesabaran ku habis, kenapa kau menculikku, apa yang kau inginkan sebenarnya!" teriak Alina marah.


Bryan bersikap tenang, apapun reaksi yang ditunjukkan wanita yang sangat dia cintai itu, tidak membuat perasaan nya berkurang sedikit pun.


" Karna aku mencintaimu Al, aku ingin kita bersama lagi, mewujudkan mimpi-mimpi kita, kamu lihat villa ini sudah rampung, salah satu angan kita dulu untuk memiliki villa pribadi sudah aku penuhi!" ujarnya merentangkan kedua tangan. Bangga.


Alina menggeleng kuat.


" Hubungan kita sudah selesai sejak peti mati pura-pura mu itu terkubur didalam tanah Bry, jangan lupakan itu, tidak kah kau mengerti aku sudah menikah dan mencintai pria lain, " sergah Alina gusar


" Aku minta maaf karena kesalahan ku waktu itu, aku terpengaruh oleh ucapan adikku Sarah, aku pikir dia memang ingin aku hidup dalam kenangan indahmu Al nyatanya aku salah, Sarah tidak menyukai hubungan kita, makanya dia meracuni pikiran ku. "


Alina sudah tau sedari lama kalau Sarah memang tidak menyukai dirinya, tapi dia diam saja karena tidak ingin merusak hubungan kakak adik itu. Dan mendengar Sarah lah yang menyebabkan mereka pada situasi ini dia ikut merasa geram tapi tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi karna baginya sudah menjadi takdir untuk mereka semua. Sesungguhnya dia sangat bersyukur karna rencana Tuhan lebih baik, Max adalah anugrah terindah dalam hidupnya.


" Aku juga tahu kalau dia yang menjebak ku dengan Adinda malam itu, aku tidak sepenuhnya bersalah Al, tolong lah mengerti ."


" Sudah terlambat Bry, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, aku mencintai suamiku, cobalah untuk menerima kenyataan dan berdamai lah dengan masa lalu, semua yang terjadi sudah tercatat dalam suratan takdir kita." Alina mencoba melunak.


Brak!


Bryan menggebrak meja membuat Alina terkejut, sorot mata yang tadinya lembut berganti dengan kilatan emosi.


" Bohong! bukankah kita pernah berjanji saling setia Al, lalu kemana janji itu sekarang, jangan coba-coba menipuku, Alina adalah milik Bryan, dan Bryan adalah milik Alina, bukankah itu yang selalu kita ucapkan."

__ADS_1


Alina mendesah nelangsa bagaimana membuat Bryan mengerti kalau semuanya tak lagi sama. Bryan mendekatkan tubuhnya pada Alina membuat wanita itu reflek mundur, sayang dia salah mengambil arah dia malah terjebak diantara dinding dibelakang dengan tubuh Bryan didepannya.Nyaris tanpa jarak.


" Apa yang akan kau lakukan, jangan menyentuhku!" ucap Alina memberi peringatan, jari telunjuknya mengarah pada wajah pria itu. Cairan bening sudah menggenang di pelupuk mata, sungguh ia takut dengan sikap Bryan saat ini.


Sosok yang berdiri dihadapannya bukanlah Bryan yang dia kenal melainkan seorang pria yang terobsesi dengan dirinya.


Bryan mengulurkan tangan membelai pipi mulus Alina, Alina meronta namun tangan pria itu bergerak cepat. Alina merasa kesakitan saat kedua tangannya dipelintir kebelakang seperti seorang tahanan.


" Lepaskan, kau menyakitiku , Argh!" Alina terus berontak tapi tenaga Bryan begitu kuat.


" Aku tidak akan menyakitimu kalau kau bersikap lebih baik Al," bisik pria itu dekat ditelinga Alina. Hembusan napas Bryan menerpa kulit bahunya.


" Max, tolong aku!" batin Alina menangis. Dia tahu kalau Bryan sekarang gelap mata, bukan tidak mungkin pria itu akan melecehkannya.


" Kamu masih sama seperti dulu Al, wangi, aku merindukan dirimu, " bisik Bryan dengan suara serak, bibirnya mendarat dibahu polos Alina membuat Alina meronta sejadi-jadinya. Jijik oleh perlakuan pria itu sekalipun dulu dia pernah mencintainya.


" Lepaskan aku bajingan! kau lupa kalau saat ini istrimu sedang sakit , dia mengandung anakmu, sadarlah Bryan!"


Bryan tertawa


" Tolong Bry sadarlah, yang kau lakukan ini salah, jangan hancurkan kehidupanmu yang sudah sempurna, istri dan anak-anak mu menunggu dirumah" Alina memohon pilu, dia terus mengingatkan pria itu pada keluarga kecilnya.


"Ssst, aku tidak akan hancur Al selagi kita bersama!" Bryan tidak terpengaruh, dia semakin mendorong Alina kedinding , hingga sebelah pipi wanita itu menempel di sana, Bryan merubah posisi mereka menjadi lebih intim , menyingkap rambut indah Alina lalu mengecup punggung mulus yang dulu selalu dia puja.


"Max , tolong aku! hiks..hiks. " Alina putus asa


" Pria itu tidak akan datang sayang, malam ini kita akan bersatu sebagai pasangan kekasih yang saling mencintai. Nikmati saja!"


Alina menggerakkan badannya dari cengkraman Bryan, bagaimanapun dia tidak boleh menyerah, lebih baik mati daripada harus dinodai.Teringat sepatu yang dia kenakan, Alina menginjak kaki Bryan sekuat mungkin tepat sebelum pria itu menurunkan resleting dress yang dia kenakan


" Arrgh,,, " sontak pegangan Bryan mengendur dan Alina mengambil kesempatan untuk kabur, namun tangan Bryan lebih sigap, dia menarik rambut panjang Alina hingga wanita malang itu terjerembab.


" Rupa kamu gak bisa diajak secara baik-baik, aku terpaksa membuat kamu tak berdaya, maafkan aku Al, seharusnya kamu tidak melawanku!" Dengan terengah engah Bryan mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku.


Alina melihat sebuah jarum suntik berisi cairan, sadar akan keselamatannya sudah diujung tanduk, wanita itu berusaha bangkit kembali dari posisi jatuhnya.

__ADS_1


" Argh!" rasa nyeri yang hebat mendera kakinya , membuat dia tidak kuat berdiri. Bryan berjongkok didekat wanita yang tengah bersusah payah bangun.


" Jangan Bry, aku mohon!"


Pria itu tersenyum smirk dan tanpa belas kasihan dia menyuntikan benda itu secara kasar dibagian tengkuk Alina. Alina merasakan pusing yang sangat hebat.


" Max..." seketika pandangannya menghitam dan diapun pingsan.


Memastikan Alina sudah tak berdaya, Bryan menggendong dan membawanya kedalam kamar lalu meletakan tubuh ramping itu diatas ranjang. Bryan menatap iba.


" Maafkan aku Al, kalau dengan cara halus aku tidak bisa mendapatkan mu kembali, maka hanya dengan cara ini aku bisa memilikimu, tolong mengertilah dan jangan membenci ku, aku benar-benar mencintai kamu Al." Lirih Bryan


Bryan membuka jas yang dia kenakan dan mencampakkan sembarangan. Merangkak keatas ranjang yang sama. Dia bisa pastikan setelah kejadian malam ini, rumah tangga Alina akan goyah. Karena Alina merasa dirinya kotor lalu pergi dari kehidupan Max. Disitulah dia akan memainkan peran.


Buk...buk


"Aaaaaaargh" darah mengalir dari hidung pria itu. Alina tidak sepenuhnya pingsan, tubuhnya hanya limbung. Saat Bryan mendekatkan wajah hendak menciumnya Alina menghantamkan kepala dengan kuat pada indera penciuman pria itu. Sukses dengan serangan pertama , Alina kemudian menghajar bagian pribadi Bryan.


Secepat mungkin Alina kabur dari sana bersamaan dengan suara yang sangat dia kenal memanggil namanya.


"Alinaaaa..."


" Max" dengan tertatih-tatih Alina menuju teras, efek suntikan tersebut membuat tubuhnya terasa melayang, hingga sakit akibat penganiayaan Bryan tidak lagi terasa.


Max menarik napas lega saat melihat Alina,


" Maafkan aku terlambat menemukanmu sayang," Max mendekap erat tubuh istrinya.


Alina juga merasakan hal yang sama, dia juga memeluk Max tak kalah erat.


Morgan, Orion dan Devano membiarkan pasangan suami istri itu melepaskan kerinduan. Mereka bertiga kompak masuk kedalam dan menemukan seorang pria yang dalam kondisi babak belur terduduk lesu diatas kursi sambil membekap hidung yang tak berhenti berdarah


" Vano, kurasa kau perlu membantu pria itu, aku tidak mau mengotori tanganku!" ucap Orion sarkas, dan Devano yang paham maksud dengan kata membantu tadi lansung menselancarkan aksi. Membuat Morgan meringis ngeri, bagaimanapun Bryan adalah sahabatnya. Dia memilih keluar daripada menyaksikan Bryan menjadi samsak hidup oleh Devano dan anak buahnya.


***

__ADS_1


Hallo, makasih banyak atas antusias teman-teman pada cerita ini, mohon maaf kalau komen-komennya belum sempat aku balas, tapi author sangat senang sudah mendapatkan respon yang sangat baik dari readers tersayang, i love u all guys🥰


__ADS_2