
Alina mengusap lengannya sendiri sembari mondar mandir didepan ruang operasi. Belum sepenuhnya mengerti apa yang tengah terjadi. Yang pasti setelah membaca pesan dari Audrey, bergegas dia pulang ke kontrakan mereka. Begitu sampai di sana, Alina mendapati Sherly sedang kesakitan akibat kontraksi dini. Cairan bening bercampur darah mengalir di kaki wanita itu sementara Aditya tidak kelihatan batang hidungnya.
Tanpa berpikir panjang Alina meminta suaminya untuk membopong Sherly dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
" Ketuban pasien pecah dan harus segera dilakukan operasi!" ucap dokter menjelaskan. Alina mencoba menghubungi Aditya, namun ponselnya tidak aktif.
Tidak ada pilihan, karena kondisi Sherly dan bayinya sangat mengkhawatirkan, Alina pun menanda tangani surat persetujuan untuk tindakan medis.
Lampu diruang operasi sudah menyala, Alina berdoa semoga kakak ipar dan keponakannya selamat. Kandungan Sherly baru menginjak tujuh bulan. Akan sangat beresiko bagi keselamatan keduanya.Terlepas dengan apa yang sudah dilakukan Sherly, Alina tidak ingin menghakimi.
Diantara rasa gelisah terselip tanda tanya dalam diri, kenapa Sherly begitu tega membohongi mereka semua. Menjadi musuh dalam selimut, duri dalam daging tanpa terdeteksi.
Alina tersenyum kecut, tak menyangka wanita berhijab yang selalu lembut dan perhatian itu justru menjadi akar masalah dari kejadian beberapa waktu lalu. Segelintir persoalan yang sempat Audrey katakan di obrolan chat. Alina belum sempat menanyakan lebih jauh karena ada kejadian ini.
" Minum dulu sayang!" Max menyodorkan botol minuman yang baru saja dia beli di minimarket yang ada di kawasan rumah sakit tersebut. Pria itu juga menenteng plastik berisi cemilan, roti dan buah.
Alina mengikuti langkah Max duduk di sebuah kursi yang ada didepan ruang operasi. Dengan sigap Max membuka salah satu bungkus roti dengan isian keju lalu menyuapkan pada Alina.
" Aku gak lapar sayang, kamu aja! " tolak Alina. Max menggeleng dan memaksa nya untuk membuka mulut. Mau tak mau Alina menurut. Perlahan tapi pasti roti itu pun habis. Max senang, dia membuka bungkusan kedua untuk dirinya sendiri. Gantian Alina yang menyuapi. Beberapa perawat yang lalu lalang tersenyum melihat kemesraan pasangan tersebut.
Di Kejauhan Aditya sedikit berlari menghampiri pasutri baru. Dengan Audrey yang mengekor juga Adrian. Max heran belakangan Adrian selalu berada di sekitaran Audrey, Max mengendus ada sesuatu yang disembunyikan sang asisten sekaligus sahabat nya itu. Max enggan bertanya, setidaknya untuk saat ini.
" Kakak kemana saja sih! mbak Sherly itu kontraksi dini, dan ketuban nya pecah. Kalau terjadi sesuatu dengan istri dan anak kakak gimana! " sembur Alina penuh emosi. Max mengusap punggung istrinya agar bersabar. Bagaimana Alina tidak emosi saat dia datang tidak ada orang di rumah, karena Audrey sedang menjemput anak-anak nya ke sekolah.
" Kakak minta maaf Al, kakak tadi menenangkan diri. "
" Aku tahu, paling nggak jangan matikan ponsel kak, aku susah menghubungi disaat dokter menanyakan keberadaan kakak, " Alina menurunkan intonasi melihat raut bersalah kakaknya.
" Maaf! " hanya itu yang terucap dari bibir Aditya. Dia benar-benar menyesal. Tidak mengira kalau pertengkaran mereka tadi memicu masalah pada kehamilan sang istri.
Max mengajak Adrian menjauh, sengaja memberikan ruang pada kakak beradik itu bicara. Meskipun dia tahu pokok permasalahan nya apa, dia tidak mau terlalu ikut campur. Ada batasan yang harus dia jaga karna menyangkut privasi Aditya.
Semua ini berhubungan dengan dalang dibalik video viral waktu itu. Dimalam ketika Max meninggalkan Alina di apartemen, Max ternyata mengerahkan anak buahnya untuk menangkap Brandon dimanapun dia berada. Yakin pria itulah penyebab kekacauan yang terjadi. Karena cuma Brandon yang tahu soal hutang Aditya. Bahkan Max tahu masalah Aditya dari pria itu ketika mereka bertemu di rumah Alina saat pengajian.
Brandon bukanlah orang asing, dia adalah mantan karyawan almarhum kakek Max, dikarenakan ada masalah keluarga dia mengundurkan diri. Selama bekerja dengan Arlingga, Brandon tidak pernah bermasalah. Makanya Max tidak mau gegabah. Dia harus memastikan terlebih dahulu.
" Katakan tuan Brandon, apa anda dalang dibalik video itu! " tegas Max dengan sorot mata tajam membuat pria paruh baya itu tidak sanggup untuk mengangkat kepala.
" Bb-bukan tuan muda, saya tidak tahu menahu soal video itu, saya hanya diminta boss menagih pada Aditya! " ucap Brandon gugup.
__ADS_1
"Bohong! saya yakin anda pasti orangnya, kalau tidak mana mungkin wartawan tahu soal uang yang saya transfer, " sergah Max marah.
Brandon menyeka bulir keringat yang membasahi keningnya. Dia sangat paham dengan karakter Max. Kalau sampai saat ini Max belum menggunakan kekerasan padanya, pasti karna pria itu masih menghormati dia sebagai orang yang lebih tua.
" Anda tau pasti seperti apa saya tuan Brandon, jangan menguji kesabaran ku, atau saya tidak akan memandang usia anda lagi tuan! " Gertak Max penuh intimidasi membuat Brandon tidak punya pilihan.
" Semuanya rencana boss saya. perusahaan kami kolaps dan membutuhkan sejumlah dana untuk event yang harus diselenggarakan, tuan Zaky mengelabui tuan Aditya seolah uangnya dibawa kabur oleh vendor, padahal vendor tersebut adalah orang suruhan Zaky sendiri, Zaky menekan Aditya hingga nona Alina membantu menyelesaikan masalah ini, mendengar hubungan anda dengan nona Alina ketika kita bertemu di pengajian saya yakin uang tersebut pasti dari anda, dan saya mengatakan pada tuan Zaky tentang hubungan anda dan nona Alina. "
Zaky?
Nama yang tidak asing ditelinga Max, dia menanyakan identitas pria yang bernama Zaky, barulah Max teringat dengan sosok yang dulu hampir melecehkan Gladys. Beberapa tahun berlalu tidak mengubah karakter pria itu. Licik
" Hanya demi uang delapan ratus juta, boss anda sampai membuat konspirasi sedemikian rupa? menyedihkan! " decak Max tidak habis pikir.
" Saya juga tidak mengerti tuan, tapi menurut saya ini bukan sekedar masalah uang saja, ada kaitannya dengan Mbak Sherly, istri tuan Aditya. Entah apa hubungan Tuan Zaky dan Sherly, yang jelas seperti ada kisah yang belum usai," lanjut Brandon membeberkan.
Max mengerutkan kening
" Sherly? maksud anda? "
Brandon menghela napas
" Anda tau dari mana perihal Sherly ada hubungan dengan Zaky, apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? "
Brandon mengangguk, dia pernah memergoki Sherly keluar dari ruangan bosnya di kantor mereka sambil menangis.
Max tidak terkejut dengan ulah Zaky, dia hanya shock bagaimana seorang yang lembut dan berpenampilan alim seperti Sherly terlibat dengan pria breng*sek seperti Zaky
Max percaya Brandon berkata jujur. Dia pun melepas pria paruh baya itu. Tidak ada gunanya dia menahan lebih lama.
" Kalau saya boleh memberi saran, jangan sia-siakan potensi anda demi orang seperti Zaky, carilah pekerjaan lain atau anda akan terlibat masalah karenanya. " Saran Max pada Brandon.
" Saya mengerti tuan, terima kasih atas nasehatnya, "
Max yakin pembuat video viral itu tak lain adalah Zaky, perkataan Brandon tentang dirinya dan Alina pasti memberinya ide untuk menuntaskan dendam lama. Max menghubungkan seorang asistennya yang lain, Vano untuk membuat perhitungan dengan Zaky. Tapi Max ingin bermain-main terlebih dahulu untuk memancing Zaky keluar dan memohon ampun padanya.
***
" Ada yang ingin kau sampaikan? " sarkas Max pada Adrian. Saat ini mereka tengah duduk di kursi lorong tak jauh dari ruang operasi.
__ADS_1
" Eh, apa? " Adrian tak mengerti.
Max tersenyum tipis.
" Bagaimana kau bisa bersama Audrey dan juga Adrian? seingat ku aku tidak memintamu untuk menjemput mereka, "
Adrian terkejut.
" Aku hanya lewat dan melihat mereka menunggu taxi, jadi aku pikir tidak ada salahnya aku membantu, "
Max tertawa
" Begitu ya!" ucapnya penuh Arti
" Kau jangan salah paham Max, aku tidak bermaksud apapun. " ucap Adrian sungkan. Dia tahu Max pasti memikirkan sesuatu tentang dirinya. Insting Max sangat kuat. Tapi belum saatnya dia mengemukakan yang sebenarnya lebih awal sementara dirinya sendiri masih belum yakin.
" Aku tau, untuk sebuah niat yang baik akan selalu aku dukung, pastikan kau sudah yakin untuk itu. "
Nah kan. Max seperti cenayang saja. Belum apa-apa sudah tau apa yang ada dalam benak Adrian.
" Apa ada kabar tentang Evan? " tanya Max mengalihkan topik.
Adrian mengangguk
" Anak buahku sudah mengikutinya, dan sejauh ini belum ada gerakan mencurigakan. Pria itu sibuk menjamu beberapa koleganya saja. "
" Jangan lengah, aku yakin Evan sedang merencanakan sesuatu, pastikan kalian tidak kehilangan jejak. "
Adrian mengerti.
" Maxime Arlingga Yogatama, aku akui pergerakanmu sangat cepat. Kau nyaris tanpa cela. Tapi sekuat apapun manusia pasti memiliki kelemahan dan kelemahanmu adalah Alina Maharani, kita liat apa yang bisa aku lakukan. " ucap Evan mengamati Max dari kejauhan.
***
Bantu vote dan komennya ya🥰
Thanks
Author
__ADS_1