
Max menggandeng tangan Alina keluar dari kantor melalui pintu belakang, security sudah menyiapkan mobil di sana atas perintah pria itu. Seperti yang Adrian katakan, para wartawan menunggunya di lobi kantor sejak berita sampah itu viral. Max bukan tidak ingin menemui mereka. Alina masih shock. Dia harus membawa gadis itu pergi dari sini sebelum ada yang menyadari.
Begitu mereka sudah lolos dari para pemburu berita, Max melajukan mobil kearah apartemen nya Satu-satunya tempat yang aman untuk saat ini. Wartawan itu tidak saja menunggu di kantor tapi juga di mansion nya.
Audrey juga melarang Alina pulang karena gosip itu sudah menyebar dilingkungan mereka tinggal, para tetangga julid mencari celah untuk menyudutkan Alina. Audrey tidak mau adiknya semakin terpuruk, kehilangan ibu saja sudah membuat mereka terpukul sekarang ditambah lagi dengan fitnah keji.
" Alina Maharani, adik dari Aditya seorang pengusaha EO di bali, OPEN BO disaat ibunya meninggal demi melunasi hutang sang kakak, yang mengejutkan pria yang membooking gadis itu tak lain adalah Maxime Arlingga Yogatama, seorang executive muda yang kaya raya pewaris dari Kerajaan bisnis Mulia Jaya Corps! "
Begitu narasi yang di tampilkan pada video yang berdurasi enam puluh detik lengkap dengan potret Alina dan Max yang sedang bergandengan tangan masuk dalam mobil.
Sejak melihat video tersebut, Alina membisu tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, namun airmata yang terus menetes sudah mengungkapkan bagaimana hancurnya perasaan gadis itu sekarang. Terus dihadapkan pada berbagai problematika hidup membuat Alina sedih, apa kesalahan yang sudah dia lakukan sehingga orang-orang tega menuduhnya seburuk itu.
Max tidak tinggal diam, dia sudah meminta Orang-orang nya untuk menyelidiki siapa dalang dibalik semua ini. Dia yakin orang tersebut memiliki dendam pribadi dengannya, bukan Alina. Dari awal Max sudah membaca alur, kalau dia lah target sesungguhnya. Max tidak masalah kalau ini hanya menyangkut dirinya, gosip murahan itu tidak akan bisa meng hancurkannya, hanya saja dia tidak terima jika menyeret nama Alina dan dia tidak akan memberi ampun pada orang yang sudah menghina kekasihnya. Kita lihat saja apa yang bisa Max lakukan.
" Aku janji semuanya akan baik-baik saja sayang, kamu percaya sama aku kan? " ucap Max menggenggam tangan gadis itu. Mereka sudah sampai di basement.
Alina balas menatap Max,
" Apa yang harus aku lakukan, mereka menuduhku serendah itu hiks, " isak Alina pilu membuat Max merasakan sesak yang sama dalam dadanya.
Max merengkuh Alina kedalam pelukan, mengecup kepala gadis itu berulang kali.
" Kamu tidak perlu melakukan apapun, aku janji besok semua nya akan membaik seperti sebelumnya, "
" Tapi orang - orang sudah terlanjur mengganggap ku buruk, hiks, "
Max mengurai pelukan dan merangkum wajah Alina, menyeka airmata yang menggenang di sana.
" Dengar sayang, baik buruk kita bukan tergantung pada penilaian orang lain, biarkan saja mereka, selama kita tidak meminta apapun dari mereka, abaikan saja. Kita juga tidak bisa memaksa mereka untuk selalu suka pada kita, Please sayang kamu jangan sedih terus, "
Alina meresapi perkataan Max lalu mengangguk mengerti. Keduanya turun dari mobil dan melangkah menuju unit Max.
" Besok adakan jumpa pers di lobi kantor, hubungi semua keluarga untuk hadir tanpa terkecuali, sudah saatnya mereka tau siapa aku, " tegas Max pada Adrian ketika pria itu menanyakan langkah yang akan mereka ambil.
Adrian mengangguk.
__ADS_1
" Aku ada urusan sebentar, jaga Alina sampai aku pulang, "
Adrian tidak keberatan, ada artnya Max, bik retno yang menemani Alina sedari mereka datang.
" Kau mau kemana? "
" Membuat perhitungan!"
Kalau Max sudah bicara seperti itu berarti dia sudah menemukan pelaku kekacauan ini. Entah apa yang akan Max lakukan, Adrian cukup ngeri membayangkan.
Ibarat membangunkan singa tidur, itulah yang dilakukan pembuat video pada Max. Pria itu bisa menjadi sangat baik, tapi ketika hidupnya diusik, makan dia tidak akan melepaskan orang tersebut meskipun sembunyi di dalam lubang semut.
***
" Kami akan mengadakan jumpa pers besok di lobi perusahaan, jadi sebaiknya kalian pulang saja, " ucap Orion pada para pemburu berita yang masih setia menunggu dipelataran mansion.
Mereka kecewa karena tidak berhasil mendapatkan apapun. Dengan langkah terpaksa mereka pergi dari sana. Orion lega, sedari sore orang-orang itu membuatnya kesal, tapi karena keputusan ada ditangan Max, dia harus bersabar menunggu. Hingga Adrian menelponnya dan menyampaikan pesan Max.
" Kasihan Alina mas, ujiannya bertubi-tubi, " ucap Gladys bergabung dengan sang suami diatas tempat tidur setelah menidurkan Moza di kamarnya.
"Tujuan video itu bukanlah Alina, melainkan Max. Alina hanya korban sayang, "
Gladys mengangkat kepala dan menengadah menatap Orion.
" Bagaimana kamu tau mas? "
" Mudah ditebak, Alina bukan siapa-siapa, eh maksudku, dia bukan public figure ataupun pebisnis, tidak akan berpengaruh apapun jika diberitakan, "
Gladys mengerti maksud Orion, hanya saja dia tidak terima ketika Alina dibilang bukan siapa-siapa.
" Oooh bilang aja yang jelas mas kalau Alina itu cuma gadis dari keluarga biasa, sama seperti aku, " cicit Gladys ketus, dia melepaskan diri dari pelukan Orion dan membalikkan badan membelakangi pria itu.
Loh...
" Kamu kok marah sayang, kan aku dah ralat kalau Alina itu bukan public figure atau pebisnis"
__ADS_1
Gladys tidak bergeming dia pura -pura memejamkan mata, mau diralat atau nggak tidak mengubah apapun, nyatanya memang dia dan Alina cuma gadis biasa yang beruntung mendapatkan cinta dari keluarga kaya
raya, setidaknya Alina masih cukup beruntung, walaupun tidak kaya, tapi gadis itu berasal dari keluarga yang berpendidikan, ayah nya dulu seorang pengusaha. Berbeda dengan Gladys, yang ibunya hanya berprofesi sebagai penjual pecel ayam dan mendiang ayahnya buruh pabrik.
Sebenarnya Gladys tidak pernah merasa insecure karena sedari awal mertuanya sangat welcome dan menyayanginya dengan tulus. Entah kenapa belakangan dia sangat mudah tersinggung terlebih oleh ucapan suaminya.
" Sayang jangan ngambek dong, aku minta maaf deh kalau aku salah, " rengek Orion memeluk Gladys dari belakang.
" Mau bilang aku wanita dari kalangan biasa lagi, "
Orion kan tidak pernah mengatakan itu, Huft kenapa akhir-akhir ini istrinya sering sekali merajuk hanya karna hal sepele terkadang dia tidak melakukan apapun tetap saja salah.
Orion sebenarnya tidak terlalu khawatir karena Gladys kalau merajuk tidak pernah lama, paling besok pagi udah baik lagi. Hanya saja Mr. Pip - nya tidak bisa tidur sebelum bertemu Mrs. Pip.
" Iya deh aku gak akan bilang begitu lagi, suerr!" ucap Orion mengacungkan dua jari. Sebuah keharusan ketika dia berjanji, gak pernah tau arti kata suerr, Orion hanya meniru kan Gladys saat melakukan hal yang sama.
Orion sang casanova tidak pantas lagi disematkan pada pria itu, karna kebucinan-nya pada Gladys sudah mencapai level tertinggi.
Mendengar kata suerr, Gladys langsung luluh, tapi malam ini dia enggan bertemu Mr. Pip. Tubuhnya terasa lemas.
" Mr. Pip bersolo karir dulu ya mas, aku capek banget, "
" Udah ada Mrs. Pip kok malah disuruh solo karir, gak enak akh!" Orion memasang tampang memelas. Dulu aja dia tidak pernah bersolo ria, banyak perempuan diluar sana yang bisa memuaskan Mr. Pip. Tapi sekarang Mr.Pip hanya mau di service sama Mrs. Pip seorang.
Tak kehilangan akal pria itu menyentuh saraf -saraf sensitif sang istri. Membuat wanita itu kewalahan, terlebih ketika bibir Orion menyentuh puncak himalaya. Gladys menyerah tanpa syarat.
Orion menyeringai senang, tak ada yang bisa menolak serangan mematikan dari mantan casanova. Kini dia mulai memanjakan sang istri hingga Gladys mabuk kepayang dan semakin melayang ketika Mr. Pip bergerak konstan bersama Mrs. Pip.
***
Happy Reading, jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Thanks
Dik@
__ADS_1