
Sesuai dengan kesepakatan pertemuan dua keluarga diadakan di hangout resto and cafe milik Adam, sahabat Max. Kedua belah pihak kini duduk mengitari satu meja panjang.
Sempat terjadi ketegangan dikarenakan Tirta sangat emosi melihat wajah pria yang sudah menodai adiknya, kalau tidak ditahan oleh Max mungkin Orion sudah babak belur.
Cukup mudah bagi Orion untuk membalas pukulan karna posturnya jauh diatas Tirta tapi Max tahu saudaranya itu tidak akan melakukan itu karena sadar akan posisinya yang salah.
Suasana cafe cukup lengang, hanya ada beberapa waitress yang lalu lalang mengantar menu yang sudah dipesan oleh tuan rumah. Mereka sengaja membooking tempat ini secara private hingga siang jadi tidak mengganggu jam operasional cafe yang dominan ramai disore hingga malam hari.
Alina juga turut serta, dia sengaja izin sebentar untuk menemani ibu Gladys yang nampak gugup. Wanita paruh baya itu terus saja menggenggam tangan Alina sejak kedatangan mereka tadi.
" Ibu bingung Al, kami ini hanya orang miskin bagaimana mungkin bisa bersanding dengan mereka," imbuhnya saat mereka bicara dalam perjalanan tadi.
Alina tersenyum " Ibu gak usah mikirin itu ya, keluarga om Hardi bukanlah sosok yang sombong, mereka sangat ramah dan tidak pernah pandang bulu dalam bergaul,"
"Gimanapun baiknya, tetap saja putra mereka brengsek, " timpal Tirta sinis. Alina tidak membantah mengingat pria itu sedang diselimuti kemarahan.
Setelah dirasa semua kondusif, Hardi selaku pihak yang mengundang memulai pembicaraan.
"Saya Hardi Arlingga dan ini istri saya Widyawati, yang disebelah istri saya Orion, putra pertama kami, sampingnya lagi Maxime putra kedua kami, " ucap Hardi dengan ramah, senyum wibawa tidak lepas dari bibirnya.
Sesi perkenalan itu disambut baik oleh ibu Gladys, kehangatan yang ditunjukkan oleh keluarga itu membuat kegugupannya hilang. Dengan sikap yang sama dia memperkenalkan keluarganya, hanya dia dan juga putranya Tirta, sedangkan Namira putri bungsunya tidak ikut karena menemani Gladys dirumah sakit.
" Kami selaku orangtua Orion minta maaf, karena kelakuan putra kami membuat putri ibu sakit dan tertekan, kami akan bertanggung jawab atas itu," ucap Hardi
" Dengan cara apa pak, karena apapun bentuk tanggung jawab dari keluarga anda, tidak akan mengembalikan keadaan adik saya," jawab Tirta sinis. Satu prasangka terbentuk dibenak pria itu, keluarga kaya itu pasti akan menyogok mereka dengan uang sebagai ganti rugi dan tutup mulut, jangan pikir ini akan mudah, batin Tirta dengan rahang mengetat.
Ibu Gladys memegang tangan anaknya meminta dia untuk tenang,
" Maafkan putra saya pak, dia sedang emosi jadi tidak bisa mengontrol kata-katanya,"
Hardi menggeleng " Tidak apa bu saya mengerti, kakak mana yang sanggup melihat penderitaan adiknya,"
Tirta tidak menanggapi, dia terus saja memandang tajam pada Orion.
" Tapi ibu dan nak Tirta jangan salah paham, kami tulus ingin bertanggungjawab untuk masa depan putri ibu, " lanjut Hardi
Tirta dan ibunya mengerut kan kening, tidak mengerti apa yang dimaksud Hardi
" Saya dan istri saya sepakat akan mengambil putri ibu sebagai menantu dirumah kami, Orion akan menikah dengan Gladys," pungkas Hardi menjelaskan. Sontak mereka terperangah, terutama Orion, dia tidak menyangka orangtuanya mengambil keputusan tanpa bertanya dulu pada dirinya, dia hendak membantah tapi Max yang sedari tadi menyadari saudaranya akan protes mencengkram lengan pria itu dengan kuat.
" Apa-apaan ini, aku gak mungkin menikahi gadis itu, lagipula dia gak hamil," bisik Orion tidak terima.
__ADS_1
" Kau pikir secepat itu memastikan dia hamil atau tidak bahkan ini belum lebih dari dua minggu," sergah Max lirih,
" Tetap saja, aku tidak mau menikah, dia bukan gadis yang aku cintai,"
" Sejak kapan kau memikirkan cinta, casanova sepertimu tidak peduli dengan itu,"
" Terserah, yang pasti aku tidak setuju dan mereka semua harus tau,"
" Diam atau kau akan menyesal,"
Orion tak berkutik, kalau Max sudah mengancam itu artinya dia akan melakukan sesuatu yang akan merugikannya, Orion jadi berpikir siapa yang kakak dan siapa yang adik. Selama ini dia memang tidak pernah terintimidasi oleh Max, tapi kali ini situasi nya berbeda, posisinya jelas tidak menguntungkan.
Tirta menyipitkan mata pada Orion dan Max yang sedang berbisik-bisik, dia yakin pria brengsek itu juga tidak tahu menahu dengan keputusan tersebut, terlihat dari wajahnya yang panik.
" Terima kasih kalau anda berpikir seperti itu pak, tapi saya tidak akan menggadaikan kebahagiaan adik saya,"
" Kami akan menjamin kebahagiaan Gladys, tidak ada yang bisa menyakiti dia termasuk putra kami sendiri," tegas Hardi
Tirta melihat ketulusan Hardi dan juga istrinya tapi dia masih ragu.
" Apa konsekuensinya kalau apa yang bapak katakan itu tidak sesuai kenyataan,"
Hardi tersenyum tipis
Tirta mengangguk, dia merasa cukup adil, bagi keluarga kaya itu reputasi pastilah sangat berharga dan mereka akan sekuat tenaga mempertahankan hal itu.
" Mohon maaf, saya sedikit menyela, mungkin sebaiknya keputusan ini dibicarakan dulu dengan Gladys saat dia pulih, bagaimanapun dia yang akan menjalani semuanya, jangan sampai dia tertekan untuk kedua kalinya," Alina memberikan pendapat begitu Hardi dan Tirta mengucap kata sepakat.
" Mommy setuju dengan yang Alina katakan Pi, Bagaimanapun Gladys berhak tahu, karna ini menyangkut hidupnya,"
Orion perlu berterimakasih pada Alina, berkat pendapatnya itu dia masih punya harapan untuk bisa lepas dari tanggujawab dan berharap Gladys menolak, kalau perlu dia akan menyerahkan sebagian sahamnya di Mulia Jaya pada gadis itu.
Hardi dan Tirta sama-sama menimbang, akhirnya mereka memutuskan menunggu Gladys sembuh, barulah mereka akan lanjut pada langkah berikutnya.
Pertemuan itu ditutup dengan makan siang bersama, setelah itu Ibu Gladys dan Tirta pamit, mereka diantar oleh supir yang disiapkan Max. Alina sendiri berencana kembali kekantor, baru saja hendak memesan taxi online, Max sudah menarik tangannya
" Saya yang antar kamu,"
Alina tidak bisa membantah, karna raut Max sedang tidak bersahabat. Daripada terjadi perang dunia ketiga lebih baik dia mengalah.
Diperjalanan pun Max banyak diam dan fokus pada setirnya. Alina mencoba berpikir positif mungkin Max sedang lelah, pekerjaan dan masalah Orion cukup menyita pikirannya.
__ADS_1
" Makasih sayang, aku akan menelponmu nanti, " Alina mengecup pipi Max sekilas sebelum turun begitu dia sampai di parkiran kantornya.
"Tunggu sayang,"
Alina mengurungkan langkahnya, dia kembali duduk dan memandang wajah Max seksama.
" Ada apa sayang?" Alina mengelus rambut belakang Max dengan lembut.
Max menghela napas.
" Aku ingin kamu berhenti kerja," pinta Max lugas.
Sejak fakta tentang Bryan terkuak, dia memutuskan untuk menjauhkan Alina dari Mega Buana, Max hanya tidak ingin Alina tersambung dengan orang orang dimasa lalunya, terutama Morgan dan juga Leo
meskipun dalam hal ini kedua orang itu tidak sepenuhnya salah, tetap saja dia tidak suka.
Alina mengerutkan kening.
" Berhenti? tapi kenapa sayang, aku sudah nyaman dengan pekerjaan ku, lagipula tidak mudah mencari kerja di zaman sekarang,"
" Bekerjalah dikantorku, kamu bisa memilih posisi apapun yang kamu mau, yang jelas jangan bekerja di Mega Buana lagi,"
Alina terdiam dan mencoba mencerna apa yang tersirat dari ungkapan Max barusan, dia mencium ada yang tidak beres.
" Tapi kenapa Max?"
Max tercekat, bahkan dia belum menyiapkan alasan yang tepat untuk permintaanya itu. Dia sangat paham bagaimana Alina, gadis itu tidak akan mudah tunduk, Alina pasti akan terus mencecarnya.
" Saya ingin kamu membantu saya dikantor, bukan diperusahaan orang,"
Alina sontak tertawa, perkataan Max terdengar ambigu, seperti di buat-buat. Bukankah Leo bukan orang lain untuk nya, dari Om Hardi dia tahu kalau Pak Leo adalah rekanan yang sudah dianggap saudara sendiri, tidak ada persaingan diantara mereka. Bagaimana bisa max mengatakan kalau Leo adalah orang lain.
" Perasaan saya tidak mengatakan sesuatu yang lucu,"
Alina menutup mulut untuk menghentikan aksinya.
" Gak ada yang lucu memang, tapi kamu terdengar seperti orang yang sedang cemburu dengan kesuksesan orang lain, padahal kamu itu jauh lebih berjaya dibanding Mega Buana" tandas Alina, sebelum akhirnya memegang handle pintu dan mendorong keluar.
" kita bicarakan ini nanti sayang, aku sudah sangat terlambat," pungkasnya lagi mengakhiri pembicaraan meninggalkan Max yang terperangah.
Max memukul setir berulang kali, bagaimana caranya memberitahu Alina, dia tidak ingin gadis itu bertemu dengan Bryan, pria itu bisa kapan saja datang di Mega Buana, terlebih perusahaan Om Hartawan juga kolega bisnis Leo, bukan tidak mungkin suatu saat Om Hartawan memberikan project pada Mega Buana.
__ADS_1
Sebisa mungkin dia harus menjauhkan Alina dari sana tapi tak akan terjadi bila Alina terus menolak permintaannya, dia harus memikirkan alasan yang lebih kuat agar gadis itu mau mengerti.
***