Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
79. Curiga


__ADS_3

Alina mengerjapkan mata begitu sinar mentari yang masuk melalui ventilasi udara menyilaukan indra penglihatan nya. Dia mengangkat tangan didepan wajar agar dapat menyesuaikan pandangan.


Apa yang terjadi? Alina berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Dia baru tersadar kalau dia menjadi korban penculikan, dua orang yang berdiri didepan toilet membius nya setelah itu dia pun pingsan dan berada disini.


Sontak Alina beranjak dari tempat tidur, pandangannya mengitari sekitar. Sebuah ruangan kamar dimana lantai dan dinding nya terbuat dari kayu. Tidak banyak perabotan tapi memberi kesan rapi, tidak berdebu dan cendrung terawat, selain ranjang minimalis, hanya ada nakas kecil dan juga lemari. Sekalipun tidak ada AC atau kipas angin, suasana disini begitu adem. Alina heran, bukankah tidak lazim jika sang penculik malah menempatkan sandera nya ditempat yang jauh dari kesan menakutkan.


Tak ingin terus menduga-duga, Alina berjalan menuju jendela, alisnya mengkerut karena jendela tersebut tidak bisa dibuka, seperti ada yang menahan diluar. Tentu saja, pasti keadaan ini sudah diantipasi agar dia tidak bisa kabur.


Diapun beralih menuju pintu, dia menggedor gedor dari dalam berharap ada yang mendengar dan berbaik hati membantunya.


" Tolong! tolong ada orang di luar?"


Tidak ada sahutan, hanya kesunyian dan suara -suara burung berkicauan yang terdengar.


" Siapapun, kalau tujuan kalian adalah uang, percayalah suami saya akan memberikan apapun yang kalian minta, tolong lepaskan saya! "teriak Alina lagi.


Lagi-lagi tak ada yang menjawab, Alina mendesah nelangsa. tubuhnya merosot ke lantai dibelakang pintu, airmata mulai membasahi wajah.


"Max, cepatlah datang aku takut, hiks" isaknya pilu, dia memeluk kedua kaki, mencoba untuk menenangkan diri.


Kruk.. kruk


Alina memegang perutnya yang berbunyi, dia merasa lapar. Dia belum menyentuh makanannya sama sekali ketika direst area. Sudah berapa lama dia disini?Alina melirik pada jam tangan dipergelangan kiri, pukul tujuh pagi dengan tanggal maju sehari, artinya dia udah semalaman disini. Pantas saja dia keroncongan.


Alina bangkit dari duduk, melangkah menuju pintu lain yang diyakini adalah kamar mandi, ternyata benar sebuah kamar mandi dengan nuansa pedesaan dilengkapi dengan rak -rak yang berisi kebutuhan mandi pada umumnya, handuk bersih yang terlipat rapi, sabun dan juga sikat gigi khas penginapan, tapi tidak ada merk yang menunjukan keberadaannya sekarang.


Kalau di cermati ruangan ini seperti kamar penginapan lebih tepatnya villa, kemungkinan dia dibawa tak jauh dari tempat dia diculik.


" Apakah Max bisa menemukan aku disini?" gumamnya seorang diri. Ponselnya hilang pasti para penculik itu sudah mengambilnya, padahal dia selalu mengaktifkan mode lacak.


Benak Alina terus berpikir siapa kira-kira pelakunya, karena dia merasa tidak memiliki musuh, apa mungkin ada orang yang tak senang dengan Max dan menjadikan dia umpan untuk membalas suaminya. Entahlah yang pasti semuanya diluar nalar, dia hanya dikurung tapi tidak diikat dan dilakban seperti yang dia lihat dari film ataupun berita di televisi.


Wanita itu segera membersihkan diri, beberapa menit dihabiskan Alina dengan mandi, sekarang dia sudah merasa segar. Begitu keluar dia dikejutkan dengan sebuah nampan berisi nasi goreng dan segelas jus tersaji diatas nakas. Berarti tadi ada seseorang yang mengantarkan ketika dia sibuk dengan aktifitasnya.


Alina kembali menggedor pintu


" Saya tau kalian mendengar, siapapun kalian tolong lepaskan saya, suami saya pasti akan memberi kalian imbalan, percayalah saya tidak akan melaporkan kalian, jadi tolong lepaskan saya, saya mohon! "


Tetap saja hanya kesunyian yang dia dapat. Alina menghela napas, tak ada gunanya dia terus membuang tenaga, lebih baik dia menunggu orang tersebut muncul dengan sendirinya, saat itu lah dia akan mencoba bernegosiasi.


Dengan segera dia menyantap makanan yang sudah disiapkan, sejenak ada keraguan kalau makanan tersebut beracun, detik kemudian Alina menggelengkan kepala, tidak mungkin orang tersebut meracuninya, kalau tujuan mereka adalah melenyapkan Alina pasti sudah dilakukan dari kemarin.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Max tidak selera sama sekali, dia hanya menyesap kopi hitam yang dia pesan dari pelayan resto di hotel tempat mereka menginap, menyadari anak buahnya kelelahan, diapun berinisiatif memberikan mereka waktu untuk beristirahat beberapa saat karena sampai dini hari usaha mereka tidak membuahkan hasil. Tidak ada petunjuk apapun yang mereka miliki.


Max sendiri tidak bisa memejamkan mata, dia terus terpikirkan bagaimana keadaan istrinya sekarang, pasti Alina sangat ketakutan, semoga dia bisa bertahan batinnya penuh harap.


Max sudah mengabari saudara -saudara Alina, tadinya Aditya ingin menyusul tapi Max melarang, bagaimana pun istri Aditya baru saja melahirkan dan membutuhkan kehadiran pria itu. Papi dan mami juga menyerahkan semua urusan pada putranya, karena tidak memungkinkan untuk datang ke Bandung, perusahaan harus ada yang mengawasi sementara mommy masih membantu Adinda.


" Aku mengetuk kamarmu berulang kali, kupikir kau masih lelap, tak taunya disini." sapa Orion sambil membawa baki berisi beberapa jenis menu sarapan yang dia ambil dari hidangan prasmanan di resto.


Max tidak menyahut, dia kembali menyesap cangkir yang nyaris kosong. Kemudian memantik api pada kretek yang dia selipkan dijemari, sebuah kebiasaan lama yang muncul ketika pria itu gundah. Max sengaja mengambil duduk di meja luar ruangan yang dekat dengan kolam renang agar leluasa merokok.


 Orion memahami perasaan adiknya itu, mana ada seorang suami yang bisa tenang disaat istri yang dicintai hilang tanpa jejak.


" Apa sudah ada kabar dari orang-orang mu? "


Max meminta Orion untuk menginterogasi beberapa orang yang dia curigai.


Orion mengangguk tapi tidak langsung menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan. Dia benar-benar lapar karena tidak menyantap apapun dari semalam.


" Nihil, mereka tidak terlibat sama sekali! "


" Kau yakin? "


" Berarti cuma satu orang yang bisa!"


Orion mengerutkan dahi.


" Evan! "


Orion meragu, karena yang dia tahu Evan memiliki hubungan emosional dengan Alina dimasa lalu, itu yang sempat dia dengar dari mommy beberapa waktu lalu.


" Aku akan kembali ke jakarta dan membuat perhitungan dengan Evan, kau dan yang lainnya tetap disini, lanjutkan pencarian bagaimanapun caranya!"


" Max, coba pikirkan sekali lagi apa untungnya Evan menculik Alina, kau tau bagaimana dia dengan Alina dulunya, mana mungkin dia menyakitinya! "


Max menggeleng, " Kedatangan dia ke Indonesia bukan semata soal menuntut hak, dia ingin membalas dendam padaku, dia pernah mengatakan kalau dia tidak akan membiarkan Alina menjadi milikku, "


Max teringat kejadian sebelum jumpa pers waktu itu. Dia berbohong pada Alina tentang cerita yang sebenarnya


" Senang bertemu kembali Maxime Arlingga Yogatama" sarkas Evan setelah menghadang mobil sport Max di sebuah jalanan lengang menuju apartemen, Max baru saja kembali membuat perhitungan dengan Brandon, dia yakin video viral tersebut ada kaitannya dengan pria itu, karena cuma Brandon yang tahu soal Aditya, dari sanalah dia mengetahui kalau Zaky dalang semua kejadian.


" Evan Williams selamat datang kembali ke Indonesia, kau terlihat sangat merindukanku sampai -sampai menghadangku dijalanan seperti ini." Max tak kalah sarkas.

__ADS_1


Evan mendengus, " Whatever my bro, aku hanya sedang shock, adikku terlibat skandal, kupikir kau pria rumahan, bajingan juga ternyata, ckck"


Max tersenyum sinis, " Kau penikmat gosip murahan ternyata, sudahlah aku tidak punya waktu melayani basa-basimu!"


" Alina Maharani, sejak kecil dia memang menggemaskan, sangat cantik"


Max mengetatkan rahang, tidak terima Evan menyebut nama kekasihnya, apa yang dia katakan sejak kecil? apa itu artinya Evan mengenal Alina.


" Tutup mulut busukmu!"


Evan menggerakkan tangan didepan bibir , membuat kode tutup mulut.


" Kau gampang sekali emosian, mau balapan?"


" Aku tidak punya waktu melayani mu!" Max hendak beranjak pergi.


" Aku juga mencintainya semenjak lama, aku tak akan membiarkanmu merebut semua milikku!"


Max mengerutkan kening, tangannya mengepal menandakan emosi yang membuncah


" Kau!" desis Max geram.


" Sampai ketemu lagi, siap dirimu Max karena kali ini aku tidak main-main, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan" Evan memasuki mobilnya dan pergi dari sana.


Baru saja beberapa meter Evan melaju, Max menyusul dan meng gas mobilnya dengan keras, pria itu membuka jendela.


" Jangan pernah mengintimidasiku, buktikan kau bisa mengalahkan ku!" teriak Max dari balik kemudi dan cukup jelas ditelinga Evan meskipun kebisingan mesin mobil yang dipacu kencang memecah kesunyian malam.


Keduanya terlibat balapan, saling mendahului dan tidak ada yang mau mengalah secara bergantian mereka memimpin posisi depan pada akhirnya Max mendengar dentuman keras dibelakang ketika mereka ditikungan, dari balik spion dia melihat Mobil Evan ringsek tapi Max tidak peduli.


Dia terus saja melaju dengan kecepatan tinggi hingga tanpa sengaja lepas kendali dan menabrak pembatas jalan, mobilnya terhenti seketika, pecahan kaca depan menyerempet dibahu pria itu. Max meringis saat menarik potongan kaca yang menancap, darah membasahi kemeja yang dia kenakan , Max merasakan pandangannya berkunang-kunang. Pria itupun pingsan. Barulah pagi hari dia ditemukan oleh orang -orang yang melintas lalu minta diantarkan pulang kemansion.


" Sudah kuduga," ucap Orion mendengar cerita Max.


" Wow, kedua saudaraku sedang menggosipkan diriku rupanya!" sapa seseorang yang tiba-tiba muncul dengan senyum menyebalkan


Secara bersamaan Max dan Orion berdecak kesal.


***


Jangan lupa vote dan komen ya , demi kemajuan novel author ini🥰

__ADS_1


__ADS_2