Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
49. Tiga tahun berlalu


__ADS_3

Suasana hiruk pikuk dan lalu lalang pekerja menyiapkan segala keperluan pesta di sebuah ballroom hotel membuat seorang wanita dengan dress selutut motif polkadot merasa pusing. Perlahan dia meraih kursi agar tubuhnya tidak oleng bersamaan dengan seorang pria yang datang menyodorkan sebotol air mineral. Wanita itu menoleh dan tersenyum malu.


"Makasih, " lirihnya berucap seraya menerima lalu membuka tutup botol dan meneguk isinya hingga habis setengah. Pria yang masih berdiri menggelengkan kepala.


" Kebiasaan burukmu itu harus segera dibuang, sibuk boleh tapi jangan kebablasan sampe lupa minum, " dengkusnya tidak senang.


Ini bukan kali pertama dia menerima omelan dari sang suami. Dia memang suka lalai akan kesehatan. Apalagi kalau sedang repot, untuk sekedar minum saja dia enggan.


" Aku hanya tidak sabar, ini ulang tahun pertama Moza yang dirayakan, aku ingin semuanya terlihat sempurna, " ucap wanita itu senang, binar dimatanya memancarkan kebahagiaan.


Pria itu mengerti, tiga tahun terakhir adalah masa yang sulit jadi wajar jika istrinya sangat antusias.


" Apa masih ada yang dibutuhkan?aku harus kembali bekerja,"


Wanita itu menggeleng, " 99 persen sudah rampung, "


Pria itu pun beranjak pergi setelah mengecup kening sang istri sekilas. Wanita itu tersipu dengan perlakuan sang suami. Perasaan hangat menjalar didalam hatinya.


" Acaranya jam 4 sore, jangan terlambat! " seru wanita itu mengingatkan. Pria itu mengacungkan jempol pertanda dia akan datang tepat waktu.


Wanita yang tak lain adalah Gladys, yang sekarang berstatus nyonya Orion. Tak ada satu pun manusia yang bisa menerka bagaimana jalan hidupnya. Termasuk Gladys.


Tiga tahun berlalu penuh drama kehidupan, bukan saja tentang pandemi yang tiba-tiba menyerang, juga bagaimana takdir memainkan peran.


Masih segar diingatan ketika dia mendapat kabar Alina menghilang saat bersamaan dirinya dinyatakan hamil. Dia hancur, tidak tahu harus berbuat apa. Putus asa, Gladys nyaris mengakh*iri hidup. Namun Tuhan masih menyelamatkan. Namira menemukan sebotol obat tidur yang dia beli secara ilegal. Namira memberikannya pada Tirta. Tentu saja Kakak laki-laki nya itu menaruh curiga. Gladys pun tidak bisa mengelak.


Tirta lansung mendatangi mansion keluarga Orion meminta pertanggungjawaban yang telah dijanjikan tanpa memperdulikan kalau keluarga itu tengah berduka karena kepergian Alina. Tirta bukan tidak memiliki empati, sejatinya Alina jugalah yang banyak membantu mereka selama ini. Tapi kondisi Gladys tidak bisa menunggu, harus ada keputusan yang jelas, Tirta tidak mau adiknya mengulang niat buruk seperti sebelumnya.


Beruntung orangtua Orion sangat bijaksana, ditengah duka yang dialami putra keduanya, mereka tetap melansungkan pernikahan Orion dan Gladys meski dengan cara sederhana tanpa pesta berlebih-lebihan selayaknya orang -orang ternama. Keluarga Gladys tidak mempermasalahkan dan sangat memaklumi keadaan.

__ADS_1


Tahun pertama dilalui dengan berat, walaupun sudah berstatus sebagai istri, Gladys tetap tidak mendapat tempat dihati Orion. Gladys berusaha menerima dengan ikhlas. Dia hanya fokus pada kehamilannya, dan menjalankan peran barunya dengan baik. Mereka tinggal di mansion bersama orangtua Orion. Mommy dan papi sangat peduli, perhatian dengan Gladys. Itu sudah lebih dari cukup meski dalam hati Gladys berharap mendapatkan itu semua dari sang suami. Mungkin karna pengaruh hormon kehamilan, Gladys ingin sekali bisa berdekatan dengan Orion, namun pria itu selalu menjaga jarak. Gladys hanya bisa pasrah.


Hingga putri mereka lahir, barulah Orion menampakkan perubahan. Pria itu mulai perhatian dan juga sangat menyayangi Moza. Kehadiran Moza membawa angin segar untuk hubungan keduanya. Pelan tapi pasti, Gladys dan Orion semakin dekat. Virus yang menyebar di berbagai belahan dunia membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Disaat itulah benih-benih cinta tumbuh menyapa.


Berbanding terbalik dengan Gladys dan Orion, Maxime justru kehilangan harapan. Dari pertama Alina pergi. Max berusaha dengan sekuat tenaga mencari keberadaan belahan jiwanya. Berbagai cara dilakukan agar kakak-kakak Alina buka suara, sayang hasilnya nihil. Kedua kakak Alina bergeming dan pencarian juga tidak membuahkan hasil. Dengan ditutupnya pintu masuk semua negara menyulitkan Max untuk menelusuri jejak Alina. Entah kemana Ibu Ranti membawa putrinya, hingga seorang Maxime pun tidak mampu menemukan.


Max sangat hancur, dia berubah total menjadi sosok dingin yang tidak tersentuh. Fokusnya hanya pada pekerjaan, tanpa kenal lelah. Mungkin itu caranya untuk terus melanjutkan hidup. Sebagai orangtua, Hardi dan Widyawati tentu sangat khawatir melihat keadaan putra bungsu mereka. Mereka terus melakukan pendekatan dan berusaha agar Max bisa menerima keadaan. Tak terhitung berapa gadis yang mereka coba kenalkan pada Max. Selalu saja gagal, jangankan memberi respon pada gadis-gadis cantik yang datang, Max bahkan tidak menoleh sedikitpun.


" Dalam hidupku cuma ada Alina, aku mohon pengertian papi dan mommy untuk tidak membuat perjodohan atau aku juga pergi dari kehidupan kalian, "


kecamnya penuh penekanan.


Hardi dan Widyawati hanya bisa menghela napas. Watak Max sangat keras jadi mereka tidak tersinggung. Max tidak salah, ketidakmengertian merekalah yang membuat Max marah. Hanya doa yang bisa mereka berikan, semoga ada keajaiban pada hidup putra mereka.


Hardi bukan diam saja, selama ini dia juga ikut mencari keberadaan calon menantu mereka. Bahkan dia sempat mengintimidasi kakak-kakak Alina. Sama seperti sebelumnya, kedua kakak Alina begitu kukuh dalam diam. Bahkan Audrey mengecam balik Hardi, jika bersikeras mereka akan melaporkan keluarga Max pada kepolisian karena sudah mengganggu ketenangan.


Lagipula kecelakaan dan hilangnya Alina bukan tanpa sebab, masih ada sangkut pautnya dengan kemunculan menantu mereka Bryan, yang merupakan suami Adinda dan juga mantan tunangan Alina.


Hardi dan keluarga besar akhirnya mengetahui pokok permasalahan sebenarnya. Mereka tidak habis pikir semua menjadi saling terkait.


Mereka shock saat mengetahui kalau Bryan adalah tunangan Alina yang memalsukan kematian demi menikahi Adinda. Dan makin terkejut dengan alasan Bryan melakukan itu semua. Adinda hamil karena perbuatannya. Bagaimana semua itu bisa terjadi masih menjadi tanda tanya karena Bryan tidak menjelaskan secara detail. Menurut informasi yang mereka dapat Bryan bukanlah pria liar. Dia sangat mencintai Alina dan alasan pria itu memalsukan kematian agar selalu hidup dalam kenangan Alina.Terdengar sangat egois.


" Mbak Gladys! " seru seseorang, mengembalikan kesadaran Gladys dari kisah masa lalu, dia menoleh pada arah suara. Nampak Lisa, manager hotel berjalan menghampiri.


" Saya mencari mbak Gladys kekamar, gak taunya disini, " ucap Lisa


" Iya mbak, saya mau melihat hasil dekorasi takut ada yang kurang, ada apa mbak Lisa?" balas Gladys ramah.


" Saya cuma menanyakan apa ibu widya sudah menyampaikan kalau cateringan bukan di handle koki hotel karena lagi full booking mbak, saya mengalihkan pada catering teman saya, ibu widya sudah mencoba food testernya kemaren dan beliau suka, tapi mbak Gladys belum mencobanya, apa tidak masalah? " ucap Lisa menjelaskan.

__ADS_1


" Gak papa mbak, selera mommy tidak pernah salah, saya ngikut aja karena memang acara kami dadakan,"


Ulang tahun Moza sebenarnya sudah lewat beberapa hari, tadinya mereka tidak berencana merayakan besar-besaran, hanya acara keluarga tapi kepulangan Max dari Jerman memberi ide pada mommy untuk membuat party agar Max mau bergabung dan bersilaturahmi kembali dengan keluarga besar. Setelah sekian lama menarik diri dari pergaulan keluarga.


Gladys dan Orion pikir, Max tidak akan mau. Siapa sangka Max justru setuju dengan pesta yang diwacanakan mommy. Mungkin karena Max sangat menyayangi Moza seperti anaknya sendiri, hanya pada Moza, Max mau tersenyum.


Singkat cerita, semua dipersiapkan dalam waktu sekejap. Jadi Gladys maklum kalau ada beberapa hal yang tidak bisa dikondisikan


" Saya jamin mbak gak akan menyesal, memang bukan catering besar, tapi masakannya gak kalah sama koki disini, " ujar Lisa berpromosi.


Usai berbincang dengan Lisa dan memeriksa kembali dekorasi yang sudah selesai, Gladys segera menuju kamar, masih ada beberapa jam lagi sebelum acara dimulai, dia harus mempersiapkan Moza dan juga dirinya sendiri.


Saat memasuki lift, dia berpapasan dengan seorang wanita berambut pirang dengan make up bold. Sebelah tangannya menenteng paper bag ukuran besar dan tas tangan, sebelah lagi menggandeng anak perempuan seumuran Moza.


Gladys merasa pernah melihat wanita itu, tapi dimana?


***


Assalamualaikum , Hallo semuanya😊


Maaf beribu maaf, karena cerita ini vakum begitu lama, karena ada satu dan lain hal, cielah


Gak tau masih ada readers nya apa nggak nih, gpp deh yang penting lanjut dulu,, menuntaskan yang belum tuntas😁


yang udah lupa ceritanya boleh diulang lagi dari awal😇😇


makasih atas atensinya


Dik@

__ADS_1


__ADS_2