Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
6. Insiden Mati Lampu


__ADS_3

Alina menatap nanar keluar jendela, titik-titik air yang menempel di kaca menghantarnya pada kenangan lama. Seperti flashback, satu persatu episode dia dan Bryan kembali berputar dibenaknya membuat dia tak sanggup lagi menahan bulir bening yang sedari tadi mengambang di pelupuk mata.


Setiap kali hujan datang, Alina tidak bisa menahan diri, terlalu banyak kenangan indah yang mereka ukir bersama dan takkan mungkin terlupakan. Tanpa sadar Alina semakin terisak, napasnya tersengal menumpahkan rasa sesak yang menghimpit. Kalau dulu dada Bryan selalu menjadi tempat ternyamannya untuk melepas kegundahan, sekarang semua terasa sepi.


Dan itu tidak luput dari perhatian Max, dari dalam ruangannya Max melihat jelas kesedihan yang dirasakan oleh gadis itu. Kalau saja dia tau Alina akan begitu melankolis melihat hujan, dia tidak akan memintanya lembur dalam cuaca seperti ini. Tak ada yang tahu Max begitu lemah ketika seorang perempuan menangis didekatnya.


Max berusaha mengabaikan, dan tetap fokus pada kertas lebar dihadapannya tapi semakin dia berusaha untuk tidak peduli semakin besar pula keinginannya untuk memandang pada Alina. Akhirnya dia menyerah dan beranjak dari duduk lalu melangkah keluar, mendekat pada jendela yang ada disamping meja gadis itu. Dengan gerakan kasar dia menarik tuas tirai penutup.


Sontak Alina kaget, dia mengalihkan tatapannya pada sosok yang berdiri dihadapannya saat ini. Sosok yang memandang tanpa ekspresi.


" Maaf," ucap Alina sambil mengusap air matanya yang bercucuran.


" Kalau kamu tidak bisa fokus, sebaiknya kamu pulang, bukannya menangis disini," ucap Max dingin.


Alina tidak menjawab dia kembali melanjutkan pekerjaannya, tapi apa yang dikatakan Max benar, konsentrasinya sudah terlanjur pecah.


"Saya minta maaf, jika bapak mengizinkan bolehkah saya melanjutkannya besok?" pinta Alina dengan nada cemas. Takut kalau Max akan marah.


Max menghela napas.


" Seharusnya dari tadi kamu menanyakan hal itu, saya meminta lembur bukan karna project ini dateline, saya hanya tidak suka menunda nunda waktu,"


Alina menundukkan kepala, kalau saja dia tahu hujan akan turun mungkin dia akan menolak lembur, nyatanya sedari pagi langit Jakarta sangat cerah.


" Ya sudah kalau kamu tidak bisa menyelesaikan sekarang, tapi ingat besok designnya harus sudah saya terima," lanjut pria itu memberi izin.


Alina mengangguk " Makasih pak,"


Max berlalu kembali keruangannya.


Sementara Alina bergegas membereskan meja, sebenarnya rancangan ini sudah hampir selesai hanya perlu finishing tapi apa daya perasaannya tiba tiba memburuk.


Setelah memastikan semuanya tertata rapi, Alina menyandang tas dan berjalan kearah ruang Max.


" Saya pamit duluan pak," ucapnya sopan, Max hanya menganggukkan kepala.


Alina cukup tau diri untuk tidak berbasa-basi lebih jauh, si gunung es tidak akan menyukainya. Daripada pria itu jadi marah lebih baik dia cari aman. Alina keluar menuju lift tapi belum sempat dia menyentuh tombol panah, mendadak semua menjadi gelap.


Alina terpaku, kenapa pake acara mati lampu segala sih, batinnya gelisah. Berkemungkinan ada gangguan tapi kalau situasinya seperti sekarang malah bikin merinding. Alina tidak berani melangkah lebih jauh. Dia memilih berdiri ditempat, biasanya kejadian mati lampu diperusahaan besar tersebut hanya beberapa saat. Tapi detik berganti, menitpun berlalu tidak ada tanda-tanda akan menyala.


Alina menepuk keningnya ketika teringat sesuatu, dia merogoh saku celana untuk meraih benda pipih didalam sana.


" Arrrgh!" pekik Alina histeris begitu menyadari seseorang berdiri didekatnya. Dia terhuyung kebelakang hingga benda ditangannya ikut terlepas.


" Tenanglah ini saya," ucap Max bersuara. Alina mengelus dada lega.


" Bikin kaget aja, kenapa gak kasih kode kalau bapak akan kesini, kalau saya jantungan gimana?" sungut Alina sambil memungut hapenya dilantai. Untung senternya sempat dia nyalakan jadi dia tidak kesulitan menemukan.


" Saya pikir kamu butuh bantuan makanya saya kesini,"


" Udah beberapa menit,baru kepikiran sama saya, dari tadi kemana aja pak," omel Alina lagi.


"Tadi saya menelpon Security dulu mereka bilang ada masalah dari ruang gardu, jadi akan memakan waktu untuk memperbaikinya,"

__ADS_1


" Terus gimana sekarang," tanya Alina lagi.


" Sebaiknya kamu lewat tangga darurat aja," saran Max lagi.


" Sama bapak?"


Max menggeleng.


" Saya masih menunggu listriknya menyala, kerjaan saya belum selesai," ucap Max santai.


What? sebenarnya Max ini terbuat dari apa sih dengan tega dia menyuruh Alina turun lewat tangga darurat sendirian.


" Kalau begitu saya ikut bapak aja, " putus Alina kemudian.


" Kamu yakin?"


Alina mengangguk " Dari pada saya mati berdiri menuruni sepuluh lantai seorang diri, mending saya nunggu didalam saja,"


" Penakut juga ternyata,"


" Terserah," ucap Alina sewot.


Gimana gak sewot, baru kali ini Alina menemui spesies seperti Max, apa dia gak mikir ya seberani apa pun perempuan tapi kalau situasinya seperti sekarang keder juga lah, lain ceritanya kalau dia wonder woman.


Dengan gontai Alina mengikuti langkah Max, diapun memilih duduk disalah satu sofa yang ada di ruangan pria itu.


Hingga setengah jam berlalu, tetap tak ada kemajuan. udara diruangan ini mulai panas, Alina mengipas-ipaskan sebuah majalah kewajahnya, sementara Max terlihat melonggarkan dasi.


" Sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Max bersiap pergi.


Beruntung dia juga memegang senter kalau tidak Alina pasti udah tersungkur karena berusaha mengejar langkah Max. Tapi sayang keberuntungannya hanya beberapa saat baru saja menuruni satu lantai ponsel Alina sudah mati alhasil dia hanya mengandalkan penerangan pria itu. Melihat Alina yang kewalahan mengejar ditambah dengan heels yang nampak merepotkan, Max merasa iba, dia meraih jemari gadis itu agar tidak ketinggalan.


Alina tercekat begitu Max tiba tiba menggenggamnya, ada desiran halus dihatinya ketika merasakan kehangatan tangan pria itu. Dia tidak bisa menolak karena Max terus menuntunnya, Alina pun memilih membiarkan.


Max pasti merasa kasihan, jadi dia gak perlu geer karna ini. Kesunyian menyapa keduanya hanya terdengar derap sepatu mereka yang menggema.


" Aww!" Alina meringis kesakitan, Spontan max berhenti.


" Kamu kenapa?" tanya Max,


" Sepertinya kaki saya lecet," ucap Alina sambil duduk.


Max ikut bersimpuh dan membantu Alina membuka sepatunya, dia mengarahkan senternya ke kaki gadis itu, ada bercak darah disana.


" Perempuan itu aneh, sudah tau benda ini akan menyakiti, tetap aja ngotot makai,"


" Ya sudah kalau bapak gak suka tinggalin aja saya disini, gak usah nyalahin heels segala," dengkus Alina tersinggung.


" Okay kalau kamu maunya begitu," balas Max tak mau kalah, berancang-ancang mau pergi. Alina gelagapan dia tidak serius dengan perkataannya, buru-buru dia menahan tangan Max


" Saya bercanda pak, masak bapak tega ninggalin saya," ucap Alina memelas


Max menyeringai sinis " Gak tepat kalau kamu bercanda sekarang,"

__ADS_1


" Maaf,"


" Kamu kebanyakan minta maaf,"


Alina bingung menanggapinya, dia makin bingung ketika Max berjongkok membelakangi.


"Naiklah!" titah pria itu kemudian.


" Bapak yakin mau menggendong saya, gak usah repot-repot pak, biar saya paksain buat jalan," elak Alina sungkan, kasihan juga si gunung es, masih lima lantai lagi kebawah, gak mungkin dia kuat. Meskipun Alina berpostur mungil tetap saja dia seorang gadis dewasa yang beratnya melebihi sekarung beras.


" Naik atau saya tinggal," ancamnya dan Alina tidak punya pilihan lain, perlahan dia mendekat dan mengalungkan tangannya dileher pria itu , celana panjang yang dipakainya cukup memudahkan, coba kalau pakai rok span, pasti dia akan kesulitan.


Perlahan tapi pasti satu persatu anak tangga mereka lewati, sesekali Max memperbaiki posisi Alina yang melorot karna gravitasi.


" Saya turun aja pak, kasian bapak udah cape," ucap Alina merasa bersalah tapi Max tidak menggubris, akhirnya Alina mengalah, dia semakin mengetatkan pegangannya, pipi kirinya menempel sempurna dipipi pria itu.


Sedekat ini dengan Max, membuat gadis itu bisa leluasa merasakan aroma tubuh Max yang wangi meskipun sudah berkeringat, aroma soft yang menenangkan dan sialnya Alina suka.


Untuk beberapa saat dia memejamkan mata, entah kenapa dia merasa punggung Max hangat dan nyaman.


Dia tersentak begitu Max menurunkannya,


Alina salah tingkah karena tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di lobi.


Seorang Security tergopoh-gopoh menghampiri.


" Maaf pak, kerusakan digardu masih diperbaiki, " ucapnya menjelaskan tanpa diminta.


" Tidak apa-apa, kamu bisa membawa mobil saya kesini?" tanya Max, dia cukup kelelahan jika harus berjalan lagi ke basement, meskipun cuaca dingin tapi keringat menetes dikeningnya membuat Alina semakin tidak enak hati.


" Bisa pak," ucap Security itu lagi, dia bergegas mengambil kunci yang disodorkan Max. tak lama mobil itu sudah sampai didepan.


Setelah Max mengucapkan terima kasih, Security itupun berlalu.


" Mmh, boleh saya pinjam hape bapak sebentar," ucap Alina


Max mengerutkan kening.


" Saya mau order taxi online," ujar Alina lagi


" Kamu gak bawa mobil? " Max mengedarkan pandangannya ke parkiran depan, tempat dimana Alina sering parkir.


" Mobil saya sedang dibengkel pak,"


Max terdiam untuk beberapa saat, sepertinya dia memikirkan sesuatu.


" Biar saya antar kamu pulang," ucapnya lagi. Belum sempat Alina protes, Max sudah berjalan keluar. Mau tak mau Alina kembali mengalah, Dia juga terlalu lelah dan ingin segera sampai dirumah.


***


Happy reading ya,, jangan lupa vote dan kalian suka guys


With Love

__ADS_1


Dik@


__ADS_2