Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
69. Can't Be Waiting


__ADS_3

"SAH!! " ucap penghulu.


" SAH!! " sambung orang-orang yang ada dalam ruangan itu.


Dan penantian panjang seorang Maxime Arlingga Yogatama untuk menjadi suami Alina Maharani usai sudah. Dibawah kalimat sakral dia mengikat sang kekasih untuk menjadi bagian dalam hidupnya hingga maut memisahkan.


" Ijab Kabul nya dipercepat aja ya Al, gimana kalau besok? " ucap Max setelah mendengar jawaban dari Alina kebenaran tentang pernikahan yang gadis itu ungkapkan di jumpa pers.


Alina sontak tertawa,


" Emang dikira tahu bulat apa, bisa digoreng dadakan."


" Aku serius! " ucap Max menegaskan.


Melihat ekspresi Max yang tidak main-main membuat Alina bingung dengan permintaan kekasihnya itu.


" Sayang satu bulan itu gak bakalan berasa kok, apalagi nanti disibukkan dengan segala macam persiapan, " kilah Alina keberatan


Max mendekati Alina, menggenggam kedua tangannya.


" I can't be waiting, aku gak tau apa yang akan terjadi dalam sebulan ke depan, tapi satu yang pasti aku tidak akan sanggup berpisah denganmu lagi, "


Alina memandang kedalam manik mata Max, dia selalu mengatakan tak ingin kehilangan Alina, ada banyak pertanyaan dalam benak gadis itu sekarang. Tentang kecelakaan yang dialami Max ditambah dengan kekacauan diakhir jumpa pers tadi.


Suasana sedikit mencekam. Om Hardi yang biasanya tenang mendadak gelisah begitu juga dengan mommy. Alina dan Gladys diminta menunggu diruang kerja Max. Sementara mereka berbicara serius diruang meeting.


Entah apa yang sebenarnya terjadi, jumpa pers yang diharapkan membersihkan permasalahan dia dan Max justru menambah masalah baru.


Meskipun pria yang membuat kericuhan itu sudah diamankan dan diketahui bukanlah wartawan melainkan penyusup. Tetap saja apa yang dikatakannya menimbulkan beragam reaksi. Untunglah Adrian dan orang-orang nya berhasil menangani.


" Please, tidak ada bedanya besok atau bulan depan sayang, aku hanya ingin kamu selalu ada bersamaku, " Max meyakinkan Alina. Gadis itu tidak tega, hingga mengangguk setuju.


Sudah bisa ditebak bagaimana reaksi kakak-kakaknya, sama seperti Alina mereka juga penasaran dengan pernyataan pria di jumpa pers namun sungkan untuk bertanya lebih jauh karna itu adalah masalah pribadi Max dan juga keluarganya. Aditya dan Audrey setuju saja jika memang Alina sudah merasa mantap


Max melakukan semua persiapan sendirian, Alina hanya diminta mempersiapkan diri saja. Alina pikir mereka akan melakukan ijab qabul di sebuah gedung. tapi begitu mereka dijemput oleh mobil pengantin, kakak beradik itu menangis terharu. Ternyata pernikahan dilangsungkan di rumah peninggalan orangtua mereka yang telah digadaikan pada pak haji.


Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Max dalam semalam dia berhasil menyulap rumah dengan cat putih itu menjadi sangat indah dan mewah. Dekorasinya sama persis dengan yang ada dalam video yang dibuat Alina kemarin begitu juga dengan kebaya yang dia pakai saat ini. Sangat pas ditubuh ramping Alina. Dilengkapi siger dan rangkaian bunga melati, kecantikan gadis itu berlipat ganda. Mengundang decak kagum setiap mata yang memandang.


"Terima kasih sayang sudah mewujudkan mimpiku, aku sangat mencintaimu," bisik Max ketika mengecup kening Alina.


" Terima kasih juga suamiku, kamu membuat semuanya dengan indah, " balas Alina. Panggilan baru Alina untuknya membuat hati Max menghangat.

__ADS_1


Acara pun dilanjutkan dengan sungkeman kepada orangtua, keharuan semakin menyeruak.


" Mommy titip Max ya Al, semoga kalian langgeng selamanya. " ucap wanita itu memeluk Alina dengan derai airmata. Pesan yang sama dia dapatkan dari papi.


Sementara, Max juga mendapatkan amanah dari Aditya dan juga Audrey yang tak bisa membendung airmatanya.


" Tanggung jawab Alina sekarang kuserahkan padamu Max, jangan pernah menyakitinya, " pinta Aditya.


Max memeluk erat Aditya. Kini hubungan mereka resmi kakak dan adik ipar.


Diantara kemeriahan acara, ada dua orang yang menatap nelangsa pada pengantin baru yang berbahagia. Siapa lagi kalau bukan Bryan dan juga Tiara.


Bryan duduk menjauh dari semua orang, matanya mengitari rumah yang dulu pernah menjadi saksi hubungannya dengan Alina, dadanya terasa sesak saat melihat kebahagiaan dua insan yang baru saja disatukan dalam ikatan sakral tersebut. Adinda menatap sendu pada sang suami yang termenung dengan raut sedih.


Sementara Tiara hanya bisa menarik napas, baru saja memikirkan rencana yang akan dibuat untuk memisahkan Alina dan Max. Dia dikejutkan oleh undangan yang dikirim Widyawati lewat pesan singkat.


Bukankah pernikahan Alina baru akan di lakukan sebulan lagi, kenapa malah jadi hari ini. Akan sulit baginya untuk masuk ke keluarga itu jika Alina sudah berstatus istri. Dia paham bagaimana karakter Max. Dia tidak akan membiarkan istrinya merasa tidak nyaman. Tiara berpikir keras apa yang akan dia lakukan ke depan dan begitu melihat Bryan yang tengah bersedih, sontak dia mengulas senyum smirk.


***


" Selamat bertemu Mr. Pip, " ucap Gladys mengedipkan mata sebelum pamit pulang.


" Siapa sih Mr. Pip, suaminya kan Maxime! " protes Tasya nimbrung. Alina menganggukkan kepala karna tidak mengerti maksud Gladys.


Tasya memanyunkan bibir kesal karna jadi penasaran, dia juga ikutan pamit. Meninggalkan Alina dalam kebingungan. wanita itu pun mengedikkan bahu.


Sekarang hanya tinggal dia dan Max serta mbak Asti yang di minta stay untuk membantu. Kakak-kakaknya pulang lagi ke kontrakan. Rencananya Audrey baru akan pindah ke rumah ini setelah Alina diboyong oleh Max.


Mengingat soal rumah, ternyata Max sudah menebusnya dari pak Haji sehari setelah ibu meninggal. Sebuah kado terindah yang Alina dapat di hari penting ini.


Melihat Max berbincang serius dengan Adrian, Alina memutuskan untuk kekamar lebih dahulu, dia sudah gerah dengan semua hiasan yang melekat. Tak lama Alina sudah keluar kamar mandi dalam keadaan fresh. Masih belum ada tanda-tanda Max kembali. Alina pun melanjutkan aktifitasnya mengeringkan rambut, tak lupa mengusap lotion pada tubuhnya dan juga menyemprotkan parfum favorit dibeberapa titik nadi.


Alina tersenyum dengan tingkahnya sendiri, memang apa yang akan dia lakukan sehingga harus berdandan sedemikian rupa.


Sebuah dress selutut bermotif abstract menjadi pilihannya malam itu. Karena Max tak kunjung kembali dia keluar kamar dan mencari mbak Asti dibelakang. Wanita paruh baya itu sedang berbenah beberapa perkakas.


" Ada yang bisa aku bantu mbak, "


" Eh non, udah seger aja, gak usah non udah hampir beres, non nunggu dikamar aja gih, kasihan suaminya dianggurin," goda mbak Asti tersenyum simpul.


" Max masih ada urusan sama Adrian di luar, "

__ADS_1


" Ooh palingan bentar lagi kelar, tu mobil pak Adrian udah pergi, sana balik lagi" ucap mbak Asti asal. Emang tau dari mana Adrian barusan pergi. Orang dari dapur gak bisa liat apa-apa, Alina tak urung kembali ke kamar dan mendapati suaminya sudah ada disana.


" Lama banget sayang, ngomongin apa aja sih sama Adrian, " tanya Alina penasaran.


" Maaf ya sayang, tadi lagi ngobrolin masalah dikantor, kamu udah wangi banget, jadi gak sabar, " Max memgerlingkan mata sambil menarik Alina untuk mendekat, merangkul pinggang ramping istrinya dengan kedua tangan.


" Aku bahagia banget sayang karena semua berjalan lancar, "


Alina tersenyum menanggapi perkataan pria itu, tangannya membantu Max membuka beskap dan pernak pernik yang masih menempel ditubuh pria itu, menyisakan oblong dan juga boxer berwarna hitam,


" Udah gak sabar ya sayang, ayuk! " ajak Max , Alina tidak membantah, dia membiarkan Max naik ketempat tidur lebih dulu. Sementara dia mengambil sesuatu dari dalam lemari.


" Mandi atau tidak sama sekali! " Alina mengulurkan handuk bersih.


Dan senyum sumringah Max pudar seketika, mau protes tapi gak berani, takut Mr. Pip-nya tidak merasakan nikmat-nya malam pengantin.


Alina menggelengkan kepala melihat tingkah sang suami yang tidak sabaran. Alina sendiri tidak bisa memungkiri kalau jantungnya berdegup kencang. Dalam beberapa menit lagi dia akan melepas apa yang selama ini dia jaga. Kata orang rasanya sakit tapi enak. Masa sih. Tak ingin menduga lebih jauh dia pun memainkan hape. Lupa belum menyiapkan pakaian ganti dia pun mengambil baju suaminya dari koper.


cklek.


Alina menoleh begitu pintu kamar mandi dibuka,Max keluar dengan handuk yang melilit dipinggang menampilkan tubuh atletis dengan roti sobek yang menggoda.


Alina meneguk saliva, pantas saja suaminya ini menjadi incaran banyak wanita.


" Aku tau aku tampan dan sexy, "


Alina berdecak mendengarnya. Max tertawa. Bersama Alina, pria itu bebas menunjukkan ekspresi. Tidak seperti saat dikantor yang selalu dingin pada siapa pun.


" Pake baju nya sayang, nanti kamu masuk angin, oh iya masih ada tamu lagi ya yang mau datang? "


Max mengerutkan kening mendekati Alina yang kini duduk ditepian tempat tidur. Seingatnya semua undangan sudah hadir. Lagi pula sudah malam, ada ritual yang lebih penting selain basa-basi. Max menarik Alina untuk duduk dipangkuan nya.


" Siapa yang bilang? "


" Kata Gladys, Mr. Pip, siapa sih? " tanyanya polos. Kedua tangannya melingkar di leher sang suami.


Max tersenyum nakal membuat Alina meremang seketika. Alina bergerak gelisah, terlebih tangan dan Max sudah menjelajah, mengusap kulit tubuhnya dari balik dress yang masih terpasang. Alina juga merasakan sesuatu dibawah sana mengganjal duduknya.


Jangan-jangan Mr. Pip itu!


***

__ADS_1


Jangan lupa Vote dan Komen ya🥰


__ADS_2