
Alina terbangun saat mendengar ponselnya berdering, dengan malas dia meraih benda pipih itu dari nakas disebelah. Tanpa melihat siapa yang menghubungi, Alina lansung menjawab.
" Hallo, siapa ini? "ucapnya dengan suara serak. Terdengar kekehan dari seberang sana. Suaranya seperti tidak asing.
" Masih bobok sayang? "
Loh bukankah itu suara suaminya. Alina seketika menoleh ke samping tempat tidur. Kosong.
" Sayang kamu dimana? " Tanya Alina heran. Rasa kantuk nya mendadak hilang.
" Aku baru aja nyampe kantor sayang, bentar lagi mau meeting, " jawab Max.
Sontak Alina merengut kesal.
" Kok gak bangunin aku sih!"
" Maaf sayang, kamu pules banget aku gak tega, lagian kamu pasti capek karena ulahku semalam. " Seminggu menjadi pengantin baru, Max membuktikan bahwa dia adalah pria sejati. Alina benar-benar membuatnya candu. Kalau saja tidak memikirkan sang istri yang kelelahan, Max akan terus mengungkung Alina dalam dekapannya.
"Kamu curang ah, gimanapun capeknya aku, sudah kewajiban aku buat melayani kamu, nyiapin sarapan, baju ganti, kalau kayak gini kan aku seperti istri yang pemalas." cerocos Alina panjang lebar. Moodnya tiba-tiba memburuk.
" Sayang, aku minta maaf ya, tadi alarm kamu udah bunyi tapi kamu nya lanjut tidur, "ucap Max memelas. Untung dia sendirian diruang kerja, kalau gak pasti dia akan jadi bahan ledekan. Suami-suami takut istri.
" Kan kamu bisa gantian jadi alarmnya, disiram kek, diem*ut kek, atau apalah yang penting aku harus bangun sebelum kamu ngantor, ngerti gak sih yang! " sambung Alina sewot.
" Ntar kalau diem*ut, yang bangun bukan kamu sayang, tapi Mr. Pip,"
" Udah ah, males ngomong sama kamu," Alina lansung menutup sambungan.
Max hanya termangu dengan sikap Alina, padahal semalam mood istrinya itu sangat baik. Kenapa pagi ini jadi judes seperti habis makan cabe sekilo. Untung cinta.
Alina yang uring-uringan, beranjak dari tidur., merapikan ranjang dan mengganti seprai dengan yang baru. Saat menyibak gorden kamar, dia meringis memegang perut bagian bawah. Kram seperti hendak menstruasi.
Bergegas dia memeriksa, pantas saja dia marah-marah gak jelas, rupanya sedang kedatangan tamu bulanan. Selesai mandi dan berganti pakaian Alina keluar kamar.
" Loh udah rapi aja non, mau kemana? " tanya Bik Retno menyapa.
Sudah hampir seminggu Alina diboyong Max ke apartemen. Audrey dan anak-anak pindah ke rumah ibu. Dikarenakan Sherly baru melahirkan, untuk sementara dia tinggal bersama Audrey. Sementara bayi mereka masih stay di rumah sakit karena prematur, jadi harus tetap di inkubator sampai kondisinya membaik. Aditya sedang pulang ke Bali untuk menjemput Dio, putra sulungnya dan mengurus beberapa hal.
Untuk permasalah Sherly, belum ada kelanjutan dikarenakan kondisi fisiknya masih lemah. Alina tidak mau Sherly tertekan sehingga berpengaruh pada pasokan ASI, bayi perempuan mereka yang diberi nama shanaz membutuhkan banyak ASI untuk perkembangannya. Alina meminta Aditya untuk bersabar, selain itu Alina juga meminta bantuan Max untuk menyelidiki apa hubungan Sherly dengan pria bernama Zaky.
" Iya bik rencananya mau ke rumah sakit, terapi lanjutan setelah itu mau ke mansion, mommy ngajakin ke salon bareng, bibik gak usah masak ya." ucap Alina ramah.
__ADS_1
" Oh gitu non, kebetulan sekali bibik tadinya mau izin pulang cepat, mau nganterin cucu ke posyandu, ibuknya gak sempat karena kerja, "
" Ya udah kalau kerjaan bibik udah kelar langsung pulang aja, atau sekalian bareng aku bik, biar aku anterin, "
Bik Retno menggeleng cepat,
" Gak usah non, beda arah kita, saya juga mau mampir dulu belanja di warung buat masak di rumah" tolak bik Retno.
Alina pun maklum, dia beranjak ke dapur untuk membuat sarapan rupanya dimeja sudah terhidang sepotong sandwich isian ayam dan segelas jus jeruk dengan tulisan eat me.
"Pas saya nyampe tuan Max sudah nyiapin ini semua buat non, saya dititipin pesan agar makanannya dihabisin non, saya juga dibuatin satu tadi, enak banget, udah kayak masterchef aja tuan Max, "
Alina tersenyum melihat tingkah bik Retno yang mengacungkan jempolnya dengan kocak. Alina segera menyantap makanan didepan, terselip rasa bersalah karena tadi sudah memarahi Max tanpa alasan. Padahal suaminya itu bermaksud baik. Alina terpikir akan menyusul Max kekantor dan meminta maaf atas sikapnya.
" Bagus, hasilnya seperti yang kita harapkan, untuk terapi berikutnya cukup sekali sebulan dan jika ada keluhan segera diperiksa kan ya mbak, " ujar dokter setelah mengamati laporan medisnya.
Setelah keluar dari ruangan dokter, Alina berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil membalas chat yang dikirim Gladys. Siang ini mereka bertiga dengan Mommy akan menghadiri pembukaan salon baru milik seorang teman mommy, sekaligus melakukan perawatan.
Sudah lama sekali rasanya Alina tidak melakukan rutinitas yang dulu dia jalani hampir setiap minggu, masa-masa sulit membuat dia harus berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang di luar kebutuhan pokok. Meskipun tidak ke salon bukan berarti Alina tidak merawat diri. Dia rutin melakukan treatment dirumah bersama sang kakak, baik itu luluran, masker, pedicure menicure dan banyak lagi.
Bruk
" Ough, d*amn! "
" Are you okay? " tanya Alina melihat pria tersebut menunduk sambil memegang bahunya. Seperti kesakitan.
Pria itu menggeleng dengan posisi yang sama.
" Not good, tapi gak usah kha... " Pria itu menegakkan punggung dan tidak melanjutkan kalimat begitu mengetahui wajah wanita yang ada di hadapannya.
Mata keduanya saling bertautan dengan raut tak percaya.
" Kak Evan? "
***
Alina melajukan sedan audi nya dengan kecepatan sedang menuju mansion, disana mommy dan Gladys sudah menunggu.
" Kelihatannya kaki kamu udah sehat nak, udah berani nyetir sendiri," ucap Widyawati yang duduk dibelakang bersama si kecil Moza, sementara Gladys duduk di samping kemudi.
"Iya mi, udah boleh lari-larian malah, terapinya juga kelar, cukup sebulan sekali untuk kontrol. Tadinya Max melarang my, tapi aku bersikeras, udah lama gak pegang kemudi, jadi kangen. " kekeh Alina.
__ADS_1
" Wah enak banget ya bisa nyetir, aku pengen belajar gak dibolehin sama Mas Rion, katanya aku duduk manis aja, gak usah sok-sokan nyetir, " timpal Gladys manyun.
" Berarti Mas Rion tau kamu belum siap, "
" Iya sih, aku nya suka kagetan Al, naik motor aja masih belum lancar, diklakson dikit langsung panik, " Gladys menertawai dirinya sendiri.
" Gak papa Dys, berarti mommy ada temennya, mommy aja sampe sekarang gak tau caranya bawa kendaraan, boro-boro nyetir mobil atau motor, naik sepeda aja suka nyungsep" ucap Widyawati.
" Serius mom? " tanya Alina tak percaya, secara Widyawati tumbuh dalam keluarga yang kaya raya, dimana fasilitas apapun pasti ada.
" Serius Al, mommy itu penakut banget, sebelas dua belas sama Gladys, kagetan. Pernah dulu ikut les belajar mengemudi, bukannya lulus ujian, papanya mommy harus memperbaiki mobil orang setiap kali latihan. Kalau gak nabrak pohon, ya masuk got. " Kenang Widyawati mengingat masa kecilnya.
Mereka tertawa mendengar cerita mommy, obrolan ringan diantara mertua dan menantu itu sangat menyenangkan. Tanpa terasa mereka sudah sampai di tujuan. Setelah memarkir mobil, Alina dan Gladys mengikuti langkah sang mertua masuk menemui tuan rumah.
" Hei Jeng Widya, selamat datang beb, makasih sudah bersedia hadir." ucap seorang wanita dengan tampilan meriah, baju bling-bling lengkap dan aksesori serta make up yang heboh.
" Sama-sama beb, selamat untuk bisnis barunya semoga lancar, ini buat kamu. " Widyawati menyerahkan buket mawar merah yang sempat mereka pesan sebelum kesini.
Wanita yang bernama Jena itu tersenyum sumringah, mereka berdua cipika cipiki.
" Wah menantumu cantik-cantik beb, yang ini pasti istrinya Max, selera Max memang tiada duanya, cantik alami, gak pake poles-poles aja udah seperti bidadari apalagi kalau sering perawatan disini, yakin deh Max gak bakalan menyeleweng. " puji Jena sekalian promo.
" Tante bisa aja, " ucap Alina sungkan
" Serius loh sayang, kamu itu serasi banget dengan Maxime, tubuh kamu ramping, rambut hitam berkilau, kulit kamu bersih, dan wajah kamu itu loh gak ngebosenin, candu aja, "
Mendengar pujian selangit tante Jena membuat Alina jengah, untung saja tante Jena harus menemui tamunya yang lain, kalau gak perbincangan soal kecantikan Alina gak kelar-kelar.
Mereka bertiga pun memilih perawatan yang ditawarkan dengan cuma-cuma khusus pada hari tersebut.
Sebuah notif masuk di ponsel Alina.
" Hallo Alina, senang bertemu kembali, kapan kita ngopi bareng? "
Alina tersenyum.
" Nice to meet u too, soon aku akan segera mengabari kakak, "
Di tempat berbeda, Evan yang mendapat balasan dari Alina tersenyum penuh arti.
" Maxime Arlingga Yogatama, perang akan segera dimulai! "
__ADS_1
***
Jangan lupa vote dan komen ya, thanks/author