Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
61. Duka Mendalam


__ADS_3

" Seharusnya kita tidak memberitahu ibu soal masalah ini mas, hiks" isak Sherly, istri Aditya membenamkan wajahnya di bahu sang suami. Saat ini mereka sedang berada dalam pesawat menuju Jakarta. Mereka mengambil flight pertama. Beruntung kondisi kandungan Sherly sehat dan memungkinkan untuk melakukan penerbangan. Mereka terpaksa menitipkan putra pertama mereka dengan sang nenek, ibu Sherly yang kebetulan sedang berkunjung ke Bali.


" Nasi sudah menjadi bubur dek, kita berdoa semoga ibu segera sadar dan sehat seperti sedia kala," timpal Aditya menempelkan pipinya di kepala sang istri.


" Trus gimana urusan dengan Pak Brandon mas, bukankah lusa kita harus segera mengembalikan uang tersebut? " tanya Sherly lagi.


Aditya menghela napas. Itulah yang menjadi bebannya saat ini. Bagaimana dia bisa menganti uang yang dibawa kabur oleh vendor mereka, jumlahnya cukup besar, Delapan ratus juta. Pak Brandon selaku client sudah memberinya waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini, dia membutuhkan uang tersebut untuk kelanjutan event yang akan dia laksanakan. Dalam rentang singkat, sulit bagi Aditya untuk mendapatkan dana sebesar itu, dia sudah menawarkan rumah dan juga mobil untuk dijual. Sejauh ini belum ada yang berminat. Uang tabungan juga tidak banyak, tergerus ketika pandemi dulu. Dia tidak mungkin menghabiskan seluruh aset yang tersisa terlebih Sherly akan melahirkan. Belum lagi harus membayar cicilan pinjaman modal di bank.


" Jangan kamu pikirkan dek, biar saja mas yang cari jalan keluar, nanti mas akan menghubungi teman-teman yang di Jakarta, semoga saja ada yang bisa bantu, "


Sherly mengangguk seraya berdoa dalam hati semoga suaminya diberikan kemudahan dalam masalah yang mereka hadapi.


***


Pagi-pagi sekali Audrey sudah sampai di rumah sakit dengan membawa beberapa barang yang dibutuhkan Alina dan juga bekal. Karena tidak memungkinkan untuk antar jemput sekolah, dia meliburkan anak-anaknya sementara waktu, beruntung mereka mengerti dan mau ditinggal bersama Mbak Asti.


Sambil menunggu Alina mandi, Audrey menyiapkan makanan yang dia bawa diatas meja yang ada dalam ruangan tersebut.


Adrian mengambilkan satu kamar khusus untuk keluarga pasien, meskipun begitu Alina baru masuk ke kamar itu pagi ini karena dia tidak mau meninggalkan Ibu. Dia terus duduk didepan ruang ICU.


Tidak heran meskipun sudah mandi, Alina masih nampak kuyu karena tidak tidur semalam suntuk.


" Habis makan kamu istirahat dulu dek, gantian kakak yang jaga, " ucap Audrey kasihan.


Alina tidak membantah, namun dia menolak sarapan karena masih tidak selera, dia hanya meminum segelas susu yang sudah disiapkan kemudian berbaring diatas tempat tidur yang ada di sana. Efek kelelahan membuat gadis itu langsung terlelap.


Melihat adiknya sudah nyenyak, Audrey membereskan kembali makanan yang belum tersentuh lalu menaruh diatas nakas kemudian beranjak keluar.


Alina tersentak saat alarm di ponselnya berbunyi, dia memang menyetel perangkat itu sebelum tidur tadi. Dia tidak ingin berlama-lama istirahat karena harus menemui dokter untuk menanyakan keadaan ibu. Sekalian minta izin untuk bisa menjenguk kedalam.


Ternyata dokter baru datang jam sepuluh pagi, sementara sekarang masih jam sembilan.


" Mbak, di panggil untuk menghadap ke kasir, " ucap seorang perawat menghampiri mereka.


Alina dan Audrey melangkah bersama. Keduanya dalam mode cemas. Mereka belum memiliki solusi jika rumah sakit menagih pembayaran berikutnya.


" Kami akan mengembalikan deposit yang sudah mbak lakukan kemarin, tolong ditanda tangani disini, " ucap kasir yang bertugas.


Alina dan Audrey mengerutkan kening tidak mengerti.


" Semua pembiayaan untuk perawatan ibu Ranti dialihkan pada Mulia Jaya Corps, jadi mbak tidak perlu menaruh deposit atau membayarkan biaya-biaya yang timbul untuk setiap tindakan pada pasien," jelas petugas tersebut mengakhiri.


Alina tau pasti Max dibelakang semua ini. Akh Max kenapa kamu begitu baik, sementara aku terus mengecewakanmu, batin Alina sedih.

__ADS_1


 " Kamu beruntung Al, begitu dicintai oleh pria yang sangat baik, tidak seharusnya kamu menggantung lamarannya, dia menerima kamu apa adanya Al, kakak bisa melihat ketulusan itu dimatanya, "


Alina terdiam. Dia tau kalau dia salah karena meragukan Max. Pria itu sangat tulus, meskipun raganya jauh, dia selalu ada buat Alina. Satu hal yang akan dia lakukan ketika mereka bertemu nanti adalah meminta maaf.


Tidak lama kemudian Widyawati datang bersama Orion dan juga Gladys, mereka diberi tahu oleh Adrian.


" Kenapa tidak mengabari mommy nak? " ucap Widyawati memeluk Alina penuh kasih sayang. Dia khawatir dengan keadaan calon menantunya yang tampak pucat.


" Maafin aku tan, kami semua panik, jadi tidak terpikirkan apapun saat itu, " ucap Alina sendu


" Kamu yang sabar ya, ibu kamu pasti sembuh, Max dan papi masih di Swiss, mommy sempat tersambung ke nomer papi, rencananya nanti sore mereka akan pulang, " jelas Widyawati setelah mengurai pelukan.


Alina mengangguk, dalam hati tidak sabar ingin bertemu, sejujurnya dia merasa sesak dengan segala keadaan ini, sedih, takut, kalut menjadi satu. Dia tidak ingin menampakkan itu semua dihadapan orang. Karena tidak ingin membuat mereka cemas terlebih pada Audrey dan juga Aditya.


" Ibu pasti kuat, Al" ucap Gladys menguatkan, Alina kembali mengangguk, sulitnya untuk berkata-kata banyak saat ini.


Tak lama, Aditya dan Sherly sudah berada di rumah sakit, tak ingin merepotkan saudaranya, Aditya tidak memberitahu kan jam kedatangannya, tau-tau mereka sudah sampai. Ketiganya kembali larut dalam tangis pilu. Anak mana yang tidak sedih ketika satu-satunya orang tua yang mereka miliki terbaring tak berdaya. Sumber kekuatan dalam keluarga itu tengah berjuang dalam takdirnya. Semenjak ayah meninggal ibu-lah tumpuan harapan mereka.


" Adakah disini yang bernama Max, " ucap suster memanggil


" Ada apa Sus, apakah ibu saya sudah sadar? " tanya Alina


" Pasien baru saja sadar, kondisinya lemah dan dia terus memanggil nama Max, tolong panggilkan agar segera kedalam, kita harapkan dengan kehadiran orang yang dicari bisa membawa pasien pada kesadaran penuh, "


" Max sedang diluar negeri, dan baru kembali nanti malam sus, mungkin bisa anak-anaknya yang menemui pasien lebih dahulu, " timpal Widyawati


" Baiklah saya akan izin ke dokter,"


Tak lama Alina sudah berada didalam ruangan ICU, mereka di bolehkan masuk bergantian.


Alina sedih melihat berbagai peralatan yang terpasang di tubuh ibunya, decitan alat monitor jantung menambah suram suasana. Alina mengenggam tangan ibu.


" Bu, ini Alina, "


Wanita itu perlahan membuka mata, bibirnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu.


Alina mendekatkan telinganya pada ibu.


" Nak, i.. ibu.. ma.. u. bicara.. de.. ngan Max.. " lirih nya terbata-bata.


" Ibu mau bicara apa katakan saja pada Alina, Max masih di Swiss bu, nanti Alina sampaikan ya, " ucapnya lembut.


Sorot mata ibu sedih, membuat Alina bingung sebenarnya apa yang ingin ibu sampaikan pada Max.

__ADS_1


" Ibu.. tidak.. lama lagi, i..bu..mau..bertemu a..yah, "


Alina menggeleng, air matanya kini mengalir bagai anak sungai.


" Jangan bicara seperti itu bu, ibu pasti sembuh, ibu mau bicara dengan Max kan, Alina akan coba telpon, "


Seperti sebuah kebetulan ponselnya berdering, video call dari Max, bergegas Alina menjawab panggilan.


" Max, ibu sudah sadar, dia ingin bicara dengan kamu, hiks" isak Alina. Max nelangsa melihat keadaan gadisnya, wajah itu basah oleh airmata. Alina langsung mengarahkan kamera kearah ibu.


" Ibu, ini Max, aku sedang menunggu izin penerbangan, Ibu jangan banyak pikiran ya , kita akan bicara panjang lebar nanti, " ucap Max berinisiatif menyapa calon mertuanya itu terlebih dahulu.


" Max, ibu tit. tip Alina,, ba.. ntu mereka.. Max,, " ucap ibu membuat Alina makin sedih, ibu seolah sedang mengamanatkan Max untuk menjaganya dan juga kedua saudaranya.


" Aku akan selalu menjaga Alina bu, aku juga akan menjaga anak-anak ibu yang lain, ibu harus sembuh itu yang paling penting, " Max tetap memberi semangat meskipun perasaannya tidak enak, seolah Ibu Ranti akan pergi meninggalkan mereka.


"Te.. rima k.. asih Max "


Tiba -tiba Ibu tersengal, napasnya naik turun, layar monitor menunjukkan penurunan denyut jantung.


Alina berteriak panik " Dokter, suster tolong ibu saya! "


" Sebaiknya anda menunggu diluar, pasien kritis, biar kami yang tangani, "ucap suster membantu Alina keluar.


" Ibu yang kuat bu, tolong berjuanglah, jangan tinggalkan kami bu" isak Alina, Max yang masih mendengar suara Alina karena video call masih tersambung mengusap wajahnya kasar. Seharusnya dia ada di sana saat ini.Mendengar Alina histeris dia ikut remuk redam.


" Apa yang terjadi Al, hiks" Audrey memeluk sang adik.


" Ibu kritis kak, tadi dia sempat bicara dengan Max, dia menitipkan pesan pada Max, sekarang ibu sedang ditangani, hiks"


" Ya Tuhan, tolong sembuhkan ibu, " desah Aditya memohon. Dia memeluk kedua saudaranya saling menguatkan satu sama lain.


Semua yang ada di sana ikut larut dalam kesedihan, sementara itu Adrian yang sudah kembali ke rumah sakit tengah berbicara serius menggunakan ponsel Alina yang terjatuh.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dengan wajah lesu.


" Dok gimana dengan keadaan ibu saya? " tanya Aditya pada pria berkaca mata dan jas putih itu.


Dokter menghela napas, " Kami sudah berusaha, Ibu Ranti sudah berpulang, " ucapnya dengan berat, kemudian menepuk pundak Aditya sebagai tanda penguatan.


" Ibu.... tidak,,, ibu jangan pergi, hiks " Alina semakin histeris sementara Audrey pingsan seketika.


***

__ADS_1


Jangan lupa Vote dan komen ya..


__ADS_2