Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
73. Tak satu jalan ke Roma


__ADS_3

Max mendengarkan dengan seksama penuturan Vano dari sebrang sana. Asistennya itu memberitahukan perihal pertemuan sang istri dengan Evan. Namun tidak jelas apa saja yang sudah dibicarakan keduanya. Dikarenakan situasi, anak buah Vano tidak bisa mendekat untuk mencuri dengar. Pembicaraan tersebut berlansung singkat karena Alina nampak terburu-buru dan diduga mereka bertukar nomor karna Evan mengetikkan sesuatu di ponsel miliknya. Lebih tepatnya Evan meminta kontak pribadi Alina.


Rahang Max mengeras begitu Vano mengakhiri sambungan. Dia sangat yakin Evan merencanakan sesuatu. Dia harus membeberkan semua fakta tentang pria itu pada istrinya, agar Alina menjauh dan tidak berkomunikasi lagi dengan Evan.


Entah berhasil atau tidak yang pasti Max harus mewanti-wanti Alina. Karena Alina adalah wanita yang berpikiran positif. Akan sangat sulit untuknya meyakinkan sang istri terlebih Evan bukan orang yang baru dia kenal.


" Max, ini berkas- berkas yang kamu minta, " ucap Mbak Utami membuyarkan pikiran pria itu.


Max menerima file yang diletakkan Utami di mejanya, memeriksa satu persatu sebelum akhirnya membubuhkan tanda tangan.


"Rencana ke New York gimana? " tanya Utami


" Apa segitu penasarannya mbak dengan bulan madu ku? "


Utami terkekeh, kalau pertanyaan dijawab pertanyaan bisa dipastikan mood sang boss sedang tidak baik.


" Bukan penasaran, aku cuma ingin memastikan kau tidak melewatkan pertemuan yang sudah aku jadwalkan atau bulan madu mu tidak akan tenang karna aku terus menelpon mu," kilah Utami beralasan.


" Lagipula kau belum memberitahukan jadwal mu, jadi jangan salahkan aku kalau bentrok dengan kerjaan penting. " sambung wanita yang sudah lama mengabdi menjadi sekretarisnya itu.


Max menghela napas. Tentu saja dia belum memberi tahu kan rencananya ke depan karena Alina meminta perjalanan mereka ditunda mengingat masalah yang terjadi pada Aditya, ditambah mommy ingin mengadakan resepsi pernikahannya berbarengan dengan ulangtahun pernikahan orangtuanya tersebut. Mereka akan mengundang kolega-kolega Mulia Jaya Corps sekalian memenuhi janji pada media waktu itu.


" Sementara ditunda sampai waktu yang belum ditentukan, " jawab Max mengembalikan berkas-berkas pada Utami.


Utami maklum, sedikit banyak dia sudah mendengar tentang apa yang terjadi.


"Kosongkan jadwal ku sore ini, aku ada urusan diluar" pinta Max sebelum Utami berlalu


" Bilang saja kau mau kejar setoran, hahaha" Ledek Utami


" Haish!" decak Max kesal. Dia memang merindukan aroma istrinya, tapi sekarang ada masalah lain yang harus dia tangani.


Cklek, pintu kembali dibuka.


" Jangan bilang kalau aku tidak bisa keluar sekarang, aku akan memotong gajimu bulan depan, " Max berpikir Utami lah yang masuk. Karna selain Adrian cuma Utami yang bisa mondar mandir sesuka hati ke dalam ruangannya.


" Hei ganteng kok galak banget, main potong gaji aja. " suara renyah itu sontak mengalihkan fokus Max dari layar dihadapannya.


" Sayang! "


" Surprise! " seru Alina merentangkan tangan. Ini kali perdana Alina menginjak kantor setelah berstatus sebagai istri


Max segera menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat.


"Mmm wangi banget sayang, " ucapnya menciumi rambut Alina berulang kali.


" Kan baru pulang nyalon sayang, "


" Wanginya aku suka,"


Alina memang penyuka aroma buah, semua perlengkapan mandinya berkaitan dengan buah-buahan. Begitu juga beberapa parfum favoritnya.


" Ngamar yuk? " Max menaikturunkan alis bermaksud menggoda.


" Lagi palang merah sayang, libur dulu ya seminggu. "


" Apaan tu palang merah? " tanya Max polos.

__ADS_1


Alina membisikan sesuatu ditelinga Max. Pria itu seketika lesu. Baru juga seminggu, udah libur aja.


"Kalau gitu ngemut aja dech, " Max memberi ide.


Alina tidak mengerti, seketika dia paham begitu tangan sang suami sudah bergerilya didalam blouse nya.


" Dibawah puasa, yang di atas kan gak mesti puasa juga sayang, "


Dasar suami mesum. Sejak menikah, Max yang dulu nya bisa menahan diri sekarang malah sebaliknya, kadar nafsunya berkali lipat membuat Alina sedikit kewalahan. Mungkin itulah hikmah pernikahan, Alina harus siap disaat sang suami membutuhkan dirinya. Setelah halal semuanya menjadi menjadi nikmat.


Buru-buru Alina menepis tangan suaminya, bukan dia tidak mau, tujuannya kesini bukan untuk itu, dia mau mengajak Max jalan-jalan sore cari cemilan, hari pertama datang bulan membuat dia malas menyantap nasi.


" Sayang, nanti malam aja ya, kalau sekarang nanti Mr. Pip bangun, gimana caranya dong."


" Ya dibantuin sayang, sekarang aja udah bangun! " Max mengarahkan jemari Alina pada sesuatu yang sudah sesak dibawah sana.


Alina menjadi tidak tega


" Dikamar ya, gak enak kalau tiba-tiba ada orang yang datang " Alina mengalah. Daripada Max nanti pusing sendiri.


" Gak akan ada yang berani masuk" ucap Max tidak sabar, dia mulai membuka kancing atasan yang dipakai Alina.


Alina menarik paksa sang suami kedalam kamar yang ada di sana dan menguncinya dari dalam. Seperti bayi yang kehausan Max lansung melahap miliknya dengan rakus. Membuat Alina memejam kan mata menikmati sentuhan lidah Max pada puncak Himalaya.


Keduanya berguling-guling mencari kepuasan yang dituju, tak satu jalan ke Roma. Pepatah itu sangatlah berguna setidaknya sore ini, Max mendapat pelepasan yang dibantu sang istri. Tetap enak meskipun rasanya berbeda.


Max tersenyum memandangi Alina yang terlelap. Satu ronde tidak cukup bersambung pada ronde berikutnya. Hingga istrinya menyerah dan pulas setelah. membersihkan diri.


" Katanya mau keluar kok gak jadi, mana tuh rambut udah basah aja! " Ledek Utami mengantarkan cemilan dan juga minuman yang Max pesan secara online.


Utami mencebik, semua lelaki sama aja apalagi kalau sudah halal. Gak mau rugi sedikitpun. Dia jadi teringat sama suaminya. Sampe sekarang pun suaminya itu masih terbilang hot untuk urusan ranjang kendati mereka sudah memiliki tiga anak.


" Btw, Adrian kok jarang kesini Max?" tanya Utami.


Tidak seperti biasanya sesibuk apapun dia dengan anak perusahaan yang dipercayakan Max padanya, Adrian pasti menyempatkan diri untuk datang.


Sekarang Max menyerahkan semua tugas yang dulunya di handle Adrian pada Vano.


" Lagi sibuk mendekati pujaan hatinya! " cetus Max mengunyah roti isi.


"Serius? " seru Utami tidak percaya, Max menganggukan kepala.


" Siapa orangnya, mbak kenal gak? "


" Nanti juga tau, "


Utami mendengus karna Max tidak akan mengatakan apapun kalau sudah berkata seperti itu.


" Aku pulang ya, makasih loh traktirannya, anak-anak pasti senang karna om nya beliin roti kesukaan mereka, " ucap Utami kemudian menghilang dibalik pintu.


Max kembali lagi ke kamar, bermaksud mau membangunkan Alina, karena mereka ada janji makan malam di rumah sekalian membicarakan persiapan resepsi. Sekalipun sudah diserahkan pada pada WO yang ditunjuk tetap saja mereka perlu membahas beberapa teknisnya.


Tadinya mereka akan menyerahkan project ini pada Aditya, tapi Aditya menolak. Permasalahan rumah tangganya yang masih menggantung membuat dia tidak fokus. Tak ingin mengecewakan semua orang, Aditya mengizinkan Alina untuk mencari WO lain.


Max pikir Alina masih tidur, rupanya istrinya itu sedang membereskan ranjang. Penampilanya juga sudah lebih segar meskipun belum berganti pakaian, karena Alina tidak menaruh baju ganti disini. Sepertinya dia harus membawanya agar kedepan siap sedia jika sang suami menginginkan dirinya saat sedang di kantor.


" Aku jadi malu sama mbak Utami" cicit Alina begitu sang suami memeluknya dari belakang.

__ADS_1


" Ngapain malu sayang, mbak Utami pasti mengerti, "


" Sok tau banget sih yang, "


" Tau lah, kan mbak Utami pernah mengalami masa pengantin baru juga sayang, sampe sekarang aja suaminya masih ganas"


Sontak Alina membulatkan mata


" Kamu ngintipin mereka sayang, dimana? "


Max menjitak pelan kepala wanita itu, gemas


" Emang aku apaan, gak ada kerjaan banget"


" Trus kamu tau dari mana kalau suami mbak Utami ganas"


Max mengedikkan bahu,


" Pulang yuk, mommy pasti udah nunggu, aku udah beliin kamu cemilan, nanti makan pas dijalan aja ya, " ajak pria itu mengalihkan pembicaraan


" Sayang jawab dulu, aku kan jadi penasaran!" desak Alina gantian memeluk Max.


Max tertawa melihat sifat kekanakan Alina kalau lagi kepo akut.


" Isss, sayang kamu harus tanggung jawab, kalau aku gak bisa tidur gimana, " Alina bersikeras ingin tahu.


" Tanya mbak Utami aja ya, sekalian sharing ilmu, biar kamu makin pinter, "


Alina mengerucutkan bibir, kesal sampe keubun-ubun, masa dia nanyain ke mbak Utami, malu lah.


" Emangnya aku gak pinter, "


" Pinter sayang, cuma mbak Utami kan udah senior, pasti ilmunya banyak sampe suaminya ganas begitu"


Alina makin penasaran dibuatnya ditambah dia tersinggung karena dianggap masih junior. Menurut Alina dalam hal urusan ranjang tidak memerlukan junior atau senior, cukup naluri alamiah yang menuntunnya.


Dan untuk membuktikan itu, Alina mengungkung Max dibawahnya


" Kita buktikan kalau aku juga bisa membuat kamu jadi ganas, tunggu seminggu lagi! " Tantang Alina percaya diri.


" Oh ya, kenapa tidak sekarang? "


" Lagi ada penghalang, "


" Tidak satu jalan ke Roma, " pepatah itu lagi. Namun cukup ampuh untuk Max mengompori Alina. Saat seseorang sedang ditantang, dia akan mengeluarkan semua kemampuan yang dia miliki karena tak mau kalah dari senior. Max meleng*uh panjang begitu pelepasannya datang.


Dan sebagai hadiah Max membubuhkan tanda kepemilikan nya di leher wanita itu.


" Sudah mengerti kenapa aku tau kalau suami mbak Utami ganas? " bisik Max didekat telinga Alina ketika dirinya bercermin. Tanda merah keunguan yang kontras dengan kulit putih nya, gimana dia menutupi ini dari pandangan orang-orang.


" Maxime!!! "


***


Part gak jelas, tapi lumayan bikin senyum-senyum, 😁


Mohon dukungannya ya, bantu vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2