Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
14. Salah menduga


__ADS_3

Alina memandang nanar pada paper bag ditangannya, guratan kecewa begitu jelas tercetak di wajah cantik itu. Seharusnya dia tidak menanggapi serius perkataan Max kemaren, bekal makan siang yang dia bawa untuk pria itu berakhir sia sia. Kalau saja Max tahu seberapa besar usaha Alina untuk menyiapkan menu terbaik untuknya.


Alina tersenyum kecut mengingat bagaimana repotnya dia tadi pagi. Hanya demi membuktikan kalau dia bisa memasak, gadis itu rela berjibaku dengan dapur sejak subuh menjelang. Mbak Asti pun kalah langkah dibuatnya.


Tapi sayang perjuangan itu menjadi tidak berarti, karena sosok yang ingin merasakan masakannya justru tidak peduli, seharian ini Max sibuk dengan pekerjaan, berkutat dengan ragam rancangan yang tidak ada habisnya.


Ketika jam makan siang tiba, Alina sengaja meminta izin pada pria itu untuk beristirahat, sesuatu yang jarang dia lakukan. Tetapi sarkasme yang dia lontarkan untuk memancing pria itu agar menagih janjinya kemaren tidak berpengaruh apa apa, Max tetap fokus dengan kertas gambar dihadapannya.


Menimang nimang selama waktu istirahat, Alina memantapkan hatinya yang maju mundur. Bagaimana pun dia harus memberikan bekal itu, soal Max terima ataupun tidak terima urusan belakangan, yang penting dia sudah menepati janji.


Tapi sayang begitu dia kembali, Max sudah tidak ada di ruangannya. Alina merasa sesak. Dia menengadahkan kepala, berusaha menahan bulir bening yang tiba tiba menggenang dipelupuk mata, entah kenapa dia jadi semelankolis itu.


Alina juga tidak mengerti , apa yang dia harapkan dari seorang Max, sementara ruang hatinya masih penuh oleh cinta Bryan. Berulang kali dia mengatakan kepada dirinya sendiri kalau Max hanya menganggap dia sebatas rekan kerja. Tapi setiap kali Max memberikan perhatian lebih, Alina selalu merasakan sesuatu yang berbeda.


Mungkin ada beberapa sifat Bryan yang ada dalam diri Max, tapi itu tidak cukup untuk dijadikan alasan untuk perasaan anehnya itu.


Sudah cukup !! sebelum rasa ini berkembang lebih jauh ada baiknya aku menjaga jarak, Batin gadis itu menguatkan diri.


Alina menghela napas panjang sambil menyeka air disudut matanya lalu menyimpan kembali paper bag warna biru tersebut. Bisa saja dia memberikan makanan itu pada Tasya yang memang hobi makan, tapi pasti Tasya akan bertanya tanya, kenapa dia membawa dua bekal makan siang. Apalagi hal itu diluar kebiasaan Alina, Tasya memiliki tingkat penasaran yang cukup tinggi, kalau sedikit dia keseleo saat menjawab, gadis itu akan terus menerornya seperti seorang detektif.


Begitu hendak beranjak dari duduk, Alina terpikir sesuatu, dia kembali mengambil paperbag itu, daripada mubazir lebih baik makanan itu dia berikan pada Morgan.


Kepada Morgan dia tidak perlu mencari alasan, cukup dengan mengatakan kalau dia hanya ingin berbagi makanan. Lagipula sebelumnya Alina sering membawakan makanan untuk Bryan, dia juga selalu melebihkan agar Bryan bisa berbagi dengan sahabatnya itu.


Alina keluar dari lift begitu sampai dilantai yang dituju. Dengan langkah ringan dia melangkah menuju ruangan Morgan, tapi sayang sekretaris Morgan bilang Pria itu sudah keluar makan siang. Gadis berambut keriting itu mengatakan dia bisa meninggalkan pesan , Alina menggeleng dan mengucapkan terima kasih. Diapun pergi dengan kecewa


Hanya sekotak bekal begitu membuatnya bersusah hati, kalau Morgan tidak ada, pada siapa lagi dia akan memberikan makanan ini, selain timnya Alina tidak terlalu kenal orang orang dari divisi lain, jadi tidak lucu kalau dia tiba tiba memberi makanan.


Mau memberikan ke security , dia terlalu malas untuk turun ke lobi. Alina pasrah, mungkin makanan ini rezeki Tasya, dia pasrah kalau nanti Tasya bertanya macam macam.


Pergerakan lift berhenti dilantai delapan, dan Alina terkejut melihat Max masuk lift dengan wajah tanpa ekspresi. lagi lagi dia terjebak bersama pria itu.


" Apa kamu sengaja mau membuat saya lapar?"

__ADS_1


ucap Max tanpa memandang. Alina yang berdiri dibelakang Max mengerutkan kening tidak mengerti.


Tidak mendapatkan jawaban, Max menekan lantai paling atas di tombol lift hingga lift yang sudah berhenti dilantai sepuluh bergerak kembali.


" Apa yang bapak lakukan, kalau lift ini rusak gimana?" Alina hendak menekan kembali tombol lantai ruangan mereka tapi tangan Max menahannya.


" Jawab dulu pertanyaan saya, " Ucap Max dingin


Alina tercekat, sentuhan Max ditangannya membuat desiran lagi dihatinya. Perlahan dia menepis tangan pria itu .


" Saya selalu menepati janji, saya pikir bapak tidak menginginkannya ," ujar Alina sambil menyodorkan paperbag biru ditangannya.


" Bagaimana kamu bisa berpikir kalau saya tidak mau, bahkan kamu tidak mengatakan apapun, " ucap Max membiarkan tangan Alina menggantung.


Alina tidak menampik, karena merasa diacuhkan Max, dia memilih untuk diam. Dia sengaja sampai Max meminta lebih dulu. Tapi begitu dia menyadari kesalahannya, Max sudah meninggalkan ruangan.


" Ambil atau saya akan berikan ini pada yang lain" Alina mengancam dan mengabaikan pernyataan Max barusan.


" Silahkan saja, kalau Magh saya kambuh , kamulah orang yang bertanggung jawab" balas Max tak mau kalah.


" Okay saya minta maaf, tadinya saya pikir bapak sibuk, dan saya sengaja menahan bekal sampai bapak meminta lebih dulu,"


Max terkekeh


" Jadi kamu gengsi jika harus memberi lebih dulu"


Alina mengedikan bahu


" Lalu kamu dari mana sambil menenteng paper bag itu?" Max terus saja mengintrogasi


" Saya tadinya mau memberikan kepada bapak, tapi bapak sudah tidak ada di tempat, saya pikir bapak pergi makan siang, daripada mubazir saya mau kasih ke Morgan, sayangnya Morgan juga tidak ada"


Max menggelengkan kepala, dia merasa Alina terlalu runyam, padahal jika dia tidak ada, kenapa Alina tidak memberikannya kepada Tasya atau yang lainnya. Wanita memang susah dimengerti.

__ADS_1


Max kembali memencet tombol lantai sepuluh, Alina lega karena Max akhirnya tidak lagi mencecarnya.


" Temani saya makan" ucap Max begitu mereka sampai. Membuat Alina nelangsa dan mau tak mau mengikuti langkah Max yang sudah berjalan menuju ruangannya.


Alina bersyukur, ruangan mereka masih kosong, ternyata jam istirahat masih tersisa 15 menit lagi dan itu cukup sampai Max menyelesaikan makannya. Tentu saja dia tidak ingin teman temannya memergoki apa yang terjadi.


Bergegas Alina membuka kotak bekal , memindahkan kedalam piring datar yang sengaja dia bawa dari rumah, dengan cekatan dia mempersiapkan diatas meja tamu yang ada di ruangan itu sembari menunggu Max selesai menyuci tangan diwastafel.


Max kembali dan segera menghampiri Alina yang sudah duduk di sofa. Pria itu memandang takjub pada menu yang dibuat Alina.


Steak daging dengan taburan wijen, ditambah saos lada hitam, dari aromanya saja sudah menggoda selera, Alina mengganti nasi dengan kentang goreng, tak lupa semangkuk kecil salad sayur dan sepotong puding untuk cuci mulut.


Benar benar paduan yang pas.


Entah kebetulan atau tidak, Alina sudah memberikan menu makan siang yang memang sesuai dengan selera Max, western taste selalu menjadi kegemaran pria itu. Bukan berarti dia tidak menyukai makanan dalam negeri, hanya saja sejak kecil Max termasuk Picky Eater.


Saking susah makan, Max kecil sempat membuat mommynya sangat khawatir. Hingga mommy mencoba mencari solusi lewat ahli gizi. Dari sanalah mommy baru tau kalau Max kurang bisa menerima nasi sebagai asupan karbo. Oleh karena itu Mommy menggantinya dengan karbohidrat jenis lain, seperti tepung ataupun kentang.


Tidak butuh waktu lama, Max sudah menyelesaikan makan siangnya. Melihat piring yang sudah licin, Alina tersenyum puas.


" Rasanya sangat enak, saya tarik kata kata kemaren"


Alina mengernyitkan kening,


" Kamu ternyata pandai memasak, tekstur dagingnya sangat lembut. Dan rasa saosnya very juicy, i like it" Max mengacungkan jempol


" Benarkah? sepertinya bapak berlebihan memuji saya" Alina merendahkan diri


" No, I am seriously , " ucap Max sungguh sungguh


" Dan..."


Alina menunggu Max melanjutkan perkataannya. Max menatap Alina dengan seksama

__ADS_1


" Jika kamu tidak keberatan , saya sangat senang mencobanya lagi lain waktu"


***


__ADS_2