
Adrian berulang kali memeriksa pesan di ponselnya, pergerakan duduknya gelisah dan itu menarik perhatian Orion Arlingga. Dia tau pasti Adrian sedang menunggu pesan dari Max, saudaranya.
" Apa dia masih mendiamkanmu?"
Adrian mengangguk kecewa, sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, tapi Max bersikeras tidak menghubunginya. Dia sudah berupaya mengirim pesan chat sekedar berbasa basi menanyakan keadaan tapi Max tidak menggubris dan mengabaikan pesan tersebut.
Orion tertawa, "Ternyata seorang Max bisa menjadi budak cinta, demi wanita dia rela mengorbankan persahabatan kalian, malang sekali nasibmu Adrian," sindirnya dengan wajah yang dibuat-buat seolah prihatin.
Adrian tidak melayani perkataan Orion, dia lebih memilih fokus pada games yang baru saja dimainkan.
Orion sengaja mengatakan hal itu untuk memanasi Adrian, dia sangat suka kalau bisa mengusili orang lain. Ada kepuasan tersendiri disaat melihat orang lain marah. Dia terlalu bosan melihat kekakuan dikeluarga yang sangat menjunjung norma kesopanan ini.
Semua orang dengan sangat mudah memaafkan, sehingga setiap ada masalah selalu berakhir dengan kata damai.
Itu kenapa Orion lebih suka mencari petualangannya sendiri, dia suka kebebasan yang memicu adrenalin, berteman dengan bad guys diluar sana, one night stand dengan banyak wanita, sebuah kehidupan yang menurutnya lebih berwarna ketimbang harus berhadapan dengan klien, kolega dan segala ***** bengeknya.
"Kau bisa saja tertawa sekarang, disaat kau jatuh cinta pada orang yang tepat, kau akan tau rasanya," balas Adrian kemudian.
"Aku , jatuh cinta? tidak mungkin, aku tidak butuh cinta, karena diluar sana banyak wanita yang sukarela untuk menjadi pelampiasan hasratku, bukankah hanya itu gunanya wanita," ucapnya vulgar.
Sebuah tissue bekas mendarat telak mengenai wajah Orion, siapa lagi pelakunya kalau bukan Widyawati, nyonya besar di Mansion mewah ini.
"Anak kurang ajar, secara tidak langsung kau mengatai ibumu, kau pikir aku menikahi ayahmu hanya untuk ditiduri," Widyawati tidak terima dengan ucapan anak sulungnya itu.
Orion terkekeh " Pengecualian dirimu Mommy sayang, Mommy wanita yang hebat," Orion mendekat dan memeluk ibunya yang baru datang.
Adrian berdiri dan ikut menyalami wanita yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya.
" Bagaimana perjalanan anda tante," Tanya Adrian sopan.
Widyawati baru saja pulang dari Paris untuk menghandle urusan perusahaan disana.
"Cukup melelahkan Dri, seharusnya diusiaku sekarang aku bisa beristirahat, tapi putra putra ku tidak bisa diandalkan , yang satu sibuk mengejar cinta, yang satu sibuk dengan dunianya sendiri," keluh Widyawati sembari mendaratkan tubuhnya disofa.
Adrian mengerti perasaan wanita itu,
" Bersabar lah tante, sebentar lagi Max akan kembali ke Mulia Jaya,"
Widyawati mengangkat kepalanya yang bersandar
" Benarkah, apa dia sudah mendapatkan hati gadis itu?"
Adrian menggeleng,
" Apa maksud gelenganmu?"
" Gadis itu masih mencintai tunangannya mom, dan seperti biasa Max mengalah pada keadaan," bukan Adrian tapi Orion yang menjelaskan
Widyawati menghela napas kecewa, sungguh malang nasib putranya, Max selalu saja gagal dalam cinta, dulu diselingkuhi, sekarang malah ditolak. Dia memang berpikir untuk mencarikan jodoh untuk Max jika dia kembali lagi ke Mulia Jaya dengan tangan kosong. Tapi dia sendiri belum punya kandidat yang pas dan cocok untuk putranya yang baik hati itu.
"Mommy jadi ingin ketemu dengan Alina," gumam Widyawati.
Adrian dan Orion mengerutkan kening bersamaan.
"Dri coba kau cari cara agar tante bisa bertemu dengan Alina, tante ingin tahu seperti apa gadis yang diinginkan Max, kalau Alina nantinya tetap tidak bisa menerima Max, setidaknya tante punya bayangan untuk mencarikan jodoh yang tepat buat Max," lanjutnya lagi penuh harap.
"Wah Mom, kau sungguh tidak adil, bagaimana mommy memikirkan jodoh untuk Max, sedangkan aku dibiarkan membujang," ucap Orion protes
__ADS_1
Widyawati memutar bola matanya
"Bukankah banyak diluar sana yang rela untuk kau tiduri, kenapa tidak kau pilih satu untuk mendampingimu, kau tak butuh cinta bukan?" sindirnya pedas
" No mom, mana mungkin aku selamanya seperti itu, gimana pun bejatnya putramu ini, aku tetap punya keinginan untuk berkeluarga, apalagi ini menyangkut kelanjutan generasiku,"
" Dasar PIin plan, memangnya kau ingin gadis seperti apa, aku akan mencarikannya untukmu," tawar Adrian
" No, aku sudah punya pilihan sendiri,"
Widyawati penasaran, dia memandang Orion dengan seksama "Benarkah, siapa gadis malang itu?"
Orion menimbang sejenak, dia bergantian menatap dua orang yang tak sabar menunggu jawabannya
" Kurasa Alina masuk dalam kriteriaku"
" Apaa??"
***
Max mendorong pintu apartemennya dengan perlahan, lalu kembali mengunci pintu dan berjalan ke dapur, tenggorokannya terasa sangat kering. Berkutat dengan pekerjaan hari ini membuatnya lelah, sesekali dia mengusap tengkuknya yang terasa berat.
Setelah mengantar Alina ke apartemen tadi siang dia kembali lagi kekantor karena ada klien yang ingin bertemu, setelah itu berlanjut dengan menyelesaikan beberapa rancangan.
Dia sedikit keteteran dengan banyaknya pekerjaan ditambah lagi hari ini Alina izin cuti.
Max membuka kulkas, mengeluarkan sebotol air dingin lalu menuangkannya kedalam gelas. Diapun meneguk isi gelas tersebut hingga tandas.
Setelah menuntaskan dahaga, Max berjalan kekamar, ketika melewati ruang tamu, langkahnya terhenti begitu melihat seseorang yang sedang duduk dikursi yang ada di balkon.
Max melirik arlojinya sudah lewat tengah malam tapi Alina masih berjaga,
Alina menoleh pada sosok yang baru saja menyapanya, lalu tersenyum tipis
" Aku boleh duduk disini?"
Alina menganggukkan kepala
" Katakan apa yang menganggu pikiranmu?" tanya Max dengan nada serius
" Tidak ada pak, aku hanya mencari angin segar,"
Max menarik napas, begitu sulit membuat Alina percaya.
" Tidak baik menyimpan masalah berlarut larut , jika memang kamu butuh bantuan, carilah orang yang benar benar kamu percaya untuk berbagi cerita," pancing Max lagi berharap Alina mau menyuarakan apa yang ada dibenaknya sekarang.
Alina memberanikan diri menatap Max, tidak bisa dipungkiri, dia butuh teman yang mengerti akan permasalahannya. Waktu terus berlalu tapi misteri tentang penembakan Bryan tidak kunjung menemukan titik terang, bahkan Alina hanya menemui jalan buntu, sekarang dia malah dihadirkan sosok yang dia temui di bandara tadi membuat pikirannya semakin bercabang, menerima kenyataan kalau Bryan sudah tiada atau menyakinkan diri kalau Bryan masih hidup.
" Apa bapak percaya reinkarnasi?"
Max mencoba memahami maksud pertanyaan Alina, dia yakin pertanyaan ini berhubungan dengan kejadian tadi siang di bandara. Mendadak perasaannya tidak enak.
"Yang saya tau reinkarnasi hanya ada difilm ataupun novel, tapi tidak dikehidupan nyata,"
Alina mendesah kecewa.
"Kenapa kamu tiba tiba bertanya soal reinkarnasi, jangan bilang kamu habis nonton film dan terbawa perasaan?" Max berusaha mencairkan suasana
__ADS_1
Alina tertawa pelan,
" Kalau cuma film gak mungkin saya kepikiran seperti sekarang,"
" Terus?"
Alina mengembuskan napas panjang, mungkin ada baiknya dia menceritakan masalah ini sebelum dia gila karena pusing memikirkan
"Saya melihat Bryan dibandara,"
Max terkejut " Maksud kamu?"
Alina pun menceritakan kronologi kejadian tadi siang, tanpa ada yang dia tutupi.
" Mungkin saja yang kamu lihat itu orang lain yang posturnya mirip dengan Bryan,"
Alina tidak menampik pendapat Max, tadinya dia juga sempat berpikir seperti itu, tapi hatinya seolah tidak terima, berharap bahwa Bryan memang masih hidup. Satu hal yang tidak mungkin.
"Bagaimana dengan kelanjutan kasus Bryan, apa sudah ada kejelasan dari Kepolisian?"
Alina menggeleng,
"Kenapa selama itu, kendalanya dimana?"
Lagi-lagi Alina menggeleng, dia benar benar tidak tahu karena sejak awal cuma Pak Leo dan Morgan yang mengurus masalah ini ke pihak yang berwajib, dia tidak pernah berurusan langsung.
" Memangnya polisi tidak menghadirkan kamu atau keluarga yang lainnya menjadi saksi?"
" Diawal kejadian pernah, tapi mereka meminta keterangan saya dan ibu dirumah, setelah itu tidak ada lagi, setiap kali saya bertanya pada Morgan, dia bilang polisi masih belum menemukan titik terang"
" Bagaimana dengan keluarga Bryan, apa dari mereka tidak ada yang berupaya mencari kejelasan?"
Alina menggeleng " Keluarga Bryan sudah menyerahkan sepenuhnya masalah ini ke Morgan, kalaupun tidak ada titik terang mereka sudah ikhlas,"
Max merasa ada yang janggal, bagaimana mungkin kasus mengambang begitu saja, kalau memang dalam waktu tertentu tidak ada kejelasan maka penyelidikan seharusnya dihentikan. Dan keluarga diminta untuk menanda tangani surat pernyataan.
Tapi sudah selama itu, kasusnya tidak ada perkembangan sama sekali dan terkesan ada yang ditutup tutupi.
" Kalau kamu tidak keberatan, saya akan membantu kamu untuk mencari tahu sejauh mana kasus ini ditangani," ujar Max menawarkan bantuan.
Mendadak mata Alina berbinar cerah mendengar ucapan Max.
" Benarkah bapak akan membantu saya?" ujarnya memastikan
Max mengangguk, Alina merasa sangat senang, dia berdiri dan menghampiri Max, gadis itu bersimpuh dihadapan Max sambil memegang kedua tangan pria itu.
" Terima kasih pak, selama ini saya sendiri dan tidak tau harus melakukan apa, tadinya saya sudah pupus harapan, tapi mendengar bapak mau membantu, saya percaya saya bisa memberikan keadilan untuk Bryan," ucapnya dengan pandangan berkaca kaca
Max balas menggenggam tangan Alina "Itulah gunanya teman,"
Semuanya akan saya lakukan demi kebahagiaan kamu Alina, lagipula saya harus memastikan tentang perasaan kamu ke saya, jika dengan membuktikan kebenaran tentang Bryan akan membuat semua jelas, maka saya akan memulainya dari sekarang, batin Max dalam hati.
***
Hai readers bantu vote dan komennya untuk cerita ini ya...
Terima kasih
__ADS_1
with love
Dik@