Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
26. Kemarahan Max


__ADS_3

Kepribadian Alina itu unik, diantara banyak wanita yang Max temui hanya Alina yang memiliki karakter berbeda seperti kebanyakan orang. Menurut Max, gadis itu seperti nano-nano, banyak rasa didalam satu bungkus.


Terkadang Alina menjadi sosok yang dewasa, lain hari dia adalah gadis ceria nan cerewet, kadang konyol, kadang keras kepala dan lantang, lain waktu dia kekanakan dan manja, namun dibalik semua karakter yang dimilikinya Max tau pasti Alina adalah sosok yang tulus.


Seperti sekarang, sebuah bukti nyata ketulusan Alina pada teman-temannya. Max sengaja menguping pembicaraan ketiga gadis diluar sana yang menghabiskan sisa waktu istirahat sambil ngerumpi, beruntung pintu ruangannya tidak tertutup rapat. Jadi dia bisa leluasa mendengarkan.


" Gak pake alasan, pokoknya harus ikut, titik gak pake koma," sergah Alina pada Gladys, membuat gadis itu tidak bisa berkutik. Gladys bukannya menolak untuk ikut, tapi mengingat sikapnya tempo hari dia merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan Alina.


Tapi bukan Alina namanya kalau dia tidak bisa mencairkan suasana, sikap ramahnya membuat orang yang tadinya benci beralih simpati, dalam hitungan dua puluh empat jam suasana kantor kembali kondusif.


" Tapi Al, aku gak punya uang, kamu kan tau sendiri gimana," keluh Gladys nelangsa, jangankan untuk liburan, untuk kebutuhan dirinya sendiri saja Gladys akan berpikir berulang kali, Namira masih dalam masa pemulihan.


Alina bukannya tidak tahu keadaan Gladys, dia mengajak Gladys dan Tasya justru karena ingin berbagi kebahagiaan terutama pada Gladys. Sebagai sahabat dia prihatin diusia yang tergolong muda, Gladys dihadapkan pada tanggung jawab yang besar.


Dan begitu perusahaan mengeluarkan pengumuman soal jadwal liburan akhir tahun, dia langsung mencetuskan ide untuk mengajak teman-temannya ke bali selama tiga hari.


Biasanya Alina mengakhiri pergantian tahun dengan Bryan ataupun keluarganya, tapi tahun ini berbeda, disisi lain ibu lagi malas berpergian, diapun mengajak kedua sahabatnya dikantor, tadinya dia juga mau mengajak Sarah, adik Bryan biar makin ramai, Sayangnya Sarah bilang sudah ada rencana sendiri.


" Aku gak nanyain uang kamu dis, yang penting kalian ikut aja, aku sudah menyiapkan semuanya,"


" Terus penginapan, tiket, makan, transport, gimana? semua itu pake duit loh Al," Tasya menggerakan jari jempol dan telunjuknya bersamaan, dia sendiri juga sebelas dua belas dengan Gladys, menjadi tulang punggung keluarga. Liburan adalah hal yang langka, tapi dia cukup beruntung karena pernah beberapa kali mengikuti gathering kantor diluar kota termasuk bali.


Berbeda dengan Gladys yang memang belum pernah kemanapun, apalagi dia baru setahun bekerja di perusahaan ini.


Alina tertawa melihat ekspresi Tasya.


" Kan aku udah bilang aku yang urus, palingan aku cuma handle tiket dan uang jajan aja, kalau penginapan, transport dan makan , udah ditanggung Kak Aditya,"


Tasya menepuk jidatnya, dia baru ingat kalau salah seorang kakak Alina tinggal disana.


" Jadi kamu mentraktir kita nih Al?" Tasya memastikan.


Alina menganggukkan kepala mantap. Barulah Tasya dan Gladys mengekspresikan kegirangannya. Mereka berdua memeluk Alina dan mencium pipi gadis itu bersamaan.


" Makasih ya Al, kamu memang sahabat kita yang baik hati,"seru Tasya senang.


" Udah, udah, ntar yang lain dengar aku gak enak," sela Alina gerah, bukannya melepaskan mereka malah makin mengeratkan pelukan. Beruntung yang lain pada belum kembali dari makan siang.


Tiga serangkai itu kembali melanjutkan pekerjaan dengan semangat. Terlebih malam ini mereka akan menghadiri jamuan. Jadi mereka harus menyelesaikan semua job desk tepat waktu.


Pak Leo mengadakan pesta anniversary pernikahannya dengan sang istri disalah satu hotel bintang, selain mengundang kolega perusahaan, semua karyawan juga diundang.


" Kamu gak lupa bawa baju ganti kan Al?"tanya Gladys, kemaren Alina tidak dapat info yang disebarkan lewat chat group, karena ulah Mahira, gadis itu dikeluarkan dari group. Makanya tadi pagi Gladys mengirimkan pesan, sebagai bentuk permintaan maafnya.


" Udah dong, lagian mau bolak balik capek," jawab Alina mulai berkutat dengan laptopnya.

__ADS_1


Sejujurnya Max kecewa mendengar rencana Alina, tadinya dia mau mengajak gadis itu merayakan pergantian tahun bersama, tapi melihat kegembiraan diwajah Tasya dan Gladys dia tidak tega.


***


Alina dan ketiga sahabatnya memasuki ballroom tempat pesta diadakan, suasana diruang megah itu sudah ramai oleh para tamu.


Sontak kehadiran ketiganya mengundang perhatian para pria, mereka terpukau oleh kecantikan gadis-gadis muda tersebut terutama Alina yang nampak mempesona dalam balutan gaun malam yang simpel tapi elegan.


Sebuah dress panjang dari bahan sutra warna merah maroon ditambah belt yang mempertegas pinggang rampingnya menjadi pilihan Alina. Faktanya bukan seberapa indah gaun yang membuat para pria itu tak berhenti menatap hingga mendeguk ludah berkali-kali, melainkan bagian atas gaun yang berbentuk decolette membuat leher jenjang dan bahu putih gadis itu terekspose, belum lagi Alina menggelung rambutnya keatas. Sempurna.


Rahang Max mengetat saat melihat tatapan lapar para pria, andai saja dia punya hak, sudah pasti dia akan membawa Alina pergi dari sini atau memintanya mengganti dengan pakaian yang lebih tertutup.


Dia bukanlah Bryan, yang bangga saat Alina berpenampilan seperti sekarang. Bukan bermaksud membandingkan, tapi sepanjang dia mematai Alina selama ini, dia tau pasti bagaimana selera Bryan ketika mengajak gadis itu menghadiri jamuan.


Max tidak suka miliknya ikut dinikmati orang lain meskipun hanya sekedar tatapan, dia sangat tau isi otak para pria yang suka menjadikan wanita cantik dan mulus untuk berfantasi. Dan dia tidak rela jika Alina menjadi objek pikiran kotor mereka.


" Turunkan pandanganmu bro, jangan sampai kau memukul orang, ingat ini pesta bossmu," ucap Adrian yang dari tadi memperhatikan arah pandang sohibnya. Adrian ikut datang sebagai perwakilan dari Mulia Jaya karena Papi Max, Tuan Hardi sedang berada diluar negeri.


Dia tahu betul sebab kemarahan Max saat ini, apalagi kalau bukan karena penampilan Alina yang menggiurkan. Adrian tak menampik, Alina sangat cantik. Menurut pendapat Adrian tidak ada yang salah dengan pakaian Alina, masih dalam batas wajar. Di jamuan ini banyak wanita yang berpakaian lebih terbuka malah ada yang terkesan seronok. Yang membedakan adalah aura Alina lebih bersinar, itu kenapa dia menjadi pusat perhatian. Beruntung Orion tidak ikut, kalau ikut mungkin Max semakin naik pitam.


Sementara Itu Alina dan kedua sahabatnya nampak enjoy menikmati suasana, sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan. Mereka saling bertukar cerita.


Tanpa terduga seseorang menghampiri mereka bertiga, seorang pria dengan setelan jas formal berwarna silver dengan rambut yang dicat pirang mengembangkan senyum.


" Good night ladies, boleh saya bergabung?" sapanya sambil menundukkan badan .


" Perkenalkan saya Zaky, direktur utama Bintang Property," ucap nya lagi sambil mengulurkan tangan, mau tak mau mereka menerima jabat tangan itu bergantian


" Hei sayang masih ingat denganku, " sapa Zaky sambil memandang Gladys yang sedari tadi menundukkan kepalanya.


Alina mengerutkan kening.


" Kalian sudah saling kenal?" tanyanya ingin tahu.


"Tentu saja, kenal baik malah bukan begitu Gladys?"


Gladys tidak menjawab, gadis itu nampak gelisah. Alina yakin ada yang tidak beres. Apalagi pandangan pria itu kini seolah mengintimidasi Gladys.


Alina juga mencium aroma alkohol yang menyengat dari mulut pria itu, sepertinya Zaky mabuk.


" Maaf, anda membuat teman saya tidak nyaman tuan, mungkin sebaiknya anda tinggalkan kami," pinta Alina tegas.


Zaky tertawa kecil.


" Tidak nyaman bagaimana, tanyakan saja sama teman anda ini nona, saya hampir saja kehilangan seratus lima puluh juta dalam semalam karena ulahnya,"

__ADS_1


Alina tidak mengerti, " Maksud anda?"


" Tebak sendiri, apalagi yang bisa dilakukan oleh seorang gadis dalam semalam untuk mendapatkan uang banyak, selain menjual dirinya," Zaky mengerlingkan mata, dari awal melihat Gladys dipesta ini dia memang sudah berniat balas dendam.


" Jaga ucapan Anda tuan, atau anda akan menyesal sudah memfitnah teman saya," Bela Alina tak terima.


" Wow takut, memangnya apa yang akan anda lakukan, saya yakin anda dengan teman anda itu tidak ada bedanya, "


Plak, Plak


Alina kehilangan kesabaran, pria itu sudah menghina harga dirinya. Seketika suasana yang tadinya riuh menjadi sunyi, semua mata tertuju kearah Alina berdiri.


" Tarik perkataan anda tuan atau anda akan menyesal,"


Zaky mengusap rahangnya yang perih akibat tamparan. Dia tidak terima oleh perlakuan gadis itu. Tangannya terangkat untuk membalas Alina tapi sebelum dia melayangkan pukulan, sebuah tangan menahan.


Zaky menoleh lalu menggelengkan kepala dengan gerakan mencemooh.


" Kau lagi," decaknya kesal


" Minta maaf pada mereka kalau kau masih sayang dengan nyawamu,"Titah Max sambil mengeratkan cengkramannya pada pergelangan pria itu.


" Ayolah bung, gak usah sok jadi pahlawan kemarin kau mengganti uangku untuk menebus Gladys bukan tidak mungkin kau malah menidurinya, dan sekarang kau membela temannya, aku akui dia jauh lebih cantik dari Gladys, kurasa dia juga liar diatas ranjang, Hehehe," racau Zaky semakin menjadi .


Buk..buk..buk


Max menghajar Zaky habis-habisan dan tidak memberinya kesempatan untuk membela diri. Orang - orang hanya menonton tak berani melerai, Dalam keadaan marah Max nampak mengerikan.


Melihat Zaky sudah babak belur barulah Adrian dan juga Morgan memisahkan mereka lalu membawa Zaky pergi dari sana.


Max menghampiri Alina, dia membuka jas yang dikenakannya dan menyampirkan pada gadis itu.


" Saya antar kamu pulang," titah Max dingin lalu menggenggam tangan Alina dan membawanya keluar.


" Gladys..Tasya" ucap Alina bingung.


" Adrian akan mengurus mereka,"


Alina tidak berkata- kata lagi sampai Max melajukan kendaraannya.


***


Happy Reading ya guys,, jangan lupa vote dan comment 🙏


With love

__ADS_1


Dik@


__ADS_2