
"Gan, aku minta maaf karna sudah membuat kamu pusing dengan semua keluhanku, aku hanya butuh kejelasan," ucap Alina dengan nada menyesal, dia tidak punya pilihan, jika memang Morgan tidak bisa membantunya, tidak masalah. Dia akan mengambil alih untuk menelisik sejauh mana kasus Bryan ditangani.
Selama ini dia berusaha diam dan sabar karena menghargai Pak Leo dan juga Morgan, dia tidak ingin mendahului, tapi semakin kesini dia merasa Morgan tidak lagi serius. Bahkan belakangan dia terkesan menghindar dari Alina, meskipun beberapa kali ketemu di ruang meeting, Morgan tetap bergeming dan hanya membahas masalah pekerjaan tanpa memberi Alina kesempatan bertanya hal lainnya.
Alina sudah putus asa, perasaan tentang adanya konspirasi di perusahaan juga tidak beralasan, sejauh ini tak ada sesuatu yang mencurigakan. Mungkin memang pikirannya saja yang berlebihan.
Dia memutuskan untuk fokus mengurus kasus di kepolisian saja. Tapi tidak mungkin dia serta merta ikut campur, selama ini dia tidak pernah dilibatkan, jadi Morgan perlu menjelaskan kepada pihak kepolisian akan posisinya untuk menghindari kesalah pahaman.
"Maaf Alin, cobalah mengerti semua sudah berjalan sesuai prosedur," ucap Morgan penuh penekanan.
"Tapi ini sudah terlalu lama gan, dan sampai sekarang belum ada kepastian,"
Morgan tersenyum kecut.
"Baru tujuh bulan Alin, diluar sana banyak kasus yang mengambang bahkan hingga bertahun-tahun baru bisa terungkap, ini tidak semudah yang kamu kira, apalagi kita tidak memiliki satupun clue yang bisa dijadikan pegangan, tidak ada bukti, tidak ada saksi," sergah Morgan dengan suara keras hingga menarik perhatian beberapa orang yang melintas.
Hati Alina mencelos, bulir bening mengambang dipelupuk matanya. Morgan jadi tidak tega, dia merasa bersalah sudah terlalu kasar pada gadis itu.
"Maafkan aku Alin, aku gak bermaksud membuat kamu tertekan, tapi kamu harus menerima keadaan, ada waktu dimana kita dituntut untuk bersabar," ucap Morgan dengan lembut, sebelah tangannya terulur memegang bahu Alina, berusaha menguatkan gadis itu.
Alina mengusap matanya dengan sapu tangan yang diberikan Morgan.
"Aku hanya ingin memberikan keadilan buat Bryan, aku tidak bisa tenang sebelum penjahat itu mendapatkan balasan,"
" Aku mengerti Al, "
"Tidak adakah yang bisa kita lakukan?"
Morgan menggeleng.
"Didalam hidup ini semua perbuatan akan ada balasannya, cepat atau lambat mereka pasti tertangkap, biarkan pihak berwenang yang bekerja, yang harus kamu lakukan adalah berdoa,"
Alina mengangguk mengerti, " Makasih gan, maaf aku sudah menahan kamu disini,"
" Gak papa Alin, kalau begitu aku permisi dulu, masih ada klien yang harus aku temui," pamit Morgan setelah memastikan Alina baik- baik saja.
Alina kembali mengangguk, dia memang tadi mencegat Morgan begitu mereka bertemu di lobi, Alina baru kembali dari lapangan, memeriksa beberapa proyek yang sedang berjalan. Sementara Morgan sendiri bergegas hendak pergi. Alina pun tidak membuang kesempatan. Beruntung Morgan mau diajak bicara.
Alina beranjak dari duduk dan berjalan menuju lift, namun dia merasa aneh ketika berpapasan dengan karyawan lainnya, mereka tampak berbisik-bisik dan menatap sinis pada Alina.
Karna merasa tidak ada yang salah dengan dirinya Alina bersikap biasa dan menyapa mereka dengan ramah, sayangnya mereka malah acuh dan mengedikan bahu seolah jijik dengan gadis itu.
Keheranan Alina semakin bertambah begitu sampai diruangannya, dia kembali menerima pandangan sinis dari rekan-rekan setimnya, bahkan Gladys yang notabene teman akrabnya juga mengabaikan sapaan Alina dan berpura- pura sibuk dengan pekerjaannya.
Melihat situasi itu, Tasya langsung menarik tangan Alina keluar ruangan tersebut dan membawanya ke pantry.
" Apa yang terjadi Sya, kenapa mereka mendadak bersikap seperti itu sama aku?" tanya Alina bingung. Ketika dia pergi tadi pagi, semua baik- baik saja.
Tasya menghela napas, dia kasihan pada sahabatnya itu. Dia bingung bagaimana harus mengatakan.
"Jawab dong Sya, jangan bikin aku penasaran,"
__ADS_1
desak Alina.
Tasya mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menunjukkan sebuah foto pada Alina.
Alina terkejut melihat gambar di ponsel Tasya, kebersamaannya dengan Max kemarin malam tercetak jelas disana. Dahinya berkerut, bagaimana bisa ada foto dirinya dan Max, dia sendiri tidak mengabadikan momen apapun malam itu.
" Mahira yang mengirimkannya ke group ladies kantor," jelas Tasya seolah tahu apa yang dipikirkan Alina.
" Mahira? dari mana dia mendapatkan foto- foto ini?"
Tasya menggeleng " Aku juga tidak tau Al, mungkin kamu tidak menyadari kehadirannya, yang pasti Mahira berhasil memprovokasi mereka,"
Alina sekarang paham, wajar saja rekan wanitanya dikantor ini marah karena sudah jadi rahasia umum kalau mereka menyukai Max, tidak semua memang karna sebagian sudah ada yang berkeluarga. Tapi ada yang benar-benar serius menyimpan perasaan pada Max.
"Udah Al gak usah dipikirkan,nanti juga adem sendiri," Tasya mencoba santai meskipun dia tidak yakin. Karena Gladys salah satu orang yang serius mencintai Max. Alina tidak tahu karena Gladys pandai menutupi.
" Aku gak bermaksud membuat mereka kecewa, tapi aku juga bingung, aku...," Alina terisak.
Siapa yang harus disalahkan kalau pada akhirnya dia sendiri juga memiliki perasaan pada Max. Walaupun rasa itu masih terbagi dengan cintanya kepada Bryan.
Tasya memeluk gadis itu dan mengusap punggungnya.
" Aku mengerti Al, dan aku tidak menyalahkan siapapun, baik kamu dan Pak Max kalian berhak untuk menentukan pilihan kalian, yang harus mengerti itu mereka, cinta tidak bisa dipaksa,"
" Makasih Sya, cuma kamu yang mengerti aku," ucap Alina sambil menghapus air matanya
Tasya tersenyum, "Its okay dear, aku akan selalu ada untuk kamu,"
Plok...plok..
" Wah...wah lihat siapa yang datang, gadis tercantik di mega buana memasuki ruangan,,jeng..jeng," Mahira membuat aksi sedemikian rupa.
Alina mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan kepancing Al, tahan emosi kamu," bisik Tasya mengingatkan.
Alina mengangguk, dia memang berusaha keras agar tidak terpengaruh oleh Mahira. Dengan santai dia melangkah menuju meja kerjanya.
"Aku akui kamu hebat dalam memikat para pria dengan wajah polos kamu Alina Maharani, belum beberapa bulan Bryan meninggal kamu sudah membuangnya dan menggantikan dengan orang lain," sindir Mahira.
Alina tetap diam dan tidak menggubris omongan gadis yang sudah duduk didepan mejanya. Dia menyibukkan diri mengotak Atik komputernya.
"Awalnya aku pikir kamu memang cinta mati dengan Bryan, dan mungkin mereka semua juga berpikiran sama, tapi tak ada yang menduga kamu move on secepat itu, kemana airmatamu pergi, atau jangan-jangan itu airmata palsu biar kita empati sama kamu, kasihan sekali Bryan, " lanjut Mahira memanasi.
Seketika Alina merasakan darahnya mendidih, tapi dia tetap bergeming, melawan wanita gila seperti Mahira hanya akan membuang energinya saja.
Sementara Mahira tersenyum puas, perkataannya sukses mempengaruhi orang-orang untuk membenci Alina. Memang itu tujuannya. Dia sudah muak harus bersikap baik pada gadis itu. Kalau bukan karena kakak iparnya Leo , tidak sudi dia bermanis-manis dengan Alina.
Dari awal dia iri karena Alina mudah sekali mendapat perhatian orang disekitarnya, sementara dia tidak mendapat tempat sedikitpun, padahal Alina bukan siapa- siapa , hanya tunangan Bryan. Itulah alasan kenapa dulu dia berusaha menghancurkan hubungan Alina dan Bryan. Sialnya dia gagal.
" Setelah Bryan, sekarang kamu malah mengincar Max, memangnya kamu pikir dunia ini milik kamu saja, kamu gak sadar apa kalau mereka juga menyukai Max, dan mereka mengenal Max lebih dulu dari kamu, jangan egois dong," dengkus Mahira lagi
__ADS_1
" Cukup!!!"
Alina menggebrak mejanya sendiri. Dia tidak bisa menahan lebih lama lagi, Mahira sudah keterlaluan.
Gadis itu menatap tajam pada Mahira sambil mengarahkan tunjuknya.
" Jangan mencampuri urusanku, kamu pikir aku tidak tahu maksud kamu sebenarnya, kamu iri kan sama aku, karena kehadiran aku lebih diterima di perusahaan ini ketimbang kamu, bahkan kakak iparmu sendiri tidak sudi melibatkanmu dalam bisnisnya, heh" ucap Alina pedas.
Wajah Mahira berubah pias mendengar perkataan Alina.
" Dan jangan sok tahu soal perasaan aku pada Bryan. Karena sampai kapanpun, Bryan tak akan pernah tergantikan. Lagipula apa urusanmu jika aku move on, apa kamu merasa tersaingi? apa kamu takut kalah langkah lagi?"
"Kau," Mahira mengatupkan geraham dan balas menunjuk Alina
" Apa? kamu tidak terima, faktanya kan memang begitu, kamu itu looser Hira. Hanya bisa mengandalkan Pak Leo, kalau bukan karena beliau, kamu tidak lebih dari butiran debu disini," tukas Alina makin menjadi. Orang seperti Mahira memang perlu diberi pelajaran.
kalau tidak dia akan semakin merajalela.
Mahira semakin gusar " Awas kamu Al, saya tidak terima dihina seperti ini,"
Alina tersenyum sinis,
" Seharusnya kamu introspeksi diri Hira, bukannya menyalahkan orang lain,"
Karena sudah tersudut, Mahira melengos pergi dari sana dengan wajah merah padam.
Tasya lega karena Alina bisa mengatasi nenek lampir itu dengan cara yang elegan.
"Dan buat kalian, aku minta maaf kalau sekiranya kedekatan aku dengan Pak Max membuat kalian merasa dikhianati. Apapun yang terjadi diantara aku dan Pak Max itu sudah menjadi takdir Tuhan. Aku terima kalau kalian membenciku, yang pasti tak ada satupun manusia yang bisa menolak kalau Tuhan sudah berkehendak. Sekali lagi maafkan aku," lanjut Alina sambil menangkupkan tangannya didepan dada.
Semoga kalian mengerti, batin Alina berharap.
Dia sudah berusaha jujur, walaupun diantara dirinya dan Pak Max sekarang belum ada hubungan apa - apa , kedepannya dia tidak akan tahu.
Alina tidak ingin memberikan orang lain harapan, sementara dia sendiri juga memiliki harapan yang sama.
Dengan langkah gontai Alina meninggalkan ruangan yang mendadak di sergap kesunyian.
Baru sampai di pintu, kepalanya terasa sakit dan pandangannya memburam. Tangannya bergerak cepat mencari pegangan.
Sebelum dia terjatuh, sebuah tangan kokoh merengkuh tubuhnya. Dan semuanya menjadi gelap.
***
Bantu vote dan commentnya ya teman -teman🙏
Semoga kalian suka dengan cerita ini😍 jangan lupa masukkan dalam daftar cerita favorit kalian.
With Love
Dik@
__ADS_1