Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
37. Happy New Year


__ADS_3

" Yeay happy new year all, " sorak Alina gembira. Begitu juga dengan semua orang yang ada di pantai area Mulia Jaya Resort. Gemerlap langit Bali begitu indah, bertaburan kembang api aneka rupa. Semarak pergantian tahun dihiasi dengan sukacita. Bunyi khas terompet menggema menambah riuh suasana.


Alina dan kedua sahabatnya saling mengucap selamat tahun baru bersama keluarga Max . Semuanya berkumpul kecuali Adinda yang memilih istirahat di kamar karena tidak sanggup berlama-lama diluar mengingat kehamilannya.


Tak hanya Adinda, Orion juga tak terlihat batang hidungnya.


" Dia ada acara sendiri diclub bersama teman-temannya sayang, " jawab Widyawati begitu Alina menanyakan keberadaan pria tersebut. Tentu saja, mana mungkin pria tipikal Orion betah berada ditengah acara keluarga seperti ini. Hingar bingar music elektrik , ditemani gadis seksi dan juga minuman pasti lebih menarik.


Puas mengabadikan momen dengan kamera hitam yang tergantung dileher, Alina beranjak menepi dari keramaian untuk memeriksa ponselnya. Baru saja membuka layar benda pipih itu, dia terkejut dengan banyaknya panggilan yang tak terjawab, dari ibu, mbak Audrey, bang Aditya dan yang pasti dari sang kekasih hati, Max.


Alina terkekeh sendiri, larut dalam euforia perayaan membuat dia lupa ada orang-orang yang menunggu kabar darinya.


Jemari gadis itu bergerak cepat, satu persatu dia menghubungi orang-orang tersayang, untuk menghemat waktu dia membuat video call grup bersama ibu dan juga kakaknya. Ngomong- ngomong soal bang Aditya, dia hanya sempat bertemu sebentar pas hari pertamanya di bali, karena setelah itu bang Aditya dan istrinya lansung terbang ke Lombok, karena ada project pra -wedding sekalian berlibur disana.


" Al, buruan bahannya udah siap semua nih," seru Tasya berteriak.


Alina mengacungkan jempol membalas panggilan sahabatnya itu. Dia pun


menyudahi sambungan dan menunda untuk menghubungi Max. Di Jerman sekarang masih jam tujuh malam, mungkin Max masih berkutat dengan pekerjaan, jadi dia memutuskan akan menelponnya nanti saja.


Alina segera menghampiri Tasya dan yang lain. Mereka akan mengadakan barbeque-an. Layaknya kebiasaan di malam tahun baru. Mereka akan menghabiskan waktu dengan bergadang sambil menikmati menu bakaran.


Mereka mulai berbagi tugas, Alina menata tusukan sate daging kambing diatas pemanggangan, Gladys membakar jagung. Sementara Tasya dan Aira, putrinya Tante Diana membumbui steak daging dan menyiapkan bumbu cocolan. Sementara para pria kebanyakan hanya menjadi penonton.


" Sepertinya tante harus kembali ke kamar, angin malam membuat perut tante kembung sayang," ucap Widyawati pada Alina.


" Tante sakit? mau aku ambilin obat," tanya Alina perhatian.


Widyawati menggeleng, " Gak usah sayang, biar tante istirahat aja,"


" Ya udah kalian lanjutkan, om juga pamit mau mengantar tante," timpal Hardi mengikuti langkah sang istri.


" Dasar modus, bilang aja kalian ingin berduaan," ledek Diana mengetahui maksud terselubung pasangan senja tersebut.


Widyawati dan Hardi tertawa bersamaan menyisakan ketidakmengertian Alina.


" Udah gak usah bingung sayang, nanti kamu juga mengerti sendiri," ujar Diana menyadari ekspresi Alina.


" Sayang, gimana kalau kita ke kamar juga," timpal Hans, suami Diana.


" Papa gak mau kalah ya," ucap Diana mengerlingkan mata pada suaminya. Hans mengangguk antusias, dan akhirnya mereka juga pamit meninggalkan tanda tanya dibenak Alina, padahal tadi sore para orangtualah yang paling semangat. Tapi kenapa mendadak pada kabur.


" Biasa Al, mereka lagi kena syndrom pubertas," kekeh Aira.


" Memang pada ngapain sih," Alina mengungkapkan keheranan.


" Serius kamu gak mengerti?" Aira melongo menatap Alina.


Alina mengangguk polos.


" Jangan pura-pura Al, kalau ada Max pasti kamu kabur juga kan," tuding Tasya.

__ADS_1


Alina mulai mengerti sekarang, " Oh jadi mereka mau mesra-mesraan, ngomong dong kalau itu mah aku ngerti," Alina cengengesan.


" Berarti kamu sering dong mesra-mesraan sama Max," kali ini Vian suami Aira yang angkat bicara.


Alina tersipu malu, baru saja dia membuka aibnya sendiri, untuk mengatasi salah tingkah dia mencomot sate yang sudah matang. mencelupkannya kedalam kecap, meniup dan memasukkan kedalam mulut.


" Kalau diam berarti iya," ujar Aira


" Ya apa salahnya, pacaran kan rentan dengan suasana romantis, pegangan tangan, pelukan, cium pipi, elus-elus paling jauh ciuman bibir," tukas Alina dengan mulut yang sibuk mengunyah.


Sontak mereka semua tertawa mendengar celotehan gadis itu.


Alina mengernyit, apa yang dia katakan barusan salah?


" Umur kamu berapa sih Al, " tanya Aira penasaran


" 25,"


" Dan umur segitu kamu mendeskripsikan sebuah hubungan sebatas itu, kayak ABG aja"


" Iya , emang ada yang salah ?"


" Gak salah sih, cuma ada yang lebih dari itu , emangnya kamu gak kepikir making love gitu?"


tanya Aira hati-hati.


Alina tegas menggeleng, " No sex before marriage, itu prinsip aku dari dulu,"


"Jadi kamu udah mengerti kenapa para Tante dan om pada kabur," Tasya mengalihkan pembicaraan, dia sendiri belum punya pacar, gimana mau tau rasanya bermesraan, oh poor you Tasya.


Alina tersenyum simpul, dia sekarang paham.


" Udah tua makin semangat ya," Alina tertawa geli.


" Makin menjadi malah Al, cobain deh ntar kalian bakal ketagihan,"


" Apaan sih Ai," ucap Alina dan Tasya bersamaan.


***


Selesai menuntaskan panggilan alam, Gladys bergegas keluar dari toilet dan melangkah menuju kamar. Semakin malam udara semakin dingin, karena dia memakai blouse pendek membuat dia tidak kuat dan bermaksud mengambil jaket. Tadinya Tasya mau menemani, tapi Gladys menolak karena tak ingin merepotkan, jarak dari pantai ke cottage lumayan jauh.


Dalam perjalanan, dia melihat seorang pria berjalan terseok dengan badan limbung ke kanan dan kekiri. Dari penerangan lampu yang ada dipinggiran, Gladys mengenali sosok tersebut.


" Orion"


Melihat kondisi Orion yang sempoyongan, dia yakin Orion sedang mabuk, Gladys membiarkan saja, dia tidak mau mendapat masalah jika harus bertemu dengannya. Gladys memutuskan untuk berputar arah, sayangnya Orion sudah menyadari keberadaan gadis itu.


" Hei kamu, kemarilah," titahnya pada Gladys.


Gladys mengabaikan ucapan Orion, pura-pura tidak mendengar dan terus melangkah.

__ADS_1


Brukk


Terdengar hantaman yang cukup keras, membuat Gladys mau tak mau menoleh. Matanya membulat mendapati Orion tersungkur ditanah. Pria itu meringis menahan sakit, spontan gadis itu berlari menghampiri.


" Anda tidak apa -apa tuan, " Tanya Gladys mengguncang tubuh pria itu.


Orion tidak menjawab dia hanya menggumam tidak jelas. Gladys mengedarkan pandangan, mencari pertolongan. Tak ada seorangpun disana. Gladys pun tidak tega meninggalkan, dia memutuskan membantu pria itu berdiri.


" Mari saya antar ke kamar anda," ucapnya sambil memapah, tubuh Orion yang tinggi cukup menyulitkan, tapi Gladys terus berusaha. Dalam posisi sedekat ini, Gladys bisa mencium wangi parfum Orion yang bercampur aroma minuman keras dan asap rokok. Entah berapa botol yang dihabiskan pria itu, hingga dia terlihat begitu teler.


Perlahan namun pasti, Gladys berhasil mengantar Orion. Setelah memasukkan kartu yang dia ambil dari saku Orion, Gladys membuka pintu.


Sampai didekat ranjang, dia melepaskan tubuh pria itu hingga terhempas ke atas kasur. Gladys berbalik hendak keluar, tapi tangan pria itu malah menahannya.


" Lepaskan tuan, saya harus kembali, " Gladys meronta. Rasa takut menyeruak dihati Gadis itu menyadari Orion tak lagi memejamkan mata. Pria itu kini menatap Gladys dengan sorot yang sulit diartikan, bola matanya memerah mungkin efek dari alkohol.


" Temani saya disini,"


***


Selesai mengabadikan sunrise pertama di tahun baru, Alina merentangkan kedua tangan menghadap lautan, menikmati semilir angin pantai di pagi hari terasa sangat menyenangkan.


Alina tak ingin semuanya berakhir begitu cepat. Masih ingin merasakan keindahan suasana alam yang jarang dia dapat. Sayangnya dia tidak bisa memperpanjang liburan mengingat nanti sore mereka harus kembali ke Jakarta.


" Al , balik yuk," ajak Tasya. Pantai mulai sepi, semua orang yang bergadang sampai pagi sudah kembali ke kamar masing -masing.


Alina mengangguk dan mengikuti langkah Tasya sambil menjinjing sendal miliknya.


" Seru banget ya Al, rasanya gak pengen pulang," ucap tasya


" Aku juga mikir gitu Sya, tapi mau gimana kantor hanya memberi waktu tiga hari,"


" Semoga saja tahun depan kita bisa seperti ini lagi ya Al,"


Alina tersenyum sambil mengaminkan keinginan Tasya.


Sampai di kamar , mereka mendapati Gladys sedang meringkuk dibawah selimut, melihat Gladys yang pulas, Alina mengurungkan niatnya membangunkan gadis itu untuk menanyakan keadaan, dia khawatir. Semalam menyadari Gladys belum kembali ketempat acara, Alina hendak menyusul tapi Tasya mencegah , karena Gladys sudah mengabarinya lewat chat pesan.


Sambil menunggu gilirannya ke kamar mandi Alina mencoba menghubungi Max.


Beberapa kali mendial, tidak ada jawaban, mungkin Max masih tidur, atau malah merajuk karena dia tidak mengabarinya. Poin kedua membuat Alina ketar-ketir, meskipun Max bukan tipe pria seperti itu, justru dia sendiri yang sering mengambek tidak jelas. Alina mengirim pesan menanyakan keadaan Max.


Dia mendesah kecewa mendapati pesan yang dia kirim masih centang satu. Diapun beranjak dari duduk lalu mencharge ponselnya diatas nakas di sebelah tempat tidur.


Belum ada tanda kalau Tasya akan selesai, gadis itupun membaringkan tubuh sejenak, hingga tanpa sadar terlelap beberapa saat. Dia tersentak begitu Tasya mengguncang tubuhnya.


" Max menelpon terus, terpaksa aku angkat , dia bilang menunggu kamu diresto,"


" What?" pekik Alina tak percaya hingga membuat Gladys ikut terbangun. Bagaimana mungkin Max ada disini, bukannya dia lagi di Jerman. Bergegas dia memeriksa pesan di ponsel, ada balasan dari Max dan sama seperti yang dikatakan Tasya, kalau pria itu menunggunya direstoran. Secepat kilat Alina menyambar bathrobe dan berlari menuju kamar mandi.


***

__ADS_1


Jangan lupa bantu vote dan komen ya 🤗


__ADS_2