Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
21. Tak Bisa Jauh


__ADS_3

Alina sangat antusias mendengar ibu bercerita tentang Zizi dan Dirga, keponakan barunya. Dia sungguh tidak sabar bertemu langsung dengan mereka, meskipun setiap hari video call dengan Mbak Audrey, tapi Alina tidak merasa puas. Alina memang sangat menyukai anak-anak, dulu sewaktu masih sekolah dia bercita cita menjadi Guru TK, apalah daya melihat kemampuannya menggambar sang ayah menginginkan dirinya menjadi arsitek. Dan Alina tidak mampu menolak karena dia tidak ingin membuat orangtuanya sedih apalagi ayah sedang sakit ketika itu.


Namun Alina tidak menyesali keputusannya mewujudkan keinginan sang ayah, justru dia sangat bersyukur karena kuliah di jurusan arsitektur lah yang mengantar Alina pada pertemuan dengan Bryan, yang tak lain adalah kakak tingkatnya. Mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa butuh waktu lama, mereka pun menjalin kasih, sosok Bryan yang setia dan sabar membuat hubungan mereka awet hingga bertahun lamanya. Alina sangat bahagia bersama Bryan. Tapi sayang takdir kehidupan memisahkan mereka.


"Sekarang ceritakan kenapa Orion bersama kamu," ucap Ranti mengalihkan pembicaraan. Bukan tanpa sebab dia menanyakan hal tersebut. Dari gerak-geriknya, Ranti yakin Orion memiliki maksud tertentu pada putrinya.


Dia tidak mempermasalahkan, jika Orion menyukai Alina, kelihatannya dia juga pria yang baik dan lebih humoris ketimbang adiknya. Hanya saja Ranti terlanjur menginginkan Max yang menjadi menantunya. Feeling-nya mengatakan Alina akan bahagia bersama Max. Tapi Ranti tidak bisa memaksakan kehendak, semua keputusan ditangan Alina dan siapapun yang Alina pilih nanti, dia yakin itu yang terbaik.


" Aku juga gak tau bu, mendadak dia bertamu ke rumah, dan pas aku bilang mau ziarah dan jemput ibu, dia langsung menawarkan bantuan, aku gak enak menolaknya," Jelas Alina


Ranti sudah menduga, dia menatap Alina yang masih asyik menscroll foto yang dikirimkan Audrey lewat pesan di ponselnya. Senyum tak lepas dari bibir gadis itu setiap kali menemukan pose gemas para kesayangannya.


"Sepertinya dia menyukai kamu nak," timpal Ranti yakin.


Alina menoleh.


" Maksud ibu apa?" tanya Alina heran.


"Masa kamu gak ngerti sih, kalau seorang pria datang kerumah seorang gadis tanpa tujuan, itu artinya dia sedang mendekati gadis itu," ujar Ranti menjelaskan.


Sontak Alina tertawa mendengar omongan ibu. Dia tidak habis pikir kenapa ibu bisa mengatakan Orion menyukainya.


"Kok kamu malah tertawa Al, lucunya dimana?"


" Ibu yang lucu, dikit-dikit dibilang suka, kemaren Pak Max, sekarang Mas Orion, besok siapa lagi bu, masa semua pria suka sama aku," tukas Alina seraya beranjak dari tidur. Dia mengambil charger dari laci nakas dan menghubungkan dengan ponselnya yang lowbat. Setelah itu dia colokkan pada stop kontak disebelah tempat tidur.


"Gak gitu juga kali Al, kalau Max dan Orion ibu yakin seratus persen mereka ada hati sama kamu,"


Alina terdiam.


Kalau soal Orion, Alina tidak ambil pusing tapi kalau Max, entah kenapa selalu menyisakan desiran dalam hatinya, jika benar Max menyukainya lalu mengungkapkan perasaannya pada Alina, apa yang harus dia katakan. Apakah dia akan menerima atau menolak?


Akh, apa yang aku pikirkan, gadis itu menepis pikirannya sendiri, dia tidak boleh berharap banyak, karena akan menyakitkan jika ternyata Max tidak memiliki perasaan apapun. Mungkin saat ini yang dia rasakan pada Max juga sebatas keinginan sesaat. Tidak seperti cintanya pada Bryan.


Tok ...Tok...


"Bu, Non, ada Pak Max didepan," suara Mbak Asti membuyarkan lamunan Alina.


Ranti dan Alina saling berpandangan, Ranti tersenyum penuh arti .


"Tuh, baru aja diomongin," ucapnya sambil melangkah ke pintu.


Tanpa sadar Alina ikut tersenyum samar, dia beranjak dari duduk dan mematut dirinya depan cermin, membenahi penampilannya yang sedikit berantakan.


" Jangan kelamaan, kasian pangerannya nungguin," ujar Ranti lagi


" Ibuuuuuuu," rengek Alina manja, Ranti terkekeh berhasil menggoda putrinya.


Setelah ibu keluar, barulah Alina melanjutkan aktifitasnya, dia mengambil salah satu lip gloss favorit dan membubuhkan dibibirnya yang mungil, tak lupa dia menyemprotkan parfum aroma soft dititik nadinya.


Alina tercenung menyadari apa yang baru saja dia lakukan, kalau seperti ini dia tidak ada bedanya dengan rekannya yang lain, berusaha terlihat cantik didepan Max, kalau mereka punya tujuan untuk menarik perhatian Max, sementara aku? apa yang aku harapkan dari Max, gumamnya seorang diri.


Alina bergegas keluar kamar sebelum dia semakin pusing dengan berbagai pertanyaan yang jawabannya dia sendiri yang tahu.


Sampai di ruang tamu, Alina menganggukkan kepala sopan seraya tersenyum. Dia berusaha untuk bersikap seperti biasa. Max juga melakukan hal yang sama bedanya dia sedikit terpesona. Alina makin menggemaskan dengan bando yang dikenakannya.

__ADS_1


" Nah yang dicari udah datang nih, kalau begitu ibu tinggal dulu ya nak, silahkan di minum tehnya, " ucap Ranti mempersilahkan.


"Makasih Bu, " balas Max sopan.


Sepeninggal Ibu Alina. suasana menjadi sunyi, baik Max maupun Alina sama-sama terdiam, keduanya nampak canggung.


"Hmm, apa saya menganggu waktu kamu Al?" Max memulai percakapan lebih dulu.


Alina menggeleng.


" Nggak kok pak, saya juga lagi santai sama ibu,"


"Saya minta maaf, kalau tadi saya gak sempat jemput ibu, ada sedikit urusan yang harus saya selesaikan,"


" Gak papa pak, saya mengerti. Lagipula Mas Orion tadi kesini, dia yang ngantar saya ke bandara," ucap Alina jujur.


"Oh ya, tumben banget tu anak ramah begitu," Max pura pura tidak tahu.


Andai saja kamu tau Al, saya juga disana. Dan saya cemburu melihat kedekatan kalian.


" Memangnya selama ini Mas Rion jutek ya pak?"


Max tertawa tipis "Bukan jutek sih, tapi lebih ke cuek, kalau dia tiba-tiba care sama seseorang ada kemungkinan dia ada tujuan," tukas Max dengan sedikit provokasi, dia masih tidak terima kalau Orion berusaha menikungnya.


Alina mengernyitkan kening. Persis seperti yang ibu bilang.


" Tujuan, maksud bapak?" gadis itu balik bertanya.


" Mungkin Orion ingin berteman, dia memang suka begitu, kalau nyaman sama seseorang dia pasti akan mendekati orang tersebut,"


Alina masih tidak mengerti, pernyataan Max terdengar membingungkan.


" Sudahlah, gak usah dibahas," ujar Max begitu melihat ekspresi Alina. Dia tidak ingin suasana hatinya berubah karena membicarakan pesaingnya sendiri.


Sejujurnya saat ini dia sangat merindukan Alina, beberapa hari ini gadis itu terus menghindar dan dia merasa kehilangan. Sejak dekat dengan Alina, dia tidak bisa jauh dari gadis itu. Hidupnya hampa ketika tidak memandang ataupun mendengar suara Alina walau sejenak.


Alina sudah mengikat dalam perasaannya, bahkan boleh dikatakan seorang Maxime telah menjadi budak cinta, meskipun semua itu dia lakukan dalam diam.


" Gimana kalau kita makan malam diluar," ajak Max kemudian. Berharap dia bisa membangun kembali komunikasi yang terputus beberapa hari ini karena kejadian malam itu.


Dia tidak bisa lagi santai seperti sebelumnya dan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Orion akan merasa berada diatas angin. Jika Orion maju selangkah maka dia harus maju lima langkah didepan.


"Makan malam, dijam segini?" tanya Alina sambil melirik arlojinya yang menunjukkan pukul jam delapan malam, belum terlalu larut memang, tapi dia tidak terbiasa mengonsumsi makanan berat dijam segitu.


" Memangnya kenapa? kamu diet? "


Alina menggeleng, beratnya sudah ideal. Sebanyak apapun dia makan tidak berpengaruh pada bobot tubuhnya. Dia cuma berusaha hidup sehat.


" Lalu? belum terlalu malam kan, lagipula besok masih libur," desak Max lagi. Raut wajahnya penuh harap.


" Okay, tunggu sepuluh menit,"


Max tersenyum sumringah, tadinya dia siap dengan kemungkinan ditolak. Alina mau menemuinya saja sudah sangat disyukuri, Semoga ini pertanda baik.


Tak berapa lama, Alina sudah selesai berganti pakaian, gadis itu tampil dengan setelan casual sama dengan dirinya, kaos warna nude dipadu dengan jaket denim dan skinny jeans. rambutnya dikuncir kuda. Max selalu menyukai selera fashion Alina yang menurutnya simple dan tidak berlebihan. Tapi tetap menawan.

__ADS_1


" Kamu cantik," puji Max tulus.


" Makasih, saya gak punya uang receh pak," balas Alina berusaha menyembunyikan blushing dipipinya. Max terkekeh.


Setelah berpamitan dengan Ibu Alina, mobil Max melaju dijalanan.


" Kita mau makan dimana?" tanya Max


tanpa mengalihkan fokusnya menyetir.


" Terserah aja, kan bapak yang ngajak,"


Max berpikir sejenak "Gimana kalau kita dinner di Resto Jepang, saya pengen makan ramen,"


ujarnya memberi ide.


Alina mengangguk setuju, dia juga sudah lama gak makan masakan jepang yang selalu jadi kesukaan dia sama Bryan.


Dan Ramen juga favoritnya Bryan. Alina mendesah nelangsa, disaat seperti ini Bryan selalu saja hadir dipikirannya, apa itu pertanda kalau dia memang tidak boleh melupakan Bryan.


Maafkan aku sayang, aku gak bermaksud mengkhianatimu, aku tidak mengerti kenapa aku jadi seperti ini, batin Alina sedih


Mobil Max parkir disalah satu resto Jepang terkenal di ibukota dan boleh dibilang cukup bergengsi, kalau dia tidak salah resto ini milik seorang artis terkenal.


"Gak papa kan makan disini,"tanya Max begitu membukakan pintu mobil untuk Alina.


" Gak papa pak,"


Max dan Alina jalan bersisian masuk kedalam resto dengan design vintage tersebut, baru beberapa langkah, Alina merasa tubuhnya diserang aliran listrik volume rendah saat jemari Max menggenggamnya.


Bukan yang pertama kali, tapi kedekatan mereka belakangan membuat Alina gugup.


Alina memandang pada pria itu, tapi Max tetap berjalan acuh seolah tak ada yang salah dengan perlakuannya.


Alina bingung harus bersikap bagaimana, tidak mungkin dia menarik tangannya dihadapan semua orang yang kini memperhatikan kehadiran mereka, terutama para wanita yang menatap kagum pada Max.


Alina tidak terima saat Max terus saja menjadi perhatian, para wanita itu menatap Max dengan pandangan memuja, bahkan ada yang mengabaikan pasangan mereka sendiri.


Mendadak sebuah ide muncul dibenak Alina. Perlahan dia mendekatkan tubuhnya pada Max, dan menempelkan pipinya dilengan pria jangkung itu, sekarang mereka terlihat seperti pasangan yang mesra. Alina tertawa dalam hati saat para wanita menatap iri padanya.


Max bukanya tidak menyadari sikap Alina, dia tau Alina sedang memanas manasi para wanita yang terus memperhatikannya dan dia malah senang karena secara tidak langsung gadis itu memperlihatkan kecemburuannya.


cast



Maxime Arlingga Yogatama



Alina Maharani


*Ini hanya kehaluan author, kalian boleh berhalu dengan sosok yang berbeda😁


***

__ADS_1


Happy Reading ya, jangan lupa vote dan comment, masukkan ke favorit kalian biar gak ketinggalan ceritanya,, dijamin makin seru..😍


__ADS_2