Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
62. Mendung Kelabu


__ADS_3

Katakan, apa yang lebih menyakitkan dari pada kehilangan. Terlebih kehilangan orang yang sangat kita cintai. Rasa sakitnya sangat dalam hingga menembus tulang. Remuk redam, hancur bahkan tidak terima adalah perasaan yang berkecamuk di dada. Apalah daya sekuat apapun kita menolak, takdir sebagai manusia sudah ditentukan yang Maha Pencipta. Tak bisa dihindari ataupun dihalangi, itulah makna hidup yang sesungguhnya.


Mendung kelabu yang menggelayut di langit Jakarta pagi ini mengiringi duka kepergian seorang insan manusia yang sangat di cintai oleh anak-anaknya. Semenjak dari rumah sakit hingga ke pemakaman ketiga bersaudara itu saling menguatkan berusaha mengikhlaskan kepergian ibu tercinta. Hingga pemakaman usai dilakukan mereka seolah enggan untuk beranjak meskipun satu persatu pelayat yang hadir sudah meninggalkan area tersebut menyisakan orang-orang terdekat.


Mereka bersimpuh didepan gundukan pusara yang dipenuhi kelopak bunga mawar yang mengeluarkan aroma semerbak.


" Ibu istirahat yang tenang ya, aku tau ibu pasti merindukan ayah, makanya ibu pergi secepat ini, aku tidak sanggup berpisah dengan ibu, tapi demi kebahagiaan ibu, aku ikhlas bu, hiks" isak Alina memegang nisan yang bertulis kan nama sang ibu.


Aditya merangkul bahu Alina, " Maafkan aku bu, maafkan aku sudah membuat ibu sakit dan saudaraku menangis, aku memang tidak berguna, tapi aku janji akan menjaga mereka untuk ibu, "


Audrey tidak sanggup mengatakan apapun, airmata yang tidak berhenti mengalir sudah menggambarkan bagaimana hancurnya dia saat ini. Seluruh episode tentang ibu terngiang di benaknya bagaimana ibu melindunginya dan menguatkannya dari masalah yang ditoreh mantan suaminya. Kalau tidak ada ibu dan juga Alina mungkin saat ini dia mengalami depresi.


Sementara itu...


Max dan Hardi masih dalam penerbangan menuju Jakarta. Setelah melewati proses panjang dalam antrean jadwal terbang akhir nya mereka berhasil pulang dengan private jet, beruntung cuaca sudah mulai membaik. Jadi sejauh ini tidak ada masalah. Sayangnya Max tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman calon mertuanya.


" Jangan menunda lagi Max, menikahlah dengan Alina, kondisinya saat ini pasti terpuruk, semoga dengan kehadiran kamu dan keluarga kita bisa menggantikan rasa kehilangannya, " ucap Hardi menyeruput secangkir teh hangat yang disiapkan pramugari.


" Aku sudah melamarnya pi, tapi dia belum siap karena masih ada tanggung jawab pada keluarga,"


" Audrey bisa bekerja di salah satu perusahaan kita yang sesuai dengan bidangnya, " usul papi.


Max menghela napas. Pemikiran papi sama dengan dirinya. Diapun menceritakan betapa sulit meyakinkan Alina.


Hardi terkekeh, " Keras kepala sama seperti mommy rupanya, tapi ingat sekeras apapun seorang wanita kalau dihadapkan pada perasaan pasti dia akan mendahulukan perasaannya,"


Max menganggukkan kepala, membenarkan apa yang diucapkan papi, kemaren dia terbawa ego. Bukannya menyakinkan dia malah mengabaikan Alina.


Tak lama suara pilot terdengar memberitahukan kalau pesawat mereka sebentar lagi mendarat di Halim Perdana Kusuma. Max dan Hardi bersiap di tempat duduk mereka. Satu tujuan Max setelah ini adalah mengunjungi Makam Ibu Ranti. Masih cukup waktu hingga senja menjelang.


***


" Saya turut berduka untuk bapak dan keluarga, cuma sesuai kesepakatan kita kemarin besok pagi uang itu harus ada, kalau tidak dengan sangat menyesal kami akan membawa masalah ini ke jalur hukum, " ucap pria paruh baya yang duduk bersila diruang tamu .


Alina merasa geram, pria itu seolah tidak memiliki empati sedikitpun, ibu mereka baru terkubur tadi siang dan dia datang untuk menagih pada Aditya.


Beruntung rumah dalam keadaan sepi, hanya ada mereka kakak beradik, dan juga beberapa saudara jauh yang masih duduk di halaman. Sementara keluarga Max sudah pamit pulang.

__ADS_1


" Tidak perlu mengancam seperti itu pak, kakak saya tidak akan lupa tanggung jawabnya! " ucap Alina dengan raut tidak senang.


Sherly menggenggam tangan Alina dengan cemas. Tak ingin adik ipar nya emosional. Untung Audrey tidur bersama anak-anak, kalau dia ada disini pikirannya akan semakin kalut. Diantara mereka Audrey yang paling lemah, tak terhitung berapa kali dia pingsan sejak kemaren karena tak kuat menahan kepedihan, Fisik Sherly sendiri tidak bisa dikatakan baik, dia hanya berusaha kuat agar tidak merepotkan suaminya.


" Saya cuma mengingatkan mbak, bukan mengancam!" pria itu membela diri dengan intonasi suara yang sedikit tinggi.


" Berapa nominal yang harus dibayarkan?"


" Al kakak akan selesaikan masalah ini, please kamu kekamar aja ya istirahat, " Aditya menengahi ketegangan yang terjadi, pria itu sangat tau dengan watak Alina, dibalik sifat lembutnya, Alina adalah sosok yang keras.


"Gak papa kak, aku akan bantu kakak sebisaku, " tegas Alina menolak


" Delapan Ratus Juta mbak, saya perlu uang itu besok untuk kelanjutan event perusahaan kami, "


Raut Alina berubah tegang, nominal yang tidak sedikit, bagaimana dia mendapatkannya dalam satu malam, bahkan untuk biaya perawatan kemaren saja mereka dibantu oleh Max.


Alina memijit pelipisnya, " Saya akui kami tidak memiliki uang sebanyak itu, kami sedang menawarkan rumah dan juga kendaraan di Bali, saya rasa cukup untuk melunasi hutang kakak saya, tapi memang butuh waktu sampai ada pembelinya atau bisa digantikan dengan itu saja? " Alina mencoba bernegosiasi.


Pria paruh baya yang bernama Brandon itu menggelengkan kepala, " Kalau saja bisa digantikan dengan kedua aset tersebut, saya tidak perlu repot-repot datang kemari dan menagih disaat Pak Aditya dalam keadaan berduka seperti ini mbak, saya juga punya hati, tapi saya butuh dana tersebut untuk pelaksanaan event akhir pekan ini"


Aditya tau sekali proses kerjanya, jadi dia tidak mau bersikeras meminta waktu lebih dari yang diberikan Pak Brandon.


" Saya sudah maksimal membantu mbak, saya bekerja dengan orang, kalau event ini gagal, karir saya juga tamat mbak." lanjut pria itu memohon pengertian.


Alina didera rasa bersalah sempat berpikiran buruk pada pria itu.


" Kasih kami waktu sampai besok pagi, saya akan usahakan dananya malam ini! " ucap Alina memutuskan. Aditya dan Sherly menatap gadis itu tidak percaya.


Pak Brandon setuju, dia yakin Alina akan memenuhi janjinya. Dia pun pamit dan kembali ke hotel.


"Apa yang kamu lakukan Al, darimana kita mendapatkan uang itu dalam semalam!" ucap Aditya lemas.


" Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa membiarkan dia disini tanpa kepastian, sebentar lagi akan ada pengajian, aku tidak ingin memberikan kesan tidak baik tentang ibu pada mereka kak, cukup kita yang tau masalah ini,"


Aditya menghela napas berat, sungguh dia sudah menjadi beban dalam keluarga. Bahkan disaat berduka saja, adiknya malah ikut memikirkan masalahnya.


" Jangan berpikir macam-macam kak, masalah kakak, masalahku juga, " ucap Alina membaca pikiran Aditya, sebelum akhirnya beranjak ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Selesai bersiap, Alina keluar kamar dan mendengar suara bariton yang sangat dia rindukan belakangan ini dari halaman rumah. Gadis itu bergegas keluar dan melihat Max dan juga Om Hardi sudah duduk bersama Aditya dan yang lainnya.


Alina menyalami Om Hardi dibalas dengan pelukan penuh kasih sayang, Hardi menganggap Alina seperti putrinya sendiri. Dia mengusap rambut gadis itu dengan lembut memberikan ketenangan saat gadis itu mulai sesenggukan.


" Yang sabar ya nak, do'akan ibu semoga tenang di sana"


Alina menganggukkan kepala dan menyeka air matanya yang kembali tumpah. Tangan Max terulur membantu gadis itu mengusap wajahnya lalu merengkuh Alina dalam pelukan. Untuk beberapa saat keduanya larut dalam kesedihan


" Maafkan aku, seharusnya aku tidak ke Swiss, dan meninggalkan kamu sendirian, "bisik Max lirih.


" Aku lah yang harus minta maaf Max, hiks"


Keduanya tidak bisa berlama lama dalam mode itu. Tamu-tamu mulai berdatangan dan acara pengajian pun dilakukan dengan khusyuk. Aditya selaku tuan rumah memberikan sepatah kata mewakili pihak keluarga mengucapkan terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan pada mereka dan memohon maaf atas nama almarhumah ibunya.


Setelah acara selesai, dilanjutkan dengan pembagian nasi kotak, yang mungkin lebih dikenal dengan nasi berkat. Adrian menyiapkan segalanya dibantu Gladys dan juga Tasya yang entah sejak kapan kembali lagi ke rumahnya. Tadi Alina tidak melihat kedatangan mereka. Tante Widyawati sendiri sedang berbincang dengan sang suami.


Meskipun hidup dalam kemewahan dan pemikiran yang moderat, keluarga Max masih menjunjung nilai nilai dalam bermasyarakat, sadar dengan keadaan Alina yang tidak mungkin menyiapkan segala sesuatu, Widyawati mengambil alih tanggung jawab sebagai tuan rumah tentunya dengan dibantu Gladys dan juga Tasya.


Alina merasa terharu atas semua yang dilakukan keluarga Max untuknya.


" Sekarang giliran kita yang makan, yuk Al, mommy sudah siapkan prasmanan untuk kita sekeluarga, kalian belum makan apapun sedari pagi, apalagi Sherly, kamu lagi hamil kasian dede bayinya gak dikasih asupan, " ajak Widyawati tulus.


Tak ingin membuat Widyawati kecewa, mereka mengangguk, meski sebenarnya tidak selera.


" Aku yang suapin, " Max mengambil alih piring yang sudah terisi makanan dari tangan Alina lalu membawa gadis itu duduk agak menjauh dari yang lain.


Alina merasa ini kesempatan untuk dia bicara.


" Max.... "


***


Jangan lupa vote dan komen ya☺🤗


Thanks


Dik@

__ADS_1


__ADS_2