Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
64. Menggebu


__ADS_3

Brakk!!


Bryan membalikkan meja di hadapannya begitu mendengar pengakuan sarah, adik kandungnya. Wajah pria itu memerah menandakan amarah yang memuncak.


Sementara Sarah bersikap tenang seolah apa yang tanpa sengaja dia katakan adalah hal sepele.


" Kalau aku tau semua ini rencanamu, aku tidak akan menuruti semua saran busuk mu Sar, aku menyesal sudah termakan omonganmu! "


Sarah tersenyum sinis.


" Nasi sudah jadi bubur kakakku sayang, gak mungkin balik lagi jadi nasi, apalagi beras, " ucapnya enteng seraya men scroll benda pipih ditangannya.


Bryan menggelengkan kepala melihat sikap acuh Sarah, tidak pernah mengira bahwa adik yang selama ini sangat dia sayangi, dia manjakan malah menghancurkan kebahagiaan hidupnya.


Bryan menghempaskan tubuhnya kebelakang, menyugar rambut dengan kedua tangannya.


" Kenapa Sar, kenapa kau tega melakukan ini pada kakak, apa kurang kakak selama ini sama kamu!" ucapnya nelangsa.


Sarah menghembuskan napas, meletakkan ponselnya disebelah tempat dia duduk lalu menatap pada Bryan yang tampak sangat kacau.


" Kakak sungguh ingin tau alasan ku? " ucapnya serius.


Bryan tidak menjawab


" Diam kakak ku anggap ya, Aku sangat membenci perempuan bernama ALINA MAHARANI itu, karena dia aku harus kehilangan kakakku satu-satunya, " ucap Sarah penuh penekanan.


Bryan mengernyitkan kening.


" Ya, sejak kehadiran gadis itu dalam hidup kakak, semua berubah, kakak mengabaikan ku, kakak juga mengabaikan mama, seolah dunia kakak cuma Alina seorang, "


Bryan terdiam.


" Kenapa diam, kakak lupa apa yang sudah kakak lakukan sama kami sejak ada ALINA, kakak melupakan hari ulang tahun ku, kakak jarang pulang ke rumah dan lebih sering menginap di apartemen, kakak juga tidak peduli kalau mama sedang sakit, bahkan kakak memotong uang bulanan untuk keluarga ini padahal kakak tau kalau kami bergantung pada kakak, "


Bryan semakin tercekat.


" Satu hal yang paling aku ingat hingga detik ini, demi membelikan rumah impian buat Alina kakak mengabaikan biaya operasi mama, sehingga mama harus menjual perhiasannya,"


" Sekarang sudah mengerti kenapa aku melakukan semua itu," ucap Sarah tajam. Dia beranjak dari duduk bermaksud kembali ke kamar, beruntung mamanya sedang berada di bandung untuk urusan keluarga, jadi dia tidak perlu tahu pertengkaran ini.


Sarah berjalan penuh kemenangan, semua yang dia katakan adalah benar tapi tidak sepenuhnya, karena masih ada kebenaran sesungguhnya yang dia sembunyikan.


Sepeninggal Sarah, Bryan meneteskan airmata mengingat semua yang terjadi saat itu, benarkah dia telah mengabaikan keluarga sendiri demi membahagiakan Alina? Benarkah dia se egois itu ketika berhubungan dengan Alina? Apakah cinta telah membutakan mata hatinya?


Entahlah, dia merasa saat dia dan Alina masih bersama hubungannya dengan keluarga baik-baik saja, mama tidak pernah protes bahkan sangat menyayangi Alina, begitu juga dengan Sarah, gadis itu bahkan sangat dekat dengan Alina, kenapa jadi begini?

__ADS_1


Selepas acara makan siang bersama tadi, Bryan pulang ke rumah mama. Sejak dia menetap kembali di jakarta, mama dan adiknya ikut pindah ke kota ini dan membeli sebuah rumah yang tak jauh dari mansion Adinda. Dengan alasan biar dekat dengan anak cucu, Bryan tidak keberatan untuk itu, dia malah senang karena dengan begitu dia tidak perlu repot bolak balik ke bandung jika kangen dengan mama.


Sayang begitu sampai, mama tidak ada di rumah karena ada urusan di kota kembang. Mama tidak memberitahu Bryan karna kepergiannya cuma satu hari, besok pagi beliau sudah pulang.


Melihat wajah suntuk sang kakak, Sarah pun menanyakan masalah yang dihadapi pria itu. Merasa dekat dengan sang adik, Bryan menceritakan kegundahannya termasuk keinginannya untuk menguak tabir masa lalu, dia mau mencari orang yang telah menjebaknya bersama Adinda.


Sarah tidak setuju kalau Bryan mengungkit masa lalu, mereka pun adu argumen hingga Sarah keceplosan dan mengatakan kalau dia-lah dalang dibalik malam panas Bryan dan Adinda.


Tentu saja Bryan murka, tapi mendengar Alasan Sarah terselip penyesalan atas ketidakpekaan nya selama ini. Sesungguhnya dia lah penyebab kekacauan yang terjadi dalam hidupnya, Andai saja....


Akh sudah lah.


***


Alina menatap pada Max yang masih lelap, pria itu tidur seperti bayi, wajahnya sangat tenang dan juga menentramkan. Gadis itu memiringkan tubuh supaya leluasa mengamati wajah kekasihnya. Memberanikan diri untuk menelusuri paras tampan Max dengan jemarinya.


Sempurna!


" Maafkan aku Max, sudah banyak membuatmu kecewa, kenapa kamu tidak menyerah sayang, diluar sana banyak perempuan cantik yang lebih pantas untuk mendampingi kamu, dengan keadaanku sekarang aku merasa rendah diri, sebagai perempuan aku merasa tak berguna," bisik Alina lirih dengan mata berkaca-kaca.


Max sebenarnya sudah bangun sejak tadi. Dia sengaja tidak membuka mata untuk melihat apa yang akan gadis itu lakukan. Sentuhan Alina membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak, namun dia berusaha mengabaikan dan fokus pada apa yang Alina katakan.


" Tapi aku gak bisa menampik kalau aku sangat mencintaimu Max, sangat cinta, aku juga tidak kuat kalau harus berpisah dengan kamu, aku bingung sama diriku sendiri, di satu sisi aku ingin kamu bahagia, menikah, lalu punya anak, tapi disisi lain aku tidak rela kalau kamu bersama orang lain, ck aku benar-benar payah! " keluh Alina pada dirinya sendiri.


Max berusaha untuk tidak tertawa, sudah lama dia tidak mendengar kekocakan gadis itu. Sungguh dia merindukan sosok Alina yang seperti ini.


Max menopang kepalanya dengan tangan agar leluasa memandang kekasihnya. Alina memanyunkan bibir membuat Max semakin gemas.


" Bingung juga maunya apa, tapi jujur aku mau menikah dengan Max, "


" Terus "


" Kalau kami menikah, aku akan menjadi istri yang baik, mengurus semua keperluannya, membuatkan dia makanan, "


" Nice, Apa yang kamu suka dari Max? " pancing pria itu lagi, mumpung yang diajak ngomong masih belum sadar.


" Semua nya, Max itu acuh tapi baik hati dan peduli pada orang lain, sedikit manja, tampan, wangi, dan bibirnya,... " Alina merona oleh perkataan nya sendiri.


" Kenapa dengan bibirnya? "


Alina menutup wajahnya malu.


" Entahlah, rasanya candu setiap kali kami...."


Hei tunggu dulu, barusan dia bicara dengan siapa? bukankah Max masih tidur. Buru-buru Alina menoleh.

__ADS_1


Max menaik turunkan alis membuat Alina salah tingkah. Gadis itu hendak beranjak bangun, tapi tangan kokoh Max menahan, hingga dia kembali terbaring


" Jadi kamu candu dengan bibir ku? " melihat Max dalam mode menyeringai seperti ini, Alina menjadi gugup, berkali-kali dia menelan ludahnya.


" Max.. aku.. "


Max menarik Alina agar memiringkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan. Mata mereka bertautan. Menyelami perasaan masing-masing. Perlahan wajah mereka semakin dekat


Alina memejamkan mata begitu jarak diantara mereka makin terkikis, Max mencium Alina, dengan lembut mengecap setiap inci bibir cherry yang juga menjadi candu baginya.


Drrt... drrt..


Ponsel Max yang berada di saku celana berdering, namun pria itu mengabaikan begitu saja. Dirinya masih tenggelam dalam madu manis di bibir sang kekasih, ciuman yang tadi lembut berganti dengan luma tan yang menuntut, keduanya enggan untuk mengakhiri meski gelombang panas mulai menghampiri, satu ******* lolos dari bibir gadis itu. Tersadar akan suaranya sendiri, Alina mendorong dada Max pelan.


" Maaf, ... "


Max mengerti, apa yang barusan mereka lakukan telah memantik api ga irah, sedikit kecewa ketika sedang asyik malah disuruh berhenti, tapi Max juga tak mau larut lebih dalam, dia sudah berjanji akan mengambil haknya ketika mereka sudah sah, dia berterima kasih karena Alina selalu menjadi rem disaat naluri lelakinya menuntut lebih.


Alina turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi. Bermaksud merapikan diri dan juga mendinginkan bibir yang sedikit bengkak karena ulah mereka tadi.


Max mengalihkan perhatian pada ponsel yang terus berdering.


Dari Adrian..


Pria itu segera menggeser tombol jawab.


" Hei kenapa lama sekali, " ucap Adrian panik


" Ada apa? "


" Buka (menyebut sebuah aplikasi yang sering menampilkan video viral) sekarang... Kau harus melihatnya.."


" Katakan saja jangan bertele-tele!" decak Max kesal. Dia tidak up date dengan aplikasi-aplikasi video semacam itu.


Adrian menghela napas, lupa kalau Max tidak pernah memainkan hape seperti yang orang lain lakukan. Bagi Max ponsel hanya untuk urusan saja. Dengan segera dia menceritakan apa yang terjadi. Rahang Max mengeras.


****..


Ada yang mau bermain-main dengan seorang Max rupanya.


***


Hei, bantu rame kan ya jangan lupa kasih dukungan untuk author🄰


Thank

__ADS_1


Dik@


.


__ADS_2