Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
60. Firasat


__ADS_3

Adrian melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Bertemu dengan Audrey di lorong rumah sakit bukan saja kebetulan melainkan sebuah jawaban atas perasaan Max, bossnya yang kini tengah terkurung di Swiss akibat badai salju.


Max melakukan perjalanan bisnis tiga hari yang lalu, dan rencananya dia akan stay satu hari saja tapi badai yang mendadak melanda negara itu membuat semua akses transportasi lumpuh. Jalur penerbangan baik komersil maupun pribadi dibatalkan. Begitu juga dengan jaringan komunikasi yang terputus. Satu-satunya yang masih bisa digunakan adalah email.


Max menanyakan keadaan Alina, perasaannya tidak enak dan terus memikirkan gadis itu. Maklum sebelum berangkat dia tidak mengabari sama sekali karena masih kecewa dengan Alina.


Adrian yang dilanda kesibukan karena harus meng-handle beberapa pekerjaan Max hanya mencari tahu keadaan Alina lewat Gladys dan Tasya. Keduanya mengatakan Alina baik-baik saja dan Informasi tersebut yang dia teruskan.


Adrian mengulurkan sebuah saputangan berwarna biru muda pada wanita yang duduk disebelah. Audrey tengah bersusah payah menyeka airmatanya. Sementara kotak tissue di dashboard dalam keadaan kosong.


Sebelum menemui Alina dia berinisiatif mengantar Audrey pulang terlebih dahulu, kasihan kalau dia harus mencari taksi malam-malam begini.


" Aku yakin bu ranti akan sembuh, jangan khawatir!" Adrian mencoba menghibur.


Audrey mengaminkan harapan Adrian barusan. Dia tidak bisa membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi. Cuma ibu yang menjadi sandaran mereka saat ini.


" Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi saya, " Adrian menawarkan bantuan.


" Terima kasih, "


" Kok malah terima kasih, saya belum melakukan apa-apa, "


Audrey tersenyum tipis, meskipun begitu cukup untuk membuat Adrian takjub, cantik batinnya dalam hati.


" Pinjam ponselnya, "


" Untuk apa mas? " tanya Audrey heran, tak urung dia menyerahkan benda pipih tersebut.


Adrian memasukkan nomornya kedalam kontak Audrey lalu mendial tombol hijau agar tersambung ke ponsel miliknya.


Audrey mengerti apa yang dilakukan pria itu.


" Kalau saya nelpon gak ada yang marahkan? " tanya Adrian. Hei pertanyaan macam apa itu dri, ucapnya dalam hati merutuki kebodohan sendiri.


" Gak ada yang marah kalau sekedar menelpon, " jawab Audrey bijak.


Adrian nampak kikuk, tidak tepat rasanya menggombali seorang wanita yang tengah dirundung kesedihan.


Tak terasa mereka sudah sampai dirumah, Adrian ikut turun dan mengantar Audrey hingga depan pintu. Setelah wanita itu masuk, barulah Adrian kembali ke mobil.


Pria itu menghela napas lega, setidaknya Audrey tidak tersinggung karena pertanyaan aneh tadi. Wanita itu tetap ramah ketika Adrian berpamitan.


Adrian melajukan kendaraannya kembali menuju rumah sakit dia akan menemui Alina, sebelumnya dia mengirim email terlebih dahulu pada Max.


***


Max tidak tau dimana dia berada, sejauh mata memandang hanya rerumputan berwarna hijau. Dia mencoba mengingat apa yang baru saja dia alami. Perasaan dia tadi sedang ada di hotel lalu kenapa dia ada disini. Tempat antah barantah.


Dari kejauhan Max melihat seseorang, berpakaian serba putih. Max menyipitkan mata untuk memastikan siapa sosok yang kini menghampirinya. Makin lama makin dekat dan dia baru sadar saat sosok itu sudah berada didepannya dengan senyum teduh.


" Bu Ranti! "

__ADS_1


"Max, maafkan ibu menemui mu dalam keadaan begini"


" Ibu, kita dimana, dan apa yang ibu lakukan disini! "


" Max, ibu sudah menganggap mu seperti putra ibu sendiri, boleh kan ibu meminta satu hal sama kamu? " ucap bu Ranti mengabaikan pertanyaan Max barusan.


Max mengangguk.


" Tentu saja, bukan hanya satu hal tapi aku akan melakukan semua yang ibu minta, "


Bu Ranti tersenyum. Max menyadari wajah bu Ranti lebih bercahaya dan bersih.


" Ibu akan pergi Max, ibu mau titip Alina sama kamu, jaga dia dengan baik, sayangi dia , jangan membuatnya sedih apalagi menangis, setelah ibu pergi hanya kamu tumpuan harapannya, "


" Apa yang ibu katakan, ibu mau kemana?tanpa ibu minta aku akan selalu ada bersama Alina, aku tidak akan pernah menyakiti perasaannya, "


" Terima kasih Max, cuma kamu harapan ibu jika memungkinkan tolong bantu Audrey dan Aditya juga, jadikan mereka seperti saudara mu Max, ibu mohon!"ucap bu Ranti sambil menggenggam tangan Max. Max merasa tangan bu Ranti sangat dingin.


" Tentu bu, tentu aku akan membantu mereka, tapi tolong katakan ibu mau kemana, jangan membuatku takut! "


"Bu Ranti tersenyum "


" Ibu mempercayaimu Max! " lalu membalikkan badan dan pergi menjauh, semakin jauh hingga hilang dari pandangan.


" Bu, ibu mau kemana, bu Ranti!"


Max tersentak, ternyata dia bermimpi. Pria itu mendesah pelan lalu melirik ke arah nakas, jarum jam menunjukkan pukul enam sore. Bisa-bisanya dia tertidur di jam segini.


Ting


"Max, Ibu Ranti kena serangan jantung, beliau kini sedang dirawat di ICU. Alina dan kakak nya sangat terpukul, aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Bagaimana dengan cuaca di sana, kau harus pulang secepatnya, Alina membutuhkan mu! "


Deg


Max bergegas menekan nomor Alina namun sayang tidak bisa tersambung. Dia terus mengulang hingga beberapa kali. Hasilnya tetap sama.


Argh


Max segera membalas.


" Dri, aku titip Alina, cuaca disini mulai membaik, semoga besok ada kepastian soal penerbangan, bantu kesembuhan Ibu Ranti dengan maksimal, hubungi Dr. Edhie dan konsultasikan keadaan Bu Ranti padanya. Jangan biarkan Alina memikirkan masalah biaya, Selesaikan seluruh urusan administrasi, "


Setelah mengirim pesan tersebut, dia juga mengetik pesan pada Alina.


" Sayang, kamu yang kuat ya, Ibu pasti sembuh! aku sedang di Swiss, terkurung badai salju disini, semua transportasi dan jaringan telpon lumpuh, aku hanya bisa berkabar lewat email.


Sayang, aku tau kamu sangat sedih, tapi jangan sampai kamu mengabaikan diri kamu sendiri, ibu pasti tidak suka kalau kamu ikut sakit, jaga kesehatan kamu sayang, Jangan memikirkan apapun, kamu harus tenang, aku sangat menyesal tidak ada di sampingmu saat ini, maafkan aku sayang!


Do'akan aku agar terlepas dari badai ini, aku akan segera pulang. Percayalah semua akan baik-baik saja, ibu pasti sembuh.


Jangan menangis sayang, kumohon aku tidak bisa melihat air matamu, aku mencintaimu Alina, sangat, teramat sangat. Peluk Cium, Max "

__ADS_1


Pria itu menekan tombol kirim.


Max menghela napas berat. Kenapa semuanya jadi begini, apa yang menyebabkan Bu Ranti Jatuh sakit, sejauh ini dia tau beliau sangat sehat. Semoga mimpi yang dia alami barusan hanyalah bunga tidur. Max membuang jauh pikiran buruk yang sempat melintas.


Sementara itu.


" Tidak apa-apa pak, saya mengerti maaf sudah menganggu bapak malam-malam begini, salam untuk Bu haji, assalamu'alaikum " ucap Alina mengakhiri pembicaraan di ponselnya.


Alina memijit pelipisnya, kepalanya terasa pusing, Barusan dia menghubungi Pak Haji menanyakan kesediaan beliau untuk membeli rumah mereka yang digadaikan pada pria itu. Tapi Pak Haji sedang tidak ada dana dikarenakan tengah membangun sebuah usaha bersama putranya.


Bukan saja soal biaya ibu, dia juga harus memikirkan cara untuk membantu Aditya menyelesaikan masalahnya. Tadi dia sudah menghubungi kakaknya itu dan memberitahukan keadaan ibu. Dia tidak ingin menutupi apapun, Aditya berhak tau.


Untuk pertama kalinya dia mendengar Aditya rapuh, pria itu menangis, merasa ibu sakit karena dirinya. Alina meyakinkan sang kakak kalau ibu mereka pasti sembuh, dia tidak ingin Aditya terus-terusan menyalahkan diri. Aditya memutuskan akan terbang ke Jakarta besok pagi. Alina lega, setidaknya mereka bisa mengatasi ini bersama-sama.


Alina terkejut saat seseorang menyerahkan sebuah bungkusan. Gadis itu mengangkat kepala dan mendapati Adrian berdiri di dekat dia duduk.


" Dalam keadaan apapun, jangan lupa jaga kesehatan, aku yakin kamu belum makan apapun sedari tadi, "


" Aku tidak selera Dri, tapi terima kasih sudah membawakan ini, " ucap Alina menerima kantong plastik ber merk restoran terkenal lalu meletakkan begitu saja disamping dia duduk


" Sedikit saja Al, atau Max akan memotong gajiku bulan ini karena kamu ikut sakit! "Pria itu memaksa.


"Max? "


Adrian pun menceritakan keadaan Max.


" Lalu bagaimana kamu tau aku disini? "


" Aku tadi menjenguk temanku yang lahiran, tak sengaja ketemu Audrey didepan, aku mengantarnya pulang terlebih dahulu baru kesini! "


Alina menganggukkan kepala mengerti.


" Al makanlah sedikit, kamu harus tetap kuat biar bisa merawat ibu, "


Alina meresapi kata kata Adrian.


" Disebelah sana ada kantin, kamu bisa makan disitu, aku akan berjaga disini! " ucap Adrian lagi seolah Alina setuju dengan sarannya


Setelah berpikir beberapa saat Alina beranjak dan membawa bungkusan yang diberikan Adrian.


" Jangan lupa cek email, aku rasa Max mengirimkan pesan untukmu! " Ucap Adrian memberitahu


Alina melirik ponsel, sudah sangat lama dia tidak membuka aplikasi letter tersebut.


Di Kantin Alina mencoba menyuap makanan yang ada di hadapannya, pasti Max yang memberitahu Adrian soal makanan kesukaannya ini. Sate kacang madura dengan aroma yang menggugah, sayang seleranya tidak bisa dipaksakan hanya dua tusuk sate yang bisa dia telan dengan air mineral. Dia menyerah dan kembali menutup box makanan tersebut.


Gadis itu men scroll kotak email, banyak pesan baru yang masuk, Alina langsung tertuju pada pesan teratas, dari Maxime_arlingga.


Seketika Alina meneteskan airmata


" Max, cepat pulang! " batinnya penuh harap.

__ADS_1


***


Ditunggu vote dan komennya ya,🥰


__ADS_2