Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
35. Anniversary Party


__ADS_3

Puas berjalan-jalan membuat Alina ingin segera merasakan empuknya kasur di tempat mereka menginap, rasa lelah mendera setelah beberapa waktu mereka berburu tempat wisata yang populer di bali, tentu saja sambil mengabadikan semua momen dengan kamera hitam yang dipinjamkan Max. Beruntung dia cepat mengerti dengan les dadakan yang diberikan Max soal cara menggunakan benda tersebut, hasil jepretannya lumayan bagus untuk seorang pemula. Bahkan kedua sahabatnya sudah tidak sabar untuk meng-upload di media sosial masing-masing.


Ketika memasuki lobi resort, Alina berpapasan dengan orang tua Max dan juga Orion yang sedang bersiap hendak keluar.


Alina terlibat perbincangan santai dengan dua paruh baya itu, tak lupa Alina juga memperkenalkan sahabatnya pada mereka.


Hardi dan Widyawati sangat senang bertemu dengan Alina, berbeda dengan orangtuanya yang sangat antusias, Orion lebih memilih diam. Sepertinya pria itu masih belum bisa melupakan perasaannya pada Alina sehingga dia menjadi sedikit canggung ketika berhadapan dengan gadis itu. Padahal Orion bisa saja bersikap biasa karena Alina sendiri tidak tahu yang Orion rasakan. Tapi bagi Orion terasa sulit, membayangkan Max yang selalu bersikap mesra pada Alina membuat dadanya terasa sesak. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


" Kakaknya Max cakep juga , tunggu apalagi Dys, gak dapet adek, kakaknya jadilah," bisik Tasya pada Gladys seraya mengedipkan mata.


"Sst, apaan sih Sya, ingat kita ini remahan rengginang," balas Gladys lirih.


" Akh itu mulu, emang kamu bawa rengginang kesini," cetus Tasya kesal. Gladys tertawa pelan melihat ekspresi sahabatnya. Dan itu menarik perhatian Orion.


Gladys tidak sadar sedang menjadi perhatian. Dia terus saja memamerkan deretan gigi putihnya sambil menoel-noel lengan Tasya.


" Sst, tu cowok nengokin kesini," ucap Tasya lagi. Posisi mereka duduk memang agak berjauhan. Jadi gak ada yang dengar ketika mereka berbisik-bisik seperti sekarang.


Entah keberanian dari mana Gladys menoleh kearah Orion hingga netra-nya bertemu tatap dengan pria itu, Gladys mengembangkan senyum sopan tapi Orion malah membuang muka. Kontan saja Gladys sebal.


" Dasar sombong," decaknya kesal. Gantian Tasya yang menertawakan. Impas


Tak lama Hardi , Widyawati dan Orion beranjak dari duduk, sepertinya mereka hendak pergi karena di lobi terlihat mobil mewah sudah terparkir disana. Setelah melepas kepergian ketiga orang itu Alina segera menghampiri sahabatnya.


" Maaf ya guys, jadi kelamaan nunggu," ucap Alina tidak enak hati


" Gak papa Al, namanya juga ketemu camer," balas Tasya yang diangguki Gladys. Setelah check in mereka lansung menuju kamar yang sudah disediakan.


Max sangat pengertian, pria itu menyiapkan sebuah kamar yang luas dengan tiga bed single untuk mereka. Sampai dikamar Tasya lansung merebahkan tubuhnya di salah satu bed.


" Nikmatnya hidup, andai aja bisa liburan seperti ini terus, yakin deh gak bakalan ada yang namanya stress,"


"Hidup itu harus seimbang Sya, kalau liburan terus yang ada bosan juga," timpal Alina sambil membuka koper miliknya.


" Tau nih anak, maunya yang enak terus" Gladys mencebik. Tak ada tanggapan dari Tasya karena gadis itu sudah terbang ke dimensi mimpi. Dengkuran halus dan napas yang teratur menandakan gadis itu sudah benar- benar terlelap.


" Cepat banget molornya," ucap Alina tak percaya.


" Kamu aja gak tau Al, kalau Tasya itu kebo, gak bisa nemu kasur lansung pingsan," Gladys cekikikan.


Alina menggelengkan kepala. Tangannya mulai bergerak mengeluarkan semua barang bawaannya dan menata didalam lemari agar memudahkan dia mencari apa yang dibutuhkan. Setelah selesai dia segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia berpikir akan menyenangkan kalau tidur setelah mandi. Paling nggak masih ada waktu untuk istirahat sejenak agar nanti malam dia tampil fresh.

__ADS_1


***


Taman yang ada di resort tersebut sudah ramai oleh tamu undangan, kebanyakan dari mereka orang-orang berpenampilan glamor, bisa ditebak sebagian mereka adalah kolega Mulia Jaya. Alina dan sahabatnya baru saja bergabung, sontak kehadiran mereka mengalihkan atensi semua orang.


" Kenalkan ini Alina, calon istri Max," ucap Widyawati memperkenalkan gadis itu pada keluarga besarnya. Disebut sebagai calon istri membuat Alina merona, Max saja belum melamarnya. Tapi perkataan adalah doa bukan?jadi tak salah kalau dalam hati dia mengamini.


" Cantik banget, pilihan Max memang tidak mengecewakan," puji seorang wanita cantik dengan penampilan elegan.


" Al, ini Diana yang empunya acara, adik papi yang bungsu," ucap Hardi menambahkan, Alina menyalami Tante Diana dan cipika cipiki, tak lupa dia memberikan kado yang dibawanya.


" Makasih sayang jadi merepotkan kamu,"


" Gak repot kok Tante, hanya bingkisan kecil" balas Alina merendah.


Acara perkenalan pun dilanjutkan, satu persatu Alina mencoba merekam semua sosok yang diperkenalkan sebagai saudara Max, tak terkecuali seorang wanita hamil dengan perawakan mungil. Agak berbeda dengan kebanyakan saudara Max yang berpostur bule, wanita itu terlihat sangat pribumi dengan wajah khas Indonesia. Kecil dan Manis, Mungkin mengikuti garis keturunan ibunya.


" Ini Adinda, putri semata wayang Hartawan, adik kedua papi Max," ucap Widyawati.


Sosok yang dipanggil Adinda itu tersenyum ramah menerima uluran tangan Alina.


" Sudah berapa bulan Din?" tanya Alina membuka percakapan, Adinda adalah orang terakhir yang diperkenalkan karena setelah itu Widyawati meninggalkan mereka berdua untuk menyapa para tamu yang lain.


" Tujuh mau masuk delapan mbak," sahut Adinda dengan senyum yang tak lepas.


" Sepertinya di Singapura mbak, biar dekat sama suami,"


" Oh kamu stay di singapura, suaminya yang mana?" tanya Alina mengedarkan pandangan.


kalau dia tidak salah tangkap sedari tadi Adinda sendirian.


" Gak ikut mbak, soalnya masih banyak kerjaan,"


Alina mengangguk mengerti, dan pembicaraan mereka terputus begitu suara riang seorang terdengar lewat mikrofon memberitahukan kalau pesta akan segera dimulai. Alina dan Adinda segera bergabung dengan yang lain.


Acara berlangsung sangat meriah, Alina senang karena dia diterima baik dikeluarga besar itu, seperti kebanyakan gadis yang lain tadinya dia juga gugup. Bahkan Max terus-terusan menelpon untuk menenangkan. Tapi semua sirna melihat keramahan yang dia dapat, hilang sudah kecemasannya, dengan mudah dia membaur, bercanda dan bercengkrama layaknya orang yang sudah kenal lama.


Hanya saja ada sedikit keanehan yang dia rasakan melihat Adinda. Meskipun wanita itu selalu mengumbar senyuman, tapi sepertinya dia menarik diri dari perbincangan dengan keluarga yang lain dan lebih memilih bergabung dengan orang yang tak begitu dikenal, termasuk bersama Tasya dan Gladys.


Keanehan semakin nyata saat Alina menyadari sikap Hardi yang notabene paman kandung Adinda juga dingin. Tak ada kehangatan seperti yang Hardi tunjukkan pada keluarga yang lain.


Alina tidak lantas menanyakan hal tersebut pada Max saat pria itu menghubunginya lagi barusan, sadar itu bukan urusannya. Semoga saja keanehan itu hanya perasaannya semata.

__ADS_1


Alina pamit pada Gladys dan Tasya untuk ke toilet, panggilan alam dikarenakan cuaca malam ini yang cendrung dingin membuat dia tak mampu menahan lebih lama. Memasuki salah satu sekat kosong, Alina menuntaskan keinginannya dan begitu selesai dia segera mencuci tangan di wastafel.


Saat itulah dia mendengar ada suara seorang yang beberapa saat lalu dia kenal dari sekat disebelah.


" Iya sayang, aku baik-baik saja, kamu gak usah khawatir,"


Alina tidak bermaksud menguping, tapi suara itu cukup keras untuk didengar orang lain.


" Wajar saja mereka bersikap begitu, aku dan papi sudah keterlaluan, tapi kamu tenang saja, Tante Diana dan Tante Widya masih sama, mereka tetap hangat padaku,"


Alina tidak bisa menghentikan dirinya, dia terlalu penasaran walaupun yang dia lakukan adalah hal yang salah. Dia memperlambat aktifitasnya untuk mendengar lebih jauh.


" Kamu tau, aku bertemu dengan calon istri sepupuku, dia sangat cantik dan juga ramah, aku sangat senang akhirnya Maxime ku menemukan seseorang yang baik untuknya, gadis itu seperti bidadari, anggun dan lembut,"


Alina tersanjung dengan pujian Adinda untuknya. Dia merasa pujian itu berlebihan.


" Baiklah aku akan menghubungimu nanti sayang, "


Alina buru- buru menyelesaikan urusannya dia mengambil tissue dan mengeringkan tangan, baru saja hendak beranjak Adinda sudah keluar.


" Hei, kamu disini juga Din, aku pikir tidak ada orang selain diriku," ucap Alina berbohong,


" Akhir-akhir ini aku tidak bisa lagi membendung keinginan untuk buang air kecil mbak, setiap lima belas menit harus disetor, rasanya aku ingin terus berada dekat toilet," kekeh Adinda merasa lucu dengan dirinya.


" Itu sangat wajar Din, aku punya seorang kakak, dan dia baru saja melahirkan, bahkan dia pernah ngompol di celana, diruang umum lagi,"


" Oh ya, gimana ceritanya?"


Alina mengangguk, dan mulai menceritakan kelakuan konyol Audrey saat hamil anak pertamanya, saat itu Audrey sedang di jakarta mengikuti suaminya yang menghadiri seminar. Karena ruang seminar sangat dingin membuat Audrey yang sedang hamil tua bolak balik ke toilet. Beberapa menit di akhir acara, Audrey kebelet lagi. Karena merasa nanggung, Audrey pun menahan diri. Dia lega ketika acara selesai, buru-buru dia beranjak dari duduk. Tanpa terduga sesuatu keluar dari dalam tubuhnya tanpa bisa dikendalikan. Audrey mengotori karpet ruangan itu dengan air seni-nya. Beruntung tidak ada yang tahu dengan kejadian itu termasuk suaminya sendiri. Dia tertolong dari rasa malu karena baju yang dipakai adalah longdress longgar sehingga tidak ikut basah.


Adinda ikut tergelak mendengar cerita Alina, saking lucunya, dia terus saja terpingkal ketika sudah kembali ke tempat acara.


" Alina memang hebat, sudah lama aku tidak melihat Adinda ceria seperti itu, " ungkap Diana


terharu oleh pemandangan tersebut.


Widyawati membenarkan, entah kapan terakhir kali mereka melihat sosok mungil yang dulu selalu menjadi princess di keluarga besar tertawa lepas seperti sekarang. Dan hari ini berkat Alina mereka bisa melihat keceriaan seperti dulu lagi.


***


Happy reading, jangan lupa bantu vote dan komen ya

__ADS_1


With love


Dik@


__ADS_2