
" Berapa lama lagi sih yang, Mr. Pip udah gak tahan memasuki Mrs. Pip. " rengek Max menenggelamkan kepala di ceruk leher istrinya. Alina menggelinjang geli.
" Mm besok udah bisa mandi wajib, " Alina mengusap rambut lebat Max lembut, mengecup kening pria itu penuh sayang. Berada di dekat Alina seorang Max berubah wujud menjadi bayi besar yang manja.
" Lama banget sayang, Mr. Pip sudah kangen berat!" Max menarik tangan Alina dan meletakkannya diatas sesuatu yang mengeras dibawah sana.
Alina kasihan melihat ekspresi Max yang memelas, tentu saja sebagai istri dia harus menenangkan benda sakti itu dengan jurus pamungkas atau suaminya itu akan sakit kepala sepanjang hari.
" Kamu itu aneh sayang, giliran udah nikah makin napsuan, dikit-dikit bangun, waktu lajang gak begini banget kan?" tanya Alina heran. Jemarinya bergerak naik turun dengan teratur.
Max yang tengah meresapi sentuhan sang istri memejamkan mata ketika rasa yang memabukkan mulai menerpa, sesekali desisan keluar dari mulutnya.
" Siapa bilang, Mr.Pip bereaksi setiap hari. Kalau bisa ditahan aku olahraga, kalau gak bisa ya terpaksa bersolo karir ! " jelas Max dengan suara serak menandakan tubuhnya mulai bergejolak.
Tak ingin konsentrasinya buyar oleh protes sang istri lebih lanjut, ia pun membungkam mulut Alina dengan bibirnya. Keduanya mulai berganti saliva, menghadirkan suara khas ditengah ruangan kedap suara itu. Max berhasil mengajak Alina dalam pusaran gai*rah yang sama. Meski hanya sebatas cumbuan tapi cukup membangkitkan gelombang panas yang siap meledak hingga akhirnya tumbang karena kelelahan meraih puncak.
Setelah membersihkan kan diri, Max kembali membaringkan diri dalam dekapan sang istri. Posisinya menghadap ke layar besar didepan ranjang.
" Sayang besok berangkatnya dengan Pak Adi saja ya, bandung itu lumayan jauh, aku gak mau kamu kenapa-napa, " ucap Max dengan tangan yang sibuk mengotak atik remote TV. Mencari siaran yang menarik untuk ditonton.
Alina menggelengkan kepala, " Gak perlu sayang, aku kan berangkat bareng Gladys dan Tasya,"
Alina memang berencana keluar kota bersama sahabatnya itu. Mereka akan menghadiri acara syukuran atas kelahiran anak salah seorang rekan mereka waktu di Mega Buana dulu.
Alina mau menyetir sendiri, tidak nyaman jika harus disopiri sementara Max tidak bisa ikut karna banyak pertemuan penting.
" Memangnya kuat nyetir sendirian pulang pergi! "
" Bisa gantian sama Tasya sayang, kalau ada Pak Adi kita jadi gak bebas!"
"Emang mau ngapain, awas loh jangan tebar pesona!"
" Idih siapa yang tebar pesona sayang, emang akunya udah mempesona, "ujar Alina percaya diri.
Max terkekeh.
" Sayang hari ini kita mau begini aja, gak ada kegiatan lain? " tanya Alina mengalihkan topik.
Disaat weekend mereka memang selalu berduaan di apartemen untuk sekedar nonton film bareng atau masak bersama. Tapi hari ini keduanya belum memiliki rencana apapun. Hingga siang menjelang keduanya masih leyeh-leyeh diatas tempat tidur.
" Emang kamu mau ngapain sayang?"
" Gimana kalau kita ke rumah mommy, aku mau ngomongin soal persiapan acara bulan depan, " padahal tidak ada yang penting untuk dibahas karena semua sudah di handle WO. Dia hanya mengalihkan perhatian Max dari Mr. Pip yang suka sekali menegang tanpa alasan. Apalagi kalau mereka bermalas-malasan begini.
__ADS_1
" Ya udah ayo siap-siap!"
Alina senang, dia lansung beranjak dari dari tidur.
" Tunggu sayang, "
Alina mengerutkan kening saat melihat Max cengar cengir sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Alina memutar mata saat Max menghempaskan tubuhnya kembali.
" Satu ronde lagi sayang! " bisik Max menggoda. Tak bisa menolak karena Max sudah melancarkan aksinya.
" Mulut dan tangan sabar ya! " ucap Alina pada dirinya sendiri membuat Max tergelak ditengah aktivitas nya.
Tak lama mereka sudah berada di mansion, bertepatan dengan jam makan siang. Widyawati sangat senang dengan kedatangan Max dan Alina, suasana mansion siang itu menjadi riuh dengan gelak tawa. Terlebih Moza yang sangat kangen dengan kesayangannya. Dia terus saja bergelayut manja pada Max.
Usai santap siang, mereka berkumpul diruang tengah yang menghadap kolam renang.
" Suami kamu kemana Din, dari kemaren mommy gak ngeliat Bryan, " Tanya Widyawati pada Adinda yang sedang menyuapi Ale dan Alu.
Keduanya sedang dalam fase aktif, tidak senang jika makan dimeja makan, mereka juga menolak suster yang menyapih, mau tak mau wanita itu turun tangan, dari pagi anak-anak nya tidak mau makan. Sebenarnya dia kurang enak badan, tapi Ale dan Alu memaksa untuk main ke rumah Oma cantik begitu sapaan mereka pada Widyawati.
" Iya mi, Bryan sedang meninjau proyek di luar kota, lusa baru balik. "
Widyawati mengangguk mengerti, namun matanya tak luput terus memperhatikan putri angkatnya itu.
Adinda menggeleng.
" Gak ada apa-apa mi, aku cuma kelelahan saja, di butik lagi rame jadi banyak yang harus dikerjakan, sementara Alu dan Ale dikit-dikit maunya sama Dinda, " jawab Adinda jujur. Sekalipun ada masalah lain yang menganggu pikiran, tapi wanita itu tidak mau mengungkapkan karena tidak ingin Widyawati kepikiran.
Widyawati kembali manggut-manggut.
Sejak Bryan mengundurkan diri dan Golden Jaya di handle Orion, Adinda fokus mengembangkan usaha butik yang sudah dirintis sejak dia masih gadis. Sementara Hartawan tidak pernah lagi datang ke mansion karna ego nya. Adik suaminya itu marah karna Golden berpindah ke tangan Orion. Padahal semua itu terjadi karena kesalahan dia sendiri. Entah dimana dia sekarang.
" Ale hati-hati nak! " Teriak Dinda begitu salah satu putri kembarnya berlari-larian tanpa arah, dia lansung berdiri dan melangkah mendekat pada anaknya itu. Tanpa sadar dia melewati genangan air dilantai dekat kolam.
Bruk
" Astaga Dinda! " panggil Widyawati panik. Adinda berusaha untuk bangkit, tapi pinggulnya sangat sulit untuk digerakkan, sesuatu merembes mengalir diantara kakinya, cairan berwarna merah.
Seketika semuanya menjadi gelap.
***
" Syukurlah janinnya masih bisa diselamatkan, tapi karna ada benturan saat jatuh, kondisinya masih sangat lemah, saya akan resep kan obat penguat, dan diharapkan Ibu Adinda bed rest selama satu bulan ke depan" tutur sang dokter menjelaskan.
__ADS_1
Melihat darah yang mengalir, Widyawati memutuskan membawa Adinda ke rumah sakit bersalin. Dia yakin putri angkatnya itu sedang berbadan dua dan dugaanya tidak meleset.
Widyawati meminta Orion untuk menghubungi Bryan, karna bisa dipastikan Max tidak akan mau melakukannya. Sejak pertikaian waktu itu, Max tidak terlihat bicara atau pun menanyakan soal Bryan pada Adinda.
" Gak aktif mom, memangnya Bryan kemana? "
Widyawati mengedikkan bahu, " Dinda bilang dia sedang keluar kota, tapi mommy lupa nanyain kota mana. "
Orion menghela napas
" Trus gimana sekarang, apa perlu kita hubungi mertuanya? " tanya Orion Balik
" Nanti saja mommy yang telpon, Adinda harus dirawat selama beberapa hari disini, biar mommy yang jaga, kalian pulang aja! minta Tyas menyiapkan pakaian ganti Adinda dan mommy lalu antarkan kesini! "
" Biar aku aja mom yang jagain Dinda, " Alina menawarkan diri. Tak tega jika mertuanya itu harus menginap di rumah sakit.
Widyawati tersenyum, mengerti niat baik menantunya itu. Tapi dia juga paham kalau Max tidak setuju dengan ide istrinya, Bryan bisa pulang kapan saja. Max tidak mengatakan apapun tapi raut wajahnya menandakan dia keberatan.
Max bukan tidak peduli pada Adinda, bagaimanapun dia sangat menyayangi adiknya itu. Tapi keberadaan Bryan disekitar Alina membuat pria itu tidak tenang. Alina memang sudah menjadi istrinya dan dia sangat tau kalau wanita itu tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Bryan, namun naluri lelakinya tetap saja curiga, dia merasa Bryan masih mengharapkan Alina.
Cara Bryan memandang Alina ketika mereka bertemu di mansion waktu itu membuat Max muak. Ingin dia menghajarnya tapi Max tidak punya alasan yang kuat untuk itu.
" Bisa-bisanya dia pergi keluar kota tanpa menghubungi istrinya sama sekali. " decak Max kesal.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Alina mengusap lengan suaminya untuk menyabarkan.
" Mungkin tempat yang dia kunjungi susah signal sayang, " Alina mencoba berpikir positif .
" Alasan, naik bukit atau manjat batang kelapa kan bisa, kalau ada kejadian kayak gini jadi susahkan, emang dia kemana sih luar kotanya, proyek mega buana bukan buat tower dipedalaman kan? " umpat Max panjang lebar.
Perkataan Max benar tapi dia tidak mau ikut bersuara, takut memperkeruh keadaan. Sepanjang yang dia tahu Bryan bukan tipikal orang yang suka off kan ponsel. Lowbatt sedikit pasti diakan men charge.
Menelisik wajah muram Adinda, dia menyimpulkan suami istri itu sedang bertengkar, entah karena masalah apa dia tidak mau menduga. Semoga semua baik-baik saja dan berharap kehamilan Adinda juga sehat sampai nanti waktunya.
Sementara di sebuah villa, seorang pria duduk termenung memandang suasana sekitar dengan kretek yang terselip diantara jemari. Sesekali dia menyesap benda putih ditangannya dengan nikmat.
Senyumnya tersungging begitu sebuah notif pesan masuk di benda pipih yang ada dimeja.
" Siap jalankan perintah boss,... "
***
Jangan lupa vote dan komen ya. 🥰
__ADS_1