Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
80. Mommy


__ADS_3

Alina duduk diatas ranjang sambil memeluk dirinya sendiri, sudah tiga hari dia di sana tapi belum ada tanda - tanda kalau Max akan datang menyelamatkan, Alina mengerti mungkin Max kesulitan mendapatkan lokasi tempat dia disekap karena tidak ada petunjuk apapun.


Bukan saja Max yang kebingungan. Alina sendiri heran, apa sebenarnya yang penculik itu inginkan bahkan selama disini dia diperlakukan dengan sangat baik. Selalu diberi makan dan disiapkan baju ganti yang tiba-tiba saja sudah ada didalam kamar. Sementara si pelaku belum pernah menunjukkan batang hidungnya. Bukan hanya itu, Alina juga tidak mendengar suara-suara. Hanya deru mobil yang berhenti dan juga derap langkah. Selebihnya hanya kesunyian yang dia rasakan.


Alina menghela napas.


Sebaik apapun diperlakukan tetap saja dia seorang tawanan. Alina ingin pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga, dia sangat merindukan suaminya.


"Max, i love you, aku merindukanmu sayang!" bisiknya seorang diri.


***


Uhuk...uhuk


Max tersedak, padahal yang dia minum hanya air mineral. Widyawati mengusap-usap punggung putranya mencoba memberikan ketenangan.


Setelah Adinda membaik dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit, wanita itu langsung menyusul Max ke Bandung. Hatinya merasa tidak tenang karena Alina belum kunjung ditemukan. Ditambah lagi kedua putranya jarang sekali menelpon, hanya dari Hardi dia mendapatkan informasi terbaru.


Kedatangan Widya adalah keputusan yang tepat karena begitu sampai dia mendapati Max dalam keadaan kacau. Putranya itu putus asa lalu melampiaskan kegundahan pada rokok dan juga alkohol. Kebiasaan buruk yang sukar di lepas. Hanya Alina yang bisa membuat Max tidak berani menyentuh benda -benda lak*nat itu.


Max merasa tak berdaya, Evan yang semula dia curigai ternyata bukan pelakunya, bahkan pria itu juga membantu mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Alina, meski hasilnya tetap sama.


" Makanlah sedikit nak, kamu butuh tenaga supaya bisa melanjutkan pencarian." bujuk Widya susah payah.


Widyawati memilih untuk tinggal lebih lama, oleh karena itu mereka pindah dari hotel ke salah satu apartemen milik mulia jaya corps yang selama ini hanya ditempati saat mereka ada di kota kembang tersebut. Dengan begitu Widyawati bisa leluasa memasak makanan sehat untuk Max dan juga Orion.


Max menggeleng


" Aku tidak selera mom, aku minum air putih saja!" ucap Max nelangsa, sedikit kesal karna mommy sudah membuang semua rokok dan alkohol yang dia beli.


" Ya tentu saja, kamu adalah pria yang kuat dengan minum air putih, kamu akan lebih bertenaga untuk mencari istrimu , teruskan saja kalau perlu minum juga air dari shower kamar mandi sana sekalian sampai kamu kembung. Lebih baik daripada mommy melihat kamu mabuk!" sarkas Widyawati membuat Orion menahan tawa geli.


Baru kali ini dia melihat mommy marah pada Max.


" Mom, aku.."

__ADS_1


" Cukup , mommy gak mau mendengarkan apapun, mommy cuma mau mengingat kan, saat ini Evan sudah ambil bagian, kamu mau bila orang yang pertama kali menemukan istrimu itu dia, secara dia kelihatan bugar dan bersemangat berbeda dengan kamu yang katanya seperti singa lapar malah melemp*em dan menenggelamkan diri dalam keputus asaan"


Bukan maksud Widyawati untuk memanasi, tapi dia harus mengembalikan semangat Max, rasa frustasi yang tiba-tiba menyerang membuat Max kehilangan kendali. Hingga tindakan yang dia lakukan tidak lagi terinci dan terukur, anak-anak buahnya berkeliling tanpa arah dan dipastikan sebanyak apapun tenaga yang dikerahkan pasti tidak ada hasilnya sama sekali kalau tanpa perencanaan yang matang.


Max mendeguk ludah kasar, tertohok oleh ucapan Mommy.


" Dan sepertinya ada yang lupa kalau besok adalah ulang tahun Alina, kasihan sekali menantu mommy harus melewatkan momen penting dalam hidupnya ditempat antah berantah." lanjut Widyawati dengan ekspresi sendu.


Max melirik pada tanggalan arloji di pergelangan tangannya. Sial, umpat Max dalam hati, bagaimana dia melupakan itu semua.


Malam ini dia harus menemukan Alina, tanpa sadar pria itu mulai menyuap beberapa sendok spageti kedalam mulut. Perlahan tapi pasti masakan sang mommy bermuara diperutnya.


Widyawati tersenyum senang.


" Mommy punya bakat mempengaruhi orang, aku yakin dia sekarang tersulut oleh perkataan mommy, barusan." ujar Orion salut setelah Max pergi kekamar untuk mandi.


Sebelum kedatangan mommy dia sendiri juga prihatin dengan keadaan Max, tapi tidak bisa berbuat banyak. Peran Alina dalam hidup Max bukan saja sebagai istri tapi nafas kedua pria itu. Tanpa Alina entah apa yang akan terjadi dengan adiknya itu. Tiga tahun lalu sudah cukup baginya menyaksikan kehancuran Max. Meskipun tetap hidup tapi jiwanya mati. Mommy-lah yang membuat Max yakin kalau Alina akan kembali padanya ketika itu sehingga Max terus bertahan dengan keyakinan tersebut.


Mommy memang ibu yang sangat mengerti dengan keadaan anak-anaknya, Orion juga banyak berhutang pada mommy, tanpa campur tangan mommy dia tidak bisa memiliki kehidupan sekarang, mungkin dia masih berkubang dosa dengan kehidupan liar diluar sana.


Orion terharu dengan perkataan wanita yang sudah melahirkannya , dia beranjak dari duduk dan menghampiri mommy, memeluk wanita itu dengan sepenuh hati.


" Makasih mom, ori sayang banget sama mommy." ucapnya mengecup kening mommy. Hati widyawati menghangat oleh perlakuan si sulung, sudah lama sekali momen seperti ini tidak dia rasakan. Bahkan Widyawati lupa kapan terakhir kali Orion menyebut namanya sendiri Ori, panggilan kesayangan sewaktu Orion masih kanak-kanak.


" Aku juga mau dipeluk, masa Ori melulu." ucap Max manyun. Max sudah nampak segar dengan setelan kasual yang selalu pas ditubuhnya.


" Cemburu ya, wek! "ejek Orion ala anak kecil membuat Widyawati merasa flashback kemasa lalu. Waktu kecil Orion dan Max selalu berebut perhatiannya, mereka kerap berkelahi karna tak mau berbagi pelukan mommy. Setelah dewasa mereka berdua malah saling cuek. Tapi tetap saling perhatian disaat salah satunya tertimpa masalah, seperti sekarang Orion setia menemani sang adik dan rela berpisah dari Istri dan anak


" Kemarilah, mommy sudah lama tidak memeluk kalian, mommy rindu." ujar Widyawati mengulurkan tangan, Max mengambil posisi. Ketiga anak beranak itu larut dalam perasaan.


Max baru tersadar dalam kegamangan hidup yang dia rasakan.Mommy selalu menjadi alasan kenapa dia bertahan hingga sekarang.


" Dengar, apapun keadaan kalian jangan pernah menyerah, mommy akan sedih kalau kalian berputus asa, tetaplah tegar sekalipun nanti mommy tidak ada lagi disisi kalian."


" Jangan berkata begitu mom, mommy akan selalu ada bersama kami," ucap Orion dan diangguki oleh Max.

__ADS_1


"Mommy dan papi sudah tua nak, akan ada masa dimana kami pergi!"


" Tidak sekarang, masih lama sampai cucu-cucu mommy besar," rengek Orion membuat Widyawati tergelak. Diluar sana dua pria tampan itu terlihat gentle namun dalam hati mereka berdua memiliki hati yang sangat lembut.


" Makasih mom , sudah menjadi penyemangat kami, maaf sudah membuat mommy selalu khawatir, aku mencintaimu mom!" Max menyuarakan isi hati yang jarang sekali dia ungkapkan.


Widyawati meneteskan airmata bahagia. Satu - satu dia cium kening putra kesayangannya itu.


" I love you both very much, udah akh mommy jadi mewek," ucap Widyawati mengusap mata yang terlanjur basah.


Mereka bertiga mengurai pelukan yang mengharu biru, kalau ada Hardi pasti mereka bertiga menjadi ledekan. Hardi memang tidak bisa diajak ber-mellow ria.


" Back to Topic, kamu harus fokus lagi Max, sudah tiga hari berlalu. Mommy yakin Alina kuat, walaupun begitu jangan biarkan dia menunggu lebih lama."


Max mengangguk.


" Boss, ada tuan Evan dilobby, apa anda ingin menemuinya?"ucap Devano muncul diruang makan.


" Suruh dia kesini, kamu tidak keberatan kan Max?"


Max dan Orion mengerutkan kening , bingung dengan sikap mommy yang mendadak welcome.


" Evan itu bermasalah dengan papi, bukan mommy. Mommy jadi penasaran, ingin tau lebih jauh entang kakak tiri kalian itu." tau dengan apa yang dipikirkan keduanya.


Max dan Orion berdecih bersamaan, seperti anak kembar saja, Widyawati tergelak dibuatnya


" Gimana boss?" tanya Devano memastikan.


Orion mengedikkan bahu. Max menatap mommy. Yang ditatap malah meminta persetujuan.


***


Maaf ya, othor up-nya kelamaan karena lagi dilanda kesibukan nih,


jangan lupa vote dan komen🄰

__ADS_1


__ADS_2