
Alina tidak pernah menduga sama sekali kalau kedatangan Mommy Max dan Orion akan menjadi petunjuk atas perubahan sikap Gladys belakangan. Awalnya baik-baik saja, Gladys tersenyum saat dikunjungi wanita paruh baya yang masih cantik itu, mereka terlibat obrolan ringan lebih tepatnya tante Widyawati lah yang lebih banyak bicara, Gladys hanya menanggapi sesekali kadang hanya dengan anggukan. Alina maklum bagaimanapun kondisi Gladys belum terlalu pulih, dia masih perlu banyak istirahat.
Siapa sangka beberapa menit setelahnya sikap Gladys berubah. Gadis itu terkejut saat Orion masuk kedalam ruangan. Rautnya pucat, tubuhnya gemetar. Sontak mereka semua heran tapi tidak dengan Orion, dia justru merutuki kebodohannya karena memaksa bertemu gadis itu disaat yang tidak tepat.
Alina lansung memeluk Gladys dengan harapan gadis itu kembali tenang, sayangnya Gladys sudah kehilangan kesadaran dan akhirnya pingsan. Alina bergegas menekan tombol yang ada di dekat brankar. Dokter dan perawat lansung mengambil tindakan. Sementara mereka semua diminta menunggu diluar ruangan. Alina mondar -mandir gelisah sementara Orion berdiri agak menjauh. Tak ada yang tahu pria itu juga shock dengan kejadian barusan. Kalau dia tahu Gladys akan bereaksi seperti itu pasti dia tidak menawarkan diri mengantar mommy.
Tadinya dia bermaksud ikut menjenguk sebagai seorang kenalan. Memastikan apa yang dia dengar tadi malam tidak ada hubungan dengan kejadian malam itu. Sayangnya dia salah. Melihat ekspresi ketakutan Gladys dia bisa memastikan semuanya sudah diluar kendali. Ibarat bom tinggal menunggu waktu untuk meledak.
Tak berapa lama Dokter keluar, dan mengajak keluarga untuk bicara, lagi -lagi Alina lah yang harus ambil alih karena Kakak Gladys baru saja pergi untuk mengantar ibu dan adiknya pulang kerumah.
" Gimana keadaan teman saya dok,"
" Keadaanya mengkhawatirkan, mungkin sebaiknya kita mengambil langkah lebih lanjut,"
" Maksud dokter?" tanya Alina tidak mengerti.
" Seperti yang saya bilang kemaren, pasien harus menjalani therapy dengan psikolog untuk membuat dia lebih percaya diri menceritakan kegundahannya, karena kalau mentalnya sehat, fisiknya akan ikut pulih,"
Alina menganggukkan kepala, setelah mendapatkan beberapa saran medis dari dokter tersebut Alina kembali menemui Tante Widyawati dan juga Orion yang masih menunggu.
" Gimana keadaannya Gladys sayang, apa kata dokter?" tanya Widyawati cemas.
Alina pun menceritakan apa yang dokter sarankan, tanpa sadar Orion mengumpat mendengarnya dan meyugar rambut sendiri dengan gusar. Alina menyipitkan mata dan menatap Orion dengan pandangan selidik, entah kenapa gadis itu merasa semuanya ada hubungan dengan kehadiran Orion. Karena sebelum Orion datang kondisi Gladys boleh dibilang cukup stabil.
" Kamu kenapa mas, saya perhatikan dari tadi kamu sangat gusar," tanya Alina begitu dapat kesempatan bicara dengan pria itu. Mumpung tante Widyawati sedang ke toilet.
" Maksud kamu apa Al?"
Alina menghela napas, berharap apa yang sedang bercokol di kepalanya saat ini tidaklah benar. Tapi dia perlu mencari tahu.
" Tadinya Gladys sudah cukup tenang, tapi begitu kamu masuk, kamu liat sendiri kejadiannya kan,"
Orion mengerutkan kening " To the point aja Al, saya gak suka bertele-tele," ucapnya tersinggung.
" Ada apa antara kamu dan Gladys, kenapa Gladys begitu shock melihat kehadiran kamu,"
__ADS_1
Deg
Orion melupakan satu fakta kalau Alina adalah gadis yang cerdas. Pasti karna dia sempat dilanda kepanikan tadi hingga memancing kecurigaan gadis itu.
" Kenapa kamu diam, apa dugaan saya benar kalau kamu sudah melukai Gladys," desak gadis itu lagi.
Gliran Orion yang menarik napas dalam, secepat itukah rahasianya terbongkar. Pria itu mengulur waktu mencoba menimbang antara berkata jujur atau berusaha mencari alasan untuk mengelak.
" Maaf saya khilaf, "
Kata itu meluncur begitu saja, seburuk-buruknya Orion dia bukanlah pria pengecut. Dia memang ingin masalah tersebut selesai dan tidak lagi diperpanjang. Sadar Gladys tidak seperti wanita yang sering ditemui nya dia merasa tidak akan mudah untuknya.
Alina cukup mengerti kata khilaf yang Orion maksud seketika kemarahan membuncah didadanya, ingin rasanya gadis itu menampar Orion, tapi satu kesadaran masih terbesit mengingat mereka berada dilorong rumah sakit.
" Kenapa mas tega melakukannya pada sahabat saya," desis Alina geram dengan kedua tangan yang mengepal disamping tubuh.
" Awalnya memang saya yang memaksa, setelahnya kami melakukan itu dengan sadar,"
Alina menggeleng tak percaya, Orion mengatakan itu dengan sangat enteng seolah perbuatan itu lazim baginya.
" Gak mungkin, saya tahu bagaimana Gladys, mas pasti sudah mengancamnya "
Plak!
Orion terkejut begitu juga dengan Alina, tanpa mereka sadari Tante Widyawati sudah mendengar pembicaraan mereka. Wanita itu terlihat begitu marah mendengar apa yang Orion katakan.
" Mommy selama ini diam bukan karena mommy mendukung semua tindak tanduk kamu, tapi kali ini kamu keterlaluan, bagaimana kamu tega melakukannya hal menjijikan seperti ini, apa kamu kehilangan selera sama wanita bayaran kamu sampai sampai kamu mengorbankan gadis baik-baik untuk kesenangan kamu hah," sergah Tante Widyawati marah.
Alina tidak percaya dengan apa yang dia dengar, ternyata Orion seorang casanova.
Melihat Orion yang tersudut Alina memilih diam. Dia tidak mau ikut campur masalah pribadi pria itu, yang terpenting bagaimana membuat pria itu bertanggung jawab atas perbuatannya.
" Al kamu hubungi Max, suruh dia datang kesini sekarang juga, Tante akan menelpon om," titah Tante Widyawati, Alina memenuhi permintaan tersebut dan langsung menghubungi kekasihnya.
Orion cukup beruntung karena mereka sedang berada dirumah sakit jadi dia terhindar dari amukan papi dan juga Max, setidaknya sampai mereka kembali ke mansion.
__ADS_1
Hardi dan Max menatap nyalang pada pria itu mendengar penuturan Widyawati, terlebih Max rahangnya mengeras menahan emosi. Untuk pertama kalinya Max merasa malu memiliki kakak seperti Orion.
Dia tidak peduli kalau Orion liar diluar sana, tapi tidak dengan apa yang dia lakukan pada Gladys walaupun dia tahu Gladys pernah terlibat dengan Zaky, tapi feeling-nya mengatakan gadis itu masih menjaga kehormatannya terbukti dengan trauma yang dia alami sekarang.
" Kita bicarakan nanti dirumah, sekarang yang terpenting kesembuhan Gladys dulu," Ucap Hardi
Mereka semua setuju,
" Lalu bagaimana kita mengatakan semua ini pada keluarganya pi, bagaimana kalau mereka menuntut Orion," ucap Widyawati sendu.
" Biarkan saja, kalau memang Orion harus dipenjara, semua karena kelakuannya sendiri, jadi dia harus berani menanggung akibatnya," tegas Hardi dengan tatapan tajam pada putra sulungnya yang tertunduk lesu.
Alina kagum dengan ketegasan Om Hardi, dia tidak peduli akan reputasi baginya tanggung jawab lebih penting ketimbang omongan orang diluar sana tentang keluarganya.
Terpikir satu hal, Alina meminta semuanya untuk membiarkan masalah ini menjadi rahasia mereka saja dulu, jangan sampai bocor keluar, karena kalau itu terjadi kesehatan Gladys akan semakin memburuk. Mengenai keluarga Gladys, Alina akan mencoba memberi pengertian.
Alina dan Tasya cukup dekat dengan keluarga tersebut. Semoga saja ibunya Gladys berlapang dada tapi dia sangsi dengan kak Tirta, meskipun terlihat kalem, tapi menurut Gladys kakaknya itu sosok yang tegas dan juga keras.
" Apa kamu yakin akan menemui mereka sendirian sayang," ucap Max begitu mengantarnya kerumah Gladys.
" Iya sayang, lebih baik aku dulu, nanti setelah mereka tenang barulah kita mengatur waktu pertemuan untuk membicarakan yang lebih serius,"
Alina memang memutuskan seperti itu, agar ketika pertemuan keluarga nanti, keluarga Gladys sudah lebih menerima keadaan. Sehingga masalah tidak berlarut-larut.
Dan apa yang ditakutkan Alina terbukti, Tirta tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu, dia beranjak hendak menemui Orion beruntung sang ibu berhasil menenangkan sehingga tidak menimbulkan kegaduhan yang bisa memancing keingintahuan para tetangga. Maklum mereka tinggal dikawasan padat penduduk.
Tidak ingin ibu dan adiknya menjadi perundungan orang orang yang kepo, Tirta mencoba meredam emosi.
" Keluarga Orion ingin meminta maaf lansung kak, tapi saya tahan karna gak mau membuat kericuhan, kakak kan tau kondisi di lingkungan sini bagaimana, dan itu tidak bagus buat mental Gladys nantinya. Kalau kakak bersedia, saya hubungkan dengan adiknya Orion, Max"
Beruntung Tirta tidak menolak saat bicara dengan Max lewat ponsel Alina. Pembawaan Max yang tenang membuat Tirta setuju saat Max menawarkan pertemuan diluar rumah tapi tidak dirumah keluarga mereka, bagaimanapun yang bersalah adalah Orion dan Tirta tidak mau harga diri keluarga mereka jatuh karena itu .
Max sangat mengerti dan dia menawarkan sebuah tempat dimana kedua belah pihak merasa nyaman.
Alina juga setuju saat Max memutuskan pertemuan akan diadakan disalah satu restoran milik Adam temannya. Seperti Adrian, Max juga mempercayai Adam dan profesi Adam sebagai polisi diharap menjadi penengah jika situasi memanas.
__ADS_1
***
Bantu vote dan komennya ya, mampir juga di Instagram author @Dikatsabitha🤗