
Alina bergegas berjalan kearah mobilnya yang terparkir didepan mini market, dalam perjalanan pulang dari kantor dia singgah sebentar membeli tissue dan beberapa cemilan untuk stok dikantor. Saat asyik memilih-milih barang yang diinginkannya, tiba tiba dia dikejutkan oleh sebuah notif pesan yang masuk, dari Max.
Alina bingung, karena Max memintanya untuk datang ke sebuah restoran yang lokasinya cukup jauh dari sini, Max bilang mereka akan menemui client disana. Tidak biasanya Max melakukan pertemuan dadakan dan tanpa persiapan sama sekali.
Sebelum berangkat mungkin ada baiknya aku hubungi Pak Max dulu, gumam Alina sambil meletakkan belanjaannya dikursi belakang.
Dia langsung menekan nomor Bossnya itu, tapi berulangkali mendial, Max tidak kunjung menjawab panggilan. Alina melirik arloji di pergelangan kirinya, masih ada satu jam lagi sebelum pertemuan.
Alina segera memacu kendaraannya dengan kecepatan yang lumayan, baru satu kilometer melaju gadis itu menghela napas berat, antrian kendaraan sudah menghadang didepannya. Satu pemandangan yang lazim diibukota ketika sore menjelang.
Kalau seperti ini kemungkinan dia bisa terlambat, hanya ada satu pilihan yaitu mengambil jalan pintas, meskipun harus menempuh perjalanan sedikit lebih jauh, tidak masalah yang penting dia sampai tepat waktu. Tanpa berpikir panjang Alina kembali putar balik.
Alina lega karena sesuai dugaannya rute yang dia ambil sepi dari lalu lalang kendaraan. Debu dan material yang ada disepanjang jalan sedikit menyulitkan, mungkin itulah yang membuat orang orang enggan melintas di jalan yang sedang dalam tahap perbaikan ini. Hanya beberapa orang nekat seperti dirinya yang mau bersusah payah termasuk dua motor yang sedari tadi mengiringinya.
Tunggu dulu !!!
Ada yang aneh, kenapa dua motor tersebut terus berada dibelakang, melihat ukuran jalan yang luas, sangat mudah bagi mereka untuk menyalip tapi mereka tetap saja bergeming walaupun Alina sudah memberi mereka akses untuk mendahuluinya.
Alina mulai dihinggapi rasa cemas, dari spion dia terus memperhatikan gerak gerik mencurigakan para pengendara tersebut, kalau Alina tidak salah tangkap, mereka memakai sebo dibalik helm yang mereka kenakan. Bisa dipastikan mereka memiliki maksud yang tidak baik.
Alina menambah kecepatan mobilnya, tapi motor motor itu tak mau kalah dan melakukan hal yang sama hingga kejar kejaran pun tak terelakan , salah satu motor tersebut berusaha menyerempetnya tapi Alina juga tidak menyerah, dia terus memperdalam pedal gas hingga tubuhnya berguncang hebat seiring dengan pergerakan mobil dijalan yang tidak rata.
Ciiiiiit......
Alina terpaksa menginjak remnya sekuat tenaga saat salah satu motor itu memotong jalannya, bagaimanapun dia tidak mungkin menabrak mereka begitu saja
Gadis itu mulai merapal doa doa dan langsung mengunci pintu mobilnya lalu merundukkan kepala keatas setir.
Tok...Tok
" Keluarlah, atau kami akan membuka mobil ini dengan paksa"
Tubuh Alina makin gemetar , keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dia tidak tau lagi harus berbuat apa, tidak ada seorangpun yang bisa dia minta tolong. Suasananya benar benar sepi.
" Hei , apa kau tuli keluarlah sebelum kami berbuat lebih kasar lagi"
Gadis itupun pasrah, tangannya terulur menekan tombol untuk membuka kunci, dengan perlahan dia mendorong pintu dan keluar dengan raut ketakutan.
" Wow wow gadis cantik rupanya, makan besar kita man"
Alina menundukkan kepala " Saya mohon lepaskan saya, kalian boleh ambil mobil dan juga barang barang saya" ucapnya memberanikan diri.
" Tidak semudah itu sayang, kamu terlalu indah untuk dilewatkan"
Alina makin tercekat , salah satu dari kawanan penjahat itu menghampiri dan mencoba menyentuhnya, tapi Alina reflek menepis tangan itu dan berteriak sekencang mungkin
__ADS_1
" Tolong...tolong"
" Ha..Ha, berteriak lah sepuasmu sayang, tidak akan ada yang mendengarmu"
"tolong... tolong..." Alina terus berusaha
" Hei, lepaskan gadis itu"
Orang orang itu serempak menoleh pada sosok yang mencoba menghentikan mereka.
***
" Bagaimana kau bisa berpikir mengambil jalan ini" dengus Max melihat situasi jalan yang mereka lalui sekarang.
" Tenang boss yang penting kau bisa sampai ditempat tepat waktu" ucap Adrian dengan senyum penuh arti.
Max menggelengkan kepala melihat tingkah Adrian yang menurutnya aneh, tapi tidak ada gunanya dia berdebat, tubuhnya cukup lelah karena seharian melakukan meeting dan sekarang dia juga akan menemui client yang baru datang dari Singapura.
Karena malas menyetir dia pun meminta Adrian menemaninya, berharap bisa tidur dalam perjalanan siapa sangka Adrian malah membuatnya kesal seperti sekarang karena goncangan di mobil membuat dia tidak bisa nyenyak. Begitu terbangun dia baru sadar sudah berada dijalan antah berantah.
Max mengedarkan pandangannya , tidak ada apa apa yang bisa dilihat, sepanjang perjalanan hanya ada lahan yang belum digarap, memang ada beberapa bangunan yang sudah berdiri berupa ruko ruko tapi sepertinya belum dihuni .
" Hei pelan pelan, sepertinya ada sesuatu yang terjadi didepan sana"
Max menajamkan penglihatannya, tidak salah lagi ada perkelahian, satu melawan empat orang.
Adrian buru buru menghentikan kendaraan , Max turun lalu berlari ketengah pertarungan, dan membantu orang yang sudah terdesak tersebut. Tidak sulit membedakan lawan, karena keempat orang yang mengeroyok itu memakai sebo.
Buk...buk...Bukk
Pertarungan yang tadinya berat sebelah sekarang berbalik arah, orang orang yang mengenakan sebo itu mulai kewalahan oleh serangan Max yang mematikan. Orang orang itu pun mencoba menggunakan senjata tajam berupa pisau lipat tapi hasilnya tetap sama, serangan mereka sudah bisa dibaca oleh Max yang memang berpengalaman dalam ilmu bela diri, baru beberapa trik yang Max keluarkan , orang orang bersebo itu sudah terdesak dan akhirnya kabur tunggang langgang sambil memacu motor mereka sekencang mungkin .
" Apa anda baik baik saja?" tanya Max pada orang yang sedang mengatur napasnya sembari tertunduk, orang itu mengangkat kepala
" Orion" seru Max tidak percaya
Orion juga terkejut saat melihat orang yang membantunya adalah Max, adiknya sendiri.
" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Max heran
" Aku mencari jalan pintas, tak sengaja lihat mereka menganggu gadis didalam mobil itu "jawab Orion dengan napas yang masih tersengal,
Max menoleh kearah mobil yang ditunjuk. Dia terperangah saat menyadari mobil tersebut.
" Al, Alina,," Max mengetuk pintu mobil berulang kali, gadis itu mengangkat kepala begitu mendengar seseorang yang memanggil namanya.
__ADS_1
" Pak Max" , Alina segera turun dari mobil dan menghambur kedalam pelukan pria itu dan mendekapnya erat, Max juga balas mendekap Alina yang masih gemetar.
Orion memandang heran, sementara Adrian hanya mengusap usap tengkuknya salah tingkah.
" S- saya takut pak, "
Max mengusap rambut Alina penuh sayang, mengecup kepala gadis itu berulang kali
" Tenanglah sayang, semua baik baik aja, kamu aman sekarang, ada saya disini"
Alina perlahan melepaskan diri dan memandang pada Orion.
" Makasih sudah menolong saya, saya tidak tau apa yang akan terjadi kalau tidak ada yang menolong saya, hiks" ucap Alina terisak
Orion memang datang disaat yang tepat, biasanya dia tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya, tetapi saat melihat Alina hatinya tergerak untuk membantu, siapa sangka orang yang dia tolong masih ada hubungan dengan adiknya.
" Gak masalah, tapi kamu juga harus berterima kasih pada orang yang kamu peluk itu, kalau dia tidak datang mungkin kita berdua sama sama menjadi korban" Orion berkata apa adanya.
Alina memandang Max, lagi lagi pria didepannya ini jadi penolongnya.
Max menangkup wajah Alina, mengusap airmata gadis itu lalu mengecup keningnya penuh kelembutan. Alina merasakan sebentuk kasih sayang dalam sentuhan ini dan dia merasa nyaman. Sepertinya mereka berdua tidak sadar sedang menunjukkan perasaan terdalam yang mereka miliki satu sama lain.
" Sudah gak usah dipikirkan yang penting sekarang kamu selamat, ayo kita pulang saya akan antar kamu sampai rumah" ajak Max yang diangguki oleh Alina.
Dalam hati Adrian bersorak senang, meskipun hampir saja dia membuat Alina dalam kesulitan, tapi nasib baik masih berpihak padanya.
Tadinya dia sengaja menyamar menjadi seorang client, tujuannya untuk menjebak Alina dan Max dalam sebuah makan malam romantis di hotel bintang yang lokasinya dekat pinggiran kota, sebuah lokasi yang cocok untuk pasangan yang sedang kasmaran.
Begitu Max memintanya untuk menemani Adrian tidak membuang kesempatan, tanpa sepengetahuan Max, dia memakai ponsel pria itu untuk menghubungi Alina dan ketika Alina menghubungi balik, dia mengalihkan panggilan telpon Max ke mode silent, begitu Max lengah dia menghapus histori panggilan.
Tapi dia tidak mengira sama sekali kalau Alina malah mengambil jalan pintas dan mengantar nya pada bahaya, beruntung Orion juga melintas disana kalau tidak entah apa yang akan terjadi . Max pasti membunuhnya kalau Alina kenapa napa, sekarang saja dia bersiap akan kena amukan gara gara ide konyolnya ini.
" Apa dia gadis yang dicintai Max?" bisik Orion
penasaran
Adrian memgangguk. Orion baru mengerti mengapa Max mengambil keputusan besar dalam hidupnya, ,dia bisa melihat dengan mata kepala sendiri cinta Max yang begitu besar pada gadis itu.
Alina memang menawan, dibawah pencahayaan temaram Orion masih bisa melihat pesona yang dimiliki seorang Alina
, boleh dibilang dia juga sempat terhipnotis oleh paras ayu yang sedang memeluk adiknya tersebut, tapi sayang Max lebih dulu menemukannya kalau tidak dia juga akan melakukan apa yang Max lakukan, dalam hati terselip sedikit kecewa, tapi mau gimana takdir tidak berpihak padanya.
***
Hallo, mohon dukungannya ya guys, masukkan cerita ini ke daftar favorit kalian agar bisa selalu dapat updatean
__ADS_1