
" Hentikan saja sandiwara mu itu darling! bahkan dia tidak membalas pesanmu, " ujar Juan mentertawakan Tiara yang masih cemberut sambil mengotak atik ponselnya.
Tiara mencebik.
Dia dan Juan memang tidak berpisah dalam artian sebenarnya, mereka hanya mencoba membuat manuver untuk mendapatkan keuntungan dari Max.
Usaha Juan sedang mengalami krisis dan dia perlu suntikan dana segar. Tapi aset yang mereka miliki tidak cukup untuk memenuhi jumlah yang dibutuhkan. Tiara mendengar kalau Mulia Jaya tetap berada di puncak kejayaan sekalipun pandemi menghadang. Oleh karenanya dia mencoba mendekati Max kembali dengan mengarang cerita perpisahan. Berharap pria itu empati.
Sayang sudah beberapa bulan, rencananya itu tidak berjalan sama sekali, Jangankan empati Max tidak melirik nya sama sekali. Padahal dia sudah berusaha keras untuk mendekati orangtua pria itu. Apalagi semenjak kepulangan Alina. Semua yang dia lakukan seperti angin lalu.
" Lalu apa rencanamu selanjutnya! kalau dalam bulan ini kita tidak dapat dana, maka perusahaan akan diakuisisi, kamu sih bisa -bisa nya berhutang pada pria kejam itu. Pake jaminan perusahaan segala, " keluh Tiara putus asa.
Juan menghela napas berat,
" Jangan cuma menyalahkan ku, uang itu kita habiskan bersama, kamu tidak ingat liburan mewah mu waktu itu,"
Tiara tidak mengelak, faktanya Juan meminjam dana pada Rendy, si mafia memang untuk memenuhi gaya liburannya, dia gerah dengan cerita -cerita teman sosialita yang berlibur setiap akhir pekan sementara dia tidak memiliki cerita baru sama sekali karena keuangan mereka sedang tidak baik.
"Sudah ku bilang dari awal darling, terus terang saja pada Max kalau kita lagi butuh bantuan, eh kamu malah membuat rencana lain, sekarang mau gimana lagi. Aku harus bersiap -siap melepas saham ku pada Rendy, "
Lagi lagi Tiara tersudut. Tapi tidak ada gunanya menyesal, dia harus tetap melanjutkan rencananya, dia tidak mau hidup miskin bersama Juan, tentu saja tanpa sepengetahuan pria itu. Juan akan merusak semuanya. Yang penting sekarang dia harus mencari cara untuk menyingkirkan Juan, barulah setelah itu dia akan memisahkan Alina dan Max.
***
Sudah hampir seminggu lamanya Max tidak berkabar dengan Alina, gadis itu merasa ada yang hilang dari dalam dirinya. Dia merasa bersalah karena telah membuat Max kecewa.
Alina mencoba menghubungi Max berulang kali, tapi ponsel pria itu tidak aktif. Seperti sedang dialihkan. Kamu dimana Max? aku merindukan mu, batin Alina nelangsa.
Dalam kegelisahan nya, terdengar suara orang bertamu. Meskipun tidak terlalu jelas, Alina tau kalau tamu tersebut laki-laki. Alina mencoba mendengar percakapan antara kakaknya dengan tamu itu, dia tidak bisa mendengar jelas, karena suara TV diruang tengah menghalangi. Alina pun keluar kamar untuk memastikan siapa yang datang.
"Al, ada yang nyari kamu nih! " sapa Audrey , Alina terkesiap, meskipun duduk membelakangi dia sangat mengenal sosok yang kini duduk diruang tamu.
" Ada keperluan apa? " Tanya Alina dingin. Bukan saja karna masa lalu, tapi status pria itu membuatnya tidak nyaman.
" Aku kesini mau minta maaf tentang masalah waktu itu, aku tidak.... "
" Cukup! " Alina memotong perkataan Bryan, dia mengerti arah pembicaraan ini.
" Aku sudah tutup buku dengan masa lalu, apapun alasan kamu, sudah tidak ada gunanya, " ucap Alina tidak memberikan kesempatan pada pria itu bicara lebih jauh.
" Aku hanya ingin meluruskan supaya kamu tidak salah paham!"
" Tidak, tidak perlu, aku sudah move on dan tidak ingin mengungkit apapun, fokus saja pada masa kini dan juga yang akan datang," Alina bersikeras. Membuat Bryan tidak lagi melanjutkan niatnya.
Kesempatannya sudah tertutup rapat. Tak ada lagi cinta untuknya dimata gadis itu. Benar yang Morgan bilang kalau Alina sudah membuang masa lalunya bahkan sebelum sempat dia jelaskan.
Bryan pamit, baru saja dia tiba di halaman, dia mendengar suara histeris Alina.
"Ibu! ibu! buka mata ibu, ada apa bu? "
Spontan Bryan kembali menghambur kedalam dan mendapati Ibu Ranti tergeletak dipangkuan Alina. Kepanikan melanda seketika, Audrey mencoba menghubungi ambulan, tapi nomor yang dihubungi dalam mode sibuk sementara Alina terus berusaha membangunkan ibunya yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
" Kita bawa ke rumah sakit sekarang! " ucap Bryan cepat tanpa menunggu jawaban dia sudah membopong tubuh wanita tua itu menuju mobil. Alina dan Audrey mengikuti dibelakang.
" Titip anak-anak mbak! " ucap Audrey setengah berteriak pada Asti, asisten rumah tangga yang setia sejak dulu.
" Jangan khawatir mbak, saya akan menjaga mereka, " jawab Asti sambil mengusap air matanya sendiri. Baru kali ini dia melihat Ibu Ranti pingsan, selama ini beliau sangat sehat.
" Bu, ibu kenapa, buka mata ibu, , hiks" ucap Alina terisak sambil memangku kepala sang ibu yang terlihat makin pucat.
Audrey juga meneteskan airmata. Dia belum berani mengungkapkan pada Alina, takut gadis itu shock lalu ikut tumbang.
" Kak, ibu kenapa, bukankah tadi baik-baik saja, "
Audrey menggeleng sambil menangis. Tidak tau harus bagaimana menjelaskan.
Teringat beberapa menit yang lalu, ibu sedang menerima telpon dari istri aditya yang mengabarkan kalau Aditya kena tipu ratusan juta oleh vendor yang bekerjasama dengan perusahaannya, sementara klien mereka menuntut ganti rugi kalau sampai dalam waktu yang dijanjikan tidak bisa mengembalikan uang yang sudah dibayarkan, aditya akan dipenjarakan.
Ranti terkejut mendengar keadaan putranya, masalah terus berdatangan tanpa henti, Ranti mengalami sesak napas, dan ambruk saat sedang berjalan menuju ruang tamu.
" Suster.. suster tolong! ada keadaan gawat darurat" teriak Bryan setelah memarkirkan mobil di depan UGD, beberapa orang perawat bergegas keluar dengan mendorong brankar, mereka mengangkat ibu Ranti dengan cekatan, lalu membawa kedalam ruangan pemeriksaan.
Seorang dokter bergegas masuk kedalam, Alina dan Audrey ingin masuk tapi dicegah oleh suster.
" Maaf, mbak-mbaknya tunggu diluar, dokter akan mengambil tindakan untuk pasien!"
" Tolong bantu ibu saya sus! " ucap Alina penuh harap.
" Kami akan melakukan yang terbaik mbak, " ucap suster sambil menutup pintu.
Audrey membimbing Alina untuk duduk didepan unit tindakan. Keduanya saling berpelukan sambil berdoa untuk kesembuhan satu-satunya orang tua yang mereka miliki.
Alina sangat terkejut, dia semakin terisak dalam pelukan Audrey.
" Apa yang harus kita lakukan mbak, mbak sherly sedang hamil tua, pasti dia sangat terpukul karena keadaan ini. " ucap Alina tersedu
Bryan yang mendengar pembicaraan itu menjadi tidak tega, apa yang harus dia lakukan untuk membantu sementara keadaanya sendiri tidak begitu baik.
" Maaf, keluarga ibu Ranti ! " panggil suster
Audrey dan Alina berdiri bersamaan " Gimana sus, apa ibu kami sudah sadar,"
"Belum mbak, Bu Ranti mengalami serangan jantung, dokter baru saja memberikan tindakan pertama, saat ini pasien harus dirawat diruang ICU guna membantu pernapasan karena beliau belum sadarkan diri. untuk itu ada beberapa administrasi yang harus dipenuhi, "
" Lakukan yang terbaik Sus, " ucap Alina tanpa memikirkan apapun. Baginya keselamatan ibu lebih penting, untuk masalah biaya akan dia usahakan bagaimanapun caranya.
Audrey segera menemui bagian adminstrasi sementara Alina menunggu persiapan pemindahan ibunya.
" Ibu, berjuanglah! jangan tinggalkan kami, cuma ibu yang kami miliki, " ucap Alina dari balik pintu ruangan ICU.
Audrey kembali membawa berkas dengan wajah lesu.
" Per malamnya tujuh juta Al, " ucap Audrey lirih, matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
" Belum termasuk obat-obatan dan tindakan, kakak sudah mendeposit seluruh sisa tabungan yang kita punya, "
Alina menelan ludah, mendadak kerongkongan nya kering.
" Akan aku pikirkan kak, kakak gak perlu cemas, yang penting ibu sembuh, " Alina berusaha menyakinkan meskipun dia sendiri meragu. Dia tau persis uang tabungan mereka tidak sampai sepuluh juta. Itu artinya besok dia harus segera mencari akal untuk menyelesaikan masalah biaya. Semenjak keuangan mereka drop, mereka tidak lagi menggunakan asuransi untuk menghemat pengeluaran. Dan Alina menyesali keputusan tersebut. seharusnya dia memikirkan juga masalah kesehatan yang datang sewaktu-waktu seperti sekarang.
Satu-satunya yang terlintas dibenak dia adalah menjual rumah peninggalan sang ayah yang digadaikan pada pak Haji. Seingatnya rumah itu baru digadaikan dengan harga dua ratus juta ketika dia sakit, sementara harga rumah melebihi angka tersebut, semoga pak Haji, tetangga mereka itu mau mengambil rumah tersebut.
"Kondisi ibu anda sudah cukup stabil, obat-obat yang masuk bereaksi dengan baik tapi beliau belum sadarkan diri, untuk beberapa waktu kita akan pantau. Setelah ibu anda sadar barulah kita mengambil tindakan selanjutnya!" jelas dokter yang menangani ibu Ranti.
Bryan yang masih berada di sana seperti orang bodoh, Alina tidak memberinya ruang untuk mendekat. Setiap kali dia hendak turut bicara gadis itu mengacuhkannya
"Sebaiknya kamu pulang Bryan, keluarga mu pasti sudah menunggu di rumah, terima kasih sudah membantu, " ucap Alina pada akhirnya.
" Aku akan menemani kalian disini! "
Alina menggeleng.
" Tidak perlu, ada aku dan juga Audrey , kami bisa menangani ini, sekali lagi terima kasih, "
Bryan tidak punya pilihan, sikap tegas Alina membuat dia tidak bisa memaksa.
" Jangan sungkan untuk meminta bantuan, aku akan selalu ada buat kamu, "
Alina tersenyum pahit.
" Kami bisa mengatasinya, " Alina menolak mentah-mentah bantuan Bryan, dia tidak mau tersangkut hutang budi dengan pria dari masa lalunya.
"Kamu terlalu keras padanya Al, " ucap Audrey setelah Bryan berlalu.
" Lebih baik begitu kak, aku tidak mau terlibat masalah dengannya lagi, dia sudah berkeluarga"
Audrey mengerti.
Mengingat anak-anak di rumah cuma bersama Mbak Asti, Alina meminta Audrey pulang. Sebenarnya pihak rumah sakit tidak mempermasalahkan kalau pasien tidak dijaga, karna mereka juga tidak diizinkan menjenguk kedalam tapi Alina tidak mau meninggalkan ibunya. Sekalipun dia harus tidur di kursi saja akan dia lakukan, asal saat ibu sadar nanti dia ada di sana.
Audrey dengan berat hati pulang, kasian anak-anak nya kalau dia memaksakan diri tinggal. Dengan langkah gontai wanita itu berjalan di lorong rumah sakit sambil menyeka airmata yang kembali luruh.
Bruk!
"Maaf saya tidak sengaja! " ucap Audrey dengan rasa bersalah.
" Audrey? "
Wanita itu menatap lekat pada pria yang baru aja dia tabrak.
" Mas......?"
Audrey lupa dengan nama pria itu, yang dia ingat pria itu adalah sahabat sekaligus asisten Max
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
ditunggu komen2 nya biar author semangat