
" Tidak seharusnya kau melakukan itu bro, Setidaknya jaga perasaan Adinda. " ujar Morgan tidak senang dengan apa yang dikatakan Bryan barusan.
Bryan menghisap kretek nya dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Raut wajahnya sudah menunjukkan bagaimana kusut nya pikiran pria itu sekarang.
" Aku gak bisa membuang perasaan ini gan, aku sudah berusaha menerima Adinda dengan segenap hati, tapi Alina tak tergantikan, " keluh Bryan nelangsa.
Morgan menatap prihatin, dia sangat bisa memahami perasaan sahabatnya itu. Hanya saja kesalahan Bryan telah menghancurkan segalanya, apalagi yang bisa dia katakan selain meminta Bryan berdamai dengan masa lalu.
Terdengar mudah, tapi bagi Bryan adalah hal yang sulit. Terpikir olehnya untuk berpisah dengan Adinda dan memulai semuanya dari awal dengan Alina, tidak masalah dengan kondisi Alina sekarang, dia yakin dan percaya Alina akan kembali mengingatnya.
" Kalau kau nekat, bukan tidak mungkin semuanya malah memburuk, Pak Hartawan, mertuamu sangat menyayangi putrinya, kau juga akan berhadapan dengan Max. Dia tak akan segan untuk menghabisi mu, " kecam Morgan.
Bryan mendengus, " Aku tidak takut, cukup sekali aku salah langkah, kali ini aku akan mengambil jalan yang seharusnya."
Morgan menggelengkan kepala, Bryan benar-benar keras kepala.
" Anggap saja kau siap dengan tantangan, bagaimana dengan Alina, kau pikir dia mau kembali padamu? "
Bryan terdiam.
" Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku melihat sendiri tatapan Alina pada Max, terlihat dia sangat mencintai pria itu, "
" Hubungan mereka baru seumur jagung, sementara aku dan Alina sudah lama bersama, aku yakin Max hanya pelarian, "
Morgan menghela napas, susah menasehati orang seperti Bryan, matanya sudah dibutakan oleh keegoisan.
" Terserah kau saja, aku tidak mau lagi dilibatkan, pikirkan semua dengan kepala dingin bukan dengan emosi. Penyesalan selalu datang terlambat. Setidaknya pertimbangkan juga anak-anakmu, kau bukan anak kemaren sore Bryan. " ucap Morgan panjang lebar, lantas berlalu pergi.
Sebagai sahabat dia kecewa dengan sikap kekanak-kanakan Bryan.
***
Sesungguhnya Alina bersyukur dengan keberadaan Max disini. Sebatas dalam hati tentunya. Dia tidak mau mengemukakan langsung nanti yang ada Max malah besar kepala.
Anak-anak seumuran Dirga sedang aktif -aktifnya mengeksplorasi kan diri, loncat sana-sini, berlari tiada henti, belum lagi sifat manjanya yang sesekali minta digendong saat hewan yang dilihat tidak nampak oleh pandangannya. Kalau tidak ada Max saat ini sudah dipastikan dia akan kewalahan.
Max dengan senang hati mengikuti semua kemauan Dirga. Mereka seperti satu keluarga lengkap, sama dengan anak-anak lain yang didampingi orangtuanya.
Kebersamaan mereka itu membuat Alina lupa kalau dia sedang bersandiwara. Tanpa sengaja saat makan siang, Alina membeli Spaghetti Bolognese dari stand Fried Chicken untuk Max. Bekal yang dibawa dari rumah hanya untuk dirinya dan Dirga, menunya nasi dan lauk pauk.
Tidak mungkin Alina membiarkan Max melewatkan makan siang, sementara pria itu sudah banyak membantunya. Alina tersadar saat Max menerima makanan itu dengan senyum penuh arti.
Alina merutuki kebodohannya, " Kalau tidak suka, saya bisa pesan kan yang lain, tadi mereka kehabisan ayam daripada menunggu ayamnya digoreng dulu, saya pesan menu yang ada saja, " Alina mencoba beralasan.
Lagi -lagi Max tersenyum.
__ADS_1
" Tidak masalah, saya memang tidak makan nasi, "
Gadis itu diam saja dan fokus pada makanannya.
" Om, aku mau itu!" tunjuk Dirga menghampiri. Meskipun outbound anak-anak makannya tetap bersama guru, agar tidak ada yang bermanja- manja saat makan.
" Ooo yang warna putih itu ya? " tanya Max mengikuti arah jari Dirga. Seorang penjual gulali.
Dirga mengangguk ruang.
" Apa ya namanya?om lupa!" Max coba berpikir.
Dirga mengikuti ekspresi Max, keduanya dalam mode menggemaskan.
" Kan kita pernah makan itu sayang, namanya permen kapas, kamu lupa ya? " timpal Alina sembari membereskan kotak bekal kedalam tas.
" Oiya, waktu itu kita beli sama rambut nenek juga kan! " ucap Max antusias lalu melirik pada gadis itu.
Alina gelagapan.
Once more, dia keceplosan lagi.
" Dirga ingat gak yang aunty beli waktu sama mimi ditaman, " Alina membuat pengalihan, seolah kalimat barusan memang untuk Dirga.
" Masa sih, kamu pasti lupa, udah yuk kita kesana aja," ajaknya buru-buru, tak ingin percakapan ini menjadi runyam.
Max tertawa kecil, "Alina, sayangku sampai kapan kamu mau berpura-pura, " batinnya seorang diri. Satu hal yang Max yakini sedari awal, Alina menyembunyikan sesuatu darinya. Untuk itu dia akan mengikuti skenario gadis itu sampai dia mendapatkan informasi akurat.
Ngomong -ngomong soal informasi, Max teringat dia belum mendapat kabar dari Erik. Pria yang merupakan adik dari sahabatnya Dr. Edhie. Berbekal dari pembicaraan nya dengan Lisa, manager hotel tempo waktu. Max akhirnya tau dimana Alina selama ini. Dia tinggal bersama kerabatnya yang ada di melaka. Max bahkan tidak terpikir kalau Alina kesana. Alina belum pernah cerita tentang kerabat mereka yang ada dinegeri tetangga itu. Pantas saja dia kehilangan jejak.
Erik, pernah bertugas di rumah sakit yang ada di sana, sebagai direktur, tapi sekarang dia sudah pindah ke jakarta. Oleh karena itu dia segera menghubungi pria tersebut dan meminta bantuan. Awalnya dia menolak karena menyangkut kode etik, namun Max sangat memohon lalu menceritakan semua tentang Alina. Edhie turut meyakinkan adiknya, kalau Max tidak akan mempermainkan data, dia hanya butuh kebenaran tentang kekasih hatinya. Erik pun setuju membantunya.
Max menyalakan kembali ponsel yang sempat dia matikan karena tidak ingin diganggu, tak terhitung banyak pesan yang masuk, papi, mommy, mbak utami, Adrian, Tiara, dan banyak lagi.
Dia hanya membaca beberapa pesan dari papi, yang mengatakan kalau pertemuan hari ini beliau yang handle, memberi kelegaan pada Max karena dia tidak mengecewakan kolega mereka. Dia mengucapkan terima kasih pada papi yang selalu menjadi penyelamat. Kebayang gak kalau aksi tiba-tiba nya ini bisa menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Namun demi Alina dia siap menanggungnya.
" Kalau tuan mau pulang silahkan, terima kasih sudah membantu, " entah sejak kapan Alina sudah berada di dekatnya.
Max memasukkan kembali benda pipih itu ke saku jas.
" Ayo ga, yang lain udah pada ngumpul, kita lanjutkan petualangan hari ini! " seru Max dan mengabaikan perkataan gadis itu.
Alina mendesah pelan, Max tidak pernah menyerah, baru saja pria itu mendekatinya sehari, dia nyaris membuka kedoknya sendiri. Bagaimana kalau Max terus-terusan berada di dekatnya, mustahil dia akan bertahan.
Alina berpikir, dia tidak bisa membiarkan Max mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia harus segera mencari cara agar Max menjauh. Apapun caranya akan dia lakukan.
__ADS_1
Sayang nya tekad tinggal lah tekad, menguap begitu saja saat mereka dalam perjalanan pulang dimana semua orang tertidur karena kelelahan. Alina tanpa sadar ikut terlelap sambil bersandar pada bahu tegap Max, dia membiarkan begitu saja ketika Max menautkan jemari mereka berdua. Dia terlalu capek untuk protes. Hatinya juga tak bisa berbohong. Kehadiran Max selalu membuatnya nyaman dan merasa terlindungi.
Saat terjaga, dia malah sudah berada dalam mobil mewah.
" Udah bangun? " sapa sosok yang duduk dibalik kemudi. Tangan Max terulur mengusap rambutnya.
" Kita ada dimana? kenapa saya ada disini? Dirga mana? bukankah kita tadi dalam bus? " cerocos Alina panjang lebar.
" Hei, calm down sayang. Kamu aman kok sama saya,"
" Bukan itu, aku.. " Alina tidak jadi melanjutkan kalimat karena jari Max menempel pada bibirnya.
Memintanya untuk diam.
Jari itu tak kunjung beranjak meskipun Alina tak lagi bicara. Malah bergerak mengusap, makin lama semakin menyasar kearah pipi, dan Alina tak sempat mengelak begitu Max menarik tengkuknya menyatukan bibir mereka berdua.
Kerinduan dalam diri Alina tak mampu dibendung. Dia larut dalam rayuan yang menggoda, ke cup an demi ke cup an Max membawa dia pada kenangan manis mereka berdua. Alina memejam kan mata meski tak membalas.
" Max... "
" Hmm"
"Dirga.. "
"Tidur.. "
" Max... "
Pria itu tak lagi menjawab, malah kembali memberikan stimulasi pada bibir gadis itu. Membuat Alina hilang kendali, gadis itu pun memberikan balasan. Usaha Max tidak sia-sia. Keduannya terengah engah meskipun hanya ber ciu man namun hawa panas berbalut rindu siap membakar. Max sangat pandai mengendalikan diri dia menahan untuk tidak lebih jauh, karena ada anak kecil yang tengah lelap dibelakang. Sewaktu-waktu bocah itu bisa terjaga.
" Kenapa ingin menjauh dariku Al, hmm" bisik Max menyatukan kening mereka berdua.
" Aku, aku.. " Alina tak mampu menjawab, gagal sudah drama yang dia buat. Nyatanya dia tidak bisa menolak kehadiran Max. Dia juga merindukan pria itu. Air matanya mengalir tanpa diminta.
" Jangan nangis sayang aku gak bisa liat kamu kayak gini, " ujar Max menghapus butiran bening di pipi mulus gadis itu. Max mengecup kedua mata Alina lalu merengkuhnya dalam pelukan.
Bukannya berhenti, Alina malah semakin terisak. Membenamkan wajahnya di dada Max. Menumpahkan segenap rasa yang tersisa. Max akhirnya membiarkan, berharap nanti setelah lega Alina sudah mau membuka diri, menceritakan alasan dibalik kepergiannya selama ini.
***
Hallo, jangan lupa vote dan komen ya...
love
Dik@
__ADS_1