Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
39. Ruang Rindu


__ADS_3

Terhitung sudah seminggu sejak kepulangannya dari Bali, Alina dan Max tidak pernah bertemu lagi. Entah karena Max masih marah atau memang mobilitas pekerjaan yang tinggi membuat pria itu tidak punya waktu untuk sekedar bercengkrama dengan kekasihnya.


Max bukan tidak menghubungi sama sekali, pria itu sering mengirim pesan, kadang juga menelpon, tapi semua sebatas menanyakan kabar semata. Sekaku itukah hubungan mereka?.


Alina menyesal kemaren dia pernah menyia-yiakan waktu yang Max punya, ketika pria itu berada didekatnya dia malah membuat masalah dan sekarang dia termakan omongan sendiri, membiarkan Max mementingkan pekerjaan di banding dirinya adalah sebuah kesalahan. Mau meralat tapi gengsi.


Tanpa sadar bulir bening yang sedari tadi dia tahan kini dia biarkan mengalir bebas seiring goncangan dibahu menandakan gadis itu menangis menumpahkan rasa sesak yang menghimpit dada. Kalau ini adalah bentuk hukuman yang diberikan Max, dia akui pria itu berhasil.


Alina merindukan Max. Sangat rindu.


Tak mau terus uring-uringan, Alina menyelesaikan semua pekerjaannya lebih awal dan begitu jam kantor usai, gadis itu langsung memesan taxi online menuju Tower Mulia Jaya.


Meskipun sudah sore, dia yakin Max masih berada disana.


Alina sengaja tidak memberitahukan Max akan kedatangannya, memberi sedikit kejutan tentu akan menyenangkan, apalagi ini kali pertama dia menginjak kantor tersebut. Senyum simpul terus saja menghiasi bibirnya, membayangkan dirinya memeluk Max, menghirup aroma parfum yang sudah menjadi candunya sejak awal pertemuan.


" Maaf mbak, Pak Max sedang ada meeting, baru akan selesai satu jam lagi," ucap gadis receptionist begitu Alina menghampiri untuk menanyakan ruangan pria itu.


" Apa boleh saya tahu dimana ruangan beliau? saya akan menunggu disana," tanya Alina penuh harap.


" Sebentar, saya akan hubungi sekretarisnya dulu,"


Alina mengangguk. Sejurus kemudian gadis receptionist kembali bercakap dengan seseorang lewat interkom.


Alina mengedarkan pandangan, menganggumi interior gedung yang terlihat sangat luas, dua kali lebih luas dari Mega Buana. Suasana kantor ini juga lebih ramai, meskipun jam kerja telah berakhir setengah jam yang lalu.


" Maaf karena mbak belum membuat janji sebelumnya, jadi kami tidak bisa mengizinkan mbak menunggu disana," gadis receptionist mengatupkan tangannya didepan dada sebagai tanda dia tidak bisa membantu.


Meskipun kecewa Alina tetap menyiratkan senyum tulus.


" Kalau diizinkan, saya boleh duduk disini sebentar?" tanyanya lagi.


Gadis receptionist tidak keberatan, dia lansung mempersilahkan. Alina mengucapkan terima kasih lalu melangkahkan kakinya menuju sofa warna cream dan mendaratkan tubuhnya disana. Raganya memang lelah, tapi ruang hatinya jauh lebih lelah karena menanggung rindu yang semakin membuncah.


Gadis itu memutuskan untuk menghubungi Max, tapi ponselnya tidak aktif membuat Alina makin nelangsa. Seketika dia meragu, antara pulang atau menunggu Max yang tidak tahu pasti kapan keluar dari dari ruangannya.


Pemandangan itu tak luput dari pengamatan si gadis receptionist.


" Kasihan banget ya, secantik itu aja ditolak Pak Max, apa kabar dengan kita-kita yang cuma modal make up," candanya pada rekan seprofesi yang duduk dimeja sebelah.


" Bener banget, diantara para fans Pak Max yang selalu kesini , ini yang paling kalem dan gak neko-neko, ramah dan sopan lagi, sebenarnya apa sih mau Pak Max, udah kualitas premium gitu masih aja ditolak," tambah rekannya mengompori.


Sementara itu Alina akhirnya memutuskan untuk tetap menunggu, dia mengirim pesan pada ibu mengatakan kalau dia bakalan terlambat pulang. Untuk mengusir rasa bosan, Alina pun mengambil sebuah majalah yang ada dirak samping sofa.

__ADS_1


***


" Besok bisa tolong kosongkan jadwal saya mbak, saya ada urusan diluar kantor," ucap Max sambil menandatangani berkas yang disodorkan Utami, sekretaris CEO.


" Kamu tu kebiasaan ya Max, mbak udah berulang kali bilang, jangan mendadak libur, besok ada pertemuan dengan Mr.Lee dari Japan Building, membahas pembangunan mal di surabaya, gak mungkin kan mbak minta dia menunda , bisa-bisa tu orang mengeluarkan samurainya," sungut wanita itu.


Utami masih saudara jauh Max, dan usianya lebih tua beberapa tahun. Sudah menikah dan mempunyai anak satu. Karena hubungan kekerabatan itulah mereka akrab layaknya kakak adik. Tak jarang Max disemprot Utami kalau dia berbuat semena-mena, seperti sekarang ini.


Bukannya marah, Max malah mengeluarkan cengiran, " Please mbak, udah seminggu loh saya full schedule, saya kan punya kehidupan pribadi juga," ucap Max tanpa mengalihkan fokus pada kertas dihadapannya.


Utami paham, yang dia dengar dari Adrian, Max berhasil membuat gadis yang selama ini dicintainya luluh. Walaupun Utami sendiri belum pernah bertemu dengan sosok yang membuat Max begitu tergila-gila.


Utami cukup penasaran seperti apa sosok tersebut, mengingat Max memiliki banyak fans, bukan saja dari lingkungan kantor sendiri tapi juga beberapa artis dan model ternama turut mengincar, sayangnya Max tidak pernah tertarik.


" Okay, kamu boleh libur tapi setelah pertemuan dengan Lee, aku akan kosongkan jadwal kamu dua hari kedepan ,gimana?" Utami memberikan penawaran.


" Okay deal," sahut Max sambil menyerahkan kembali semua berkas pada Utami.


" Oh ya, kata Vira di lobi ada seorang gadis nungguin kamu, apa kamu gak mau menemuinya?"


Ini bukan yang pertama kali seorang gadis mencarinya, dan dia sudah bosan menghadapi mereka semua.


"Tolong mbak urus aja, dan bilang sama receptionist kalau ada yang mencari saya diluar pekerjaan bilang saja tidak ada ditempat,"


Utami terkekeh, " resiko jadi orang ganteng, udah gitu mapan lagi, siapa sih yang gak bakal tergoda Max,"


" Bedalah Max, kamu itu paket lengkap, tampan, tubuh menjulang proporsional, kaya, gadis mana gak klepek-klepek sama kamu,"


Max hanya menggelengkan kepala, dan mengabaikan Utami yang terus saja mengoceh, kalau bukan karena saudara, sudah pasti Max mengusirnya sedari tadi.


Tok Tok Tok


Tanpa menunggu jawaban, pintu ruangan tersebut sudah didorong dari luar.


"Hei, apa kau benar -benar menolak kedatangannya," sergah Adrian tanpa aba-aba membuat Max dan Utami menautkan alis bersamaan.


" Ada apa denganmu bung, baru datang ngamuk-ngamuk gak jelas," sahut Utami sewot.


" Dibawah ada yang menunggu untuk bertemu kau Max, dan Vira bilang mbak Utami tidak mengizinkan orang tersebut naik, "


" Ya mbak kan cuma ngikutin perintah boss kita ini, mau gimana lagi, emang siapa sih yang datang segitu paniknya?" Utami membela diri.


Adrian sudah menduga, pasti karna Max tidak mengira sama sekali, untung tadi dia lewat dilobi, kalau gak mungkin bakal terjadi perang dunia ketiga.

__ADS_1


Max menatap gerak-gerik Adrian yang kembali membuka pintu, dan dia terpaku mendapati sosok yang tengah dia rindukan berjalan masuk begitu Adrian mempersilahkan.


"Shit" umpatnya pada diri sendiri, bagaimana dia bisa sebodoh ini.


" Sayang, kamu kok gak ngabari saya kalau mau kesini, " Max bergegas menghampiri


" Aku sudah telpon tapi ponsel kamu gak aktif,"


Seketika Max didera rasa bersalah.


Utami menatap wajah yang dipanggil sayang oleh Max, dan dia terpesona, kecantikan Alina sangat natural dengan tubuh ramping semampai, pembawaan yang tenang menambah poin gadis itu. Adrian memberi kode pada Utami, dan keduanya keluar tanpa sepengetahuan kedua orang yang tengah bertatapan itu.


Max terkesiap begitu Alina menghambur kedalam pelukannya. Dia membalas Alina yang mendekapnya erat. Untuk beberapa saat mereka bertahan dengan posisi itu. Karena Alina masih enggan menjauhkan tubuhnya.


Hidung gadis itu terus menghidu aroma Max.


" Saya juga merindukanmu sayang, " Ucap Max memecah kesunyian. Seolah tau apa yang ingin Alina sampaikan lewat pelukan ini. Perlahan Alina merenggangkan tubuh mereka dan menengadah menatap Max seksama.


" Oh ya, kalau rindu kenapa mengabaikanku selama seminggu ini?Apa kamu sedang balas dendam?"


Max tersenyum, kedua tangannya membingkai wajah Alina, mencium kening gadis itu dalam.


" Saya hanya sibuk sayang, bukannya kamu bilang saya harus memprioritaskan pekerjaan," sarkas Max sambil mengedipkan sebelah mata.


Alina merasa tersindir, dia mengulum senyum kedua tangannya bertumpu didepan dada Max, karena pria itu kini memeluk pinggangnya


" Gak begitu juga konsepnya sayang, maksud aku kamu harus bisa membagi waktu, antara aku dan pekerjaan, memangnya kamu gak kangen gitu kalau gak ketemuan," Alina mencoba berkilah.


" Kangen lah, cuma saya ingin tau aja reaksi kamu jauh dari saya, "


Alina memutar bola mata malas.


" Udah lihat sendiri kan, saking kangennya rela nungguin berjam-jam seperti orang bodoh, untung ketemu Adrian, kalau gak bisa lumutan aku dilobi,"


Max cengengesan, " Soal itu maaf sayang, saya gak tau kalau kamu yang datang,"


Banyak hal yang ingin Alina tanyakan, tapi dia tidak ingin merusak momen. Alina menatap wajah Max sendu,


"Aku mencintai kamu Max, "


Max tidak percaya dengan apa yang dia dengar, tapi Alina kembali mengulang pernyataan cintanya. Membuat ketakutan yang sempat hadir itu sirna. Berganti dengan satu keyakinan bahwa Alina adalah memang ditakdirkan untuk dirinya.


" Aku juga sangat mencintai kamu sayang" Balas Max senang, perlahan tubuh mereka Kembali merapat, memperkecil jarak yang tercipta. Alina merasakan hembusan napas Max semakin dekat, gadis itupun memejamkan mata manakala kecupan hangat mendarat dibibirnya, menghantar rasa yang menggetarkan seluruh jiwanya.

__ADS_1


***


Jangan lupa Vote dan komen ya🤗


__ADS_2