Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
33. Meskipun sebatas kenangan


__ADS_3

Seorang pria tampan berdiri di balkon apartemen dan menatap jauh kedepan sambil menikmati batang rokok yang terselip dibibirnya, tidak sampai setengah batang dia mematikan puntung tersebut dan membakar kretek baru. Bisa dipastikan pria itu sudah menghabiskan lebih dari satu bungkus terlihat dari asbak yang penuh di atas pagar pembatas tempat dia bersandar.


Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa bulan silam.


" Aku tidak bisa melakukan ini, " desah pria itu gundah gulana menatap wajah cantik yang terbaring disalah satu brankar yang ada di ruangan yang didominasi warna putih tersebut.


" Please kak, jangan membuang waktu lagi kita sudah separuh jalan, cuma ini satu-satunya cara agar kita terbebas dari masalah, atau kakak ingin kita semua membusuk dipenjara," ucap seorang gadis mengingatkan.


" Tapi bagaimana dengan Alina, aku tidak ingin membuatnya terluka, dia tidak bersalah," ucap pria yang tak lain adalah Bryan dengan suara meninggi.


Sarah mendengus kesal saat Bryan masih dalam kebimbangan, padahal rencana ini sudah mereka bicarakan sebelumnya.


"Lalu apa yang akan kakak lakukan, apa kakak ingin Alina membenci kakak untuk selamanya, atau membiarkan kakak tetap ada dihatinya meskipun sebatas kenangan,"


Bryan mendeguk ludah kasar, dia teramat mencintai Alina, dia tidak bisa jika Alina membencinya.


" Camkan satu hal, Alina akan baik-baik saja, mungkin dia akan bersedih, setelah itu dia pasti akan bangkit dan menata hidupnya kembali," Sarah memprovokasi pikiran saudaranya itu.


Bryan tercenung, dia berjalan mendekat kearah brankar dimana Alina masih tidak sadarkan diri dan memandang wajah damai gadis itu.


" Maafkan aku sayang, maafkan aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini, suatu saat kalau kamu tahu kebenaran yang sesungguhnya aku mohon jangan membenciku, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu meskipun nantinya kamu sudah bersama orang lain," lirih Bryan, airmatanya menetes membasahi pipi, menahan kecamuk rasa yang tak tau kapan usainya.


Sementara Sarah bergerak gelisah, sesekali dia mengedarkan pandangan keluar lewat kaca yang ada di pintu, dia menarik napas lega begitu seorang perawat laki laki yang dia kenal berjalan kearah ruangan mereka.


" Sekarang waktunya kak, kakak harus pergi," desak Sarah lagi. Bryan mengangguk sebelum beranjak dia sempat mengecup kening Alina untuk terakhir kalinya.


" Selamat tinggal sayang," bisik Bryan dengan rasa sesak yang semakin menghimpit. Tidak pernah menyangka bahwa kisah mereka harus berakhir seperti sekarang, kalau bukan demi menyelamatkan masa depan dia dan keluarganya, dia tidak akan tega membuat konspirasi sebesar ini. Terlebih berpisah dari gadis yang sangat dicintainya. Musnah sudah semua mimpi yang mereka bangun berdua, tinggal kenangan yang tak akan mungkin bisa lekang dari ingatan, karena mencintai Alina adalah anugrah terindah yang pernah Bryan miliki.


Bryan melangkah gontai kearah brankar yang sudah disiapkan perawat tersebut.


Bryan berbaring diatasnya dan sebelum kain putih menutupi hingga kepala, pria itu menarik napas dalam mengingat setelah hari ini semua tak lagi sama.


Shit, Pria itu mengumpat begitu menyadari bungkus kedua kreteknya sudah habis tak bersisa.


" Apa yang kamu lakukan diluar sini Bry," ucap suara renyah itu menyapa.


Bryan menoleh dan tersenyum mendapati seorang wanita mungil berkulit putih dengan rambut sebahu berjalan menghampirinya. Perutnya yang membuncit membuat wanita itu melangkah sangat hati-hati.

__ADS_1


" Aku hanya sedang cari angin dear," sangkal Bryan sambil membantu wanita itu duduk disalah satu sofa yang ada disana. Bryan mengambil sofa yang lebih kecil dan meletakkan didepan wanita itu, mengangkat kedua kaki yang sedikit membengkak keatasnya sehingga posisi wanita itu dirasa nyaman barulah pria itu ikut duduk disebelahnya.


Tanpa canggung wanita itu merebahkan kepalanya ke bahu Bryan, dan disambut dengan usapan lembut dirambutnya.


" Aku mulai susah tidur, mau berbaring rasanya serba salah kiri atau kanan," keluh wanita itu terkekeh.


Bryan menunduk dan mengusap perut buncit wanita itu.


" Sabar dear, tak lama lagi mereka akan keluar,"


Wanita itu mengangguk antusias " Aku sudah gak sabar menunggu hari itu tiba," ucapnya sumringah.


Bryan mencondongkan kepalanya didepan perut wanita itu.


" Kesayangan papa, jangan repotkan mama ya, kasihan mama jadi gak bisa bobok," ucap Bryan


berbisik seolah yang didalam sana bisa mendengar.


" Iya papa, kami gak akan repotkan mama kok, kami kan anak baik," timpal wanita itu meniru suara anak kecil. Bryan tertawa bahagia, diapun mengecupi perut istrinya tersebut.


" Kamu yakin masih kuat berangkat besok dear, jangan dipaksakan kalau memang tidak bisa, aku akan memberi tahu tante agar memaklumi keadaan kita,"


" Tapi kamu kan lagi hamil tua, pasti mereka akan mengerti, "


Wanita itu menggeleng kembali " Gak papa dear, aku kuat kok lagian cuma tiga hari, setelah malam tahun baru aku langsung balik lagi kesini,"


Kalau sudah bersikeras seperti itu, Bryan tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia ingin bersikap tegas tapi perasaaan istrinya semenjak hamil sangat sensitif, mudah menangis, Bryan tidak mau kalau istrinya terus-terusan cengeng akan berpengaruh pada perkembangan janin kembar mereka.


" Hati-hati disana, jangan terlalu capek," Bryan mengingatkan.


" Okay papa," wanita itu mengacungkan jari jempol dengan ekspresi yang menggemaskan. Pria itupun merengkuh tubuh istrinya.


Bryan ingin sekali menemani istrinya, tapi dia tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali. Gara-gara kecerobohan nya hampir saja rahasianya terbongkar.


Ya waktu itu dia baru saja tiba di tanah air, gara gara istrinya yang ngidam ingin jalan-jalan di lembang, mau tak mau Bryan menuruti permintaan tersebut. Karena penerbangan langsung ke Bandung sedang penuh, mereka memutuskan berangkat via Jakarta. Begitu mendarat, sang istri membawanya ke terminal keberangkatan untuk membeli snack kesukaanya. Siapa sangka disana dia melihat Alina, dia berusaha memalingkan muka, tapi Alina terlalu peka, gadis itu menyadari keberadaannya dan mulai membuntuti, beruntung suasana sedang ramai jadi dia dengan mudah menghindar.


Beberapa hari lalu Sarah juga memberi tahu kalau Alina akan berlibur akhir tahun di Bali, jadi dia dengan mudah menolak ajakan sang istri untuk ikut menghadiri pesta sang tante yang memang di taja disalah satu resort ternama dengan alasan banyak pekerjaan penting.

__ADS_1


Sang istri tidak sepenuhnya tahu tentang masa lalunya, yang dia tahu hanya Bryan pernah punya mantan pacar yang cukup berkesan dihatinya. Oleh karena itu sang istri berusaha membuat Bryan jatuh cinta padanya. Bryan sangat menghargai usaha istrinya, dia berusaha menerima perlakuan istrinya dengan baik tanpa penolakan. Tapi rasanya pada Alina masih terlalu kuat, istrinya belum mampu membuat rasa itu bergeser walaupun cuma sedikit.


Entah sampai kapan Bryan akan berada diposisi ini, yang pasti Bryan tetap berusaha mempertahankan rumah tangganya. Bagaimana pun ada janin kembar diantara mereka, semoga rasa itu akan hadir sehingga kelak anak-anak mereka mendapatkan limpahan kasih sayang utuh dari kedua orangtuanya.


***


" Kamu sih ngasih taunya dadakan gini, aku jadi bingung mau kasih kado apa," ucap Alina memberengut sambil memilih beberapa benda dihadapannya tanpa memutuskan sambungan telpon dengan Max.


"Maaf sayang, belakangan saya lagi banyak pikiran jadi lupa kalau ada acara keluarga disana," ucap Max memelas. Andai saja Alina melihat ekspresinya pasti gadis itu tidak akan tega.


" Kira kira apa ya kado yang cocok buat anniversary," gumam Alina seorang diri.


" Gimana kalau tas," ucap Max memberi saran.


Alina menggelengkan kepala padahal Max sudah pasti tidak bisa melihat gerakannya.


" Terlalu klasik, lagipula tante pasti sudah memiliki deretan tas yang mahal,"


Gadis itu kembali berkeliling mencoba mencari ide lain, tiba tiba matanya tertumbuk pada store yang ada disebrang sana.


" Sepertinya aku sudah tahu apa yang harus aku beli sayang," ucap Alina bergegas, dia harus segera menyelesaikan pencarian ini dan segera pulang. Dia belum sempat packing dikarenakan serentetan pekerjaan yang menumpuk dikantor belakangan ini.


" Syukurlah, emangnya kamu mau beli apa? barusan saya ada transfer semoga cukup ya, saya hubungi kamu nanti, i love you, mmuach"


Baru saja Alina mau protes, Max sudah menutup sambungan secara sepihak. Max tau persis kalau Alina pasti menolak pemberiannya, tapi pria itu tidak kehilangan akal agar Alina mau menerima meskipun terpaksa. Itu kenapa dia segera mengakhiri percakapan tadi.


Sementara ditempat berbeda Alina terperangah membaca pemberitahuan transaksi yang masuk lewat m-banking. Nominal dengan nol sebanyak delapan digit dibelakang angka utama membuat dia merasa sesak. Enak banget jadi orang kaya, mengeluarkan uang gak kira kira, desis Alina seorang diri. Mau kembalikan lagi dia tidak punya nomor rekening pribadi Max, besok dia akan menanyakan kepada Adrian, dia tidak bisa menerima uang sebanyak ini. Bertanya ke Max langsung juga percuma pria itu akan bersikukuh bungkam.


" Selamat malam mbak, ada yang bisa kami bantu," sapa seorang pramuniaga begitu dia memasuki store yang tadi dituju.


" Malam, saya mau lihat jam couple boleh?" jawab Alina ramah.


***


Happy reading ya , jangan lupa bantu vote dan komen


with love

__ADS_1


Dik@


__ADS_2