
Seminggu berlalu, sejak kejadian itu Alina lebih banyak terdiam, pikirannya terus saja tertuju pada malam naas tersebut, nyaris saja dia menjadi korban pelecehan, mirisnya pelaku adalah orang yang pernah dekat dengannya. Jika malam itu dia tidak melawan efek dari obat keras yang disuntikkan mungkin dia tidak bisa memaafkan diri sendiri.
Bryan sendiri sekarang sudah mendekam dipenjara untuk proses penyidikan, polisi masih mendalami kasus untuk mengumpulkan bukti dan juga saksi. Jika tidak ada aral melintang pekan depan kasus tersebut akan bergulir dipersidangan.
Alina tidak mengharapkan kasus tersebut berlanjut karena bagaimanapun nama baik keluarga Arlingga dipertaruhkan. Dimana posisi dia dan Bryan sama-sama menantu. Ditambah lagi media terus saja menggiring opini yang menyudutkan seolah dalam keluarga tersebut ada affair terselubung.
Ibarat buah simalakama, Alina dihadapkan pada dilema, disatu sisi dia merasa iba pada keluarga Bryan terutama Tante Merry yang terus-terusan memohon maaf penuh pengharapan agar Alina Sudi mengampuni putranya dengan derai airmata. Ibu mana yang sanggup melihat putra kebanggaannya berada dibalik jeruji besi, disisi lain dia harus menghormati keputusan yang sudah dibuat Max.
Masih segar diingatan Alina bagaimana Max pada malam itu, dengan penuh dendam dan amarah Max menodongkan senjata jenis revolver dikening Bryan yang babak belur tak berdaya.
Max tidak mengindahkan peringatan Orion dan Morgan untuk tidak bertindak lebih jauh, lebih baik menyerahkan semua urusan pada pihak berwajib. Max bersikeras, tidak terima atas perlakuan pria itu pada istrinya. Demi mendengar tangisan Alina barulah Max melunak.
" Aku tidak ingin kamu menjadi pembunuh Max, lakukan apapun padanya asal kamu tidak mengotori tanganmu dengan kejahatan, atau aku akan terus menyalahkan diriku atas tindakanmu, hiks"
Pada akhirnya Max membuat pilihan, dia menurunkan ego demi orang yang dicintai.
" Pastikan dia dihukum berat atau aku tidak akan menahan diri lagi,"
Alina bersyukur Max mau mendengarkannya sehingga terhindar dari dosa membunuh. Sekarang dia justru dihadapkan pada tekanan yang silih berganti menghampiri.
Kalau dengan Tante Merry dia bisa mengungkapkan kalimat yang menghibur, tidak pada Adinda dan juga Ayahnya Hartawan yang datang khusus untuk membantu masalah putrinya.
Pasca suaminya ditetapkan sebagai tersangka, Adinda menabur aura permusuhan pada Alina, dia tidak mengatakan apapun, tapi wanita yang dulunya selalu ramah sekarang memasang ekspresi dingin setiap kali mereka bertemu dan puncaknya pada hari ini dimana Adinda mengadakan pertemuan keluarga sebelum berkas kasus di limpahkan pada pengadilan.
" Setidaknya kakak memikirkan ku dan juga anak-anak, apalagi aku sedang mengandung, aku tidak keberatan kalau kakak akan membenci suami ku seumur hidup, tapi tolong jangan biarkan anak-anak ku kehilangan kasih sayang ayah mereka,hiks" ujar Adinda yang terus meneteskan airmata.
Semua orang terdiam, bingung harus menyikapi bagaimana, karena kalau Max sudah mengambil sikap, akan sulit bagi mereka untuk mengeluarkan pendapat, lagipula mereka juga mendukung Max karena kejahatan Bryan tidak bisa di selesaikan dengan kata maaf saja.
" Anak-anak mu masih kecil, mereka tidak akan mengerti apa yang sedang terjadi, kamu bisa membuat alasan jika mereka menanyakan keberadaan ayahnya, kamu juga tidak sendiri, kami juga keluargamu bukan? Apa kasih sayang yang kami berikan tidak cukup?" ucap Max dingin.
Adinda tidak menampik, dibanding Hartawan , Hardi dan istri juga anak-anaknya lebih peduli serta sangat perhatian padanya. Terbukti sejak kecil mereka selalu mendukung Adinda dengan tulus tanpa memandang status Adinda sebagai anak sambung Hartawan.
" Tapi jejak itu tidak akan hilang kak, Bryan akan dicap sebagai mantan narapidana, anak-anak ku akan merasa malu, apalagi kasus ayahnya adalah penculikan dan pelecehan wanita,"
__ADS_1
Max mendengus.
" Itu konsekuensi yang harus ditanggung suamimu, dia yang berbuat maka dia yang bertanggung jawab, jangan pikirkan apa yang belum terjadi, seiring bertambahnya usia, anak-anakmu akan memahami kesalahan orangtuanya"
Adinda kehabisan kata-kata, betapa sulit meluluhkan hati Max.
" Kau jangan egois Max, disini bukan cuma masalah Adinda saja, pikirkan nama baik kakekmu, mulia jaya corps dan juga golden jaya, jangan karena hanya seorang wanita kau menghancurkan kredibilitas kita dihadapan masyarakat!" Hartawan angkat bicara.
Max mengepalkan tangan, tersinggung oleh ucapan paman kandungnya itu
" Seorang wanita yang anda sebut itu adalah Istri saya Tuan Hartawan yang terhormat, justru saya sedang menjaga martabat keluarga ini dari bajingan seperti menantu anda, tidak seharusnya bajingan seperti dia ada ditengah-tengah keluarga Arlingga".
" Jaga sikapmu Max, sejak menikah dengan wanita itu kau banyak berubah, tidak lagi menghargai hubungan kekerabatan," sergah Hartawan marah.
" Saya tidak pernah berubah, apa yang saya lakukan sudah sesuai dengan yang seharusnya, kalau posisinya dibalik , Adinda yang mendapatkan perlakuan ini, apa anda akan terima?"
Hartawan mengetatkan rahang, merasa Max sudah melampaui batas, padahal dialah yang kelewatan.
" Awan, sebaiknya kau bawa Adinda pulang, hargai keputusan yang Max buat," ucap Hardi bijak
" Kau mengusirku? apa sekarang kalian hanya bergantung pada Max sehingga tidak ada yang berani mencegah apapun yang dia inginkan? Orangtua macam apa kalian yang tunduk pada kemauan anak-anaknya, dimana wibawa kalian!"
Hardi sudah sangat memahami bagaimana karakter Hartawan, sudah biasa menghadapi emosi berlebihan dari adiknya itu.
" Jangan mengajariku soal wibawa, apa selama ini kau sudah menjadi ayah yang baik? selagi anak-anak ku berada dijalan yang benar, aku akan mendukung apapun keputusan mereka, jadi pergi dari sini sekarang juga sebelum kesabaran ku habis!" ucapnya dengan tenang.
" Kau berani mengusirku?" desis Hartawan geram.
" Apa perlu aku menunjukkan pintu keluar!"
Adinda bangkit dari duduk lalu bersimpuh dikaki Hardi.
" Pi, tolong bantu Adinda membujuk Kak Max, jangan hancurkan rumah tangga Adinda pi, Papi dan Mommy sangat tahu kalau aku mencintai Bryan bukan? aku tidak bisa hidup tanpa dia, hiiks"
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan nak, biarkan proses hukum yang menentukan suamimu bersalah atau tidak!, jangan memaksa seperti ini"
" Bangun Dinda, jangan merendahkan dirimu, tidak ada yang peduli pada perasaanmu disini, ayo pulang!" Hartawan menarik kasar lengan putrinya.
Mau tak mau Adinda bangkit, karena apapun yang dia ucapkan tidak merubah pendirian Max. Perlahan dia beranjak mengikuti langkah Hartawan, dia mengusap wajah dengan cepat lalu menoleh kembali kebelakang, menatap Alina dengan sorot penuh kebencian, lalu beralih pada Max.
" Apa kakak yakin kalau Alina diculik, bagaimana kalau ternyata ini akal-akalan dia semata untuk menghancurkan suamiku!"
Kalimat tajam itu meluncur dari mulutnya. Membuat semua orang yang berkumpul dimansion terperangah, tak terkecuali Alina, dia menatap tak percaya.
" Maksud mu, aku menjebak suamimu begitu?"tanya Alina dengan ekspresi tidak terima.
Max menggenggam tangan istrinya lembut, tak ingin istrinya lepas kendali. Alina menggeleng, sudah cukup dia diam selama ini, bagaimanapun dia juga berhak membela diri sendiri.
" Aku tidak tau apa yang ada dalam pikiran mu Dinda, tapi aneh rasanya kalau aku menjebak Bryan dan membuat drama penculikan, aku tidak memiliki alasan untuk melakukan omong kosong itu, bukankah yang tidak bisa move on selama ini suamimu?"sarkas Alina gusar.
Adinda merasakan nyeri di hati, mengingat apa yang di katakan Alina adalah fakta, semua orang tahu itu.
" Jangan menyakiti hatimu lebih jauh nak, pulang lah dan coba mencerna situasi dengan kepala dingin, mommy mengerti perasaan kamu, tapi kamu juga harus menerima kenyataan kalau suami kamu sudah berbuat kesalahan." kali ini Widyawati yang angkat bicara. Tak mau keduanya terlibat pertengkaran lebih jauh.
Adinda berteriak histeris, dia terduduk dilantai membuat semua orang prihatin dengan keadaanya, Widyawati menghampiri wanita itu, memeluknya penuh kasih sayang.
" Aku gak bisa mom, aku gak bisa hidup tanpa Bryan, sama halnya dengan Kak Max yang tidak bisa hidup tanpa Alina, lalu apa salahku kalau aku membela suamiku, kenapa tidak ada yang mengerti, hiks" Adinda menangis pilu.
Hartawan menatap iba pada putrinya, sebagai ayah dia sudah merasa gagal menjadi pelindung.
Alina mendadak pusing, sebagai seorang wanita yang juga mencintai suaminya, dia bisa merasakan penderitaan Adinda. Dia terus memandang pada wanita yang terus saja meratap seolah dunianya hancur lebur. Sementara Max sudah beranjak ke kamar atas. Tak lagi peduli pada apa yang terjadi.
Alina memejamkan mata, dia harus mengakhiri konflik ini.
***
Jangan lupa vote dan komennya sayang-sayangku,,luph u fullš„°
__ADS_1