Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
52. Kisah Alina


__ADS_3

Alina tersentak dari tidur, seingatnya tadi dia sudah membunyikan alarm agar tidak kebablasan, kenapa dia tidak mendengar suara apapun, justru tangisan Dirga, sang keponakan yang membuatnya terbangun. Bergegas gadis itu melirik kearah jam dinding dikamar, matanya membulat sempurna. Jarumnya sudah berada diangka empat tepat.


Alina menyambar handuk yang memang sudah dipersiapkan didekat nakas, dia memutuskan untuk tetap datang. Kakak-nya pasti sangat kelelahan, setidaknya nanti dia bisa bantu berberes. Tangisan Dirga sudah tidak terdengar, mungkin Mbak Asti ataupun ibu sudah berhasil menenangkan bocah itu.


Tak butuh waktu lama, Alina sudah selesai. Sebuah kemeja berwarna pink muda menjadi pilihan outfitnya dipadu dengan rok payung selutut warna navy. Tak lupa dia memakai tas selempang, memasukkan ponsel kedalamnya lalu memasang sepatu warna senada dengan atasan, sederhana namun tetap memukau.


Alina meringis saat mengenakan sepatu sebelah kiri, untuk sesaat dia berdiam diri, meredakan rasa ngilu yang sempat menyerang. Setelah nyerinya tak terasa lagi, barulah dia beranjak.


" Loh mau kemana nak? " tanya Ranti begitu melihat putrinya sudah rapi. Wanita itu tengah menutup gorden jendela ruang tamu.


" Mau ke hotel bu, menyusul kak Audrey, " ujar Alina sambil mengambil benda pipih dari dalam tas, teringat dia belum memesan taxi online.


" Loh bukannya sudah terlalu sore mau kesana nak, ibu rasa acaranya pun sudah selesai, coba hubungi kakakmu terlebih dahulu," saran Ranti.


" Alina ketiduran bu, kenapa ibu gak membangunkan, kasihan kak Audrey kerja sendirian, "


" Ibu gak tega membangunkan kamu, pulas banget," ucap Ranti berbohong, sebenarnya dia sengaja membiarkan putrinya itu tidur, tidak ingin Alina terlalu capai. Fisik gadis itu tidak seperti dulu lagi.


" Yah handphonenya mati lagi, " keluh Alina begitu dia hendak membaca pesan chat yang dikirim sang kakak.


" Pake punya ibu aja, sepertinya tadi Audrey menelpon tapi hape ibu mati, nih baru diaktifin lagi. "


Alina menghubungi Audrey dari nomor ibu, tapi tidak diangkat juga, bersamaan dengan bunyi klakson depan rumah.


" Gak papa Alina menyusul saja ya bu, sepertinya kakak sibuk makanya gak bisa menjawab, nanggung juga Alina udah bersiap begini, " putus gadis itu kemudian. Ranti tidak lagi menahan.


" Hati-hati dijalan nak, kabari ibu kalau sudah sampai disana, " ucapnya begitu Alina pamit.


" Iya bu, "


" Satu lagi, jangan memaksakan diri, "


" Iya ibuku sayang, Alina pergi cuma beberapa jam aja kok, kayak mau merantau jauh aja, " Kekeh gadis itu seraya berlalu. Ranti menggelengkan kepala melihat semangat putrinya.


Alina menarik napas lega, Jalanan jakarta sore ini tidak macet, meskipun tidak terlalu lancar setidaknya kendaraan yang dia tumpangi terus melaju.


Alina menyalakan kembali ponsel yang sedang mengisi daya menggunakan power bank. Tak sabar dia ingin segera membaca pesan chat yang dikirim Audrey. Khawatir sang kakak memerlukan bantuan atau malah mendapat masalah. Seharusnya tadi dia tidak perlu istirahat. Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.


Kamu ngapain sih Al, susah banget dihubungi, angkat telpon ku sekarang, urgent🤙🤙


pink


pink

__ADS_1


pink


Al, Sebaiknya kamu gak usah kesini. Tuan rumah acara ini adalah keluarga Max😱ulang tahun keponakannya


Semua aman terkendali, kapan pun kamu membaca pesan ini, jangan datang okay😇


Kakak sekarang diruangan pantry yang ada didapur, Teguh bisa memegang kendali di ballroom👍


Pokoknya kamu tenang aja


Al, euy😎😎


Terkejut, sudah pasti. Jakarta ternyata tidak seluas yang Alina bayangkan. Kalau selama ini persembunyian nya aman sentosa dikarenakan situasi dan kondisi yang mendukung. Virus yang menyebar membuat pergerakan manusia untuk berinteraksi dibatasi.


Dan setelah tahun-tahun yang sulit berlalu, Alina memang harus mempersiapkan diri jika sewaktu waktu dihadapkan pada keadaan dimana dia tidak bisa lagi lari dari kenyataan.


" Sudah sampai mbak, " suara sopir membuyarkan pikiran Alina. Gadis itu mengedarkan pandangan, ternyata mereka sudah berada didepan pintu lobi. Dia mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar ongkos.


" Kembaliannya buat bapak aja, " ujar Alina sambil menutup pintu mobil, diiringi ucapan terima kasih berkali-kali dari sang sopir. Alina mengangguk sopan.


Memasuki lobi hotel dia disambut ramah oleh staf yang bertugas membukakan pintu. Alina bertanya posisi ballroom. Staf tersebut menunjukkan arah yang harus dia tuju.


Perlahan tapi pasti Alina sudah berada di depan pintu ballroom yang dimaksud, beberapa orang berpakaian safari nampak berjaga, begitu juga dengan dua orang gadis berpakaian seragam batik duduk di depan meja sebagai penerima tamu.


"Loh Mbak Alina disini, Mbak Audrey ada didalam mbak? " sapa seseorang. Ternyata Teguh muncul dibelakangnya sambil membawa nampan berisi piring-piring kecil.


" Ngapain Kak Audrey didalam, bukannya dia sedari tadi di pantry? " tanya Alina berharap semua omongan kakaknya tadi hanya keisengan untuk menakutinya.


"Sepertinya Mbak Audrey bersitegang dengan tuan rumah, saya tidak tau pasti apa yang sedang dibicarakan mbak, saya melihat Mbak Audrey terpojok, " ucap Teguh lagi.


Mendengar hal tersebut, Alina merasa bersalah. Karena membela dirinya, kedua kakak nya menjadi sasaran Max. Kalau kemaren dia tidak bisa melakukan apa-apa, sekarang dia akan bertindak. Dia akan menyudahi semua kemelut yang dia buat.


Alina mengikuti langkah Teguh, diiringi tatapan aneh orang-orang yang berjaga didepan. Mungkin miris melihat keadaannya. Sejak beberapa tahun ini Alina sudah terbiasa dengan pandangan orang-orang pada dirinya.


Semakin lama, jantung Alina serasa mau copot. Detak nya dua kali lipat dari sebelumnya. Mau balik arah terlambat sudah. Netranya terpaku pada sosok yang dia cari. Kakaknya tengah dikelilingi oleh keluarga Max. Dan Audrey begitu emosional, dia tengah menumpahkan kekesalannya pada Bryan.


" Kalau bukan karena kau, adikku tidak akan.... "


"Kakak.... "


***


Siapa sangka keputusan ibu untuk membawa Alina ke Melaka justru membawanya pada kesadaran. Setelah enam bulan koma, Alina membuka mata begitu mereka sampai di rumah sang bibi, Syarifah. Ibu membawa Alina ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.

__ADS_1


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan setahun pun berlalu. Kesembuhan Alina meningkat signifikan, tim dokter yang menanganinya takjub dengan semangat yang dimiliki gadis cantik itu. Hingga Alina benar-benar benar dinyatakan pulih total.


Sayang benturan hebat yang dia alami tetap menyisakan cedera yang membekas. Salah satu saluran tuba palopi-nya mengalami kerusakan dan harus diangkat. Efeknya dia akan sulit mendapat keturunan. Tidak sampai disitu, tulang betis sebelah kiri Alina mengalami pergeseran, dia pun menjalani operasi pemasangan pen dan wajib menggunakan penyangga sampai sembuh.


Alina tidak menyesali apapun, bertahan sampai sejauh ini saja sudah sangat bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan kedua. Dia menerima takdirnya dengan lapang dada.


Bibi Syarifah menyarankan Alina untuk berobat ke Amerika, menemui spesialis orthopedy terkenal disana. Agar kakinya sembuh seperti sedia kala. Alina menolak karena dia tahu biaya yang dibutuhkan tidak akan sedikit. Mereka sudah menghabiskan hampir seluruh aset yang dimiliki. Oleh karena itu dia tidak ingin membebani keluarganya lagi.


Alina mulai memikirkan banyak hal, termasuk bagaimana hubungannya dengan Max. Dari hati yang paling dalam Alina sangat merindukan kekasihnya itu. Mengingat keadaaan nya sekarang, dia menepis semua perasaan itu.


Alina tidak mau egois, perjalanan Max masih panjang, dia berhak mendapatkan yang lebih, bukan gadis cacat seperti dirinya. Mungkin kekurangan pada kakinya bisa diatasi karena peluang untuk sembuh masih besar. Tapi rahimnya bermasalah. Dengan satu saluran tuba palopi apakah mungkin dia kelak mempunyai keturunan?bagaimana kalau dia tidak bisa hamil? Tentu Max dan keluarganya akan sedih.


Setelah berikhtiar dengan sepenuh hati, Alina sampai pada keputusan yang sama seperti yang ibunya lakukan, menjauh dan pergi dari kehidupan Max adalah yang terbaik. Alina akan mencoba peruntungan di Malaka. Dia akan mencari pekerjaan atau membuka usaha disini.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, masalah datang kembali menghampiri keluarga Alina. Angga suami Audrey ditangkap karena telah menggelapkan dana kampus disaat bersamaan Audrey mendapati kenyataan suaminya itu berselingkuh dengan rekan kampusnya.


Tak terperi bagaimana hancurnya sang ibu mendengar kabar putrinya yang lain. Alina baru saja memulai babak baru dalam hidup, kini malah Audrey yang terpuruk. Dalam proses hukum yang membelit Angga menceraikan Audrey. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu. Ternyata pendidikan tinggi tidak menjamin bagaimana akhlak seseorang.


Alina dan ibunya kembali ke Indonesia, mereka tak bisa membiarkan Audrey menghadapi semuanya sendirian.


Dalam keadaan sulit. Pandemi datang melanda seluruh dunia menghempas kan mereka pada keterpurukan ekonomi. Sudah jatuh ditimpa tangga pula, luar biasa ujian yang harus mereka hadapi.


Aditya , kakak laki-laki yang diharapkan bisa membantu untuk sementara juga menyerah. Usahanya bangkrut karena semua vendor membatalkan kerjasama, lebih tepatnya menunda hingga kondisi membaik.


Alina putus asa, dia ingin menemui Max untuk meminta pertolongan tapi keinginan itu dia batalkan, berbekal sebuah kalung pemberian Max waktu itu, Alina berusaha bangkit dengan berjualan kue dan membuka jasa catering secara online.


Perjuangannya menunjukkan hasil, finansial mereka semakin membaik, tingginya mobilitas penjualan secara online memberi peluang bagi gadis itu. Kegigihan Alina juga menyadarkan Audrey dari kesedihan yang berkepanjangan. Pelan-pelan dia ikut membantu Alina. Membuat sang ibu lega.


Satu keinginan Alina yang belum terwujud adalah menebus rumah peninggalan sang ayah yang digadaikan untuk pengobatannya.


***


Kamus:


Tuba falopi : adalah jalur khusus yang mempertemukan sel telur dan ******. Saluran yang terletak di antara ovarium dan rahim ini merupakan tempat terjadinya proses pembuahan.


Orthopedy adalah cabang ilmu kedokteran yang menangani penyakit serta kelainan pada tulang, persendian, dan yang berhubungan dengan fungsi gerak pada organ manusia.


***


Happy Reading ya reader tersayang, jangan lupa untuk terus mensupport novel ini.


tq

__ADS_1


Dik@


__ADS_2