Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
27. Antara Max dan Gladys?


__ADS_3

Kalau boleh memilih Alina lebih suka dimarahi habis-habisan daripada didiamkan seperti sekarang. Dengan begitu dia bisa mengetahui apa yang orang lain inginkan. Sayangnya tidak semua orang mengerti karena yang dia rasakan berbanding terbalik dengan situasi yang dihadapinya saat ini, pria disebelahnya bungkam seribu bahasa sejak kendaraan itu mulai melaju. Max terus saja memacu mobilnya tanpa arah, tidak mengantar gadis itu pulang ataupun ke apartemennya.


Alina kemudian pasrah, diapun menyender pada sandaran dibelakang tubuhnya sambil memejamkan mata berusaha agar rasa kantuk datang lalu dia terlelap. Dengan begitu dia tidak perlu menghadapi Max yang terus memasang ekspresi dingin.


Max terlalu sulit untuk ditebak, entah apa yang membuat pria itu terlihat sangat marah, bukankah dia sudah membogem Zaky sampai babak belur lalu apalagi yang membuat emosinya tak kunjung reda. Alina bukannya tidak berterima kasih karena sudah dibantu tapi menurutnya sikap Max berlebihan.


Seharusnya Alina menenangkan Gladys yang justru lebih tertekan tapi Max malah menyelamatkannya dari sana seolah Alina lah yang jadi korban.


Tidak dipungkiri, Alina sempat mendapatkan penghinaan, tapi gadis itu yakin orang-orang tidak akan salah paham dengan dirinya melihat track record Zaky yang buruk, informasi up to date yang dia dapat dari Tasya lewat chat message mereka beberapa saat yang lalu.


Masih kata Tasya, dari awal para tamu khususnya perempuan sudah risih dengan kehadiran Zaky, pria itu terus saja menenggak minuman alkohol, menggoda sana sini hingga berakhir dengan kejadian yang tidak menyenangkan.


Terlepas dari siapa Zaky, Alina juga merasa janggal dengan sikap yang ditunjukkan Gladys, gadis itu nampak shock dengan kehadiran Zaky, belum lagi pria itu menyebutkan sejumlah uang, ditambah pernyataan Zaky tentang Max yang selalu muncul sebagai pahlawan.


Kondisi Zaky belum bisa dikatakan teler, karena dia berhasil mengenali Gladys dan juga Max. Itu berarti dia masih berada dalam ambang sadar.


Apa mungkin ada masalah yang melingkupi mereka bertiga yang Alina tidak ketahui, semacam cinta segitiga mungkin? jujur Alina benci dengan stigma yang terbentuk di otak pintarnya. Huft


Gadis itu menghela napas yang mulai terasa sesak hingga berulang kali, jika dugaannya benar, berarti selama ini Max hanya menjadikan dia alat untuk membuat Gladys cemburu, kemungkinan lain mereka dalam masa pendekatan sehingga Max merasa perlu mencari umpan agar target sesungguhnya terpancing.


Damn, ini tidak bisa dibiarkan!


Dengan gerakan kasar, Alina melepas jas yang masih tersampir dibahu dan melemparnya ke jok belakang.


" Turunkan saya disini!" ujarnya lantang membuat Max menoleh dan mengerutkan keningnya heran.


"Bapak gak dengar, turunkan saya disini!"


Max semakin bingung, mungkin dia merasa aneh dengan Alina yang tiba-tiba galak. Padahal beberapa saat yang lalu, Alina masih tenang tanpa suara.


" Al, ini sudah malam saya antar kamu pulang, " alih-alih menuruti permintaannya, pria itu malah menunjukkan perhatian.


Alina mendecih, kalau memang berniat mengantar pulang kenapa mutar-mutar gak jelas dari tadi. Sengaja mengulur waktu biar dapat celah buat dapetin Gladys, Fiuh, i am not so stupid.


" Saya gak peduli mau malam kek, mau subuh, mau magrib, saya turun disini, berhenti gak!" ketus Alina judes.


Max menggeleng.


"BERHENTI!!! atau anda menyesal karena saya bisa lebih nekad," ancam Alina lagi. Tangannya ikut memegang setir menandakan dia serius dengan ucapannya.


"Okay, okay kita berhenti," Max mengalah dari pada Alina makin mengamuk, dia menepikan mobilnya sisi kiri jalan.


" Buka kunci pintunya, saya mau keluar" titah gadis itu lagi, dia tahu Max menekan tombol kunci otomatis dipanel sebelah kanannya.


"Al, kamu mau kemana?kamu gak lihat jalanan udah sepi heh," Max menaikkan nada suaranya .


"Udah tau malam, masih aja saya diajak touring, kita dijalanan udah hampir dua jam pak, dan selama itu saya diam kayak orang bego," teriak Alina tak mau kalah.


Max mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, segera dia melirik penunjuk waktu didashboard, sudah hampir tengah malam. Max tersadar akan kesalahannya. Dia sendiri tidak mengerti, sedari tadi dia berperang dengan pikirannya sendiri, antara keinginan untuk mengungkapkan perasaannya agar bisa selalu menjaga Alina, atau menunggu gadis itu membuka hatinya dengan tulus.


"Maaf, pikiran saya sedang kalut, kita pulang sekarang ya," ucap Max lembut.


"Telat, saya turun disini aja,"

__ADS_1


"Al, Please ,," pinta Max memohon agar Alina tidak keras kepala, tapi gadis itu terlanjur meradang.


" Gak ngaruh, turuni saya atau saya gigit, "


Max mencoba menahan tawa, dalam keadaan marah begini masih bisa aja Alina bertingkah konyol. Max lansung menggulung lengan kemejanya.


" Dengan senang hati, mau gigit dimana, ditangan atau disini?" Max menunjuk kearah leher sambil menyeringai usil.


Alina merasa geram karena Max malah mengajaknya bercanda, tanpa pikir panjang gadis itu membuktikan ucapannya, pria itu memicingkan mata menahan perih di kulit tangan, begitu gigi Alina menancap disana. Max membiarkan gadis itu melampiaskan emosinya, mungkin dengan begitu Alina bisa kembali tenang.


Merasa tidak ada respon kesakitan dari si empunya tangan , Alina menyudahi aksi bar- barnya.


" Makanya kalau orang serius jangan diajak bercanda," ujar Alina melirik prihatin ketangan Max yang memerah kebiruan akibat ulahnya.


" Saya gak keberatan kalau kamu masih mau gigit," sahut Max dengan senyum menggoda.


Alina berdecak, ada ya orang seperti Max bukannya kesakitan malah minta tambah, jangan-jangan dia ada kelainan, Alina bergidik membayangkan.


" Kamu mau makan dulu atau langsung pulang?" tawar Max setelah dirasa Alina tidak lagi ngotot sama pendiriannya.


Alina memasang tampang cemberut, meskipun begitu dirinya cukup tergiur oleh tawaran barusan, maklum di pesta tadi dia hanya mencicipi beberapa cemilan tanpa sempat menikmati menu utama.


Max mengulurkan tangan dan mengacak rambut Alina gemas.


" Gak usah pegang pegang,"


Max tertawa,


" Galak banget,"


Sudah Max bilang kalau Alina itu nano nano dan melihat tingkahnya sekarang bisa dipastikan gadis itu dalam mode manja dan kekanakan, dan anehnya Max suka.


" Ya udah kita makan dulu ya, didepan ada resto cepat saji, " ujar Max mulai menstarter mobilnya.


Alina tidak berkomentar ataupun menolak, lagipula perutnya juga minta diisi.


Setelah sampai di Parkiran, Max mengambil kembali jas yang ditaruh dibelakang, dan memakaikannya pada Alina.


" Nanti masuk angin, udara malam gak bagus buat kesehatan," jelas Max sebelum Alina membantah, bukan hanya itu, Max juga merapikan rambut Alina yang sedikit kusut.


Tentu saja Alina jengah karena perlakuan itu, namun detik kemudian dia sadar ketika bayangan Gladys berkelebat dibenaknya dia tidak ingin dicap sebagai perebut milik orang lain. Dia menepis tangan Max pelan, lalu turun dan mengambil langkah panjang meninggalkan Max yang masih bersiap.


Alina memilih satu burger jumbo kombinasi beef dan telur, tak lupa segelas orange juice dan kentang goreng. Sementara Max hanya memesan spaghetti dan air mineral.


Alina makan dengan lahap, tak sedikit pun gadis itu berusaha jaga imej didepan pria tampan dihadapannya, dia terlanjur lapar lagipula tak ada untungnya bermanis-manis didepan orang yang tidak menyukai kita.


" Enak ya punya bobot yang stabil, mau makan jam berapapun gak khawatir, " ucap Max disela sela makan, jujur dia ikutan ngiler melihat cara Alina makan, berrharap Alina menawarkan agak sedikit, apa daya gadis itu cuek dan fokus pada burger yang tinggal separuh, sesekali dia menyesap minuman untuk memperlancar jalannya makanan yang kadang seret ditenggorokan. Membuat Max ikut menelan ludah.


" Al kamu gak berniat nawari saya, kelihatannya enak," runtuh sudah pertahanan Max, tanpa malu dia menunjuk pada piring Alina seperti anak kecil yang minta makanan milik temannya.


"Bapak pesan sendiri aja,"


" Dikit aja Al, saya mau yang dipiring kamu, lebih lezat,"

__ADS_1


Alina memutar bola mata malas, udah kayak orang ngidam aja ni orang. Tak urung Alina menyuapi.


" Enak Al, tau gitu saya pilih burger juga,"


" Ya udah pesan lagi aja,"


" Gak usah , mungkin karena kamu yang suapin makanya enak, kecuali kamu mau nyuapi saya lagi," Max menaik turunkan alisnya.


" Ogah,"


Setelah menghabiskan makanan, mereka kembali melanjutkan perjalanan, boleh dibilang ini hari yang melelahkan, ternyata oh ternyata mereka berada di bogor dan Alina baru sadar ketika membaca plang yang berjejer sepanjang jalan.


" Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Alina ragu, perjalanan mereka masih jauh, tapi Alina enggak mau tidur, iya kali habis makan lansung tidur, udah kaya kebo aja.


Daripada terjebak lagi dalam kesunyian yang menyiksa, gadis itu memutuskan mencari tahu apa yang dia pikirkan sedari tadi, dia juga sudah menyiapkan hati apapun jawaban Max.


" Soal?"


"Zaky dan Gladys,"


Max tau Alina sedikit terpengaruh dengan ucapan Zaky, dia juga yakin kemarahan gadis itu tadi bukan hanya karena lama di perjalanan, tapi ada kaitannya dengan pernyataan Zaky.


Max juga sempat takut kalau Alina berpikir macam-macam tentang dia dan Gladys, tapi menceritakan masalah Gladys pada Alina bukan pilihan bijak, karena Gladys sendiri tidak menceritakan apapun pada sahabatnya, terlihat dari pertanyaan Alina barusan.


" Apa Gladys tidak pernah bercerita soal masalahnya?" Max mencoba memastikan.


Alina menggeleng, " Yang saya tahu hanya soal adiknya yang sakit dan baru saja operasi cangkok sumsum tulang belakang,"


Sudah Max duga, Gladys menutupi masalahnya dari sahabat sendiri, dia jadi bimbang untuk mengatakan, meskipun dia tahu Alina pasti memahami, tetap saja tidak baik mengumbar aib orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut.


"Sebaiknya kamu cari tahu dari Gladys, tidak fair jika saya yang mengatakan kepada kamu,"


Alina mengerti, tapi dia masih belum tenang sebelum tahu hubungan diantara Gladys dan Max.


" Yang pasti , apa yang dikatakan Zaky tentang saya tidak benar, saya dan Gladys tidak ada hubungan apapun," ungkap Max seolah tau apa yang Alina khawatirkan.


Alina menatap wajah Max dengan seksama, dia merasa bersalah sudah mengira Max mempermainkannya, mendadak kelegaan itu memenuhi rongga hatinya.


" Kalau pun bapak ada hubungan dengan Gladys tidak masalah, toh itu urusan bapak, saya hanya peduli pada Gladys, dia gadis yang baik," Alina berusaha menaikkan ego, gengsi lah kalau tiba-tiba dia menerima penjelasan Max begitu aja.


" Benar kamu gak papa?" selidik Max dengan sudut matanya.


Alina menganggukkan kepala mantap.


" Syukurlah kalau begitu, itu artinya kamu merestui saya dengan Gladys,"


Deg!


***


Happy reading ya, ditunggu vote dan komennya


With Love

__ADS_1


Dik@


__ADS_2