
Alina menatap langit-langit ruangan dengan perasaan gelisah. Sudah lewat tengah malam, tapi Max belum juga pulang. Berulang kali dia keluar masuk kamar untuk memastikan yang dia dapati hanya kesunyian. Adrian mendadak pulang karena ada masalah yang harus dia atasi, Alina sempat bertanya masalahnya apa, dia bilang masalah pribadi tidak ada sangkut pautnya dengan Max.
Adrian meminta Alina tenang, karna Max pasti baik - baik saja, dia juga berpesan agar Alina tidak membukakan pintu jika ada yang datang. Karena Max akan masuk dengan password tanpa harus membangunkan orang didalam. Alina mengerti.
Namun beberapa jam berlalu sosok yang ditunggu belum juga muncul batang hidungnya. Kegelisahan Alina semakin menjadi ditambah dengan ponsel Max tidak aktif.
Alina sempat terpikir untuk menanyakan Max ke mommy, mana tau pria itu sudah pulang ke mansion, tapi urung dia lakukan, kalau ternyata Max tidak di sana mommy dan keluarganya akan ikutan cemas seperti dirinya kini. Lagipula kalau sudah berada di mansion pasti Max akan berkabar.
Untuk kesekian kali gadis itu kembali beranjak dari tidur, tak ingin membangunkan bik Retno yang sudah pulas disebelahnya dia bergerak perlahan. Tujuannya sekarang adalah dapur, dia membuat secangkir coklat hangat. Semoga setelah minum ini dia akan rileks. Aroma khas menguar mengusik indera penciuman, asap mengepul dari mug bertuliskan I love U.
" Sepertinya akan lebih nikmat sambil melihat pemandangan ibukota. " gumam Alina pada dirinya sendiri.
Dia pun berjalan ke balkon. Malam ini langit cerah bertabur bintang yang berkelip ditambah dengan gemerlap lampu- lampu di kejauhan menambah kesyahduan malam.
Hampir setengah jam Alina berdiri disana, isi mug juga sudah tandas. Dia sampai pada satu kesimpulan kalau Max tidak akan pulang. Entah dimana pria itu sekarang, semoga Max tidak melakukan sesuatu yang bisa membahayakan. Alina yakin Max bisa menjaga diri.
Alin beralih duduk ke sofa.
" Happy Anniversary sayang, gak terasa sekarang udah tahun ke empat, " ucap gadis itu sembari memandangi foto mereka berdua di ponselnya dengan senyum mengembang.
Tidak sekalipun Alina melupakan hari jadi mereka, bahkan ketika masih dirawat dulu. Dia tak lupa menyelipkan doa untuk Max dan juga hubungan mereka. Mengingat bagaimana perjuangan Max selama ini untuknya, tak terasa bulir bening bergulir dari sudut mata.
" Maafin aku sayang, aku selalu egois, hilang tanpa kabar dan begitu kembali sering merepotkan dan juga mengecewakan kamu, " sesalnya pada diri sendiri.
Sekarang sudah saatnya Alina mengambil langkah untuk hubungan ini. Dia tidak ingin terus menggantung Max tanpa kepastian.
Sebuah ide melintas di benaknya. Bergegas gadis itu masuk kedalam dan masuk ke ruang kerja Max, dengan senyum yang tak lepas gadis itu meminjam laptop Max dan mengetikkan sesuatu di sana.
Alina merenggangkan tubuh yang terasa sedikit pegal. Dia melirik pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat dini hari.
" Masih ada waktu untuk istirahat, "Alina bergegas merapikan meja Max lalu keluar ruangan.
Pagi hari, Bik Retno terkejut saat menoleh ke sebelah tempat tidurnya.
" Apa non Alina udah bangun ya? " gumam wanita paruh baya itu bergegas bangkit, secepat mungkin dia membereskan tempat tidur dan mencari gadis itu ke kamar mandi, tapi Alina tidak ada di sana.
Bik Retno keluar kamar untuk mencari keberadaan Alina dan menarik napas lega saat mendapati gadis itu tertidur disofa ruang tamu.
" Sepertinya dia menunggu kepulangan Tuan Max, seharusnya aku memberitahu kalau Tuan Max tidak akan pulang, tapi akunya ketiduran, " gumam wanita itu lagi.
Semalam sebelum pergi Tuan Max sempat bilang pada Bik Retno kalau lewat tengah malam dia tidak kembali, gak usah ditunggu. Max tidak menyampaikan pada Alina langsung karena tidak ingin menganggu nya istirahat.
Bik Retno bergegas ke dapur menyiapkan sarapan pagi. Begitu sarapan selesai, tak lupa dia membangunkan Alina.
" Non Alina, sarapan dulu non, dari semalam non Alina gak makan apapun, " panggilnya lembut. Alina mengucek mata, merentangkan kedua tangannya keatas. Tubuhnya selalu pegal kalau begadang.
__ADS_1
" Baik bi, emang bibi masak apa? "
"Masak macem-macem non, ada nasi dan lauk pauk, kalau non gak suka bibi juga buatin sandwich, "
Beruntung Tuan Max sudah memintanya berbelanja stok makanan sebelum ke apartemen kemaren sore.
Alina menelan saliva, tergiur dengan menu yang disebutkan. Apalagi perutnya keroncongan. Dia bergegas bangun .
Setelah menghabiskan sepiring nasi porsi lengkap dan juga sepotong sandwich. Alini pun bersiap-siap, mandi lalu berganti pakaian. Audrey sempat menitipkan baju gantinya melalui Adrian.
Pagi ini dia akan melakukan semua planning yang sudah dia pikirkan dari semalam. Jumpa pers baru akan diadakan setelah makan siang, kabar yang dia dapatkan dari Gladys lewat pesan chat barusan. Masih ada waktu.
Tak lupa gadis itu mengabari Audrey dan Aditya untuk datang ke Mulia Jaya siang ini. Dia ingin keluarga nya juga ada di sana. Bukan nama baik mereka berdua saja yang harus dipulihkan. Tapi juga nama Aditya. Pemberitaan tersebut pasti sangat mempengaruhi kredibilitas kakaknya itu. Perusahaan kakaknya akan hancur karena kehilangan client. Dia tidak bisa membiarkan begitu saja. Dia sangat tahu bagaimana perjuangan Aditya merintis usaha yang digemari nya itu sedari awal.
" Kenapa gak minta dijemput Mas Adrian aja non, atau sopirnya Tuan Max, " tanya Bik Retno begitu dia pamit. Khawatir kalau Alina kenapa-napa. Berita semalam tersebar dengan cepat. Pasti orang -orang akan menyadari keberadaan Alina.
" Gak usah bi, aku berangkat sendiri saja, gak papa kok, "
" Kalau ada yang mengenali non Alina gimana? "
" Kan ada ini bik, " Alina menunjukkan masker kemudian memasangnya.
Bik Retno mengangguk mengerti.
Sementara itu..
" Kira -kira apa yang akan mereka lakukan ya dit, kok aku deg-degan ya"
" Max pasti sudah memikirkannya, gak usah cemas. "
Tok.. tok.. tok
Keduanya menoleh kearah pintu masuk yang memang terbuka.
" Assalamu'alaikum mbak, mas"
" Waalaikum salam, silahkan masuk pak RT, " sapa Audrey ramah setelah menyadari siapa yang datang bertamu ke rumah mereka sepagi ini.
" Makasih mbak," ucap pria paruh baya itu ketika dipersilahkan duduk.
" Begini mbak, mas, saya memohon maaf sebelumnya, mengenai pemberitaan yang sedang viral, saya tidak percaya dengan berita tersebut karena saya mengenal baik keluarga Buk Ranti sejak pertama tinggal di lingkungan kami, Hanya saja beberapa warga terus saja membicarakan masalah ini dan meminta saya untuk menanyakan langsung kemari, mereka tidak ingin lingkungan sini buruk dimata orang-orang, " ucap pak RT dengan ekspresi sungkan, takut menyinggung.
" Saya berterimakasih, karena pak RT tidak percaya, dan saya mengerti keresahan warga disini, " jawab Aditya bijak.
"Saya mohon maaf sekali nih mas, saya cuma gak mau nanti warga bertindak sendiri, maka saya harus mendengar dulu kebenaran dari mas sekeluarga saya harap mas mengerti"
__ADS_1
Aditya mengangguk paham.
" Yang pasti apa yang beritakan adalah bohong pak RT,
karena sebenarnya Maxime Arlingga Yogatama itu adalah tunangan Alina dan sebentar lagi mereka akan menikah. Entah siapa yang tega menyebarkan informasi hoaxs. Kami masih mencari tau, "
"Jadi mereka sudah tunangan! syukurlah kalau begitu."
" Iya pak, untuk lebih jelas nya kami akan melakukan jumpa pers siang ini dan akan disiarkan langsung di stasiun TV, " tambah Audrey lagi.
Pak RT manggut-manggut atas penjelasan kakak beradik itu. Merasa cukup dengan apa yang disampaikan Pak RT pun pamit.
" Apa mungkin kita salah jawab ya, " ucap Audrey
Aditya mengerutkan kening
" Alina belum menyetujui pernikahan, kau tau gimana kondisinya kan dit, kita bisa dicap pembohong kalau Alina dan Max tidak jadi menikah, " lanjut Audrey nelangsa
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi drey, "
***
Alina membayar sejumlah uang pada sopir taksi online yang dia tumpangi. Kemudian turun dari mobil warna hitam itu.
Langkah gadis itu dicegat oleh penjaga yang bertugas didepan gerbang mansion. Sejak kejadian kemarin, penjagaan di mansion diperketat.
" Maaf mbak, mau bertemu siapa? " tanya pria dengan pakaian safari.
" Saya mau bertemu mommy widya, " ucap Alina seraya membuka masker. Tapi sepertinya pria itu tidak mengenal Alina. Tentu saja karena beberapa diantara mereka baru ditugaskan.
" Sudah ada janji temu sebelumnya? " tanya pria itu lagi.
Alina menggeleng.
"Sampaikan saja kalau Alina mau bertemu pak, " ucap Alina ramah. Dia mengerti pria itu hanya menjalankan tugas.
" Kalau begitu saya minta tanda pengenal nya mbak, "
Alina membuka tas dan memberikan apa yang diminta. Penjaga itu langsung masuk kedalam pos dan menelpon seseorang. Sambil menunggu , Alina memasang kembali masker. Dia duduk di sebuah kursi yang disediakan.
Gerbang mansion terbuka dan sebuah mobil sport warna putih keluar, melewati Alina begitu saja. Karna memang posisi duduk gadis itu membelakangi gerbang. Belum beberapa meter mobil itu mundur.
" Al, kamu ngapain disini? "
***
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungan untuk cerita ini, vote dan komen kalian sangat berarti buat author😉