Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
20. Pendekatan Orion


__ADS_3

Alina terpaku begitu melihat sosok yang duduk diruang tamu rumahnya, Orion. Kenapa dia bertamu sepagi ini, gumam Alina dalam hati.


Tak urung Alina menemui pria itu dengan berbagai keheranan yang memenuhi pikirannya, kalau begini dia bisa terlambat berziarah, belum lagi dia mau menjemput ibunya nanti sore ke bandara.


" Maaf sudah membuat mas menunggu," sapa Alina ramah, walau bagaimanapun Orion adalah tamu bukan? jadi tidak alasan untuk dia merasa keberatan atas kehadiran pria itu meskipun Orion menurutnya sedikit tidak tahu waktu masih jam delapan pagi sudah bertandang ke rumah orang. Dia juga masih enggan memanggil Orion dengan panggilan nama saja, entah mengapa dia merasa kurang sopan, dengan Max saja dia terpaut beberapa tahun, apalagi dengan Orion.


" Gak papa Al, saya aja yang kepagian, maaf udah ganggu kamu," ucap Orion kikuk.


Alina menggeleng "Gak papa mas, kebetulan juga weekend, kalau boleh saya tau, ada perlu apa ya mas?" tanya gadis itu berusaha mencairkan suasana.


Orion tergagap, bingung mau menjawab pertanyaan Alina karena sebenarnya dia tidak ada keperluan sama sekali, dia hanya ingin segera mengambil langkah agar bisa dekat dengan Alina, mumpung Max masih belum menyatakan perasaannya pada gadis itu.


Semalaman dia memantapkan hati untuk mendekati Alina sehingga dia tidak sempat memikirkan alasan apapun. Karena biasanya dia tidak perlu alasan ketika bertemu dengan seorang gadis. Tapi dengan Alina mendadak dia mati kutu.


Orion menggaruk tengkuknya yang tak gatal, membuat Alina mengerutkan kening melihat ekspresi pria itu.


" Sebenarnya saya mau mengajak kamu jalan, saya lagi bosan dirumah,"


Shit, alasan seperti apa itu, rutuk Orion pada dirinya sendiri.


Alina cukup kaget mendengar permintaan Orion, tidak ada angin tidak ada hujan tiba tiba pria itu mengajaknya pergi.


Alina bingung, disatu sisi dia tidak begitu mengenal Orion, pertemuan mereka baru dua kali, tentu akan terasa aneh, di lain hal dia sulit untuk menolak, Orion pernah membantunya dan dia juga saudara Pak Max. Dia tidak mau dianggap sombong.


"Emm, bagaimana ya mas, saya udah ada rencana bepergian hari ini," elak Alina.


" Ooh, saya kira kamu free, ya udah gak papa," ujar Orion, ada kekecewaan dalam nada suaranya membuat Alina tidak enak hati, tapi mau gimana lagi, kenyataannya memang dia ada keperluan hari ini.


" Maaf ya mas, "


" Gak papa Al, lagipula saya yang salah mengajak jalan tapi gak kasih tau kamu dulu,"


Alina mengulas senyum manis, membuat rasa kecewa Orion sedikit terobati.


" Kalau lain kali, kamu keberatan gak Al jalan sama saya?" sambung Orion penuh harap


Alina menimang pemintaan pria tersebut, lalu mengangguk pelan.


Orion tersenyum sumringah, "Makasih Al"

__ADS_1


" Non, sarapannya sudah siap," ujar Mbak Asti nongol diruang tamu


" Oh iya mbak, bentar saya kedalam,"


"Gimana kalo Mas sarapan dulu disini," Tawar Alina.


Dengan senang hati Orion menerima ajakan Alina, kebetulan dia juga lapar karena gak sempat makan. Kebersamaan mereka di meja makan pagi itu seolah memberi harapan pada Orion


***


" Max, kenalkan ini Inspektur Gerry, rekanku di Sektor Raya," ucap Adam memperkenalkan. Max dan Gerry saling berjabat tangan


Setelah pertemuan mereka tempo hari, Adam mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kasus Bryan, dan begitu bertemu Gerry yang baru kembali dari dinas luar kota, barulah dia menemukan titik terang. Selama ini Gerry lah yang menghandle kasus tersebut. Dan kasus itu tidak didaftarkan karena Gerry mengusut secara independen atas permintaan keluarga Bryan yang tak lain adalah sahabatnya.


" Apa alasan keluarga tidak melaporkan secara resmi, bukankah ini kasus yang cukup serius," ungkap Max heran.


"Sebenarnya keluarga sudah ikhlas ketika itu dan tidak ingin memperpanjang kasus, tapi saya yang menawarkan diri untuk membantu menyelidiki, dan mereka setuju dengan syarat penyelidikan secara pribadi, karena mereka sendiri tidak punya banyak waktu untuk mengurus, Mama Bryan punya penyakit serius dan adiknya harus mengurus mamanya, sementara keluarga yang lain tidak bisa diandalkan," jelas Gerry


Max tidak habis pikir dengan keputusan keluarga Bryan. Banyak kejanggalan dari keterangan yang diberikan Gerry, Insting Max mengatakan bahwa kasus ini tidak sesederhana keterangan rekan Adam tersebut. Kalau memang keluarga tidak punya banyak waktu, bukankah ada Alina, dan mengapa Morgan maupun Pak Leo yang berjanji akan membantu justru membiarkan kasus itu ditangani secara pribadi dan menyembunyikan dari Alina.


Max tidak mau menanyakan lebih jauh, dia bersikap seolah menerima penjelasan Gerry. Agar Gerry tidak merasa terintimidasi, Dia memutuskan akan menyelidiki sendiri.


Setelah pertemuan usai, Max menelpon Adrian


" Baiklah, aku akan memberitahumu begitu mendapatkan informasi," ucap Adrian diseberang sana.


" Okay, aku tunggu" Max berniat menyudahi sambungan tapi Adrian menahan.


" Aku rasa kau akan shock mendengar apa yang akan aku katakan," ucap Adrian terkekeh


" Katakan saja jangan berbelit belit" ucap Max gusar, dia tidak mood untuk bercanda.


" Hei santai bung, kau seperti gadis yang PMS saja,"


Max menarik napas dan menghembuskan napasnya dengan kasar hingga terdengar oleh Adrian.


"Orion mengunjungi Alina dirumahnya, dan orang ku bilang dia cukup lama berada disana,"


Sontak Max memijit pelipisnya, saudaranya itu memang nekat, seharusnya dia tidak menantang.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih sudah memberitahu" Max menutup telpon,dia beranjak dari duduk dan melangkah kearah mini bar, mengambil sebungkus rokok dari laci dan mengeluarkan sebatang. Baru saja hendak menyulut benda putih itu, sebuah pesan masuk diponselnya, diapun mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali benda itu lalu melihat siapa yang mengirim pesan.


Dari Ibunya Alina, bagaimana dia lupa kalau hari ini Ibu Ranti kembali ke Jakarta, dia sudah berjanji akan menjemputnya. Ibu Ranti bilang dia baru saja take off, berarti dia masih punya waktu satu jam. Semoga saja tidak macet.


Max memacu mobilnya cepat, dia menggunakan GPS untuk mencari jalur lengang, beruntung dia sampai tepat waktu, dari pengeras suara dia mendengar kalau pesawat dari Jogja baru saja landing, dengan sedikit berlari dia menuju pintu kedatangan,


Max mengedarkan pandangan mencari Alina, dia yakin gadis itu pasti menjemput ibunya, dan dia tersenyum saat melihat sosok yang dicarinya sedang duduk disalah satu kursi tunggu.


Max berjalan menghampiri Alina, tapi langkahnya terhenti begitu seseorang mendekati gadis itu sambil menyerahkan botol minuman yang dibawanya.


Orion


Rahang Max mengeras melihat pemandangan didepannya, tangannya mengepal. Perlahan dia memundurkan langkah dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Dia tidak ingin mereka melihat kehadirannya. Dia menemukan tempat yang bagus, dari sini dia masih bisa memperhatikan gerak gerik mereka.


Melihat Ranti keluar dari gate, Alina langsung berdiri dan memeluk ibunya itu dengan erat.


" Ibu, aku kangen," ucap Alina senang, Ranti mengelus rambut putrinya penuh sayang.


" Ibu juga kangen nak, makanya ibu cepat pulang begitu Mama Angga datang untuk membantu mbak mu,"


Ranti mengedarkan pandangan ke sekitar mencari seseorang yang dia harapkan datang bersama Alina.


" Bu, kenalkan ini Mas Orion, dia yang bantu Alina waktu kejadian itu, dan ibu tau dia juga kakak angkatnya Pak Max," ucap Alina


Ranti baru menyadari ada orang lain bersama Alina, diapun tersenyum dan menerima jabat tangan Orion yang mencium punggung tangannya dengan sopan.


"Makasih ya nak sudah membantu anak ibu, ngomong ngomong Max mana, kok kalian gak barengan, "


Jadi Max sudah dekat dengan ibunya Alina, aku gak boleh kalah, aku harus segera mengambil hati calon mertuaku ini, batin Orion


"Max sedang banyak pekerjaan tan, maklumlah perusahaan mereka sedang banyak proyek, benarkan Al," Orion mencari dukungan.


Alina hanya tersenyum tipis menanggapinya. Dia yakin Max tau ibunya akan pulang hari ini, tapi pria itu tidak mengatakan apapun kemarin. Lagipula apa yang dia harapkan dari Max, memintanya menjemput ibu?memangnya Alina siapa.


"Ayo kita pulang bu, aku tidak sabar ingin bercerita tentang keponakanku," Alina mengalihkan pembicaraan sambil mendorong koper ibunya. Orion bergegas mengambil koper tersebut dari tangan Alina.


Ranti mengangguk meskipun dalam hati dia terus bertanya, benarkah Max sedang ada pekerjaan, bukankah tadi Max masih membalas pesan dan mengatakan sedang dalam perjalanan ke bandara, bagaimana bisa jadi begini.


Sementara tak jauh dari sana Max memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk, dia marah karena Orion tapi dia tidak bisa menyalahkan Orion sepenuhnya, dia sendiri yang memberi kesempatan pada Orion, andai saja dia tegas dengan perasaannya, mungkin situasinya tidak seperti sekarang.

__ADS_1


***


Masih sepi,, 😥...


__ADS_2