
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan saatnya Arumi akan berangkat kerja.
"Sudah rapi semua barang-barangku dan barang mas Hendri. Saatnya aku harus berangkat kerja," gumam Arumi sembari mengambil tas dan disematkan di bahunya.
Baru saja keluar dari kamarnya Arumi dikagetkan dengan kehadiran Mia tepat didepan pintu kamarnya.
"Eh Ibu, ada apa Bu ke sini?" Tanya Arumi dengan tatapan sedikit takut.
"Kamu mau kemana? Kok sudah pakek tas aja?" Tanya Mia dengan tatapan tajam.
"Aku mau berangkat kerja bu?"
"Sudah mau berangkat kerja?" Mia geleng-geleng kepala.
Sedangkan Arumi tidak mengerti dengan maksud mertuanya kenapa dia bersikap seperti itu. Arumi hanya menatap Mia penuh tanya yang tak berani ia katakan.
"Enak saja sudah mau berangkat kerja. Tu di dapur udah menunggu cucian piring cepat kamu cuci dulu. Beres-beres rumah dulu baru berangkat," ucap Mia seperti menyuruh seorang pembantu mengerjakan tugasnya.
"Tapi bu, bukannya aku nggak mau tapi ini sudah siang, aku harus berangkat kerja. Nanti kalau terlambat aku bisa di marahi bosku," elak Arumi.
"Nggak bisa pokoknya mulai hari ini kamu harus bebenah rumah ini sebelum kamu berangkat bekerja?" Teriak Mia.
Teriakan Mia terdengar sampai di telinga Salsa yang ada di kamar sebelahnya. Salsa tengah berdandan yang akan pergi kuliah.
"Ada apa sih ibu pagi-pagi sudah berteriak," ucap Salsa dan segera memastikannya. Dia pun keluar dari kamarnya.
"Ibu!! Ada apa ini kenapa ibu bicaranya keras sekali?" Tanya Salsa sembari menatap ke kakak iparnya yang hanya tertunduk diam.
"Ibu hanya menyuruhnya beres-beres rumah ini sebelum dia berangkat kerja. Eh..., malah dia menolak dan beralasan. Enak saja tinggal di rumah ini nggak ngapa-ngapain cuman mau numpang tidur, nggak mau ngurusin rumah ini."
"Apa alasannya kak Arumi menolak? Apa kak Arumi nggak terbiasa kerja di rumah?" Tanya Salsa baik-baik.
"Bukannya begitu Sa, hari ini kakak mau berangkat kerja sekarang sudah jam delapan lebih kakak sudah terlambat. Mungkin untuk besok kakak akan memgerjakan semua tugas di rumah ini. Ibu jangan khawatir semua akan aku bereskan pekerjaan rumah ini," ucap Arumi menjelaskan.
"Ibu udah tau, kak Arumi sudah terlambat masuk kerja kenapa masih ibu suruh beres-beres rumah?"
"Ya itu kewajibannya sebagai seorang menantu, harusnya kamu tau Arumi sebelum kamu pindah ke rumah ini."
"Maaf bu, maaf aku tidak berpikir sejauh itu."
"Sudahlah, sudah bu, kak Arumi sudah minta maaf. Kak Arumi kan baru di sini mana tau peraturan rumah ini."
"Pinter ngeles kamu ya." Mia menyunggingkan mulutnya tak suka dengan Arumi yang di bela sama Salsa.
"Biarin kak Arumi berangkat Bu, udah telat tu," pinta Salsa.
"Oke, silahkan berangkat."
Raut wajah kesal melekat pada Mia.
__ADS_1
Arumi pun pamit sama Mia dan juga Salsa sembari mencium tangan Mia.
"Ingat ya pulang kerja langsung pulang, jangan main kemana-mana. Kamu itu sekarang menantuku kamu harus mengikuti aturanku," ucap Mia pada Arumi yang hendak beranjak dari hadapannya.
"Baik Bu," ucap Arumi dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumah menuju tempat kerjanya.
"Ibu kenapa bersikap kasar sama kak Arumi, dia itu gadis yang baik. Bersikap baiklah Bu," tutur Salsa.
"Biar nggak ngelunjak ya dia. Biar dia tau bagaimana seharusnya menjadi menantu ibu."
Jawaban ibunya membuat Salsa tak berani membantahnya, memang begitulah sikap ibunya. Dia hanya berharap semoga Kakak iparnya betah tinggal di sini menjadi keluarga barunya mengisi rumah ini dengan banyak kebahagiaan.
Arumi sudah sampai di tempat kerjanya. Arumi memang terlambat. Baru memasuki tempat kerjanya yaitu tempat penyewaan baju pengantin berkelas dia di sapa oleh sang menejer.
"Kamu terlambat?"
Arumi sedikit takut dengan pertanyaan manajernya.
"Iya Bu, maaf saya terlambat." Ucap Arumi merendah.
"Kenapa bisa terlambat, berikan alasan yang tepat."
"Maaf Bu, sekarang saya tinggal di rumah mertua saya dan tempatnya agak jauh dari sini. Mulai besok saya akan mempersiapkannya untuk tidak terlambat datang."
"Oke kali ini Ibu hargai alasanmu, besok jangan terlambat lagi perhitungkan dengan baik waktumu."
"Iya Bu," Arumi menganggukan kepala dengan perasaan senang, ternyata menejernya tidak marah dan bicara-baik-baik padanya.
Arumi sangat beruntung mempunyai menejer yang baik tidak seperti mertuanya yang tak mengerti kondisinya.
"Hei kamu baru datang!"
Salah satu teman Arumi memukul punggungnya dari belakang. Arumi pun kaget dan menengok ke belakang.
"Sinta!!!"
"Kamu juga baru datang?"
"Iya, kita sama-sama terlambat. Untung bu menejer kita sangat baik dia tidak marah. Hanya mengatakan terlambat lagi," ucap Sinta teman dekat Arumi.
"Sama dia juga mengatakan seperti itu padaku. Dia memang menejer yang baik tidak seperti mertuaku yang tadi pagi sudah mengintimidasiku soal pekerjaan rumah."
"Kamu tinggal di rumah mertuamu sekarang."
"Iya."
Arumi dan Sinta melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti sembari masih bercakap.
"Kamu sudah mendapat restunya?"
"Ya seperti itulah, aku nggak begitu paham apa dia sudah merestuiku. Tapi sepertinya dia nggak suka padaku. Dia tidak bisa bicara baik-baik padaku selalu ketus dalam berucap. Membuatku sedikit takut tinggal di rumahnya."
"Ya memang seperti itulah tinggal di rumah mertua yang sering aku dengar dari tetanggaku yang sudah menikah yang tinggal di rumah mertuanya. Kebanyakan ibu mertua sangat susah di ambil hatinya."
__ADS_1
"Oh begitu ya."
"Iya," ucap Sinta meyakinkan Arumi sembari sibuk memakai baju gantinya. Sedangkan Arumi sudah selesai memskai baju gantinya.
"Ayo kita keluar sudah banyak pekerjaan menunggu kita," ajak Arumi.
"Oke, aku udah siap."
Mereka pun keluar bersamaan dari ruang ganti. Mereka di kejutkan dengan kehadiran bu menejer yang tepat ada di depan pintu yang di bukanya.
"Bu menejer!!! Ucap mereka bersamaan.
"Bagus ya kalian, sudah datang terlambat malah asyik ngobrol di tempat ini. Udah tau banyak klien yang datang. Ini tidak bisa di tolerir lagi jam kerja kalian akan ibu tambah sebagai hukuman."
"Yah....," keluh Arumi dan Sinta.
"Jangan dong nu, setelah pulang jam kerjaku aku masih ada kerjaan lagi," ucap Arumi.
"Itu urusanmu bukan urusan ibu. Siapa suruh melalaikan pekerjaan. Kaluan berdua pantas di hukum biar jera tidak mengulangi lagi perbuatan yang merugikan butik ini," cetus bu manejer.
"Yah, aku kira bu manejer orang baik. Ternyata sama aja," ucap Sinta.
"Dia itu orang bijak," ucap Arumi.
Bersambung....
__ADS_1