Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 55 Tidak Boleh Tau


__ADS_3

Gilang menatap Arumi yang berlalu masuk ke rumah dengan perasaan penuh simpati padanya. Gilang sangat kasihan melihat nasib Arumi yang sedih diceraikan suaminya dan harus berjuang sendiri membesarkan anaknya.


"Hendri benar-benar lelaki kurang ajar. Ingat ya kalau aku bertemu sama kamu. Akan aku buat babak belur," ancam Gilang yang masih terpaku menatap Arumi belum melajukan mobilnya.


Kedatangan Arumi disambut nenek Suryati yang sedang menyusui Arsya sembari menggendongnya.


"Ibu sudah datang," ucap nenek Suryati merasa senang melihat Arumi datang.


Setelah mencium punggung tangan neneknya, Arumi langsung menyapa Arsya yang tengah asyik menyedot susu dalam botol.


"Pinternya anak Ibu, doyan banget susunya." Arumi membelai Arsya dan menciumnya.


"Gimana hasilnya nyari pekerjaan. Apakah sudah dapat pekerjaan?" tanya nenek.


"Belum Nek, belum ada lowongan lagi di butik."


"Jadi kamu belum dapat pekerjaan?"


"Belum Nek. Tapi nanti akan diusahakan sama bu manejer bisa kembali bekerja di butik."


***


Keesokan harinya.


Belum ada kabar panggilan kerja di butik. Arumi tidak bisa berdiam diri. Sembari menunggu panggilan kerja Arumi akan mencari pekerjaan yang lain.


Pagi-pagi sekali Arumi sudah bersiap berangkat. Arumi pamit sama nenek dan juga Arsya. Arumi meminta nenek Suryati untuk mendoakannya supaya nanti dapat pekerjaan.


Tak lupa Arumi membawa beberapa box kue buatan nenek untuk dibawa ke kedai pak Wijaya.


Nenek Suryati kembali membuat kue. Walau pun nggak bisa membuat banyak seperti biasanya, karena kehadiran Arsya. Masih lumayan lah hasilnya buat tambahan uang belanja.


Arumi keluar dari rumahnya dengan menenteng beberapa box kue. Karena kedai pak Wijaya sekarang lokasinya sedikit jauh dari rumahnya, Arumi menggunakan jasa ojek online untuk kesana.


Bang ojol sudah stand by menunggu didepan rumahnya. Saatnya Arumi tancap gas mengantar kue ke kedai pak Wijaya.


Seseorang dengan motor mengikutinya dari belakang. Dia adalah orang suruhan Gilang. Yang ditugaskan Gilang untuk mengawasi Arumi. Itu cara Gilang memantau keadaan Arumi karena dirinya sudah tidak bisa bertemu Arumi atau pun bertutur sapa.


Setelah perjalanan, Arumi sampai di kedai Pak Wijaya.


Neni menyambut kedatangan Arumi yang di tangannya membawa beberapa box kue.


"Arumi? Kamu sekarang yang mengantar kuenya," Sapa Neni yang menerima kue dari Arumi.


"Iya tante. Mulai sekarang aku yang mengantar kuenya. Sekarang kami sudah pindah rumah. Lokasinya cukup jauh. Jadi nenek tidak bisa mengantar sendiri seperti biasanya."


"Oh, kamu sudah pindah rumah. Kenapa nggak ngasih kabar kami biar kami membantu pindahanmu," ucap Neni.

__ADS_1


"Maaf tante, soalnya mendadak sekali kami pindahannya," ucap Arumi.


Neni menatap ke perut Arumi yang sudah nampak rata alias langsing.


"Kamu sudah melahirkan Arumi?" tanya Neni.


"Sudah tante. Sudah hampir tiga minggu."


"Kenapa tidak memberi kabar pada kami?"


"Maaf, lupa tante."


Mana sempat Arumi memberitahu keluarga pak Wijaya yang sudah menganggap Nenek Suryati dan Arumi seperti keluarganya. Karena saat itu Arumi sangat down.


Arumi tidak akan menceritakan tentang dirinya pada Neni, kalau sudah bercerai dengan suaminya.


"Ya udah tante nggak papa nggak dikasih tau. Tapi nanti kalau acara pernikahanmu kasih tau tante ya," cetus Neni.


"Pernikahan?"Arumi pura-pura bertanya.


"Iya, sebentar lagi kamu akan meresmikan pernikahanmu kan?"


"I.., iya tante," ucap Arumi tersengal sembari mengangguk.


"Tante mendengar cerita nenekmu, katanya setelah lahiran kamu akan meresmikan pernikahanmu. Nggak sabar deh tante pingin tau kamu di pelaminan dengan suamimu."


"Tante akan memberi hadiah spesial saat pernikahanmu nanti," ucap Neni yang masih memeluk Arumi.


"Ngak usah repot-repot tante."


"Kenapa? Kamu itu sudah tante anggap seperti keluarga sendiri. Terima saja nanti pemberian tante."


Arumi hanya bisa mengangguk meyakinkan Neni. Di hati Arumi menyimpan kegusaran besar. Arumi khawatir kalau Neni sampai tau kalau dirinya tidak jadi meresmikan pernikahannya dengan Hendri, karena Hendri sudah menceraikannya.


"Aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak jadi meresmikan pernikahanku. Aku tidak boleh memberitahu tentang keadaanku sekarang yang sudah bercerai dengan suamiku. Aku tidak ingin Tante Neni dan semua kecewa seperti yang aku rasakan. Biarlah mereka tau dengan sendirinya," batin Arumi.


Cukup lama Arumi bertukar cakap dengan Neni tak terasa hari sudah siang. Arumi pamit sama Neni karena masih ada urusan yang harus diselesaikan.


Arumi berlalu meninggalkan kedai pak Wijaya.


Seperti tujuannya tadi, Arumi akan mencari pekerjaan sebelum mendapat panggilan kerja di butik.


Arumi berjalan kesana kemari menghampiri setiap lokasi yang mungkin membutuhkan karyawan. Namun apa yang didapatinya tak ada lowongan pekerjaan untuknya.


Arumi mengeluh capek. Sudah mondar-mandir kesana kemari tidak ada yang mau memberi pekerjaan untuknya.


"Aku harus cari kemana lagi," keluh Arumi yang lelah berjalan.

__ADS_1


Arumi duduk di kursi panjang di pinggiran jalan sembari meneguk air dingin. Sembari melepas rasa lelahnya Arumi termenung mengingat Hendri suaminya yang menghilang tanpa jejak. Rasa penasaran Arumi kembali menghantui.


Membuat Arumi ingin mencari tau lagi tentang keberadaan Hendri. Arumi akan kembali berkunjung ke rumah mantan mertuanya dan mempertanyakan Hendri.


Arumi pun beranjak pergi ke rumah mertuanya dengan ojol yang sudah dipesannya.


Dalam beberapa menit sampailah dirumah Mia.


Arumi mulai masuk rumah dengan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..," ucap Arumi.


"Itu seperti suara Arumi. Kenapa dia datang kesini lagi. Bukannya dia sudah tenang mendapat rumah dari anak saya," batin sinis Mia.


"Waalaikum salam...," jawab Mia.


Arumi masuk kedalam rumah dan bertemu Mia di ruang tamu.


"Kamu datang lagi. Kamu datang sendirian, mana Arsya cucuku?" tanya ketus Mia.


"Di rumah Bu?"


"Kenapa nggak diajak kesini. Ibu kan pingin tau cucu Ibu seperti apa."


"Kenapa Ibu nggak datang ke rumah nengokin cucu Ibu?" ucap Arumi dengan berani.


"Gengsi dong Ibu, kan sudah bukan mertua kamu lagi," ketus Mia.


"Terserah Ibu lah mau beralasan apa. Aku tidak akan pernah membawa Arsya kesini."


"Dasar kamu ya. Sekarang sudah berani sama Ibu, mentang-mentang Ibu sudah bukan mertuamu," teriak Mia tidak terima.


"Sudahlah Bu. Aku nggak mau ribut. Aku datang kesini hanya ingin menanyakan dimana mas Hendri sebenarnya," bentak Arumi.


"Ibu tidak tau dimana Hendri."


"Ibu bohong!!"


"Arumi tidak boleh tau dimana Hendri. Apa lagi besok hari pernikahannya. Arumi tidak boleh tau sebelum Hendri resmi menikah dengan Melinda calon menantuku yang kaya," batin Mia.


Hendri kemarin datang ke rumah ibunya bersama Melinda. Hendri memperkenalkan Melinda pada ibunya. Dan memberitahunya kalau pernikahannya dilaksanakan besok.


Mia nampak senang bukan kepalang karena mempunyai menantu yang cantik dan juga kaya raya.


Mia mengatakan pada Arumi untuk melupakan Hendri karena sudah bercerai dengannya. Hendri menceraikannya pasti karena sudah tidak mencintainya. Mia meminta Arumi menerimanya dengan lapang dada.


Hendri sudah berbaik hati memberikan rumah untuknya walau sudah diceraikan. Apa itu tidak cukup. Hendri sudah mewujudkan impian Arumi.

__ADS_1


Arumi hanya berderai air mata mendengar beberapa pernyataan Mia yang tidak sedikit pun memberi ruang bicara untuknya.


__ADS_2