
Tak terasa jam kerja Arumi sudah selesai. Saatnya Arumi akan pulang. Sebelum pulang Arumi berniat akan mampir ke rumah Neneknya. Karena sudah mendapat izin dari suaminya Arumi akan lebih sering mengunjungi Nenek Suryati yang tinggal sendirian.
Arumi tidak lupa memberitahu Ibu mertuanya kalau mau mampir dulu di rumah Nenek, takut nanti di cariin dan di omelin kalau nggak ngasih tahu dulu. Arumi pun mengirim pesan pada Ibu mertuanya. Cepat sekali di respon sama Mia pesan dari Arumi.
Ya jelas saja langsung di respon pesannya oleh Mia. Sejak Arumi tinggal di rumahnya, tak ada lagi yang di kerjakannya di rumah karena semua pekerjaan sudah di kerjakan Arumi.
Kini dia tinggal bermain gadjednya sembari duduk santai, menonton tv, sambil ngemil juga. Hidupnya sekarang enak banget hanya berpangku tangan pada Hendri dan Arumi.
"Oke nggak papa kamu mampir ke rumah Nenekmu. Pasti kamu bawa oleh-oleh kan buat Nenekmu. Jangan lupa nanti bawain Ibu oleh-oleh juga, makanan kesukaan Ibu. Jangan lupa ya!!" Balasan pesan dari Ibu mertuanya.
"Baik Bu, ntar aku bawain oleh-oleh buat Ibu," balas Arumi.
Semenjak tinggal di rumah mertuanya Arumi di buat pusing mengatur keuangannya, banyak yang harus di keluarkan untuk ini untuk itu atas perintah mertuanya. Gajinya nggak seberapa pengeluarannya banyak banget, Arumi sering mengeluh. Arumi hanya bisa menghela nafas memikirkan itu semua. Kata sabar selalu tertutur dalam hatinya.
Sebelum sampai di rumah Nenek Suryati, Arumi ingin membeli buah tangan untuk Neneknya. Seperti biasa Arumi mampir ke kedai kue milik Pak Wijaya yang lokasinya sudah dekat dari rumah Nenek. Saat memasuki kedai, Arumi di sapa Heni, anak tunggal si pemilik toko.
"Pasti mau ke rumah Nenek ya?" Tanya Heni yang saat ini berdiri di tempat kasir dengan celemek terpaut di badannya.
"Iya tante, seperti biasa tante aku ingin membeli kue kesukaan Nenek," jawab Arumi.
"Tadi Nenek kamu juga ke sini, mengantarkan kue buatannya. Kuenya sangat laris di sini di sukai banyak pelanggan. Baru setengah hari saja sudah habis. Andai saja Nenekmu bisa membuat lebih banyak kuenya pasti dapat uang lebih banyak."
"Begitu ya," Arumi manggut-manggut mendengar ucapan Heni.
"Sayang aku sudah nggak tinggal di rumah Nenek lagi. Kalau aku masih tinggal di sana pasti aku bisa membantunya membuat kue yang lebih banyak," celetuk Arumi.
Ada Reno putranya Heni mendekat ke Arumi dan Ibunya yang asyik mengobrol sembari berdiri. Dia pun menyapa Arumi.
"Bagaimana kabarmu Arumi, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Reno.
__ADS_1
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja kan?" Jawab Arumi.
"Kamu bahagia nggak?" Tanya Reno lagi.
"Kenapa tanya begitu Ren, jelas Arumi bahagialah sudah menikah, akan punya anak dan sekarang tinggal di rumah mertuanya," ucap Heni.
"Kamu sudah mau punya anak?" Reno terkejut.
"Iya ini sudah tiga bulan lo," jawab Arumi penuh rasa bahagia sembari mengelus perutnya menunjukkan pada Reno.
Melihat Arumi yang saat ini tengah hamil dan bahagia Reno malah muncul rasa kecewa di hatinya. Bukannya dia tidak suka melihat Arumi bahagia, itu berarti sudah tidak ada kesempatan lagi baginya yang mempunyai perasaan pada Arumi.
Reno berharap Arumi putus dengan suaminya karena tidak mendapat restu dari orang tuanya Hendri malah sekarang sudah hamil dan Arumi pun tinggal di sana.
"Syukurlah kalau kamu bahagia Arumi, aku juga ikut bahagia melihatmu."
"Terima kasih Reno, kamu begitu perhatian padaku."
Heni sudah mengambilkan kue yang di minta Arumi, sudah di bungkus rapi. Heni memberikannya pada Arumi.
"Ni sudah siap kuenya," Heni menyodorkan satu box kue pada Arumi.
Arumi meraihnya dan segera membayar untuk satu box kue. Namu Heni menolak uang dari Arumi. Heni memberikannya secara cuma-cuma untuk Neneknya. Dengan senang hati Arumi menerimanya. Kebetulan tadi Ibu mertuanya juga minta di bawain oleh-oleh sekalian Arumi membelikan kue di kedai ini juga.
Arumi melanjutkan perjalanannya ke rumah Nenek Suryati dengan menenteng dua box kue yang satu untuk Neneknya dan yang satunya lagi untuk di bawa pulang buat Ibu mertuanya.
Sudah sampai di rumah Neneknya, Arumi di sapa Neneknya dengan perasaan gembira. Nenek Suryati senang dengan kunjungan Arumi yang membawakan kue kesukaannya. Arumi juga memberitahu Neneknya kalau Arumi sekarang akan sering mengunjungi Nenek. Biar Nenek seneng.
Nenek Suryati senang mendengarnya, sekarang dia nggak bakalan kangen lagi karena akan sering bertemu cucunya yaitu satu-satunya keluarganya. Seperti biasa mereka bercengkerama saling bertukar cerita dan juga makan bersama di waktu yang singkat.
__ADS_1
Arumi pun memberitahu Neneknya kalau Hendri suaminya akan meresmikan pernikahan mereka dan merayakannya tapi belum berani mengatakan pada Ibunya.
Nenek senang mendengarnya, Nenek Suryati berharap itu cepat terwujud supaya Arumi menjadi istri yang syah di mata semuanya. Menjadi ikatan yang sakral menurut agama dan hukum.
Sudah hampir petang, Arumi pamit pulang sama Neneknya. Arumi harus sudah sampek rumah sebelum waktu magrib. Arumi cepat-cepat mencari ojek online lewat gadjednya dan beruntung langsung dapet. Sembari berjalan menyusuri gang sempit Arumi menunggu kedatangan ojek online yang sedang menuju lokasinya.
Di kantor Hendri, semua pegawai juga sudah mau pulang termasuk juga Hendri. Hendri tidak lembur untuk hari ini dia akan pulang. Seperti yang sudah di pikirkannya hampir seharian di sela-sela kerjanya Hendri ingin mengatakan pada Ibunya akan meresmikan pernikahanbya dengan Arumi secara hukum dan akan mengadakan resepsi di rumahnya.
Hendri berharap Ibunya menyetujui dan mengizinkannya. Hendri sudah ada di depan lift dia menunggu lift terbuka. Lift sudah terbuka Hendri pun masuk. Hendri melihat sekilat di dalam lift ada seorang wanita dengan dandanan rapi.
Hendri teringat itu seperti wanita yang tadi pagi bersamanya di dalam lift bersama body guardnya. Namun kali ini dia sendirian. Wanita itu adalah Melinda pemimpin baru di perusahaan ini yang Hendri tidak tau tentang dirinya. Melinda nampak terkejut saat Hendri mulai masuk lift.
"Pria ini lagi!! Kenapa bisa barengan naik lift lagi sih. Dasar pegawai nyebelin nggak tau apa kalau aku atasannya di sini," batin Melinda masih dengan raut wajah kekesalannya.
Mereka kini berdiri sejajar. Hendri melirik ke arah Melinda.
"Kok sendirian, mana body guardnya tadi?" Tanya Hendri dengan senyum mengejek.
"Sudah pergi," jawab Melinda datar tanpa menoleh ke Hendri.
"Pegawai baru pakai bawa body guard segala," ucap Hendri spontan.
Hendri mengira wanita yang sama yang di temuinya di lift seperti saat ini adalah seorang pegawai baru karena Hendri baru melihatnya hari ini.
"Apa kamu bilang, aku pegawai baru?" Melinda memicingkan kedua matanya. Melinda tidak terima di bilang pegawai baru, namun dia memilih meredamkan gejolak amarahnya di dalam hati.
"Kalau di pikir aku emang pegawai baru di sini, tapi bukan pegawai tepatnya tapi atasan baru. Dasar pegawai satu ini bikin aku gereget aja," batin Melinda makin geregetan sama pria yang di sampingnya.
__ADS_1