Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 78 Tercenang


__ADS_3

Sudah sampai di rumah ibunya Gilang segera turun dari mobil. Lalu membuka pintu untuk Arumi yang tadi duduk sejajar dengannya. Arsya pun ikut turun bersama sang baby sister


Arumi jantungnya tiada henti berdegup kencang. Arumi sangat takut sekali menghadapi orang tua Gilang.


"Ayo kita masuk sayang, kamu sudah siap kan?" Ucap Gilang sembari mengulurkan tangannya mengajak Arumi masuk kedalaman rumah.


Arumi tercenang sebentar. Arumi masih dengan rasa gugup, dag, dig, dug, hingga mau meledak rasanya.


Arumi menghela nafas menata hatinya supaya tenang tidak gugup dan takut.


"Oke aku siap sayang. Bismillahirrahmanirrahim," ucap Arumi dengan khusyuk.


Arumi meraih tangan Gilang lalu mulai melangkahkan kakinya berjalan memasuki pintu rumah. Berjalan bergandengan tangan dengan Gilang. Diiring baby sister dari belakang sembari menggendong Arsya yang belum tidur nampak menggemaskan.


Gilang mempererat genggaman tangannya supaya Arumi tidak takut dan gugup.


"Assalamualaikum... Selamat malam, " ucap Gilang dan Arumi bersamaan saat masuk rumah.


"Waalaikum salam," jawab Liliana mendengar suara khas putranya.


"Gilang datang," ucap Liliana sembari berlari dari ruang tamu menuju ke pintu depan.


"Gilang..., kamu datang sayang. Ibu kangen banget sama kamu," ucap Liliana sembari berlari, lalu memeluk Gilang putra tercintanya.


"Aku juga kangen sama Ibu," ucap Gilang sembari mempererat pelukannya.


Mereka terbawa suasana kangen yang mendalam.


Arumi ikut terbawa suasana kangen Gilang dan ibunya. Arumi terkagum-kagum pada Gilang mempunyai ibu yang sangat menyayanginya. Arumi pun jadi teringat dengan ibunya yang sedari kecil tiada pernah melihat rupanya.


"Begitu ya rasanya kalau mempunyai ibu, saling kangen saat tidak bertemu lama. Aku juga jadi kangen sama ibuku. Tapi ibuku dimana ya, kalau sudah meninggal, kenapa nenek tidak pernah tau pemakamannya. Ibu, aku juga kangen sama kamu. Andai kita bisa bertemu dalam mimpi saja. Aku pasti seneng banget, walau hanya bisa bertemu dalam mimpi," batin Arumi terpaku.


Pandangan Arumi tertuju pada ibunya Gilang yang belum memperhatikan Arumi sedikit pun, karena saking senengnya Gilang datang.


"Ibu pasti akan lebih senang, karena aku membawa seseorang yang Ibu inginkan," ucap Gilang lalu melepaskan pelukannya.


"Benarkah Gilang!" Pekik Liliana.


"Iya. Dia ada disamping ibu sedari tadi. Ibu tidak memperhatikannya." Gilang menunjukkannya.


Liliana menengok. Dan benar dia melihat Arumi calon istri Gilang yang sangat ia tunggu kedatangannya di rumah ini.


"Ini calon istrimu Gilang," ucap Liliana sangat terpukau.

__ADS_1


"Dia cantik sekali seperti bidadari," puji Liliana.


Arumi jadi tersipu malu, menundukkan pandangannya.


"Ya Allah, ternyata kamu pintar mencari calon istri Gilang. Tidak salah kamu lama mencari tambatan hatimu. Sekarang kamu mendapat yang terbaik. Dia sangat cantik berhijab pula pasti dia wanita yang baik," ucap Liliana.


"Selamat datang sayang. Aku Ibunya Gilang. Panggil saja aku tante Liliana. Kamu cantik sekali," ucap Liliana sembari memeluk Arumi.


Arumi senang sekali mendapat sambutan baik dari ibunya Gilang. Arumi berharap ibunya merestui hubungannya dengan Gilang.


"Aku Arumi Tante," ucap Arumi dalam pelukan Liliana.


Gilang juga menunjukkan pada Liliana, dia tidak hanya membawa Arumi calon istrinya dia juga membawa seorang anak kecil bersama baby sisternya yang sangat menggemaskan.


Liliana mempertanyakan tentang bayi kecil yang ikut datang bersama Gilang kesini.


Gilang memberitahu ibunya, kalau bayi kecil tampan yang menggemaskan itu adalah anak Arumi calon istrinya.


Liliana tercenang. Liliana pikir itu anak Gilang dengan Arumi. Liliana menerka, Gilang selama ini tiada pernah berkunjung ke rumah karena dia merahasiakan kalau sudah punya anak bersama Arumi.


"Apa dia anakmu Gilang?" tanya Liliana penuh curiga.


"Ya Bu?" jawab Gilang spontan.


"Dia akan menjadi anakku Bu. Karena Arumi akan menjadi istriku," jawab Gilang santai padahal Liliana bertanya serius.


"Arumi seorang janda beranak satu. Dia wanita pilihanku. Aku punya alasan untuk menikahinya, selain ketulusan cintaku padanya. Aku berharap Ibu menerima Arumi karena dia wanita pilihanku," tegas Gilang.


Liliana hanya mengangguk mendengar ucapan Gilang tanpa berani menanggapinya. Liliana yakin pilihan Gilang pasti terbaik untuknya.


Cukup lama Liliana menyambut kedatangan Gilang, hingga Melinda mengeluh. Ibu terlalu lama bercengkerama dengan kakaknya.


Liliana mengajak Gilang dan juga Arumi ikut bergabung di ruang tamu.


"Melinda lihatlah Kakakmu sudah datang," ucap Liliana menunjukkan pada Melinda dan semuanya.


Mereka bersamaan menengok kearah Liliana yang datang ke ruang tamu bersama Gilang. Mereka sungguh terkejut Gilang tidak datang sendirian melainkan dengan Arumi dan juga anaknya.


Melinda dan Hendri sangat terkejut melihat Arumi datang bersama Gilang mengajak Arsya pula.


"Kak Gilang!" ucap Melinda dengan mulut menganga.


Sementara Hendri sungguh hatinya bergejolak kesal.

__ADS_1


"Apa maksudnya Gilang membawa Arumi datang keacara ini. Apa dia sengaja. Dia sengaja ingin menyakiti hatiku," batin Hendri dengan muka kesalnya.


"Kamu membawa siapa Gilang? Kenapa ada wanita cantik dan anak kecil dengan baby sisternya," tanya pak Subroto.


Pak Subroto sepertinya lupa, kalau wanita yang ia lihat saat ini adalah wanita yang sudah diumumkan Gilang diatas panggung sebagai kekasih hatinya saat pernikahan Melinda.


"Ayah lupa. Dia wanita yang ada di panggung bersama Gilang saat pernikahan Melinda," ucap Liliana mengingatkan.


"Oh, dia wanita pilihanmu Gilang?" ucap pak Subroto.


"Iya Ayah. Dia adalah Arumi calon istriku," cetus Gilang.


"Apa? Dia calon istrimu," ucap Melinda dan Gilang bersamaan seakan tidak percaya.


"Iya dia calon istriku, dan dia calon anakku," ucap Gilang dengan pedenya menunjuk ke Arumi dan Arsya yang digendong baby sisternya.


Melinda dan Hendri semakin tercenang. Mereka yang duduk sejajar saling menatap dengan ketidak relaan hatinya. Hati mereka panas membara seakan terbakar


Melinda tidak ingin Arumi jadi bagian dari keluarganya.


Sementara Hendri tidak rela Arumi menjadi milik Gilang.


Nampak Arsya sedikit rewel entah karena ngantuk atau apa. Tiba-tiba rewel Gitu.


Sang baby sister akan membawa Arsya ke tempat yang tenang supaya bisa cepat tidur barangkali Arsya ngantuk. Dia meminta izin Arumi untuk membawa Arsya di teras depan yang hawanya sejuk.


Arumi pun mengizinkannya.


Arsya masih belum bisa tidur sudah dibawa keluar rumah yakni di teras depan.


"Ayo cepat tidur Arsya, kamu ngantuk kan," ucap baby sister itu.


Ada apa dengan Arsya ya?


Nampak dari pintu gerbang Mia dan Salsa masuk. Mia baru datang diantar taksi online.


Mia dan Salsa melangkah dengan cepat menuju rumah besannya.


"Cepat Bu, kita pasti sudah terlambat," ucap Salsa sembari berjalan cepat.


"Iya, iya," ucap Mia sedikit ewuh berjalan cepat karena pakaiannya yang rempong.


Saat sampai diteras depan Salsa melihat anak kecil dengan mata beningnya sedang digendong baby sister menatapnya dengan tersenyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2