Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 49 Bingung


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan Gilang sudah sampai di rumah kedua orang tuanya.


Suara mobil yang menggema di luar rumahnya, membuat Liliana berlari keluar dan memastikan siapa yang datang. Liliana berharap itu Gilang. Putra yang sangat disayanginya.


Liliana tersenyum ceria saat melihat yang keluar dari mobil adalah Gilang.


"Syukurlah kamu datang tepat waktu sayang," ucap Liliana yang menyambut kedatangan anaknya. Kedua tangan Liliana diregangkan lalu Gilang mendarat dalam pelukan hangatnya.


"Hampir saja Bu aku tadi akan datang terlambat seperti kemarin," ucap Gilang.


"Jangan suka terlambat datang, Ibu nggak suka."


Mia melepaskan pelukannya menatap tajam kearah wajah Gilang.


"Iya ya Bu, aku nggak akan datang terlambat lagi kok," ucap Gilang meyakinkan ibunya.


Liliana mengajak masuk Gilang kedalam rumah. Karena acaranya makan bersama keluarga, Liliana membawa Gilang ke ruang makan.


Disana sudah hadir ayahnya beserta Melinda dan juga suaminya yaitu Hendri


Saat sampai di ruang makan Gilang sedikit terkejut saat melihat Melinda dan Hendri duduk sejajar di ruang makan.


"Kamu?" Ucap Gilang jari telunjuknya menunjuk kearah Hendri.


"Aku?" ucap Hendri sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Ada apa Kak Gilang. Kamu merasa asing dengan orang di sampingku. Dia suamiku Kak. Kamu lupa ya," sela Melinda.


Gilang tidak menjawab pertanyaan Melinda. Dia hanya menatap heran kearah Melinda. Gilang tidak menyangka ternyata Melinda masih mempertahankan pernikahanya dengan Hendri si pria beristri.


"Kamu sudah datang Gilang. Syukurlah tidak membuat kami menunggu seperti kemarin," sapa Pak Subroto.


"Kalau nggak ada urusan yang mendadak aku pasti datang tepat waktu Yah," balas Hendri.


"Kok berdiri saja. Ayo silahkan duduk." Liliana mempersilahkan duduk putranya yang sedari tadi masih berdiri.


Acara makan bersama sengaja pak broto adakan, supaya keluarga kecilnya mengenal menantu barunya yaitu Hendri.


Gilang hanya menatap sinis pada Hendri karena dia sungguh geram padanya.


Pak Subroto mengenalkan Hendri pada Gilang. Dan menceritakan Tentang kesuksesannya menjalankan perusahannya bersama Melinda. Tak hanya itu saja pak Subroto tiada henti memuji kalau menantunya ini menantu terbaik, dia sungguh hebat bisa diandalkan disituasi apa pun.


Gilang hanya menyunggingkan mulutnya saat mendengar rentetan pujian untuk Hendri si menantu baru

__ADS_1


"Aku akan membuka kedok Hendri. Biar kalian semua tahu siapa sebenarnya Hendri," batin Gilang.


Pak Subroto juga memberitahukan semua kalau peresmian pernikahan mereka akan segera dilaksanakan. Pak Subroto sudah menentukan tanggal acaranya. Dan tinggal satu minggu lagi.


Hendri melebarkan matanya mendengar ucapan Ayah mertuanya. Begitu pun juga dengan Gilang yang juga terkejut mendengar ucapan Ayahnya.


"Tidak! Mereka berdua tidak boleh meresmikan pernikahannya. Kasihan istri dan anaknya," batin kesal Gilang.


"Kenapa Ayah mertua cepat sekali menentukan hari H nya. Aku kan masih belum siap," batin Hendri juga.


Sementara Melinda sangat senang, karena acara peresmian pernikahannya akan segera dilaksanakan.


Liliana pun juga sama ingin melihat putrinya yang cantik duduk di pelaminan.


Hendri tidak berani memprotes keputusan Ayah mertuanya. Toh Hendri juga sudah berjanji akan meresmikan pernikahannya dalam satu bulan ini.


Harusnya Hendri meresmikan pernikahannya dengan Arumi istri pertamanya setelah melahirkan anaknya. Kenyataannya Hendri malah memutuskan hubungan pernikahannya dengan Arumi. Hendri sungguh ingkar dengan janjinya.


Arumi yang datang ke rumah mertuanya berharap bertemu dengan Hendri suaminya. Kedatangannya disambut hangat oleh Salsa namum tidak dengan Mia yang menyunggingkan mulutnya. Mia sakit hati dengan neneknya Arumi yang melarang datang untuk menjenguk cucunya.


"Kok kamu datang sendirian kesini mana cucu Ibu?" tanya Mia saat Arumi menginjakkan kaki di rumahnya.


Salsa mempersilahkan duduk kakak iparnya biar enak ngobrolnya.


"Keponakanku namanya Arsya Kak. Wah! Nama yang bagus Kak, sesuai dengan tampang Arsya yang tampan dan lucu. Hi gemes deh, jadi pingin ketemu Arsya. Kok nggak diajak kesini sih Arsyanya Kak," sela Salsa.


"Ya benar, kok nggak kamu ajak kesini si Arsya. Ibu kan pingin ketemu sama cucu Ibu," ucap Mia.


"Arsya masih kecil Bu, baru berumur satu minggu. Kasihan kalau dibawa kesini. Ibu datang saja kesana kalau mau melihat cucu Ibu," ucap Arumi.


"Ibu nggak mau kesana. Karena ada nenekmu yang melarang Ibu datang kesana."


"Nggak papa Bu, nenekku hanya bergurau saja melarang Ibu datang kesana. Mungkin saat itu nenek kesal hatinya, karena Ibu tidak menjengukku di rumah sakit," jelas Arumi.


"Salah Ibu sendiri, nggak perduli sama menantu," cetus Salsa.


"Hei, kamu nggak usah nyalahin Ibu ya. Semua karena kakakmu yang sibuk nggak mau membawa ibu menjenguk Arumi di rumah sakit," pekik Mia.


"Sudahlah Bu, jangan ribut gitu. Ibu nanti bisa datang ke rumah baruku bersama Salsa untuk melihat Arsya," ucap Arumi.


"Rumah baru?" ucap Mia dan Salsa.


"Iya, rumah baru. Kalian belum tahu mas Hendri sudah membeli rumah baru untuk aku tinggali bersama Arsya dan nenek," ucap Arumi.

__ADS_1


"Belum." Mia dan Salsa menggelengkan kepala.


"Kenapa Hendri tidak memberitahu Ibu, kalau dia sudah membeli rumah untuk kamu. Hendri sudah lancang," teriak Mia lagi.


"Mas Hendri tidak memberitahu Ibu?" tanya Arumi.


"Tidak! Kemarin dia datang kesini hanya marah-marah sama ibu karena tidak menjengukmu di rumah sakit. Setelah itu dia pergi. Sudah beberapa hari dia nggak datang kesini."


"Loh! Bukanya mas Hendri tinggal disini Bu?" tanya Arumi keheranan.


"Gimana sih kamu. Bukannya Hendri tinggal di rumah barunya bersama kamu," timpal Mia.


"Enggak Bu?"


"Kemana kak Hendri?" ucap Salsa bingung.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Hendri? Kenapa keluarganya tidak tahu keberadaannya? Apa ibu juga tidak tau mas Hendri sudah menceraikanku," gumam Arumi dalam hatinya.


"Lalu mas Hendri kemana Bu?" tanya Arumi lagi.


"Kamu kan istrinya. Harusnya kamu yang lebih tau, dimana Hendri suamimu?" tegas Mia.


Arumi semakin bingung memikirkan tentang Hendri suaminya yang penuh tanda tanya.


Arumi nampak ruduk dengan dua tangan memegangi kepalanya. Dia benar-benar pusing memikirkan tentang Hendri suaminya yang menghilang tak ada kabar.


Mia dan Salsa pun ikut bingung memikirkannya.


Arumi pun akan mencoba bertanya pada mereka. Apakah mereka tau tentang perceraiannya.


"Apa kalian juga tidak tau kalau mas Hendri sudah menceraikanku saat datang ke rumah sakit waktu aku melahirkan?" tanya Arumi.


"Apa? Hendri menceraikanmu?" ucap Mia terkejut.


Salsa hanya menatap bingung mendengar ucapan kakak iparnya.


"Apa maksudnya. Ibu tidak mengerti."


"Jadi Ibu juga tidak tau," ucap Arumi memastikan.


Mia menggelengkan kepala, dia sedikit syok mendengar pernyataan Arumi. Mia bingung memikirkan Hendri anak laki-lakinya, yang sudah menceraikan Arumi, kenapa masih membelikan rumah untuknya. Apa maksud Hendri. Dan kenapa menghilang begitu saja tanpa memberi kabar.


Nampak keheningan di ruang tamu itu. Arumi Mia dan Salsa hanya bergeming. Entah dalam pikirnya mungkin sibuk memikirkan Hendri.

__ADS_1


__ADS_2