Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami
Bab 39 Persiapan


__ADS_3

Karena akan menikah siri Melinda meminta Hendri untuk memutuskan hari pernikahannya, lebih cepat lebih baik, menurut Melinda.


Hendri setuju saja. Hendri akan menikahi Melinda besok dengan syarat tanpa diketahui keluarga Hendri. Hendri juga ingin pernikahan itu cepat terjadi, dia ingin segera menguasai perusahaan dan mempunyai uang yang banyak.


Sebelum Arumi melahirkan, Hendri berharap bisa membelikan rumah yang layak untuknya.


Melinda bersedia saja dan menerima syarat dari Hendri, yang penting bisa menikah dengan Hendri.


Di rumah Arumi dengan perut besarnya masih disibukkan dengan pekerjaan rumahnya. Disore ini Amira akan memasak untuk menu makan malam.


Sebenarnya Arumi sudah merasa wegah dengan perut besarnya, namun harus memasak untuk makan malam.


"Sabar Arumi, memasak untuk suami adalah kewajiban seorang istri, jadi harus ikhlas menjalaninya," Arumi menenangkan hatinya.


Hendri akan pulang awal hari ini, untuk mempersiapkan diri menghadapi pernikahannya besok.


Sebelum sampai di rumah, Hendri mampir ke rumah seorang penghulu yang di perintahkannya untuk menikahkannya besok. Pernikahan akan di laksanakan besok di rumah Melinda.


Hendri pulang ke rumah dengan membawa mobil Melinda.


Melihat suaminya pulang lebih awal, membuat Arumi seperti mendapat angin segar usai kegerahan. Rasanya hatinya adem, dan rasa capeknya seharian ini seperti hilang. Menurut Arumi Hendrilah semangat hidupnya di rumah ini.


"Aku senang kamu pulang lebih awal Mas," ucap Arumi saat menyambut Hendri datang.


"Aku juga senang melihat istriku selalu dengan senyumannya," ucap Hendri memeluk mesra Arumi.


Mereka berjalan masuk rumah.


Mia yang baru keluar dari kamarnya melihat kedatangan Hendri yang berjalan dengan Arumi menuju kamarnya.


"Hendri, kamu sudah pulang," teriak Mia.


Langkah Hendri dan Arumi terhenti.


"Iya, aku sudah pulang Bu," jawab Hendri menatap ibunya.


"Tumben jam segini sudah pulang, ada acara apa?" Tanya Mia.


"Nggak ada acara apa-apa Bu. Aku ingin hanya ingin meluangkan waktu dengan Arumi menjelang hari lahirnya."


"Arumi, kamu sudah memberitahu suamimu pesanku tadi," ucap Mia.


"Belum Bu," jawab Arumi.


"Kok belum sih, Hendri kan sudah datang. Kenapa nggak langsung kamu kasih tau," bentak Mia.


Arumi menundukan wajahnya.


"Aku baru datang Bu? Arumi belum sempat memberitahuku," ucap Hendri.


"Ibu hanya mengingatkan saja Hendri takut dia lupa."

__ADS_1


"Aku nggak lupa Bu," bantah Arumi.


"Ya udah kalau nggak lupa cepat sekarang kasih tau Hendri pesan Ibu" ucap Mia.


"Kenapa Ibu nggak ngomong sendiri sama aku, sekarang sudah berhadapan denganku," pekik Hendri.


Mia malu mengatakannya karena akan meminta uang pada Hendri.


"Nggak biar Amira saja yang mengatakan pesan Ibu," ucap Mia lalu pergi meninggalkan Arumi dan Hendri.


"Ibu pesan apa sih sama kamu?" Tanya Hendri pada Arumi.


"Ibu pesan mau minta uang sama kamu Mas," ucap Arumi.


"Minta uang lagi? Kan baru kemarin aku ngasih ibu uang, masak sudah habis sih?"


"Aku nggak tau Mas, memang itu pesan ibu."


"Aku nggak mau ngasih ibu uang. Belum juga satu bulan sudah minta lagi."


"Kasih aja lah Mas kalau ada," pinta Arumi.


Hendri terpaku dengan kekesalan hatinya.


"Mas kasih ya, ntar kalau mggak dikasih ibu bakalin marahin aku."


"Baiklah, akan aku kasih," ucap Hendri.


Hendri akan memberi uang pada Ibunya, Hendri tidak mau Arumi jadi pelampiasan amarah ibunya.


Itulah alasan Mia tidak mau ngomong sendiri sama Hendri takut nggak di kasih. Dan akhirnya Hendri bersedia , karena Arumi yang ngomong.


Mia tersenyum menang di kamarnya.


"Berguna juga punya menantu seperti Arumi untuk merayu suaminya demi mertuanya," ucap Mia.


Hari sudah malam, Nampak Arumi sudah tidur duluan sedangkan Hendri madih terjaga memikirnya pernikahannya besok.


Hendri menatap teduh ke wajah Arumi yang berbaring disampingnya.


"Arumi maafkan aku, besok aku akan menikah dengan seseorang gang memaksaku menikahinya. Dan aku pun bersedia semua demi kebahagiaan kamu dan buah hati kita. Aku harap kamu mengeryi Arumi jika suatu saat kamu tau," gumam Hendri sembati mengelus kening Arumi yang tengah tertidur lelap.


Hendri merahasiakan pernikahan ini tak hanya pada Arumi. Mia dan Salsa juga tidak di kasih tahu.


Hendri berencana, setelah mendapatkan banyak keuntungan dari Melinda dia baru akan mengatakan pada Melinda kalau dia sudah punya seorang istri. Hendri berharap Arumi dan Melinda mau sama-sama menjadi istrinya.


Hari esok sudah datang.


Arumi pagi ini badannya terasa pegal sekali, seperti malas bangun. Dia agak terlambat sholat subuhnya.


Arumi tidak melihat keberadaan Hendri di kamarnya saat dia bangun.

__ADS_1


"Kemana mas Hendri? Apa dia sudah berangkat ke kantor?" Arumi bicara sendiri.


Arumi keluar dari kamarnya akan mencari keberadaan Hendri.


Tercium bau masakan dari dapur, Arumi pun beranjak menuju dapur.


"Ini aroma nasi goreng. Siapa yang sedang masak di dapur. Mungkinkah ibu, yang merasa kasihan padaku membuat sarapannya sendiri," gumam Arumi sembari berjalan dengan perut besarnya menuju ke dapur.


Saat sampai di dapur, Arumi sungguh terkejut. Ternyata yang memasak adalah Hendri suaminya.


"Masya Allah Mas! Kamu yang masak?" Ucap Arumi.


"Iya sayang. Kamu sudah bangun?" Tanya Hendri sembari menyajikan nasi goreng yang sudah matang.


"Kirain siapa yang masak. Ternyata kamu Mas."


"Aku hanya ingin meringankan bebanmu Arumi, kamu pasti sudah sangat capek dengan perut besarmu," ucap Hendri.


"Terima kasih Mas, sudah melakukannya untukku. Aku sayang sama kamu."


Arumi membenamkan tubuhnya di pelukan suaminya.


Sudah selesai memasak Hendri akan membersihkan diri.


Hendri tidak ikut sarapan bareng nanti karena harus berangkat pagi-pagi karena banyak urusan di kantor.


Arumi percaya saja dengan pernyataan suaminya yang tak bisa sarapan bareng denganya, ibunya dan juga Salsa.


Hendri sudah mau berangkat, tak lupa Hendri pamit dengan ibunya setelah diingatkan Arumi, takut protes dan marah lagi.


Setelah pamit dengan Arumi, Hendti berlalu pergi meninggalkan rumahnya dengan mobil milik Melinda.


Alasan Hendri berangkat pagi-pagi karena akan menjemput pak penghulu dan membawanya ke rumah Melinda yang nanti akan menikahkannya.


Tak lupa Hendri membawa seorang saksi yang sudah diajak bekerja sama untuk merahasiakan pernikahannya.


Mia, Salsa dan Arumi sarapan bareng.


Setelah melahap sesendok nasi goreng buatan Hendri. Mia merasakan rasa yang berbeda.


"Ini bukan masakanmu Arumi?" Tanya Mia dengan muka melotot.


"Bukan Bu, itu mas Hendri yang buat."


"Pantas saja rasanya berbeda. Ibu nggak mau makan. Ibu maunya makan nasi goreng buatanmu."


Arumi menghela nafas.


"Nasi goreng ini buatan kak Hendri, enak sekali lo menurutku," ucap Salsa.


"Nggak enak!" Ucap Mia.

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus buatin lagi buat Ibu," ucap Mia.


"Baik Bu, nanti akan aku buatkan," ucap Arumi.


__ADS_2